Share

BAB 271

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-02-22 07:00:02

“Djiwa, dengarkan saya dulu,” pinta Radja dengan nada lembut.

Kedua tangannya terangkat, hendak memegangi bahu sang istri. Namun Djiwa cepat-cepat menepis, wajahnya mengeras dengan raut masam.

Radja menghela napas panjang, jelas menahan cemas. “Saya bisa jelaskan semuanya. Tapi tolong dengarkan saya dulu, ya?”

“Nggak, Mas,” keluh Djiwa sebal. “Djiwa udah keburu kesel.”

“Sayang,” Radja menurunkan suaranya, nyaris memohon. “Saya janji
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
Ais Rin
udah deg deg an q, sinyal bahaya nich
goodnovel comment avatar
Rida Rida
waaaahhh mati loe Radja...Satya pasti nyulik djiwa deh.
goodnovel comment avatar
niayaya
kok djiwa udah kenal sm Satya ya? apa krna dia papa nya inggrit atw mmng udah knl lama?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 650

    Ruangan private restoran itu terasa hangat dan elegan. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang lembut, memantul di permukaan meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan. Di balik jendela kaca besar, pemandangan kota malam Belanda tampak begitu indah dengan kanal-kanal yang memantulkan cahaya lampu di sepanjang jalan. Ratu duduk di antara kedua kakaknya dengan mata berbinar-binar. “Wah ... banyak banget makanannya,” ucapnya kagum. Ia mengenakan gaun putih, sama seperti sang ibu—namun miliknya jauh lebih sopan khusus anak seusianya. Naren mengangguk cepat. “Ini makan malam paling keren yang pernah aku datengin.” Regan yang duduk lebih tenang hanya tersenyum kecil. “Padahal baru lihat mejanya aja.” “Kan emang keren,” bela Naren. Djiwa tertawa pelan melihat tingkah kedua putranya. Sementara itu Radja duduk di ujung meja, memperhatikan keluarganya satu per satu. Sudah lama sekali rasanya ia tidak melihat mereka tertawa sebebas ini. Tidak ada rumah sakit,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 649

    Pagi itu suasana vila yang mereka tempati sudah ramai sejak matahari bahkan belum sepenuhnya tinggi. “Mommy, ayo cepat!” seru Naren dari ruang tengah. Bocah itu sudah mengenakan mantel tebal berwarna navy, lengkap dengan syal yang melilit di lehernya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel, meniru gaya orang dewasa yang sering ia lihat di sekitarnya. “Aku udah siap dari tadi,” lanjutnya tidak sabar. “Padahal tadi masih nyari kaus kaki,” timpal Regan santai. “Aku cuma lupa taruhnya.” “Lupa atau berantakan?” Naren langsung mendecih. Regan hanya terkekeh pelan. Di lantai atas, Djiwa sedang membantu Ratu mengenakan mantel wol berwarna krem yang serasi dengan topi rajut kecil di kepalanya. “Mommy … Ratu cantik, gak?” tanya bocah itu sambil berputar kecil. “Cantik sekali.” “Kayak princess Belanda?” “Lebih cantik dari princess Belanda.” Ratu langsung tersenyum lebar. “Daddy pasti setuju.” Benar saja. Saat mereka turun ke ruang tengah, Radja yang sudah m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 648

    “HAH?!” seru Naren paling keras. Ratu sampai membulatkan matanya. “Pindah?” Regan ikut menatap ayahnya tak percaya. “Beneran, Dad?” Radja mengangguk tenang. “Kalau kalian mau.” Naren langsung berdiri dari kursinya. “Aku mau!” “Naren, duduk dulu,” tegur Djiwa dengan nada lembut. Bocah itu kembali duduk, tetapi senyum lebarnya tak hilang. “Kalau pindah ke sini berarti aku bisa belajar pesawat setiap hari?” “Belum tentu setiap hari.” “Tapi bisa?” “Bisa.” “AKU MAU!” Regan tertawa kecil melihat adiknya. Sementara Djiwa masih memandang suaminya dengan ekspresi sulit dipercaya. “Mas serius?” “Serius.” “Pekerjaan kamu bagaimana?” “Bisa saya urus.” “Rumah kita?” “Masih ada.” “Keluarga kita?” “Pesawat pribadi kita tidak akan hilang. Kita bisa pulang kalau rindu mereka.” Jawaban santai itu membuat Djiwa kehilangan kata-kata. Radja kemudian meraih gelasnya dan menyesap air minum seolah baru saja mengucapkan sesuatu yang sangat biasa. Padahal bagi Djiw

