LOGIN“Sayang, saya akan segera melakukan vasektomi,” ucap Radja pelan malam itu, suaranya tenang di tengah hening kamar. Djiwa yang sudah setengah berbaring langsung menoleh, keningnya berkerut. “Kenapa, Mas?” Radja terkekeh pelan. Tangannya terulur, ibu jarinya mengusap lembut pipi istrinya. “Kenapa?” ulangnya pelan. “Supaya saya tidak pernah menghamili kamu lagi.” Djiwa menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Daripada Mas yang vasektomi, mending aku aja yang steril.” Radja terdiam sejenak, matanya menatap dalam. “Kamu sudah disterilkan, sayang.” “Hah?” Djiwa membulatkan mata, jelas terkejut. “Iya,” lanjut Radja tenang. “Dokter melakukannya saat operasi kemarin. Mereka tidak mau ambil resiko, karena kondisi kamu tidak memungkinkan untuk hamil lagi.” Djiwa terdiam. Ada perasaan aneh yang menyelusup—lega, sekaligus kehilangan yang tak bisa dijelaskan. “Kalau gitu … Mas gak perlu vasektomi lagi,” ucapnya pelan. “Aku kan udah steril.” Radja menggeleng tegas, meski senyumnya t
“Maaf ya, Bagas. Saya tidak sempat mengabari lebih dulu kalau les anak-anak untuk sementara harus ditunda. Kami masih dalam masa berkabung,” ucap Djiwa lembut, senyumnya tetap hangat meski ada kelelahan yang tersimpan di matanya. Bagas sempat terdiam, sedikit terkejut, lalu segera mengangguk sopan. “Tidak apa-apa, Nyonya,” balasnya, sekilas melirik ke arah dalam mansion yang tampak lebih sunyi dari biasanya. “Kira-kira … saya bisa mulai mengajar lagi kapan?” “Setelah tujuh hari kepergian Sankara,” jawab Djiwa pelan, suaranya tetap tenang. “Baik, Nyonya. Kalau begitu ... saya permisi,” ucap Bagas, menunduk hormat. “Iya, hati-hati di jalan, ya.” Djiwa tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Bagas masih berdiri beberapa detik di tempatnya. Ada rasa takjub yang sulit ia jelaskan. Di balik kehilangan sebesar itu, wanita itu masih mampu berdiri tegak, bahkan tetap memikirkan orang lain. Bahkan menyampaikan permintaan maaf langsung padanya, tanpa me
“Kira-kira ... anak kamu laki-laki atau perempuan, Tan?” tanya Sekar melalui sambungan telepon, nadanya terdengar ringan, namun menyimpan tekanan. Di seberang sana, Sultan terdiam sejenak sebelum menjawab. “Entahlah, Mi. Saat ini saya tidak terlalu memikirkan soal itu.” Jawaban itu membuat Sekar mendengus pelan. “Sekarang sudah ada teknologi USG. Untuk apa ada, kalau tidak kalian manfaatkan?” desisnya, nada suaranya mulai menajam. Sultan menarik napas perlahan, berusaha tetap tenang. “Saya sengaja tidak ingin tahu, Mi. Saya tidak mau Fairish merasa tertekan.” “Terutama kalau jenis kelamin anak kami tidak sesuai dengan harapan Mami,” lanjutnya, kini dengan nada yang lebih tegas. Sekar memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras. “Kamu ini mulai mengikuti jejak Radja rupanya,” ucapnya dingin. “Dan Fairish semakin mirip dengan Djiwa sikapnya.” Kalimat itu menggantung. Namun kali ini, Sultan tidak memilih diam. “Kalau memang begitu,” balasnya pelan, tapi jelas, “Mungkin Ma
Tengah malam, saat seluruh rumah terlelap dalam sunyi, Djiwa perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping. Radja tertidur di sana, namun tidak sedekat biasanya. Ada jarak di antara mereka. Bukan karena dingin tapi karena hati-hati. Radja sengaja menjaga jarak, takut tanpa sadar memeluk terlalu erat dan melukai tubuh Djiwa—terutama bagian perutnya yang masih menyimpan luka jahitan yang belum sepenuhnya pulih. Djiwa menatapnya lama. Ada rasa hangat sekaligus nyeri yang tak terucap. Perlahan, ia menyingkirkan selimutnya. Dengan gerakan hati-hati, menahan perih di perutnya, ia turun dari ranjang. Langkahnya pelan. Nyaris tak bersuara. Ia meninggalkan kamar itu menuju satu ruangan yang sejak awal ia siapkan dengan penuh harap. Kamar bayi, milik Sankara. Pintu itu ia dorong perlahan. Ruangan itu gelap. Sunyi. Kosong. Namun justru itu yang membuat dadanya terasa semakin sesak. Djiwa melangkah masuk. Tatapannya menyapu seluruh ruangan—ranjang bayi kecil, mainan yang masih t
