Share

BAB 86

Author: Langit Parama
last update Last Updated: 2025-12-26 08:53:24

“Mas,” panggil Djiwa lembut pada Radja yang sedang fokus menatap layar laptopnya.

Radja mengalihkan pandangan sejenak, kedua alisnya terangkat tipis. “Ada apa?”

Tanpa ragu, Djiwa melangkah mendekat lalu duduk di pangkuan pria itu. Kedua lengannya terkalung di leher Radja, tubuhnya condong ke depan.

“Ekhem,” Radja berdehem pelan, sudut bibirnya terangkat samar. “Ada apa ini, hm?” Kedua lengannya refleks melingkar di pinggang ramping Djiwa.

Djiwa menatap wajah Radja lurus-lurus, kali ini tanpa senyum. “Biasanya, hamil itu berapa lama setelah berhubungan intim, Mas? Kok sampe sekarang Djiwa belum juga hamil?”

Radja terdiam sejenak. Tatapannya mengendur, seolah tengah menyusun jawaban yang paling aman. “Kamu masih konsumsi obat itu?”

“Nggak,” sahut Djiwa cepat. “Sejak di hotel itu, Djiwa udah berhenti minum obat kontrasepsi. Dan setelah itu, kita udah beberapa kali hubungan intim, kan? Bukan cuma sekali.”

Radja menghela napas panjang. Satu tangannya terangkat, mengusap perut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 115

    Gugurin? Kata itu jatuh pelan, tapi menghantam keras. Radja terdiam. Sekilas wajahnya tak berekspresi, namun sorot matanya berubah gelap, berbahaya. “Mas Kai bilang, anak ini gak pantes lahir di keluarga ini,” lanjut Djiwa dengan suara pecah. “Katanya, karena bukan darah daging dia. Karena dia pikir, anak ini bukan keturunan Reinard.” Djiwa terisak lagi, bahunya bergetar. “Mas … Djiwa gak minta apa-apa,” suara Djiwa nyaris putus. “Djiwa cuma pengen anak ini lahir. Itu aja.” Ia menarik napas tersengal, dadanya terasa sesak. “Kalaupun nanti anak ini laki-laki, Djiwa gak keberatan kalau dia gak dapet apa pun dari warisan keluarga Reinard. Sama sekali gak apa-apa.” Air mata kembali jatuh. Djiwa menggeleng kecil, seperti menolak kemungkinan yang menakutkannya sendiri. “Tolong bantuin Djiwa, Mas,” pintanya lirih. “Djiwa gak tahu harus gimana lagi. Cuma Mas yang bisa bantu Djiwa. Apalagi … ini juga darah daging Mas Radja.” Hening menutup ruangan. Radja perlahan menurunkan tangannya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 114

    “Bukannya kamu masih punya jamu dari tante Anggun? Kenapa tidak diminum?” tanya Sultan datar, pandangannya tertuju pada Fairish yang sedang menghabiskan segelas susu ibu hamil sebelum tidur. “Lebih enak susu, Mas. Jamu pahit, aku gak suka,” bibir Fairish mencebik kecil, mencoba terlihat manja—meski ia tahu, Sultan nyaris tak pernah bereaksi pada hal-hal semacam itu. Benar saja, Sultan hanya mengangguk singkat. Ia lalu naik ke atas ranjang, merapikan bantal dan guling di sisi tempat tidur, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan tanpa banyak kata. Tak lama setelah susunya habis, Fairish menyusul. Ia naik ke ranjang dan berbaring di sisi kiri sang suami, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. “Delapan bulan lagi memang masih lama,” ucap Sultan sambil menatap langit-langit kamar, suaranya tenang. “Tapi tidak ada salahnya kalau kamu mau mulai cari nama anak dari sekarang.” Fairish menoleh. Senyum kecil terbit di wajahnya. “Udah ada, Mas.” Sultan mengalihkan pandangannya. “Siapa?”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 113

