Share

Bab 17

Author: Lyla Veil
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-26 18:26:34
Dinara menelan saliva, “Mas, nggak enak kalau ada karyawan lain yang melihat kita… Aku sekretaris Pak Elang.”

Andaliman masih menatapnya dalam. Penyesalan itu muncul begitu saja dari kenangan masa lalu yang tiba-tiba saja terkoyak.

Andaliman melepaskan tangannya dari pintu. Dinara segera berbalik, dan membuka pintu itu tergesa.

Ada rasa yang entah apa, yang pasti bukan rasa cinta pertama yang pernah manis. Dinara menjaga jarak sepanjang perjalanan menuju lobi.

Sebelum berpisah, Andaliman m
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 150

    “Maksud Pak Bas, saya bisa tinggal di sini sementara waktu?” tanya Dinara memastikan lagi.Bastian mengangguk, sambil membawa tas milik Dinara. “Iya, Mbak. Bukan hanya sementara, tapi terserah Mbak Dinara mau sampai kapan.”Dinara tersenyum kecil. Perasaan hangat perlahan merayap di dadanya yang selama sebulan ini terasa beku. “Terima kasih banyak, Pak.”Bastian melangkah lebih dulu, membuka pintu kayu rumah sederhana itu yang mengeluarkan bunyi derit halus. Begitu masuk, aroma kayu yang khas dan kebersihan rumah yang terawat langsung menyambut mereka. Rumah ini tidak besar, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan mansion megah milik Elang Adikara di Jakarta. Namun, di mata Dinara saat ini, kesederhanaan rumah di tepi pantai ini terasa seribu kali lebih menenangkan. Tidak ada kamera wartawan, tidak ada kilatan gosip televisi, dan yang terpenting tidak ada tekanan masalah.Bastian meletakkan tas pakaian Dinara di kursi tamu yang terlihat bersih.“Rumah ini memang jarang saya tempa

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 149

    Untuk terakhir kalinya Julia menjenguk Dinara di kamarnya saat hendak ke kantor. Kala itu terasa sekali menjadi pelukan mereka yang terakhir kalinya.“Lo harus janji sama gue, Din...” bisik Julia parau, suaranya bergetar di dekat telinga Dinara. “Di mana pun lo berada nanti, lo harus makan yang banyak. Jangan mikirin apa-apa lagi selain kesehatan lo dan keponakan gue. Lo udah terlalu sering ngalah buat orang lain, sekarang giliran lo yang harus bahagia.”Dinara tidak menjawab lewat kata-kata. Ia hanya mampu mempererat pelukannya, memejamkan mata rapat-rapat demi menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Dadanya terasa ngilu. Kehadiran Julia di rumah ini adalah satu-satunya penghibur di tengah dinginnya pengabaian Elang selama sebulan ini. Dan kini, ia juga harus merelakan satu-satunya sandaran yang ia punya itu demi menjauh sejauh-jauhnya.Perlahan, Dinara mengurai pelukan mereka. Sebuah senyuman pasrah terlihat darinya begitu menyayat hati Julia.“Makasih ya, Jule... buat se

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 148

    Beberapa hari setelah tayangan televisi yang menghancurkan hatinya itu, Bastian sebenarnya sempat datang membawa secercah harapan. Ponsel lama Dinara berhasil dinyalakan kembali, lengkap dengan seluruh data dan bukti perselingkuhan busuk antara Karin dan Paman Johan.Namun, alih-alih menggunakan bukti itu untuk menyerang balik, Dinara memilih membungkus ponsel tersebut rapat-rapat dalam sebuah kotak kecil. Ia menitipkannya pada Bastian untuk diserahkan langsung kepada Elang pada saat yang tepat. “Pak Bas, saya titip ini... serahkan pada Pak Elang di saat yang tepat,” ujar Dinara sambil menyerahkan kotak kecil itu.Dinara tahu, itu adalah kartu pamungkas untuk masalah suaminya, dan ia memercayakan benda itu disimpan oleh Bastian.Kini, waktu telah bergulir. Sudah satu bulan berlalu sejak Elang memutuskan hubungan secara sepihak tanpa kabar.Suatu malam di dalam kamar, keheningan kembali merayap di antara Dinara dan Julia. Dinara menatap ke sekeliling kamar luas yang mewah itu dengan p

