Share

BAB 271

Auteur: Langit Parama
last update Date de publication: 2026-02-22 07:00:02

“Djiwa, dengarkan saya dulu,” pinta Radja dengan nada lembut.

Kedua tangannya terangkat, hendak memegangi bahu sang istri. Namun Djiwa cepat-cepat menepis, wajahnya mengeras dengan raut masam.

Radja menghela napas panjang, jelas menahan cemas. “Saya bisa jelaskan semuanya. Tapi tolong dengarkan saya dulu, ya?”

“Nggak, Mas,” keluh Djiwa sebal. “Djiwa udah keburu kesel.”

“Sayang,” Radja menurunkan suaranya, nyaris memohon. “Saya janji
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (3)
goodnovel comment avatar
Marsinta Hutabarat
merusak mood aja
goodnovel comment avatar
Diana Budirahayu
merusak mood aja nih si tua
goodnovel comment avatar
rianur378
jangan bilang mau mempengaruhi Djiwa
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 468

    Radja menatap adiknya tanpa berkedip. Sorot matanya tenang, tapi dingin—seolah menyimpan sesuatu yang tak ingin ia biarkan terlihat. Lalu, ia tertawa pendek. Hambar. “Sejak kapan kamu bisa menilai perasaan saya hanya dari satu keputusan?” ucapnya rendah. Kaisar menghela napas panjang, tangannya bertaut di depan dada. “Aku tahu seperti apa kamu mencintai Djiwa, Mas. Sampai kamu berani bentrok sama Mami, sampai kamu keluar dari mansion, bahkan hubungan kalian sempat hancur.” Tatapannya menajam. “Itu semua demi kamu tetap bisa hidup sama dia. Tapi sekarang, kamu justru membiarkan dia memilih sesuatu yang bisa mengambil nyawanya sendiri.” “Djiwa akan pergi, Mas,” lanjut Kaisar pelan, tapi menekan. “Dan bukan cuma kamu yang kehilangan. Anak-anak kalian juga.” Nama itu, anak-anak—membuat rahang Radja mengeras. “Kai,” ucapnya akhirnya. Ia bangkit perlahan dari kursinya. Kedua telapak tangannya bertumpu di meja kerja, tubuhnya condong ke depan. Jarak mereka kini terasa lebih dekat,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 467

    “Mommy kenapa sedih?” tanya Regan pelan, alisnya bertaut. Tangannya yang kecil terulur, mengusap lembut perut Djiwa. “Ibu hamil kan gak boleh nangis, nanti adek bayinya ikut sedih.” Djiwa tersenyum tipis, meski matanya masih basah. Ia menarik tubuh putra sulungnya ke dalam pelukan hangat. “Mommy gak sedih, Nak,” bisiknya lembut. “Mommy cuma terharu. Karena adek sebentar lagi lahir.” Regan membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada sang ibu dengan nyaman. “Regan yakin,” ucapnya mantap, “Adek lahir sehat. Mommy juga.” Napas Djiwa tercekat. Kalimat sederhana itu justru menghantam dadanya paling dalam. Matanya kembali berkaca. “Aamiin …,” lirihnya pelan, nyaris tak terdengar. “Semoga doa kalian selama ini didengar sama Tuhan, ya, Nak.” Di sampingnya, Radja tersenyum tipis. Ia meraih Naren dan Ratu, menarik keduanya agar ikut mendekat. “Peluk Mommy,” ucapnya pelan. Tanpa ragu, keduanya ikut merangkul tubuh sang ibu. Seketika, pelukan itu terasa utuh. “Semoga doa anak-an

