Share

BAB 45

Author: Langit Parama
last update publish date: 2025-12-11 08:03:17

“Loh, kenapa ada satu kursi yang kosong?”

Sekar berkata pelan pagi itu, saat sarapan tak ada Djiwa di kursinya. Sebenarnya, ada dan tidak ada wanita itu sama sekali bukan urusan Sekar—bahkan dia tak peduli.

Hanya saja, dia merasa penasaran kenapa wanita itu tidak ada di sana. Jika alasannya sengaja agar tidak melakukan pekerjaan rumah, tentu saja dia meradang.

“Ke mana Djiwa, Kai?” tanyanya pada si bungsu, Kaisar. “Pasti molor dia pagi ini? Padahal semalem kita pulang jam sembilan malem, ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Owoh Lee Lea
gerigitan ama inggrit,moga aja anak nya semua bukan anak radja.dan untuk istrinya sultan semoga udah hamil anak kaisar dan sultan tahu.
goodnovel comment avatar
muhammad maksum
lanjut penasaran
goodnovel comment avatar
surjani359
Ceritanya membuat penasaran, lanjut
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 444

    Djiwa tersenyum kecil ketika melihat sang suami kembali memasuki kamar, setelah sebelumnya menidurkan putri bungsu mereka. Radja melangkah pelan, namun tetap memancarkan wibawa yang kuat, mendekati ranjang tempat Djiwa duduk bersandar di kepala ranjang dengan sikap tenang. “Anak-anak, hmph—” Ucapan Djiwa terpotong ketika Radja tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir sang istri. Ciuman itu hangat, penuh rindu yang tertahan selama hampir dua minggu. Djiwa membalasnya tanpa ragu. Kedua tangannya terangkat, melingkar di leher Radja, menarik pria itu semakin dekat. Radja kemudian naik ke atas ranjang dengan hati-hati, mengurung tubuh mungil sang istri di bawahnya tanpa melepaskan ciuman itu. Satu tangannya bergerak pelan, menarik tali piyama Djiwa yang terikat longgar. “Mas ….” Djiwa akhirnya memutus ciuman itu. Ia tersenyum kecil sambil menatap wajah suaminya yang begitu dekat. “Kenapa, sayang?” tanya Radja pelan. “Jangan sekarang.” “Kapan?” kedua alis Radja terangk

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 443

    Ratu bangkit dari kursinya tanpa berpikir panjang dan berlari secepat mungkin. “Daddy!” Radja yang mendengar panggilan itu langsung menoleh. Begitu melihat putri kecilnya berlari ke arahnya, wajah tegas pria itu seketika melunak. Ratu langsung memeluk tubuh ayahnya dengan erat. “Daddy …!” suaranya bergetar. Air matanya langsung luruh. Radja sedikit terkejut merasakan bahu kecil itu bergetar di pelukannya. Ia segera membungkuk dan mengangkat tubuh putrinya ke dalam gendongan. “Hey … hey …!” gumamnya lembut sambil mengusap punggung Ratu. “Kenapa nangis begitu?” “Ratu kangen Daddy,” isak gadis kecil itu sambil memeluk leher ayahnya erat. Melihat itu, Regan dan Naren yang masih duduk di meja langsung menoleh. Mata mereka membulat. “Daddy!” seru mereka hampir bersamaan. Keduanya langsung berlari menghampiri. Radja yang masih menggendong Ratu langsung merentangkan satu lengannya, menarik kedua putranya agar mendekat. Regan memeluk pinggang ayahnya dari samping. Sementara Naren l

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 442

    “Kamu siapa?” tanya Radja dengan suara berat dan tegas. Tatapannya lurus tertuju pada pria muda di hadapannya, nyaris tanpa berkedip. Bagas menelan ludahnya susah payah. Ia sempat melirik wajah Radja, lalu tanpa sadar menoleh ke arah foto keluarga di dinding, sebelum akhirnya kembali menatap pria di hadapannya itu. “A-anda …?” gumamnya gugup. “Saya pemilik rumah ini,” jawab Radja singkat dan tegas. Bagas langsung menundukkan kepalanya. “Halo, Tuan. Saya Bagas, guru les anak kembar,” ujarnya sopan. “Senang bertemu dengan Anda.” Ia sedikit membungkuk. Radja masih menatapnya. Tatapannya menelusuri Bagas dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sosok pria muda itu. “Jadi kamu yang mengajar anak-anak saya,” gumam Radja pelan. Bagas segera mengangguk. “Iya, Tuan.” Pandangan Radja kemudian beralih ke ruang tengah. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ketiga anaknya duduk di meja belajar, tampak serius mengerjakan soal hingga tidak menyadari kehadirannya. Sudut bibi

