LOGINDjiwa tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari pintu kamar. Sejak Radja keluar untuk menidurkan anak-anak, pria itu belum juga kembali. Entah memilih tidur di kamar Regan, di ruang kerja, atau justru di ruang tamu—pikiran itu membuat dada Djiwa semakin sesak oleh rasa bersalah. Ia meremas ujung selimut di pangkuannya. “Aku cuma nanya …,” gumamnya lirih pada diri sendiri. “Aku gak bermaksud nuduh. Kenapa Mas Radja sesensitif itu, seolah dia memang ngelakuin hal yang salah?” Tatapannya beralih ke ponsel di atas nakas. Layar masih gelap. Tak ada balasan dari Karin. Tak ada kabar dari Kaisar yang sebelumnya ia minta menghubunginya begitu Karin ditemukan. Djiwa menghembuskan napas pelan, lalu memejamkan mata. “Baru tadi sore kita habisin waktu berdua dengan baik, Mas …,” bisiknya lirih. “Masa harus berakhir begini lagi?” Tak tahan dibelenggu kecemasan, Djiwa akhirnya turun dari ranjang. Ia melangkah menuju pintu, berniat mencari suaminya ke kamar anak-anak, ruang kerja, atau
Radja tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dituduh. Meski Djiwa tak mengatakannya secara gamblang, pria itu tahu persis ke mana arah kecurigaan istrinya. “Bagaimana bisa kamu berpikir ini ada hubungannya dengan saya?” tanyanya pelan. Nada suaranya datar, terlalu datar hingga membuat bulu kuduk Djiwa meremang. “Karin pergi sejak siang,” ucap Djiwa, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Dan siang tadi kamu juga pergi. Aku cari kamu ke mana-mana gak ada. Sorenya kamu pulang, terus langsung masuk kamar mandi.” Salah satu alis Radja terangkat. “Jadi,” katanya lirih, suaranya berubah lebih rendah, “Kamu menuduh saya menyebabkan kepergian Karin?” Djiwa menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. “Mungkin.” Seketika tatapan Radja menajam. “Kamu menuduh saya hanya berdasarkan asumsi liar di kepala kamu?” desisnya. “Coba ulangi. Katakan sekali lagi tuduhan apa yang ingin kamu lempar pada saya.” Jantun
“Kok adek cengeng banget sih, Ma, Pa?” keluh Binar saat kembali gagal mengajak bermain adik bayinya. Sejak pagi sampai malam, ia belum juga mendapat kesempatan karena Adipati terus menangis. Dan tak mau lepas dari gendongan sang ibu. Fairish tersenyum kecil mendengar keluhan putrinya. “Namanya juga bayi, sayang. Kamu dulu waktu kecil juga sama cengengnya kayak adek.” “Emang iya?” tanya Binar tak percaya. Mata bulatnya langsung beralih pada sang ayah. “Papa, Binar dulu cengeng juga?” Sultan mengangkat kedua alis, pura-pura berpikir keras. “Sama,” jawabnya akhirnya. “Kalau haus, nangis. Kalau gak digendong Papa atau Mama, nangis. Kalau gak dipeluk, nangis.” Binar langsung membulatkan mata. “Segitunya?” Sultan tertawa pelan lalu melirik putra kecilnya yang sedang menyusu dalam dekapan Fairish. “Sama persis kayak Adi sekarang. Dia nangis karena haus, bukan karena cengeng.” “Jadi bukan karena dia manja?” “Bukan, Nak.” Sultan kemudian bangkit dari duduknya, mengangkat Binar ke d
Djiwa melirik jam dinding di kamarnya, jarumnya sudah menunjukkan pukul enam sore. Di balik jendela, langit pun telah gelap, menandakan malam benar-benar turun. Ia lalu menunduk, menatap sosok suaminya yang masih membenamkan wajah di dadanya tanpa berniat beranjak, memeluk pinggangnya erat seolah enggan melepas. “Kamu kayak anak kecil,” goda Djiwa sambil terkekeh pelan. Tak ada jawaban. Radja justru memeluknya semakin erat di bawah selimut, tanpa keduanya mengenakan sehelai benang pun. “Mas …,” Djiwa tertawa kecil, mengusap rambut pria itu lembut. “Udah malem. Kita harus mandi lagi, lengket semua.” Masih tak ada respons. “Anak-anak pasti bingung Daddy sama Mommy ke mana,” lanjutnya. “Sebentar lagi juga waktunya makan malem.” Radja hanya menggeleng pelan tanpa mengangkat wajah. Djiwa menghela napas pasrah, senyumnya tak hilang. “Kamu juga harus jelasin ke aku,” ucapnya sambil mencubit pelan telinga suaminya, “Gimana bisa kamu berdiri normal kayak gini.” Baru kali ini Radja me
Djiwa baru saja hendak membilas tubuhnya yang dipenuhi busa sabun di bawah shower, namun urung saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Belum sempat ia menoleh, sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. “Akh—!” Djiwa menjerit refleks, tubuhnya meronta. “Tolong—!” “Sayang, ini aku … suami kamu.” Suara berat itu membuat tubuhnya membeku. “Mas …?” lirihnya, buru-buru mengusap busa di wajah. Radja tak langsung menjawab. Ia justru mengulurkan tangan, menyalakan shower lebih besar hingga air hangat mengguyur tubuh mereka berdua. Djiwa segera membilas wajahnya—dan saat matanya terbuka sempurna, napasnya tercekat. Radja. Berdiri tegak di hadapannya. Tanpa kursi roda. Tanpa bantuan apa pun. Normal. “M-Mas …,” suaranya bergetar. “Kamu—” Namun kalimat itu tak selesai. Radja langsung menarik tengkuknya lembut lalu membungkam bibirnya dengan ciuman dalam. Awalnya pelan, lembut. Seolah benar-benar menikmati kenyataan bahwa ia akhirnya bisa kembali memelu
“Mas …?” napas Karin tercekat di tenggorokan. Tubuhnya menegang, matanya membulat menatap Radja yang kini berdiri tegak di hadapannya. Sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Saya tidak sama seperti mendiang Adrian. Mantan suami kamu.” Kalimat itu menghantam Karin begitu keras. Rahang kecilnya mengeras. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. “Saya masih bisa berjalan seperti manusia normal,” lanjut Radja tenang, penuh penekanan. “Dan hidup saya juga masih panjang.” Ia melangkah mendekat. “Tidak ada tenggat waktu untuk kematian saya.” Karin mundur satu langkah. “B-Bagaimana bisa?” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Radja menatapnya tajam. “Karena Tuhan masih baik pada saya.” Tatapan itu menusuk lurus ke dalam dirinya. “Dia tahu mana manusia yang layak diselamatkan …,” suara Radja merendah, dingin, “Dan mana yang pantas dihukum.” Wajah Karin berubah. Topeng tenangnya mulai retak. “Jangan sok suci,” desisnya pelan. Radja tersenyum tipis. “Kenapa?” tanyanya datar. “Tersingg
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc







