Share

BAB 269

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-02-21 07:01:28

“Papa kira kamu lahir malam ini, Nak,” bisik Radja pelan pada perut besar istrinya.

Telapak tangannya mengusap lembut kulit perut Djiwa yang masih terasa mengeras sisa kontraksi tadi. “Ternyata cuma kontraksi palsu.”

Djiwa tersenyum kecil, lelah tapi lega. “Iya, kata dokter itu latihan sebelum yang sesungguhnya, Mas. Persiapan tubuh. Semoga aja minggu depan, ya.”

Radja mengangguk mantap. Ia memejamkan mata sesaat, lalu merangkul Djiwa dari samping—
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (7)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklan lagi iklan lagi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
rahasia apa ya
goodnovel comment avatar
Marsinta Hutabarat
fiks bukan raja
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 522

    Lampu ruang kerja itu redup, hanya menyisakan cahaya dari layar laptop yang memantul di wajah Radja. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, seolah dunia di luar ruangan itu tak lagi penting. Tok. Tok. Tok. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka. Radja tidak langsung menoleh. Sementara Djiwa berdiri di ambang pintu, napasnya tertahan sejenak. Ia mengenakan kimono tipis berwarna lembut, rambutnya terurai, langkahnya pelan namun pasti saat masuk ke dalam. Ia mendekat. “Aku ganggu?” tanyanya pelan, tapi jelas. Radja tetap fokus pada layar. “Kalau sudah masuk ke sini, untuk apa tanya lagi?” Djiwa menarik napas dalam, menahan sesuatu di dadanya. Ia berdiri di sisi meja kerja, menatap suaminya lekat. “Kamu sengaja, ya?” ucapnya tiba-tiba. Baru kali ini jari Radja berhenti. Namun kepalanya belum terangkat, tatapannya fokus pada layar laptop. “Sengaja apa?” tanyanya dingin. Djiwa mendengus pelan. “Cari guru les perempuan, cantik lagi.” Akhirnya Radja menoleh. Tatapannya lurus.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 521

    “Kenapa Ratu gak ikut les, ya?” tanya Naren begitu sesi belajar mereka selesai. Ia menoleh ke arah kakaknya yang tengah merapikan buku-bukunya ke dalam tas. “Mungkin adek lagi gak enak badan,” jawab Regan tenang, meski sorot matanya menyiratkan keraguan. “Ayo kita ke kamarnya. Kita lihat sendiri.” Naren mengangguk cepat. Keduanya bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, langkah kaki mereka terdengar ringan namun penuh rasa penasaran. Setibanya di depan kamar Ratu, pintunya terbuka sedikit. Regan mendorongnya perlahan. Di atas ranjang, mereka menemukan Ratu meringkuk, tubuh kecilnya memeluk bantal. Wajah mungil itu tampak pucat, dengan jejak air mata yang sudah mengering di pipinya—tanda bahwa ia telah menangis cukup lama tanpa ada yang menemani. Naren langsung mendekat, menempelkan punggung tangannya ke kening sang adik. “Gak panas, Mas,” gumamnya pelan. Regan menghela napas panjang, dadanya terasa sesak melihat kondisi adiknya. “Apa karena tadi pagi?” ucapnya lirih. Naren m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 520

    Drrtt. Ponsel di atas nakas bergetar, membuat Bagas langsung meraihnya dengan sedikit malas. “Halo?” “Bagas, ini aku. Bulan depan aku mau nikah, dan banyak yang harus aku siapin.” Bagas menghela napas panjang, berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. “Terus … urusannya sama aku apa?” “Kamu lagi sibuk, gak?” tanya suara di seberang sana. “Langsung aja,” potong Bagas datar. Terdengar kekehan kecil dari seberang. “Gantiin aku satu setengah bulan ke depan buat ngajar, ya.” “Ngajar di mana?” tanya Bagas, masih terdengar biasa saja. “SD Lumina. Tenang, anak-anaknya gampang diatur. Orang tuanya juga tipe yang serius soal pendidikan.” Bagas yang semula bersandar santai, langsung berubah posisi. Ia duduk tegak. “Lumina?” ulangnya, kali ini lebih pelan. “Hm, Lumina. Bantuin kakakmu ini, ya, dek. Siapa tahu kalau kinerjamu bagus, kamu bisa dilirik kepala sekolah. Lumayan buat nambah pengalaman.” Bagas terdiam. Lumina. Nama itu terlalu familiar, sekolah tempat anak-anak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 519