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 441

    “Selamat sore, Bu,” sapa Bagas sopan ketika melihat Djiwa sedang berjalan santai di halaman mansion. Wanita itu tampak menikmati sore hari sambil memperhatikan tanaman yang berjajar rapi di sepanjang jalan setapak. “Sore,” balas Djiwa dengan senyum kecil. “Saya sebaiknya memanggil Anda apa, ya? Pak Bagas? Tapi sepertinya Anda masih cukup muda.” Bagas tersenyum tipis. “Ibu bisa langsung memanggil saya Bagas saja.” Djiwa mengangguk pelan. “Kalau boleh tahu, usia Anda berapa?” “Saya … baru dua puluh tujuh tahun,” jawab Bagas dengan nada sopan. Djiwa tampak sedikit terkejut. “Kalau begitu saya panggil Bagas aja, ya. Soalnya kamu lebih muda tiga tahun dari saya.” Bagas spontan membulatkan matanya. “Ibu sekarang tiga puluh tahun?” “Iya,” jawab Djiwa singkat. Bagas tersenyum kecil. “Jujur saja, saya kira usia Ibu sekitar dua puluh lima.” Djiwa langsung membelalakkan matanya. “Ya Tuhan, lima tahun lebih muda?” Bagas terkekeh pelan. “Memang tidak terlihat seperti usia tiga puluh. Ta

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 440

    Kafe – 10.00 Jam sepuluh tepat, Djiwa sudah tiba lebih dulu di kafe tempat ia membuat janji dengan Karin. Ia memilih meja di dekat jendela, tempat cahaya pagi masuk lembut melalui kaca besar. Cangkir kopi di depannya masih utuh, hampir tidak tersentuh. Sesekali Djiwa menatap jam di pergelangan tangannya. Setelah dari sini, ia berencana langsung menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Tak lama kemudian Karin datang. Wanita itu berjalan cepat menuju mejanya, lalu duduk di kursi seberang dengan napas sedikit terengah. “Maaf nunggu lama, Wa,” ucapnya sambil tersenyum kecil. Djiwa menggeleng pelan. “Gak lama, kok.” Namun begitu percakapan dimulai, senyum itu perlahan menghilang dari wajah Djiwa. Dengan suara pelan, ia mulai menceritakan semuanya—tentang kondisi kehamilannya yang berisiko, tentang penjelasan dokter kandungan, dan tentang bagaimana hatinya terasa hancur ketika mendengar semua itu, terlebih lagi dari suaminya sendiri. “Aku gak tahu harus gimana, Rin,” bisik Djiwa liri

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 439

    Fairish berdiri diam di depan cermin wastafel kamar mandi rumahnya setelah tamu mereka pulang. Pantulan wajahnya di cermin tampak pucat, jauh dari tenang. Baru saja beberapa menit yang lalu ia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. Kaisar. Mantan kekasihnya, sekaligus pria yang dulu pernah menjadi kesalahannya. Kini pria itu datang dengan seorang istri baru di sisinya. Dan yang paling menyakitkan, Fairish bisa melihatnya dengan jelas—cara Kaisar menatap wanita itu tidak lagi sama seperti dulu. Ada sesuatu yang tulus di sana. Seolah-olah kali ini, Kaisar benar-benar mencintai istrinya. Fairish memejamkan matanya pelan. “Aku udah punya suami, dan aku juga udah punya anak,” bisiknya lirih pada dirinya sendiri. Tangannya perlahan mencengkeram pinggiran wastafel. “Jin dasim, tolong … berhenti ganggu hidup aku.” Napasnya terasa berat. “Aku udah bahagia sama Mas Sultan,” lanjutnya pelan. “Dia segalanya buat aku sekarang.” Kelopak matanya kembali terpejam kuat. “Tapi kenapa kamu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 23

    Djiwa terkejut, matanya membelalak, namun sesuatu dalam cara pria itu menciumnya membuat tubuhnya mendadak kehilangan kemampuan untuk menolak. Dan sebelum ia sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, Radja menelusupkan tangan besarnya ke dalam roknya—membuat Djiwa membelalak. Djiwa meng

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 16

    Pukul sebelas siang, Djiwa terbangun dari tidur nyenyaknya selama dua jam. Ketika dia mengangkat kepalanya, lehernya seketika ngilu karena posisi tidurnya yang sambil duduk. Tangannya juga kesemutan sampai dia tak bisa menggerakannya dengan benar. “Aduh!” rintihnya pelan, sambil terus membenarkan

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 19

    “Akh!” Djiwa meringis pelan saat tubuhnya disentakkan, hampir membuatnya jatuh ke kolam renang jika saja dia tidak seimbang. Fairish mengangkat sudut bibirnya tipis, “Pinter, ya, sekarang. Udah bisa ngejilat Mas Radja, hm? Dimulai dari aku pertama, terus Mbak Inggrit. Siapa lagi setelah ini? Mami

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 342

    “Mama tadi siang ke sini, Pa,” ujar Anggita pelan saat makan malam. Dante menghentikan gerak sendoknya. Tatapannya beralih pada putrinya. “Ke sini?” ulangnya. “Masuk ke apartemen?” Anggita mengangguk sing

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status