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 466

    Radja tiba di rumah sore itu dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara. Ia sengaja berjalan hati-hati, tak ingin menarik perhatian—terutama dari putri kecilnya yang sedang belajar bersama guru les di ruang tengah. “Sekarang kalian kerjakan tugas sekolahnya dulu, nanti Kakak koreksi, ya.” Suara Bagas terdengar tegas di ruang tengah, sambil menatap ketiga anak muridnya. “Jangan menjawab asal, semua ada di buku mata pelajaran kalian. Cari sampai ketemu, jangan malas membaca,” tambah pria itu. “Oke, Kak Bagas.” Sahut Regan, Naren, dan Ratu. Melihat itu Radja tersenyum tipis, sebelum kembali melangkah. Di tangannya, dua sepaket bunga tulip tergenggam rapi. Satu untuk istrinya, satu lagi untuk Ratu. Ia langsung menuju lantai dua. Langkahnya terhenti sesaat di depan pintu kamar, sebelum akhirnya ia membukanya perlahan. Di dalam, Djiwa duduk di atas ranjang, dikelilingi beberapa pakaian bayi yang tengah ia lipat dengan hati-hati. “Sayang,” panggil Radja pelan. Djiwa tersentak kecil, l

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 465

    Siang itu, Kaisar dan Karin duduk berdampingan di ruang tunggu klinik dengan suasana yang terasa lebih hening dari biasanya. Karin beberapa kali melirik ke arah sang suami. Sementara Kaisar duduk tegak, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas paha—tegang, meski ia berusaha terlihat tenang. “Mas ….” panggil Karin pelan. Kaisar menoleh singkat. “Hm?” “Tenang aja, ya,” ucap Karin lembut, berusaha menenangkan. Kaisar mengangguk tipis, meski jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Tak lama, nama Kaisar dipanggil. Mereka pun masuk ke dalam ruangan dokter. Waktu terasa berjalan lambat. Setiap detik seperti ditarik lebih panjang dari biasanya. “Dari hasil pemeriksaan yang sudah kita lakukan,” ucap dokter itu dengan nada tenang, “Kondisi Anda baik, Pak. Tidak ada masalah pada kesuburan.” Kaisar terdiam. Seolah butuh waktu beberapa detik untuk benar-benar mencerna kalimat itu. “Jadi … saya normal, Dok?” tanyanya memastikan. Dokter itu tersenyum kecil

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 464

    Bunga mawar putih pemberian sang suami itu Djiwa letakkan perlahan ke dalam vas bening di samping jendela. Kelopaknya masih segar, putih bersih—terlihat begitu tenang. Namun entah kenapa, justru ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba menjalar di dadanya. Ia terdiam, menatap bunga itu lebih lama dari seharusnya. Seolah mencoba memahami sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. “Itu murni saya beli untuk kamu, karena saya sayang sama kamu.” Suara Radja muncul dari belakang, rendah dan tenang. Djiwa tersentak kecil, lalu menoleh. Pria itu berdiri tak jauh darinya, dengan senyum lembut yang terasa berbeda. “Tidak ada maksud lain, sayang,” lanjut Radja pelan. “Apalagi berharap kamu mengubah keputusan.” Kalimat itu membuat napas Djiwa tertahan. Ada sesuatu di dadanya yang mengencang. Radja menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Oh iya, Mas. Aku kepikiran sesuatu,” ucapnya, suaranya pelan. “Supaya aku gak menyesal nanti.” “Kamu kepikiran soal apa?” tanya Radja, kedua a

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 463

    “Mas …,” suara Djiwa lirih saat menerima sepaket mawar putih itu. Ia berbalik, menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca. “Makasih.” Senyum tulus terukir di wajahnya—lembut, hangat, dan sedikit rapuh. Radja membalas dengan senyum tipis. “Sama-sama, sayang.” Ia menunduk, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan—lebih lama dari biasanya, seolah ingin meninggalkan jejak rasa di sana. Djiwa menatap bunga di tangannya, menghirup aromanya perlahan. Harum. Tenang. Namun sebelum perasaan itu benar-benar menetap, ia berjinjit—dan mengecup bibir suaminya singkat. Radja terdiam. Tatapannya berubah dalam, sebelum akhirnya kedua tangannya terangkat, menangkup wajah Djiwa dengan hati-hati, lalu membalas ciuman itu lebih dalam—lebih lama, seakan menumpahkan semua yang tak sempat ia ucapkan. Di sudut ruangan, Bagas yang awalnya fokus mengawasi ketiga muridnya tanpa sengaja melirik ke arah mereka. Pandangan itu tertahan. Dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 95

    “Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status