LOGINMalam mulai menyelimuti kota. Aroma masakan hangat perlahan memenuhi apartemen Sankara.Seorang asisten rumah tangga yang datang setiap pagi dan sore untuk menyiapkan makanan serta merapikan apartemen baru saja selesai menata hidangan di atas meja makan.Ia menghampiri Ratu yang masih duduk diam di ruang keluarga. “Non, makan malamnya sudah siap,” ucap wanita paruh baya itu dengan ramah. “Silakan dimakan sebelum dingin.”Ratu yang sejak tadi melamun perlahan mengangkat kepalanya. “Iya, Bi,” balasnya sambil tersenyum tipis. “Tapi saya tunggu Mas Sankara dulu.”“Baik, Non.”Setelah pembantu itu kembali ke dapur, Ratu melirik ke arah lorong kamar.“Kayaknya Mas belum keluar juga.”Ia bangkit dari sofa, lalu melangkah pelan menyusuri lorong apartemen. Sesampainya di depan kamar utama, Ratu mengetuk pintu dua kali.Tok. Tok. Tok.Tak ada jawaban.“Apa gak denger, ya?”Perlahan ia memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. “Mas ….”Baru satu langkah memasuki kamar, suara pintu kamar
“Mas ...,” isak Ratu menggema di dalam ruangan. “Aku capek, aku capek banget ....”Sankara sama sekali tidak bertanya apa pun. Tak menanyakan mengapa Ratu menangis lagi. Tak meminta penjelasan.Pria itu hanya menatap lurus beberapa saat, lalu perlahan mengangkat kedua tangannya.Satu tangan mengusap lembut rambut Ratu. Sementara tangan yang lain merengkuh punggung gadis itu erat, seolah berusaha menjadi tempat paling aman untuknya bersandar.Sankara memejamkan mata sesaat, pelukan itu ia balas tanpa ragu.Sankara mengeratkan pelukannya sedikit demi sedikit.Tangannya bergerak perlahan mengusap punggung Ratu dengan ritme yang menenangkan, membiarkan gadis itu meluapkan seluruh sesak yang sejak semalam dipendam seorang diri.Tubuh Ratu masih bergetar oleh tangis.Sesekali ia menggenggam bagian belakang kemeja Sankara semakin erat, seolah takut pria itu ikut menghilang jika ia melepaskannya.Sankara menundukkan wajah. Bibirnya menyentuh lembut pucuk kepala Ratu.“Kamu boleh menangis sepu
Koridor rumah sakit kembali menyambut langkah Radja. Namun kali ini, langkah pria itu terasa jauh lebih berat dibanding saat ia meninggalkan tempat itu beberapa jam lalu.Pikirannya masih dipenuhi tangis Ratu. Tatapan penuh luka putrinya terus terbayang di pelupuk mata.Begitu tiba di depan ruang rawat inap, Radja menarik napas panjang sebelum akhirnya mendorong pintu dan masuk.Klek.Suara pintu membuat Djiwa dan Narendra yang berada di dalam ruangan serentak menoleh.Narendra, yang sejak tadi duduk di samping ranjang sang ibu, spontan berdiri. “Dad.”Tatapannya langsung bergerak ke belakang tubuh Radja. Seolah berharap sosok yang dinantikannya ikut melangkah masuk.Namun di belakang ayahnya kosong.“Kenapa sendiri?” gumamnya pelan. “Ratu mana?”Pertanyaan itu membuat Djiwa ikut mengangkat wajah. Wanita itu mengamati suaminya beberapa saat.Ada sesuatu yang berbeda. Mata Radja tampak memerah. Wajahnya pucat. Garis-garis lelah dan kesedihan begitu jelas tergambar di sana.Jantung Djiw
Pintu ruang rawat inap perlahan tertutup di belakang Sankara.Pertemuannya dengan Djiwa berlangsung singkat, tetapi cukup untuk membuat wanita itu sedikit lebih tenang setelah mengetahui putrinya berada dalam keadaan selamat.Setidaknya, kini keluarga itu tak lagi dihantui ketidakpastian.Sankara menghembuskan napas pelan.Tanpa banyak bicara, ia melangkah menyusuri lorong rumah sakit menuju area lift. Di belakangnya, Riko mengikuti dengan jarak beberapa langkah sambil membawa map dan tablet kerjanya.Suasana koridor pagi itu relatif lengang. Hanya terdengar bunyi roda ranjang pasien dan langkah para tenaga medis yang berlalu-lalang.Ting.Pintu lift terbuka perlahan. Namun, baru saja Sankara hendak melangkah masuk, langkahnya terhenti.Di dalam lift, Narendra telah berdiri lebih dulu. Tatapan keduanya langsung bertemu.Sorot mata Narendra begitu dingin, jauh berbeda dari pertemuan mereka sebelumnya. Ia melangkah keluar dari lift tanpa melepaskan pandangannya dari Sankara.“Kalau begi
“Halo, Mas?” sapa Narendra begitu panggilannya tersambung. Ia masih berada di dalam mobil, menyusuri jalanan kota yang basah setelah hujan semalam.“Hentikan pencarian Ratu, Ren.” Suara Regan terdengar tenang, tetapi cukup tegas hingga membuat Narendra refleks mengernyit.“Kamu sebaiknya langsung ke rumah sakit. Temani Mommy. Daddy sedang tidak ada di sana.”Narendra langsung memperlambat laju mobilnya. “Kenapa harus dihentikan?” tanyanya cepat. “Memangnya Ratu sudah ketemu?”“Iya.” Jawaban singkat itu membuat napas Narendra tertahan. “Daddy sedang menjemputnya.”Rasa lega baru saja muncul, tetapi seketika sirna saat ia kembali bertanya, “Di mana? Di mana Daddy menemukannya?”Beberapa detik, Regan hanya terdiam, seolah sedang memilih kata yang tepat.“Di apartemen Sankara.”Kalimat itu membuat jemari Narendra yang menggenggam kemudi perlahan mengeras. Rahangnya mengatup kuat.Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang selama ini berusaha ia s
Radja membeku. “Semalam dia datang sendiri ke sana?” Sankara mengangguk. “Saat itu hujan sangat deras. Kondisinya basah kuyup dan ... terlihat sangat terpukul.” Tatapan Sankara menurun sejenak, seolah kembali mengingat keadaan Ratu semalam. “Saya membawanya masuk, memintanya beristirahat, lalu ... dia memutuskan menginap.” Rahang Radja perlahan mengeras. Meski rasa lega mulai memenuhi dadanya karena mengetahui putrinya selamat, tetap saja ada bagian dalam dirinya yang dipenuhi tanda tanya. “Kenapa ... kamu tidak memberi tahu saya semalam?” Suara Radja terdengar lebih berat dari sebelumnya. “Saya minta maaf, Om.” Sankara menundukkan kepala sesaat. “Awalnya saya memang berniat menghubungi Om.” “Tetapi …,” ia mengangkat kembali pandangannya. “Rana memohon kepada saya agar tidak memberi tahu siapa pun tentang keberadaannya. Dia meminta waktu untuk menenangkan pikirannya.” “Saya berada di posisi yang sulit. Saya tidak ingin mengkhianati kepercayaannya. Namun di sisi lain, saya jug







