ログイン“Dinara...” panggil Bastian lembut.Dinara sedikit tersentak, lalu menoleh. Sepasang matanya yang indah masih menyiratkan sisa-sisa kesedihan yang mendalam, membuat Bastian kembali iba.“Ya, Mas Bas?” Dinara menyahut.Bastian berjalan mendekat, lalu menarik sebuah kursi kayu berkaki pendek dan duduk dengan jarak yang aman, menjaga batas kesopanan di antara mereka. “Saya rasa kita harus membicarakan apa yang dikatakan Pak RT tadi. Juga tentang... surat dari Pak Elang.”Mendengar nama Elang disebut, jemari Dinara yang bertautan di atas pangkuannya mendadak meremas kuat. Ada riak perih yang melintas cepat di bola matanya sebelum ia kembali menunduk, menatap jemarinya sendiri.“Maafkan saya, Mas,” lirih Dinara, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang sejak tadi ia tekan. “Gara-gara ego saya yang melarikan diri ke tempat ini, Mas Bastian jadi ikut terseret masalah. Sampai-sampai... Pak RT dan warga salah paham, memaksa Mas Bastian untuk bertanggung jawab atas saya.”Bastian menggeleng
Bastian terkesiap, seolah baru saja disengat listrik mendengar penuturan berani dari wanita di sampingnya.“Tidak bisa begitu, Dinara!” sergah Bastian cepat dengan nafas tertahan. Kepalanya menggeleng samar, mencoba menolak ide yang baru saja meluncur dari mulut Dinara.Bagaimana mungkin? Wanita ini adalah istri dari Elang Adikara, pria yang paling ia hormati dan jaga di dunia ini. Meski selembar kertas cerai itu kini ada di depan mata mereka, Bastian menolak keras untuk melangkahi batas suci tersebut.Namun, Pak RT justru memandang Dinara dengan sorot mata yang jauh lebih melunak setelah membaca lembaran dokumen resmi di tangannya. Beliau mengangguk-angguk paham, lalu menoleh ke arah Bastian, memberikan pembelaan yang sama sekali tidak Bastian duga.“Ini keputusan yang baik untuk bersama, Bas. Apalagi status Mbak Dinara sudah jelas nanti setelah melahirkan,” ujar Pak RT dengan nada memfinalisasi keadaan. Menurut pandangan orang tua seperti beliau, ini adalah jalan keluar paling ter
Bastian menatap Dinara dengan tatapan penuh rasa bersalah yang mendalam. Ia menghela nafas sebelum menghampiri Dinara.“Maafkan saya, Dinara... saya tidak bermaksud menyembunyikannya darimu...”Isakan Dinara akhirnya pecah menjadi tangisan yang begitu memilukan. Ia meremas kertas cerai itu di dadanya, menangisi takdir cintanya yang berakhir setragis ini. Melihat kehancuran Dinara, Bastian merasa hatinya ikut tercabik. Pria itu tampak bingung harus melakukan apa, hingga akhirnya akal sehatnya kalah oleh rasa iba dan dorongan protektif yang besar.Bastian mendekati Dinara dengan sedikit ragu, ia meraih bahu ringkih Dinara lalu menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang erat. Di dalam keheningan rumah yang berpadu dengan suara tangis Dinara yang memilukan, Bastian memejamkan mata rapat-rapat.Namun, kehangatan yang getir itu tidak berlangsung lama.“Bastian! Ada apa dengan kalian?!”Suara Pak RT bergaung lantang dari pintu yang terbuka, diiringi oleh kasak-kusuk riuh dari beberapa warga
Waktu bergulir dengan cepat. Sudah masuk tiga bulan lamanya Dinara menjalani kehidupan baru di dusun nelayan Pantura ini, dan selama itu pula, Elang Adikara benar-benar seolah lenyap dari buminya. Bastian sempat kembali ke Jakarta untuk mengurus beberapa hal termasuk menyerahkan kotak titipan Dinara untuk Elang Adikara namun setelah itu, dunia kota yang sibuk seakan tertutup rapat bagi Dinara.Rutinitas harian menjadi satu-satunya pelarian Dinara agar tidak gila karena rindu dan ketidakpastian. Setiap pagi, dengan perutnya yang kini sudah makin membuncit memasuki usia kehamilan tiga bulan, Dinara memaksakan diri untuk bergerak. Membereskan rumah sederhana milik Bastian, menyapu halaman, lalu berjalan perlahan menuju pasar dekat dermaga untuk membeli ikan segar tangkapan nelayan, sebelum akhirnya pulang untuk memasak.Namun, sekadar berjalan ke pasar pun kini terasa berat bagi Dinara. Dusun yang awalnya terasa damai, perlahan mulai terasa dingin. Kehadiran seorang wanita asing yang seda
