LOGIN“Kamu … apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Djiwa dingin, tatapannya lurus menembus Bagas di hadapannya. Ada jarak yang tiba-tiba tercipta, bukan sekadar antara mantan guru les dan orang tua murid, tapi sesuatu yang lebih tajam lebih berhati-hati. Bagas tampak sedikit terkejut. Apalagi saat beberapa detik sebelumnya, Djiwa dengan refleks meraih tangan Ratu dari genggamannya—seolah sedang menarik anaknya menjauh dari sesuatu yang berbahaya. Padahal mereka saling mengenal. Karena sebelumnya dia sudah mengajar tiga anak kembar itu beberapa bulan. Namun sebelum Bagas sempat membuka suara, Ratu sudah lebih dulu berbicara dengan wajah berbinar. “Mommy, ini Kak Bagas. Dia jadi guru sekarang di sekolah Ratu. Ngajarnya juga di kelas Ratu!” Djiwa menelan ludahnya pelan. Sorot matanya sempat turun ke seragam yang dikenakan Bagas, rapi, lengkap, tak terbantahkan. Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya, seragam itu sudah menjelaskan semua. Namun entah kenapa, pertanyaan itu tetap keluar. “B
“Kak … Kak Bagas?” lirihnya. Di sana, beberapa meter di depannya—seorang pria berdiri mengenakan seragam guru SD Lumina, rapi dan profesional. Bagas. Tanpa berpikir panjang, Ratu langsung berlari. “Kak Bagaaaas!” teriaknya nyaring, menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Bagas yang semula sedang berbincang dengan salah satu guru menoleh cepat. Dan detik berikutnya, tubuh kecil itu sudah menabrak pelukannya. Memeluknya erat. Bagas sedikit terkejut, namun refleks tangannya membalas pelukan itu. “Ratu?” ucapnya pelan. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Kak Bagas balik?” suaranya bergetar, antara bahagia dan tak percaya. Di belakangnya, Regan dan Naren berhenti melangkah. Keduanya saling berpandangan. Lalu menatap ke arah Bagas yang kini berdiri di tengah lobi sekolah mereka sebagai seorang guru. _____ “Saya cukup terkejut setelah mendapatkan informasi itu, Pak,” ucap Arga siang itu, berdiri di hadapan meja kerja Radja. “Apa ini ada hubungannya dengan kec
Pagi itu, Djiwa terbangun di kamarnya karena cahaya matahari yang menyusup dari celah tirai yang sedikit terbuka. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, memaksanya membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terbalut selimut tebal. Refleks, ia menoleh ke kanan dan kiri. Kosong. Tak ada sosok Radja di sana. Keningnya berkerut. Ingatannya kembali pada semalam—pelukan hangat itu, tangis yang pecah, dan dirinya yang akhirnya tertidur di ruang kerja. “Mas Radja …,” gumamnya lirih. Lalu ia menghela napas pelan. “Jadi dia gak tidur sama aku?” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Apa dia balik lagi ke ruang kerja setelah anter aku ke sini?” Djiwa mendengus pelan, menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. “Aku kira dia udah maafin aku setelah peluk aku semalem,” lanjutnya pelan. “Tapi ternyata belum tentu.” Senyum tipis terukir di bibirnya, pahit. Seolah ia terlalu cepat berharap. _____ Di sisi lain, Radja sudah tampil rapi dengan setelan kerjanya. Kem
Lampu ruang kerja itu redup, hanya menyisakan cahaya dari layar laptop yang memantul di wajah Radja. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, seolah dunia di luar ruangan itu tak lagi penting. Tok. Tok. Tok. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka. Radja tidak langsung menoleh. Sementara Djiwa berdiri di ambang pintu, napasnya tertahan sejenak. Ia mengenakan kimono tipis berwarna lembut, rambutnya terurai, langkahnya pelan namun pasti saat masuk ke dalam. Ia mendekat. “Aku ganggu?” tanyanya pelan, tapi jelas. Radja tetap fokus pada layar. “Kalau sudah masuk ke sini, untuk apa tanya lagi?” Djiwa menarik napas dalam, menahan sesuatu di dadanya. Ia berdiri di sisi meja kerja, menatap suaminya lekat. “Kamu sengaja, ya?” ucapnya tiba-tiba. Baru kali ini jari Radja berhenti. Namun kepalanya belum terangkat, tatapannya fokus pada layar laptop. “Sengaja apa?” tanyanya dingin. Djiwa mendengus pelan. “Cari guru les perempuan, cantik lagi.” Akhirnya Radja menoleh. Tatapannya lurus.
“Kenapa Ratu gak ikut les, ya?” tanya Naren begitu sesi belajar mereka selesai. Ia menoleh ke arah kakaknya yang tengah merapikan buku-bukunya ke dalam tas. “Mungkin adek lagi gak enak badan,” jawab Regan tenang, meski sorot matanya menyiratkan keraguan. “Ayo kita ke kamarnya. Kita lihat sendiri.” Naren mengangguk cepat. Keduanya bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, langkah kaki mereka terdengar ringan namun penuh rasa penasaran. Setibanya di depan kamar Ratu, pintunya terbuka sedikit. Regan mendorongnya perlahan. Di atas ranjang, mereka menemukan Ratu meringkuk, tubuh kecilnya memeluk bantal. Wajah mungil itu tampak pucat, dengan jejak air mata yang sudah mengering di pipinya—tanda bahwa ia telah menangis cukup lama tanpa ada yang menemani. Naren langsung mendekat, menempelkan punggung tangannya ke kening sang adik. “Gak panas, Mas,” gumamnya pelan. Regan menghela napas panjang, dadanya terasa sesak melihat kondisi adiknya. “Apa karena tadi pagi?” ucapnya lirih. Naren m
Drrtt. Ponsel di atas nakas bergetar, membuat Bagas langsung meraihnya dengan sedikit malas. “Halo?” “Bagas, ini aku. Bulan depan aku mau nikah, dan banyak yang harus aku siapin.” Bagas menghela napas panjang, berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. “Terus … urusannya sama aku apa?” “Kamu lagi sibuk, gak?” tanya suara di seberang sana. “Langsung aja,” potong Bagas datar. Terdengar kekehan kecil dari seberang. “Gantiin aku satu setengah bulan ke depan buat ngajar, ya.” “Ngajar di mana?” tanya Bagas, masih terdengar biasa saja. “SD Lumina. Tenang, anak-anaknya gampang diatur. Orang tuanya juga tipe yang serius soal pendidikan.” Bagas yang semula bersandar santai, langsung berubah posisi. Ia duduk tegak. “Lumina?” ulangnya, kali ini lebih pelan. “Hm, Lumina. Bantuin kakakmu ini, ya, dek. Siapa tahu kalau kinerjamu bagus, kamu bisa dilirik kepala sekolah. Lumayan buat nambah pengalaman.” Bagas terdiam. Lumina. Nama itu terlalu familiar, sekolah tempat anak-anak
“Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.
“Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj
Pupil mata Inggrit membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Langkahnya mundur setengah tapak, seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh. “Mas …,” napasnya tercekat. “A-apa maksud kamu?” Radja hanya menatapnya—diam, tajam, dan terlalu tenang. “Maksud saya jelas. Kalau kurang jelas, berarti ad
“Mas Radja,” Djiwa menghampiri pria itu, refleks satu tangannya menutupi hidung ketika aroma alkohol menyergap tajam. “Djiwa?” mata Radja menyipit. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap bisa mengenali siluet wanita itu—bahkan di tengah kepalanya yang berat, aroma khas Djiwa tak pernah salah.