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 647

    “Daddy, nanti Ratu mau vidio call sama Rara, ya,” ucap Ratu begitu Radja menurunkannya perlahan ke atas kasur. “Vidio call?” Radja mengangkat sebelah alisnya. “Tapi Rara tidak bisa bicara, Nak.” “Gak apa-apa.” Ratu menggeleng cepat. “Biar Ratu aja yang ngomong. Kasihan, dia pasti sedih ditinggal di rumah. Riri diajak jalan-jalan, tapi Rara nggak.” Radja terkekeh pelan mendengar logika putrinya. “Baiklah. Tapi sekarang mandi dulu sama Mommy. Setelah itu makan, baru vidio call sama Rara.” Ratu langsung mengangguk antusias. “Oke!” Lalu tiba-tiba wajahnya berubah serius. “Daddy ....” “Hm?” “Ratu punya rahasia.” Ucap bocah itu serius. Radja menyipitkan mata penuh rasa ingin tahu. “Rahasia?” “Iya.” Sahutnya antusias. “Rahasia apa?” Ratu segera menggeser tubuhnya hingga duduk tegak di atas kasur. “Tapi Daddy gak boleh bilang siapa-siapa.” “Siapa saja?” “Mommy. Mas Regan. Mas Naren.” Radja tersenyum tipis. “Kalau begitu Daddy harus tahu dulu rahasianya. Baru Daddy bi

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 646

    Jet pribadi keluarga Reinard akhirnya mendarat dengan mulus di bandara Belanda. Hanya Radja dan Djiwa yang masih terjaga selama proses pendaratan. Sementara itu, Regan, Naren, dan Ratu tertidur pulas di kursi masing-masing setelah perjalanan panjang. “Mau turun sekarang, Mas?” tanya Djiwa pelan. Radja tersenyum tipis sembari melepaskan sabuk pengamannya. “Memangnya kita mau menginap di pesawat?” balasnya santai. Djiwa terkekeh kecil. “Jadi anak-anak dibangunin?” “Iya. Regan sama Naren saja yang dibangunkan. Ratu biar saya yang gendong.” Djiwa mengangguk pelan, lalu menghampiri kedua putranya. “Regan ... Naren ... bangun, sayang. Kita udah sampai.” Regan membuka mata lebih dulu. Ia mengucek wajahnya pelan sebelum melihat keluar jendela. “Kita udah sampai, Mom?” “Iya, Nak.” Djiwa tersenyum lembut. “Pakai jaket dulu, ya. Di luar dingin.” Naren yang baru terbangun langsung duduk tegak. “Hah? Dingin?” suaranya masih serak. “Salju?” “Bukan begitu,” jawab Djiwa sambil t

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 645

    Malam itu, area bandara khusus tampak jauh lebih tenang dibanding terminal umum. Sebuah jet pribadi berwarna putih dengan lambang keluarga Reinard terparkir megah di landasan, menunggu keberangkatan mereka menuju Belanda. Ketiga anak Radja berdiri mematung di bawah tangga pesawat. Mulut mereka kompak terbuka. "Woooow ...." seru Naren paling keras. Ratu bahkan sampai mendongakkan kepala begitu tinggi hingga hampir kehilangan keseimbangan. "Ini pesawat kita?" tanyanya tidak percaya. Radja yang berdiri di samping putrinya mengangguk tenang. "Iya." "Segede ini?" Ratu membulatkan matanya. "Iya." Radja menjawab singkat. "Ini punya Daddy?" "Iya." "Yeayyyy!" Ratu langsung memeluk kaki ayahnya dengan antusias. Sementara itu Naren berlari kecil mengelilingi area yang masih diizinkan untuk dilewati. "Mas Regan! Ini lebih gede dari yang di TV!" Regan yang biasanya tenang pun tak mampu menyembunyikan kekagumannya. "Iya." "Daddy kaya banget, ya." Naren menatap ayahnya s

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 341

    “Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 333

    “Mas ….” Radja tersentak. Refleks ia meletakkan ponselnya ke atas nakas, bahkan sebelum sempat memutar rekaman yang baru saja dikirim Sultan. “Ada apa, sayang?” tanyanya lembut, telapak tangannya mengusap pipi Djiwa. “Mau ke kamar mandi, hm?” “Haus,” bisik Djiwa lirih. “Oke,” Radja segera me

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status