“Maksud Pak Bas, saya bisa tinggal di sini sementara waktu?” tanya Dinara memastikan lagi. Bastian mengangguk, sambil membawa tas milik Dinara. “Iya, Mbak. Bukan hanya sementara, tapi terserah Mbak Dinara mau sampai kapan.” Dinara tersenyum kecil. Perasaan hangat perlahan merayap di dadanya yang selama sebulan ini terasa beku. “Terima kasih banyak, Pak.” Bastian melangkah lebih dulu, membuka pintu kayu rumah sederhana itu yang mengeluarkan bunyi derit halus. Begitu masuk, aroma kayu yang khas dan kebersihan rumah yang terawat langsung menyambut mereka. Rumah ini tidak besar, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan mansion megah milik Elang Adikara di Jakarta. Namun, di mata Dinara saat ini, kesederhanaan rumah di tepi pantai ini terasa seribu kali lebih menenangkan. Tidak ada kamera wartawan, tidak ada kilatan gosip televisi, dan yang terpenting tidak ada tekanan masalah. Bastian meletakkan tas pakaian Dinara di kursi tamu yang terlihat bersih. “Rumah ini memang jarang saya t
Untuk terakhir kalinya Julia menjenguk Dinara di kamarnya saat hendak ke kantor. Kala itu terasa sekali menjadi pelukan mereka yang terakhir kalinya.“Lo harus janji sama gue, Din...” bisik Julia parau, suaranya bergetar di dekat telinga Dinara. “Di mana pun lo berada nanti, lo harus makan yang banyak. Jangan mikirin apa-apa lagi selain kesehatan lo dan keponakan gue. Lo udah terlalu sering ngalah buat orang lain, sekarang giliran lo yang harus bahagia.”Dinara tidak menjawab lewat kata-kata. Ia hanya mampu mempererat pelukannya, memejamkan mata rapat-rapat demi menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Dadanya terasa ngilu. Kehadiran Julia di rumah ini adalah satu-satunya penghibur di tengah dinginnya pengabaian Elang selama sebulan ini. Dan kini, ia juga harus merelakan satu-satunya sandaran yang ia punya itu demi menjauh sejauh-jauhnya.Perlahan, Dinara mengurai pelukan mereka. Sebuah senyuman pasrah terlihat darinya begitu menyayat hati Julia.“Makasih ya, Jule... buat se
Ciuman itu penuh kerinduan bukan nafsu yang menggebu. Tangan Dinara bergerak meremas kemeja yang dikenakan Andaliman. Tanpa sadar, ia membalas ciuman itu. Ciuman itu terlalu lama, bahkan hingga suara ramai di luar sudah hilang sejak tadi. Tangan Andaliman dari wajah turun perlahan ke dada Dinara.
Di ruang Elang Adikara. Sudah tersedia satu meja makan menu sushi. Dinara tidak tahu dengan jelas masing-masing namanya, semua itu ia anggap sushi. Elang sudah duduk di kursi makan. “Kamu temani saya makan di sini…” ‘Menemani makan?’ Dinara menelan saliva. Makan bersama bosnya itu ketika tugas k
Terdengar suara Karin yang masih kesal sendiri. “Din, meetingnya penting banget? Apa nggak bisa digeser?” “Mohon maaf Ibu, hanya Pak Elang saja yang bisa menggeser jadwalnya. Saya tidak berani…” “Ya, sudah!” Klik. Hubungan telepon langsung diputus Karin. Dinara tersentak sedikit, baru kali ini
Elang menyadari tatapan Dinara. Ia pun berdiri. Mata Dinara mengikutinya.Elang terlihat kikuk, tapi ia pintar menutupinya.“Saya ada urusan di luar… kamu teruskan saja.” Dinara bingung namun ia tetap mengangguk, “Baik, Pak.”Elang pun pergi tanpa menoleh lagi pada Dinara. Meninggalkan Dinara yang







