Mag-log in“Ini rumahnya, Kai?” tanya Sekar dengan nada datar saat mobil akhirnya berhenti di depan bangunan megah itu.
“Hm,” jawab Kaisar singkat. Dari dalam mobil saja sudah terlihat jelas—rumah itu luas, tinggi, dan jelas bukan rumah singgah sementara. Sekar menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. “Mami mau turun?” Kaisar langsung menoleh. “Tapi nanti Mas Sultan pasti nyalahin aku,” lanjutnya dingin, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Karena aku yPagi itu, Djiwa sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meski jarak di antara mereka terasa begitu nyata, ia tetap menjalankan perannya dengan sepenuh hati. Di atas nakas, obat-obatan Radja sudah tersusun rapi. Menunggu disentuh setelah suapan terakhir. Djiwa duduk di tepi ranjang, menyuapi pria itu dengan gerakan pelan dan telaten. Namun tak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Wajah Djiwa pun datar—tanpa senyum, tanpa kelembutan yang biasanya selalu hadir. Hal itu membuat Radja akhirnya bersuara. “Terserah kamu mau marah atau tidak,” ucapnya dingin, tanpa menatap. “Kalau memang marah, tunjukkan saja. Jangan lakukan semua ini seolah kamu terpaksa.” Gerakan tangan Djiwa terhenti sejenak. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus pada pria di hadapannya. Tatapannya sama dinginnya. “Aku masih istri kamu. Dan kamu masih suami aku,” ucapnya pelan, namun tegas. “Ini kewajiban aku.” Radja menggeser pandangannya. “Kalau kamu tidak mau melakukannya, tidak masalah,” balasnya
“Aku udah kehabisan cara buat ngomong sama kamu,” ucap Djiwa pelan, namun nadanya dingin. “Makanya aku minta Ratu yang bilang. Siapa tahu, kamu lebih mau denger omongan anak kamu daripada aku.” Radja hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Saya bekerja untuk menghilangkan rasa bosan di rumah,” jawabnya datar. Djiwa tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka yang dipaksa tertutup. “Kamu gak akan bosen kalau mau dengerin penjelasan aku, dan kita sama-sama berusaha memperbaiki ini,” balasnya tegas. “Mau sampe kapan hubungan kita begini terus?” Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin menekan. Djiwa menarik napas dalam, mencoba menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dadanya. “Aku juga bosen di rumah, Mas,” lanjutnya lirih. “Sejak kamu menjauh, sejak kamu diemin aku, dan gak mau percaya sama aku.” Radja akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, menelusup tanpa ampun. “Percaya?” ulangnya pelan. “Kamu minta saya percaya, sementara setiap yang saya li
“Dok.” Djiwa nyaris berlari saat tiba di rumah sakit. Begitu pintu ruangan dibuka, langkahnya terhenti seketika. Radja terbaring di atas brankar. Wajahnya pucat, dan belum sadarkan diri. Di sisi lain, dokter yang sebelumnya menghubunginya sudah berdiri di sana, seolah memang menunggu kedatangannya. “Selamat siang, Nyonya,” sapa dokter itu dengan nada ramah. “Siang, Dok,” suara Djiwa terdengar tercekat. Ia mendekat beberapa langkah, matanya tak lepas dari sosok suaminya. “Bagaimana kondisi suami saya? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?” Dokter itu menarik napas pelan, lalu menatap Djiwa dengan serius. “Begini, Nyonya. Tuan Radja dilaporkan pingsan di kantornya, setelah menghadiri rapat penting bersama rekan bisnisnya.” Tatapannya sempat beralih pada Radja yang masih belum sadar. “Kondisinya memang sudah stabil, tapi saya sangat menyarankan agar beliau tidak memaksakan diri bekerja terlalu berat.” Djiwa menelan ludahnya. “Pekerjaan kantor mungkin tidak menguras tenaga fi
