Share

Bab 138

Penulis: Lyla Veil
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 18:22:12

Setelah dokter Taufik pamit undur diri, keheningan kembali menguasai kamar utama. Elang langsung condong ke depan, berniat merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat untuk menumpahkan seluruh rasa haru yang membuncah di dadanya.

Namun, tepat sebelum lengan tegap itu melingkar, Dinara sedikit menggeser bahunya, menghindari sentuhan Elang dengan halus.

“Mas... aku capek banget. Pengin langsung tidur,” bisik Dinara pelan tanpa menatap mata suaminya.

Elang sempat tertegun, tangannya menggantu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 143

    Elang menarik nafas pendek lalu tersenyum tipis. Jemarinya bergerak mencubit pelan hidung Dinara, gemas melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.“Secara profesional, pekerjaanmu waktu itu memang belum sesuai dengan standar Mas,” ucap Elang jujur, tanpa bermaksud menyudutkan.Dinara sedikit mengerucutkan bibirnya mendengar pengakuan itu, namun ia tetap diam mendengarkan.“Tapi itu wajar, Sayang... Kamu karyawan baru dan belum tahu bagaimana ritme kerjanya Mas. Mas sengaja melibatkan Iwan agar dia bisa membimbingmu pelan-pelan,” lanjut Elang, menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari sudut pandangnya.Elang kemudian meraih kembali jemari Dinara, menggenggamnya dengan lebih erat. Sorot matanya melunak, memancarkan ketulusan yang mendalam.“Mas sengaja bersikap dingin karena sedang berusaha menjaga jarak aman. Mas tidak mau mengacaukan profesionalitas kerja karena ketertarikan pribadi. Tapi yang paling penting... bagi Mas, keberadaanmu di ruangan itu sudah lebih dar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 142

    Elang terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat ingatannya berputar kembali ke setahun lalu.“Memangnya apa yang kamu ingat tentang hari itu?" tanya Elang balik, alih-alih langsung menjawab rasa penasaran istrinya.Dinara menyandarkan punggungnya ke bantal, matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tidak luntur.“Aku ingat banget, waktu itu aku keluar dari ruangan Mas dengan lemas. Aku sudah seratus persen yakin kalau aku tidak akan diterima kerja di SHG.”“Kenapa bisa seyakin itu?”“Ya... karena semua pertanyaan Mas waktu itu dingin banget, terus jawaban-jawabanku rasanya kurang memuaskan,” tiru Dinara sambil mengerucutkan bibirnya. “Mas ingat nggak? Waktu aku menjelaskan pengalaman kerja dan strategiku, Mas cuma melihatku dari atas sampai bawah dengan muka datar tanpa ekspresi, lalu cuma bilang ‘oke, silakan keluar’. Siapa yang tidak ciut mentalnya digituin sama CEO langsung?”Elang terkekeh pelan. Ia meraih jemari Dinara, mengus

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 141

    Dinara menahan nafas, meremas selimutnya erat-erat dengan mata melotot ke arah Julia. Ia benar-benar ngeri sahabatnya itu akan langsung dipecat hari ini juga karena kelancangannya.Namun, Elang sama sekali tidak menunjukkan kilat amarah. Pria itu justru mengurai genggaman tangannya dari Dinara, lalu memperbaiki posisi duduknya. Sorot matanya yang tajam dan dingin mengunci pergerakan Julia, membuat suasana kamar seketika diselimuti aura intimidasi khas seorang pemimpin tertinggi korporat.Elang diam selama beberapa saat. Sifatnya yang irit bicara di depan orang lain, kecuali Dinara, membuat setiap detik keheningan itu terasa begitu mencekam bagi Julia yang kini mulai menelan saliva.Setelah memastikan Julia benar-benar mengunci mulutnya, Elang baru membuka suara.“Saya tidak akan mengorbankan istri dan anak saya sendiri,” ucap Elang penuh penekanan yang mutlak. “Dinara... tidak akan tersentuh.”“Dan satu hal lagi,” tambah Elang menegaskan posisinya sebagai pelindung utama di rumah ini.