    Napas Djiwa tercekat. Tangannya gemetar saat perlahan turun mengusap perutnya, naluri melindungi muncul begitu saja. “Nggak, Mas,” bisik Djiwa lirih, namun ada keteguhan yang untuk pertama kalinya terdengar jelas. “Ini anak aku. Aku gak akan pernah gugurin dia. Sekalipun kamu yang minta.” Kaisar menyeringai miring, dingin dan meremehkan. “Itu bukan darah daging aku. Bukan juga darah daging Reinard,” katanya datar. “Terus kamu mau anak itu tumbuh besar di sini? Di keluarga ini?” kedua alis tebal Kaisar menyatu. Djiwa menelan ludahnya berat. Dadanya sesak, seperti dihimpit dari dalam. “Mas sendiri yang minta Djiwa hamil dari pria lain,” ucapnya pelan, berusaha tetap tenang. “Mas juga yang bilang bakal ngerawat anak ini seperti anak kandung sendiri.” Ia menggigit bibirnya, suaranya bergetar saat melanjutkan. “Kenapa sekarang berubah, Mas? Anak ini udah ada di perut Djiwa. Ini sesuai sama yang Mas mau dari awal. Kenapa sekarang jadi begini?” Kaisar mendengus singkat, seolah menden

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama. Tangannya perlahan turun mengusap perutnya, gemetar. “Dengar, ya, sayang …,” bisiknya nyaris tak terdengar. “Kamu memang gak diharapkan keluarga ini, tapi kamu harus tetap kuat. Karena Mama berharap kamu lahir ke dunia.” Mbok Iyam menelan ludah berat, lalu berdiri sedikit ke depan, seolah ingin melindungi tubuh rapuh itu dari kata-kata yang bahkan belum sempat diucapkan langsung ke wajah Djiwa. “Kita ke paviliun belakang aja yuk, Non,” ajak Mbok Iyam lembut, kedua tangannya mengusap bahu Djiwa pelan, seolah menenangkan gemetar yang tak terlihat. Djiwa terdiam beberapa detik. Wajahnya masih pucat, matanya kosong seperti menahan sesuatu yang berat di dada. Lalu ia mengangguk kecil, pat

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 111

    “Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radja bersikap dingin dan tak peduli pada anaknya—orang rumahnya selalu telat menjemputnya, seolah tak ingat memilikinya. Bahkan sang ibu sendiri. Inggrit tak begitu peduli pada Anggita karena dia darah daging Dante, pria yang ingin Inggrit lupakan dari hidupnya. “Hai, Anggita,” sapa seseorang yang berdiri menjuang di hadapan Anggita, sosok yang tak asing. “Om lagi?” ucap bocah itu ketus, bibirnya mencebik. Dante menyeringai miring. “Kamu belum dijemput?” tanyanya dengan nada rendah, namun suara itu tetap berat dan dalam. Anggita hanya menggeleng singkat. Tatapan polos bocah itu masih teralihkan pada mobil-mobil yang keluar masuk ke dalam halaman sekolahnya. “Biar Om antar ke rumah kamu, m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 110

    Kepala Kaisar terpelanting ke samping, rahangnya mengeras, lidahnya mengecap rasa logam dari darah yang kembali pecah di sudut bibirnya. Fairish terengah. Tangannya gemetar antara marah, sakit, dan takut. “Jangan panggil nama aku,” ucapnya tajam, bergetar namun penuh tekanan. “Kamu gak punya hak.” Kaisar menoleh perlahan, menatap Fairish. Matanya menyipit, bukan marah—melainkan terkejut melihat sorot kebencian di wajah wanita itu. “Apa yang sebenernya kamu sembunyiin dari aku, Kai?” suara Fairish merendah, namun justru terdengar lebih berbahaya. “Djiwa hamil. Dan aku juga hamil.” Kaisar terdiam. “Satu bulan,” lanjut Fairish, menelan ludahnya berat. “Usia kandungan aku satu bulan lebih. Jadi jawab aku sekarang,” ia melangkah mendekat, jarak mereka tinggal sejengkal, “Di hari yang sama kamu tidur sama aku, kamu juga tidur sama Djiwa?” “Kamu jangan ngawur,” Kaisar akhirnya bersuara, nada suaranya tertahan. “Aku gak tahu kalau dia hamil.” “Itu bukan jawaban yang aku mau den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status