공유

S2 - 736

작가: Langit Parama
last update 게시일: 2026-07-28 00:00:37

Pagi itu, suasana meja makan di kediaman keluarga Reinard terasa sedikit lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya.

Regan telah lebih dulu berangkat ke kantor, sementara Narendra masih berada di luar kota untuk jadwal penerbangannya.

Tinggal Radja dan Djiwa yang menikmati secangkir teh hangat setelah sarapan.

Djiwa meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja. “Mas ....”

Radja mengangkat pandangan. “Ya?”

“Jadi, hari ini kita benar-benar mau menemui keluarga Mas Mahatma?”

Pertanyaan itu m
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 740

    Ratu terdiam beberapa saat, tatapannya perlahan menunduk. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya setiap kali mengingat hari itu. Namun kali ini, ia tidak ingin lagi lari. Perlahan ia mengangkat wajahnya. “Aku bakal cerita, Mas. Tapi …,” ia menggeleng pelan. “Bukan sekarang.” Narendra mengernyit tipis. “Kenapa?” “Karena ini bukan cuma tentang aku.” Tatapan Ratu berubah sendu. “Ada Daddy sama Mommy juga di dalam cerita itu. Aku gak berhak menjelaskan semuanya sendirian.” Narendra memandang adiknya lekat-lekat. Sementara Ratu melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik, “Nanti kalau Mas Regan udah pulang, kita berkumpul berempat sama Daddy dan Mommy.” “Di situ, Daddy dan Mommy akan ceritain semuanya langsung ke Mas sama Mas Regan.” Ratu tersenyum tipis, meski matanya kembali berkaca. “Tapi aku cuma minta satu hal.” Narendra menunggu. “Tolong … dengerin semuanya sampe selesai. Jangan langsung marah. Jangan langsung menyalahkan Daddy sama Mommy.” Kalimat itu membuat Naren

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 739

    Mobil yang ditumpangi Narendra akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Reinard. Mesin telah dimatikan, tetapi pria itu tak juga bergegas turun. Ia memilih tetap duduk di balik kemudi, membiarkan keheningan memenuhi kabin mobil. Kedua tangannya menggenggam setir dengan longgar. Tatapannya kosong menembus kaca depan. Bayangan percakapannya bersama Aluna di bandara terus berputar di kepalanya. Ia menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuh pada jok. Matanya terpejam perlahan. Hubungan yang ia jaga selama ini akhirnya berakhir. Aluna adalah perempuan pertama yang berhasil membuka pintu hatinya. Perempuan pertama yang ia kenalkan kepada keluarganya. Perempuan pertama yang ia bayangkan akan mendampinginya sampai akhir hidup. Narendra bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta. Sekali mencintai, ia ingin bertahan seumur hidup. Ia tak pernah membayangkan kisah pertamanya justru harus berakhir dengan perpisahan. Rasanya pahit. Namun mempertahankan hubungan yang telah kehil

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 738

    Bandara mulai lengang setelah para penumpang meninggalkan area kedatangan. Narendra melangkah keluar dengan koper yang ditarik di belakangnya. Wajahnya tampak lelah usai penerbangan panjang, tapi sorot matanya masih menyimpan banyak hal yang belum selesai. Baru beberapa langkah berjalan, langkahnya terhenti. Di depan pintu keluar, seorang perempuan telah berdiri menunggunya. Aluna. Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana dengan rambut yang tergerai rapi. Namun, raut wajahnya sama sekali tidak selembut biasanya. Tatapannya dingin. Begitu Narendra semakin dekat, Aluna langsung melangkah menghampiri. “Kamu benar-benar mengabaikan aku, Ren?” Narendra mengembuskan napas pelan. “Aluna ….” “Dulu, sesibuk apa pun kamu, kamu tetep bales pesan aku. Kamu selalu angkat telepon aku.” Suaranya mulai bergetar. “Sekarang? Aku kayak orang asing buat kamu.” Narendra mengusap tengkuknya sebentar. “Aku sedang banyak urusan.” “Urusan?” Aluna tertawa hambar. “Dari dulu kamu juga sibuk. Tapi gak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 737

    Mobil melaju membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang. Tak banyak percakapan yang terdengar sejak mereka meninggalkan apartemen Sankara. Radja fokus pada kemudi di tangannya. Sesekali ia melirik kaca spion tengah. Di sana, Ratu duduk di jok belakang sambil memeluk tas di pangkuannya. Wajahnya masih sembab, tetapi jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Djiwa yang duduk di kursi penumpang tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah putri bungsunya. Rasanya ia masih ingin memastikan bahwa Ratu benar-benar telah kembali. Beberapa menit kemudian, Ratu memecah keheningan. “Dad, Mom ….” Kedua orang tuanya spontan menoleh, meski Radja hanya sekilas karena tetap memperhatikan jalan di depan. “Ada apa, Sayang?” tanya Djiwa lembut. Ratu menarik napas pelan. “Aku mau minta satu hal.” “Apa itu?” sahut Radja. Ratu menundukkan pandangannya lebih dulu sebelum akhirnya berkata lirih, “Aku minta ... jangan kasih tahu Mas Regan sama Mas Naren.” Kalimat itu membuat Radja da

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 736

    Pagi itu, suasana meja makan di kediaman keluarga Reinard terasa sedikit lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Regan telah lebih dulu berangkat ke kantor, sementara Narendra masih berada di luar kota untuk jadwal penerbangannya. Tinggal Radja dan Djiwa yang menikmati secangkir teh hangat setelah sarapan. Djiwa meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja. “Mas ....” Radja mengangkat pandangan. “Ya?” “Jadi, hari ini kita benar-benar mau menemui keluarga Mas Mahatma?” Pertanyaan itu membuat Radja terdiam beberapa saat. Tatapannya kosong, seolah sedang menyusun keberanian di dalam kepalanya. Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang. “Iya. Kalau tidak ada perubahan. Tapi sebelum menemui Pak Mahatma, saya ingin bertemu Sankara dan Ratu lebih dulu.” Djiwa mengernyit tipis. “Untuk apa?” “Saya ingin memastikan, apa mereka benar-benar ingin melanjutkan hubungan ini sampai ke jenjang pernikahan.” “Kalau memang keduanya sudah mantap,” Radja tersenyum tipis. “baru sa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 735

    Ratu menundukkan wajah dalam-dalam. “Bukan cuma aku … Mas Regan sama Mas Naren juga. Kalau itu benar, aku …,” tangisnya pecah. “Aku anak yang lahir di luar pernikahan, Mas.”Tangannya gemetar hebat. “Aku malu … aku benar-benar malu. Aku gak pernah membayangkan kalau ternyata asal-usulku seperti itu.”Sankara masih diam. Bukan karena terkejut berlebihan, melainkan karena sedang mencerna setiap kalimat yang baru saja didengarnya.Sementara Ratu justru salah mengartikan keheningan itu.Ia tersenyum pahit. “Kan … aku tahu, Mas pasti kaget.” Ia mengusap air matanya kasar. “Sekarang terserah sama Mas. Mau tetep lanjut sama hubungan ini, atau berhenti sampai di sini.”Ratu menggeleng pelan. “Aku gak akan nyalahin keputusan Mas. Karena …,” uaranya kembali pecah. “Aku sadar, aku gak pantes buat Mas.”“Aku juga gak pantas buat keluarga Mas. Om Mahatma pasti bakal malu kalau punya menantu kayak aku.”“Aku bahkan takut, kalau nanti orang-orang bilang keluarga Mas menerima perempuan yang statusnya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status