LOGINHari ini 4 bab, ya. Mau 4 bab lagi besok? Vote GEM sebanyak-banyaknya. Komen² dan ulasan. Like catatan ini juga🫰🏻🫶🏻
“Kai ….” lirih Fairish. “Buruan, Rish, ke rumah sakit. Atau hubungi dokter kandungan kamu sekarang,” suara Kaisar terdengar makin cemas, nyaris panik. “Atau biar aku yang hubungi dokter, aku minta dia datang ke rumah buat periksa kamu.” Lanjutnya, mencari solusi lebih baik daripada meminta Sultan untuk pulang. Tiba-tiba Fairish tertawa terbahak. Tawa yang sama sekali tak selaras dengan kepanikan di seberang sana. Kaisar mengernyit bingung. “Kamu masih sempat-sempatnya ketawa di kondisi kayak gini, Rish?” Fairish masih tergelak. “Aku tuh gak makan, Kai. Aku cuma nge-prank kamu.” Suaranya ringan, nyaris ceria. “Aku penasaran aja, gimana reaksi kamu kalau aku bilang makan nanas muda.” Ia berhenti tertawa, lalu tersenyum kecil. “Ternyata kamu segitu khawatirnya sama aku. Jadi makin sayang deh sama kamu.” Nada suaranya melembut. “Tenang, aku gak makan buah itu kok.” Di seberang sana, Kaisar menghela napas berat. “Kamu keterlaluan.” Suaranya terdengar ditekan. “Jangan pernah
“Ternyata yang licik di rumah ini bukan cuma aku,” gumam Inggrit dalam hati. “Yang punya anak tapi bukan anak kandung suaminya bukan cuma aku.” Wajahnya tetap datar, meski dadanya bergejolak. “Terlepas dari kehamilan Djiwa itu karena permintaan Kaisar atau bukan,” batinnya lagi, “pada intinya, anak yang dia kandung bukan darah Reinard. Jadi kehamilannya gak perlu diagung-agungkan berlebihan.” Inggrit memejamkan mata sesaat, lalu menghela napas panjang, seolah sedang menata ulang emosinya. “Tadi ada masalah di kamar Djiwa yang di lantai bawah,” Sekar membuka suara, menjawab pertanyaan Fairish. Nada bicaranya tenang, namun tajam. “Inggrit cemburu karena Radja terlalu perhatian pada Djiwa. Dan dia menuduh kalau anak yang dikandung Djiwa bukan anak Kaisar,” jelasnya tanpa ditutup-tutupi. Fairish membulatkan mata. Napasnya tercekat. “Bu-bukan anaknya Kaisar?” tanyanya terbata, wajahnya seketika memucat. Sekar mengedikkan bahu ringan. “Itu yang sedang Mami tanyakan sekarang. Mami sen
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok Inem berjalan ke meja rias, meraih sisir, lalu kembali menghampiri. Dengan gerakan lembut, ia menyisir rambut Djiwa, merapikannya agar tak lagi kusut akibat insiden tadi. Kamar itu kini sepi. Hanya mereka berdua. Radja, Inggrit, dan Sekar memilih menyelesaikan urusan di luar agar Djiwa bisa beristirahat dengan tenang. “Kepalanya sakit, Non?” tanya Mbok Inem pelan, jemarinya cekatan memijat pelipis Djiwa. “Biar Mbok pijetin, supaya gak pusing.” Djiwa menelan ludah pelan. “Terima kasih ya, Mbok. Tapi Mbok sendiri gimana keadaannya? Pasti sakit, kan, dijambak?” Tangannya terulur hendak memeriksa kepala Mbok Inem, namun cepat-cepat ditahan oleh wanita itu. “Mbok gak apa-apa, Non. Jangan kh
Sekar menatap menantu sulungnya dengan kening mengkerut dalam. Sementara Djiwa yang masih berada di balik tubuh Mbok Inem tampak tegang mendengar kalimat terakhir Inggrit. “Apa maksud kamu, Grit?” tanya Sekar dengan nada rendah. “Kalau bukan anak Kaisar, lalu anak siapa? Kamu tahu dari mana kalau itu bukan anak Kai?” “Non?” Mbok Inem menatap Djiwa, kedua tangannya terangkat memperbaiki rambut wanita itu. Meski dalam hati dia bertanya-tanya, apakah benar yang dikatakan Inggrit barusan. Inggrit menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. “Iya, aku tahu kalau itu bukan anak Kai. Karena ... aku, aku denger langsung dari—” “INGGRIT.” Suara berat itu berasal dari arah pintu, di mana Radja muncul dengan tatapan dingin dan napas memburu. Langkahnya berat dan tegas, menghampiri istrinya. “Apa-apaan kamu, huh?” Radja menarik lengan sang istri sampai Inggrit berganti posisi menghadap padanya. “Kamu tahu Djiwa sedang hamil, tapi kamu malah melukai dia?” Tatapan Inggrit menajam, k
“Terlalu terang-terangan?” Radja tersenyum miring, mengingat ucapan Sultan pagi tadi sebelum mereka berangkat ke kantor. “Nanti ada yang curiga?” gumamnya pelan, tanpa nada penyesalan. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerjanya, lalu melipat kedua tangan di dada. “Biarkan saja mereka curiga. Lagipula, rumah tanggaku sudah hancur. Dan rumah tangga Djiwa, bahkan sejak awal tidak pernah benar-benar utuh,” batinnya dingin. Beberapa detik berlalu. Entah dorongan apa, Radja meraih iPad di atas meja dan membuka aplikasi CCTV. Tangannya bergerak cepat, membuka akses kamera mansion. Ia ingin memastikan satu hal, apakah Djiwa sudah pindah ke kamar barunya. Namun detik berikutnya, napas Radja tercekat. Di layar, jelas terlihat Inggrit mencengkeram rambut Djiwa, menariknya kasar. Tubuh Djiwa tampak limbung, wajahnya pucat, tangannya refleks berusaha menahan. “Djiwa, Inggrit?” suara Radja keluar rendah, nyaris seperti geraman. Ia berdiri mendadak. iPad diletakkannya ke atas meja denga
“Akhirnya selesai juga kamarnya Non Djiwa,” gumam Mbok Inem sambil memutari ruangan, matanya meneliti setiap sudut dengan puas. Senyumnya mengembang lebar. “Tinggal ditempati mulai hari ini.” “Iya, Mbok,” sahut salah satu pelayan baru, Mirna, yang berdiri di dekatnya. Sejak tadi matanya tak berhenti berkeliling, jelas penasaran. “Mbok, Non Djiwa itu yang mana, ya?” Mbok Inem terkekeh pelan. “Sebentar lagi ke sini, Mir. Pokoknya paling cantik, paling baik, ramah, dan gak sombong. Kalau ketemu, kamu pasti langsung tahu.” Mirna mengangguk cepat, masih penasaran, sampai akhirnya pintu kamar terbuka perlahan. Djiwa muncul di ambang pintu bersama Mbok Iyam yang menyeret satu koper terakhir. Mirna refleks membulatkan mata. Seketika ia setuju wanita itu benar-benar cantik. Wajahnya lembut, teduh, dan dari caranya melangkah saja sudah terasa kalau dia orang baik. “Selamat datang, Non,” sapa Mbok Inem riang, seperti menyambut seseorang yang baru pulang dari perjalanan jauh. Djiwa terseny