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 140

    “Sayang... kenapa ada Julia di sini?” tanya Elang, tanpa menoleh ke arah Dinara.Julia yang masih terpaku di ambang pintu makin terkejut. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong saat mendengar bos besarnya yang terkenal sedingin es itu memanggil sahabatnya dengan sebutan yang begitu intim.“Sa-sayang?!” lirih Julia, suaranya hampir habis karena syok.Dinara refleks menyentuh lengan suaminya, mencoba meredam ketegangan. “Hmm... maaf Mas, aku lupa bilang kalau ada Julia...” balas Dinara tak enak hati, melirik Julia dengan perasaan bersalah.“M-Mas... Mas Elang?!” Julia makin bergidik, matanya bergerak liar menatap Elang dan Dinara bergantian. “Ka-kalian?!” Julia menunjuk kedua manusia di depannya dengan tangan yang gemetar akibat rasa tidak percaya yang membuncah.Elang berdeham pendek, berusaha menguasai situasi. Ketegasan seorang pemimpin kembali terlihat di wajahnya. Ia meletakkan mangkuk sup ke atas nakas, lalu menatap Julia lurus-lurus.“Julia, masuk dan tutup pintunya. Dud

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 139

    Elang dengan cekatan mengangkat dan menggendong tubuh ringkih Dinara, membawanya untuk duduk kembali di ranjang. Ia meletakkan bantal di punggung Dinara sebagai sandaran, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi kaki istrinya yang terasa dingin.Kemudian, Elang ikut naik ke atas ranjang dan duduk di tepi tempat tidur itu, melipat kakinya demi bisa menatap langsung sang istri yang masih saja menunduk menyembunyikan wajahnya.“Sayang, dengarkan Mas,” ujar Elang, suaranya mendadak serak, sarat akan penyesalan yang mendalam. Kedua ibu jarinya bergerak lembut, mendongakkan dagu Dinara pelan lalu mengusap air mata yang mulai menetes di pipi istrinya.“Garis samar itu aku yakin artinya positif, Sayang. Kamu sedang mengandung anak kita,” lanjut Elang dengan tatapan paling jujur dan lembut yang pernah Dinara lihat. “Dan... ini sama sekali bukan beban. Ini adalah anugerah yang paling Mas inginkan di dalam hidup Mas.”Dinara tertegun, bibirnya sedikit terbuka mendengarkan penuturan suaminya.E

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 138

    Setelah dokter Taufik pamit undur diri, keheningan kembali menguasai kamar utama. Elang langsung condong ke depan, berniat merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat untuk menumpahkan seluruh rasa haru yang membuncah di dadanya.Namun, tepat sebelum lengan tegap itu melingkar, Dinara sedikit menggeser bahunya, menghindari sentuhan Elang dengan halus.“Mas... aku capek banget. Pengin langsung tidur,” bisik Dinara pelan tanpa menatap mata suaminya.Elang sempat tertegun, tangannya menggantung di udara selama beberapa detik. Namun, melihat guratan lelah dan wajah pucat istrinya, ia langsung memaklumi. Elang mengulas senyum lembut, lalu menarik selimut Dinara hingga sebatas dada.“Ya sudah, kamu tidur, ya. Mas tidak akan mengganggumu.”Malam itu pun berlalu dalam senyap, menyisakan kecamuk pikiran di kepala Dinara hingga ia akhirnya terlelap.Keesokan paginya, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah gorden.Elang sudah bangun dan mandi lebih dulu. Kemudian Dinara yang bar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 52

    Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menerpa mata Dinara. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya masih sedikit berat, namun suhu tubuhnya sudah jauh lebih stabil dibandingkan semalam.Refleks, tangan Dinara meraba dahi. Dahinya sudah dingin. Ia langsung menoleh ke arah sofa di sudut

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 43

    Cahaya matahari yang menyelinap di antara celah gorden memaksa Dinara untuk membuka mata. Kepalanya langsung terasa berdenyut, seolah ada ribuan jarum yang menusuk sarafnya. Ia mengerang, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang sambil mencoba mengumpulkan potongan ingatan yang berceceran.“Pesta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 45

    “Biar saya, Pak Anda, dan Bu Soraya yang survei,” jawab Elang santai.Terdengar langkah kaki dari arah pintu masuk villa. Andaliman muncul dengan senyum lebar, “Pagi semuanya! Wah, ada Bu Karin...” seru Andaliman ceria.Ia berjalan menghampiri sofa di mana Karin dan Elang duduk, lalu dengan sopan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 40

    “Jangan marah-marah,” Dinara terdengar hampir menangis. “Memang saya selalu sial…hmgmh”Ia menarik nafas tajam, tubuhnya menggigil meski keringat membasahi pelipis. “Aduh… panas banget… nggak tahan… saya ingin... dima-suki...”Kalimatnya mulai tidak utuh. Pikirannya berantakan. Dunia terasa berputa

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status