“Pa … kalau adeknya kembar bisa meninggal, apa adeknya Binar juga bisa meninggal?” Suara Binar terdengar kecil dari jok tengah, setelah mobil mereka perlahan meninggalkan area pemakaman Sankara. Sultan dan Fairish yang duduk di depan saling bertukar pandang sekilas. Sultan, yang sedang menyetir, menarik napas pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis. “Tidak juga, Nak, tapi juga tidak bisa dibilang tidak,” jawabnya hati-hati. Kening Binar langsung berkerut, wajahnya cemberut. “Maksudnya gimana, Pa?” Fairish menoleh ke belakang, menatap putrinya dengan lembut. “Maksud Papa … kita gak pernah tahu rencana Tuhan, Nak,” ucapnya pelan. “Kalau suatu saat Tuhan mengambil sesuatu dari kita, kita memang gak bisa menahannya.” “Tuhan jahat!” seru Binar tiba-tiba, nadanya kesal. Sultan dan Fairish sama-sama tersentak. “Binar ….” tegur Sultan pelan. “Tuhan gak jahat, sayang,” ujar Fairish lembut, berusaha tetap tenang. “Tuhan itu baik. Kalau Dia mengambil adek dari kita, itu bukan
Pagi itu, di bawah terik matahari yang menyengat, keluarga besar Reinard berdiri dalam diam di sebuah pemakaman elit di pusat kota. Langit cerah namun tak satu pun hati terasa terang. Hari itu, mereka mengantar kepergian seorang bayi kecil yang diberi nama Sankara Afnan Reinard, putra bungsu Radja dan Djiwa. Djiwa duduk di kursi roda, tubuhnya masih lemah. Di pangkuannya, terbaring sosok kecil yang telah dibungkus kain kafan putih. Putra yang ia perjuangkan dengan seluruh hidupnya. Kedua tangannya memeluk tubuh mungil itu dengan hati-hati. Di sampingnya, Radja berdiri tegak. Rahangnya mengeras, dan tatapannya tak pernah lepas dari Djiwa. Seolah ia lebih takut kehilangan wanita itu, dibanding apa pun di dunia ini. Angin berhembus pelan. Kain kafan itu bergerak sedikit. Djiwa menunduk, menatap wajah kecil yang tak lagi bergerak. Tangannya gemetar saat mengusap lembut bagian kepala bayinya. “Harusnya dia nangis sekarang, harusnya dia hidup ….” Napasnya tercekat. Dadanya sesak ol
Sudah satu jam yang lalu Djiwa terlelap di pelukan Radja. Pria itu bahkan absen dari kantornya hari ini hanya untuk menemani wanita itu tidur di hotel. Entah apa yang membuatnya memilih menetap di sini. Jika bicara soal khawatir, harusnya dia tetap bisa meninggalkan Djiwa seorang diri setelah mema
“Kenapa kamu melakukan itu pada Djiwa, Inggrit?” tanya Sekar saat yang lain berangkat kerja, hanya menyisakan mereka berdua, dan juga Aprilia yang diletakkan di bouncer bayi. Inggrit menghela napas panjang. “Aku gak suka aja sama Djiwa, bener-bener gak suka. Selama ini aku gak pernah satu frame sa
“Semalam Non Djiwa cantik bangeeettt,” puji Mbok Iyam malam itu, ketika Djiwa berada di paviliun belakang untuk menjemur kebaya dan rok batik miliknya. Djiwa tersenyum kecil mendengarnya. Setelah menggantung pakaiannya di jemuran, ia melangkah mendekati kursi santai di mana Mbok Iyam dan Mbok Ine
Pagi itu, meja makan begitu sepi—tidak sama seperti hari biasanya. Hanya diisi oleh Sekar yang duduk di ujung meja, Radja, Inggrit, Anggita dan yang terakhir Djiwa. Sekar melirik pada Djiwa yang makan dengan tenang, padahal sebenarnya wanita itu tengah memikirkan perihal semalam Sekar memintanya u