Pagi itu, langkah Djiwa terhenti begitu memasuki ruang makan. Tatapannya langsung tertuju pada satu pemandangan yang tak ia duga. Radja duduk di kursinya seperti biasa—namun kali ini, Ratu berada di pangkuannya. Keduanya tampak begitu dekat. Seolah tak pernah ada jarak di antara mereka sebelumnya. Sejak kapan? Djiwa menelan ludahnya pelan. Semalam, ia memilih tidak bergabung di meja makan. Dengan alasan sudah kenyang, ia menghindari kebersamaan yang terasa canggung—meninggalkan ketiga anaknya yang sempat bertanya ke mana ia pergi. Dan pagi ini semuanya terasa berubah. “Ratu mau roti lagi, Dad,” ucap bocah itu manja, sambil memeluk leher ayahnya. Radja tersenyum tipis, lalu mengecup kening putrinya tanpa ragu. “Ayo makan yang banyak, biar kuat,” balasnya lembut, nada suaranya jauh berbeda dari dingin yang biasa Djiwa rasakan. Ratu terkikik kecil, tampak begitu nyaman di pangkuan ayahnya. Radja kembali mengecup pipinya sekilas, memperlakukan gadis kecil itu seolah dunia hanya
Tubuh Radja sedikit terhuyung oleh dorongan kecil itu. Ia terdiam. Dua tangan kecil yang melingkar di tubuhnya terasa hangat dan tulus. “Daddy ….” suara Ratu bergetar di dada Radja. Pelukannya semakin erat, seolah takut ayahnya akan menjauh lagi. “Ratu kangen, Daddy,” lirihnya, wajah kecil itu menempel di tubuh sang ayah. “Ratu kangen banget ….” Radja terdiam. Detik itu juga, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Perlahan, kedua tangannya terangkat lalu membalas pelukan putrinya. Erat. Hangat. Seolah tak ingin melepas. “Ratu,” suaranya lebih pelan dari biasanya. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Maafin Ratu ya, Dad … Ratu gak boleh marah sama Daddy, Ratu salah,” ucapnya terputus-putus, menahan tangis. Rahang Radja mengeras sesaat, bukan karena marah—tapi karena menahan perasaan yang tiba-tiba menyerbu. Tanpa banyak kata, ia membungkuk sedikit, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Ratu langsung melingkarkan kedua tangannya di leher ayahnya. Rad
Djiwa membulatkan matanya, terkejut. Dadanya langsung berdegup tak karuan. Dari mana Radja tahu? Tentang dirinya yang setengah hari tidak ada di rumah, tentang Bagas, tentang sekolah Lumina. Radja menghembuskan napas kasar, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengendap di dadanya. “Kamu mau bilang ini kebetulan?” suaranya rendah, namun tajam. “Atau … salah paham?” Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai yang nyaris tak terlihat—pahit, dingin. “Terlalu banyak kebetulan dan salah paham yang kamu pakai, Djiwa,” lanjutnya pelan, namun menekan. “Bukannya menghapus kecurigaan saya, justru semakin menguatkannya.” Ia melangkah mendekat satu langkah. “Bahkan bukan cuma kamu,” sambungnya, sorot matanya mengeras. “Saya melihat sendiri, putri saya mulai lebih nyaman dengan laki-laki itu.” Jeda sejenak. “Hebat,” bisiknya dingin. “Kamu berhasil memperkenalkan sosok baru dalam hidup anak saya, tanpa saya tahu.” Djiwa menggigit bibirnya kuat. Rasa perih menjalar hingga ke dada.
Ruang tunggu klinik fertilitas itu sunyi, hanya bunyi jam dinding yang terdengar pelan. Fairish duduk merapat pada Sultan, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam erat di pangkuannya. Pintu ruangan dokter Hans terbuka. “Nyonya Fairish, Dokter Sultan. Maaf membuat kalian menunggu lama.” “Ti
“Kamu serius?” desis Kaisar. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan berdiri di hadapan sang istri. Tatapannya dingin dan menusuk. “Iya, Djiwa serius. Djiwa emang lihat Mas sama perempuan itu kemarin malam,” balas Djiwa tenang. Dan sebelum Kaisar sempat membalas—Djiwa menambahkan dengan suara yan
“Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta
“M-mas ... jangan bercanda,” Djiwa mengerucutkan bibirnya sebal, takut diberi harapan palsu. Radja tersenyum miring. “Untuk apa saya bercanda? Memangnya ada saya katakan kalau kita ke sini untuk kerja?” satu alisnya terangkat tipis. Napas Djiwa tercekat di tenggorokan. “Ta-tapi, schedule yang Pa