    “Selamat sore, Nyonya,” sapa seorang wanita muda saat Djiwa sedang berjalan santai di taman depan mansion. Djiwa sedikit terkejut, namun segera tersenyum ramah. “Sore. Maaf … dengan siapa, ya?” Wanita itu mengulurkan tangan dengan sopan. “Saya Bila, guru les privat baru untuk anak-anak Tuan Radja.” “Oh …,” Djiwa membalas uluran tangan itu dengan hangat. “Selamat datang. Saya Djiwa, ibunya anak-anak.” “Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya,” ucap Bila dengan sikap profesional. “Langsung mulai hari ini, ya?” tanya Djiwa. “Atau hanya perkenalan dulu?” “Langsung mulai, Nyonya. Tuan Radja menyampaikan anak-anak sudah cukup banyak tugas yang harus dikejar.” Djiwa mengangguk pelan. “Baiklah. Mari masuk.” Bila mengikuti dari belakang, langkahnya tenang. Sesampainya di ruang tengah, ia duduk dengan rapi sambil menunggu. Matanya tak bisa menahan diri untuk tidak berkeliling. Mewah. Megah. Elegan. Rumah itu lebih dari sekadar besar. Terlalu sempurna. Sementara itu, Djiwa sudah menaiki

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 518

    “Ratu gak mau dicium Daddy,” tolak Ratu, bibirnya mengerucut, wajahnya cemberut. Radja tersenyum tipis, mencoba tetap tenang. “Kamu marah sama Daddy, hm?” “Daddy jahat sama Ratu, Daddy bentak Ratu kemarin,” jawab bocah itu lirih, suaranya bergetar. Radja terdiam. Perlahan, tatapannya beralih pada Djiwa—dingin, dalam, dan menyiratkan sesuatu yang tak terucap. Djiwa langsung menelan ludahnya susah payah. Kepalanya menggeleng kecil, seolah menolak tuduhan yang bahkan belum dilontarkan. Di sisi lain, Regan dan Naren hanya saling melirik, sama-sama memilih diam. “Daddy kemarin tidak sengaja, Nak,” ucap Radja akhirnya, suaranya tetap tenang. “Bukan kemauan Daddy buat bentak kamu.” Namun Ratu memalingkan wajahnya, menolak menatap ayahnya. “Kalau begitu … Daddy minta maaf, ya. Kalau kamu marah, Daddy janji tidak akan marahin kamu lagi.” “Ratu gak mau maafin Daddy,” lirihnya, suaranya pecah. Radja menarik napas pelan. “Kenapa gak mau maafin Daddy?” Tak ada jawaban. Hanya mata kecil

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 517

    “Saya pikir kamu tulus meminta maaf kemarin,” ucap Radja pelan, namun setiap katanya terasa menekan. “Saya pikir kamu benar-benar menyesal.” Djiwa menahan napas. “Tapi apa yang Ratu katakan hari ini …,” lanjutnya, sorot matanya mengeras, “Membuat saya mulai ragu.” “Mas ….” suara Djiwa lirih, nyaris tak terdengar. “Seberapa dekat kamu dengan Bagas?” potong Radja tiba-tiba, dingin, tajam, tanpa jeda. “Sampai bukan cuma anak kita yang ingin dia kembali, tapi kamu juga.” Djiwa langsung menggeleng tegas, matanya berkaca. “Aku gak pernah berharap itu, Mas. Demi apa pun, aku gak—” “Kamu tidak akan pernah mengakuinya semudah itu, Djiwa,” sela Radja, suaranya semakin rendah, namun sarat kekecewaan. “Karena dari awal, kamu sudah memilih menyembunyikannya.” Djiwa terdiam. Dadanya sesak. “Aku gak nyembunyiin apa-apa, Mas. Aku cuma ....” “Tapi kamu cerita ke dia.” Radja kembali memotong, kali ini lebih dingin. “Masalah rumah tangga kita. Hal yang seharusnya hanya kita berdua sebagai suami

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 95

    “Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 111

    “Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status