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 147

    Hari-hari berikutnya berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Dinara. Sejak malam panggilan telepon itu, Elang benar-benar tidak kembali ke rumah. Pria itu seolah ditelan oleh badai masalah yang mencuat ke media.Julia yang tinggal bersamanya pun ikut didera rasa resah yang mendalam. Setiap malam pulang dari kantor, hatinya selalu mencelos melihat sahabatnya itu dirundung rindu yang begitu pekat. Wajah Dinara selalu tampak sendu, matanya sering kali menatap kosong ke arah jendela kamar, menantikan kepulangan sang suami yang tak kunjung tiba. Padahal, Julia sendiri hampir setiap hari melihat sosok Elang Adikara di kantor.“Pak Elang itu beneran super sibuk sekarang, Din. Dia nyaris nggak pernah keluar dari ruang rapat,” ujar Julia suatu malam, mencoba memberikan pengertian saat mereka sedang duduk bersama di ruang tengah.Dinara hanya mengangguk pelan tanpa suara.“Tapi lo tahu nggak yang bikin anak-anak kantor makin merinding?” lanjut Julia lagi, berusaha memancing perhatian Dinara. “

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 146

    Dinara menarik nafas dalam-dalam, perlahan menghapus sisa air mata di pipinya. Menangis dan meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan. Naluri sebagai mantan sekretaris pribadi andalan Elang Adikara seketika bangkit di dalam dirinya. Ia yakin, gosip murahan ini disebar oleh Karin Wicaksana dan ini pasti memiliki tujuan lain. Ia tidak boleh tinggal diam melihat nama baik suaminya dihancurkan.Dinara teringat sesuatu. Bukti penting.Ia segera turun dari ranjang perlahan dan melangkah menuju lemari pakaian besar milik Elang. Dengan cekatan namun hati-hati, jemarinya membuka laci demi laci di dalam sana, mencari ponsel lamanya yang rusak dan masih disimpan suaminya. Setelah memeriksa beberapa sudut, netra Dinara berbinar saat menemukan benda persegi itu tersimpan di salah satu laci bagian dalam.Tanpa membuang waktu, Dinara langsung menghubungi Bastian, orang kepercayaan Elang Adikara yang selalu bisa ia andalkan.Begitu Bastian tiba di rumah atas permintaannya, Dinara langsung menyerahka

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 145

    Paginya, Dinara meremas remote televisi di tangannya dengan sangat erat. Tatapannya terpaku lurus pada layar datar di dinding kamar yang sedang menayangkan berita kilas utama saluran gosip nasional.Di layar itu, wajah tampan Elang Adikara terpampang jelas dengan tajuk berita yang membuat dada Dinara berdenyut nyeri.“Skandal Panas CEO SHG: Elang Adikara Diduga Selingkuh dan Telantarkan Keluarga?”Narator televisi mulai membacakan berita dengan nada provokatif, menyebut Elang sebagai pria yang tidak bertanggung jawab dan menyalahgunakan kekuasaannya demi menutupi hubungan gelap. Gosip liar yang entah dari mana, rupanya telah pecah dan menggelinding menjadi bola api liar di ranah publik pagi ini.Kamera televisi kemudian berganti mempelihatkan visual langsung di area pekarangan gedung SHG. Begitu mobil mewah Elang berhenti, puluhan awak media dan lampu kilat kamera langsung mengepung pintu mobil.Saat Elang melangkah keluar dengan setelan kerja yang rapi, para wartawan langsung menyerb

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 52

    Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menerpa mata Dinara. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya masih sedikit berat, namun suhu tubuhnya sudah jauh lebih stabil dibandingkan semalam.Refleks, tangan Dinara meraba dahi. Dahinya sudah dingin. Ia langsung menoleh ke arah sofa di sudut

    last updateHuling Na-update : 2026-04-01
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 8

    Keesokan harinya, Dinara mengerjapkan mata ketika cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar hotel itu. Tubuhnya terasa hangat, terbingkai dalam pelukan Elang Adikara. Ia menoleh ke samping, menatap wajah pria itu yang begitu tenang, damai dengan nafas teratur.‘Hah! Pak Elang… apa yang s

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 9

    “Iya, Pak.” Jawabnya pelan sambil berdiri.Ia mengambil tablet, dan berjalan menuju ruangan dimana bos-nya berada. Menarik nafas dalam sebelum membuka pintu.Dinara pun masuk, mendekati meja bos-nya. Mata Elang masih terpaku di depan layar laptop.“Batalkan agenda ke Puncak. Saya sedang tidak enak

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 7

    Air masih mengalir deras, suaranya menenggelamkan dunia di luar kamar mandi.‘Belum? Yang benar saja!’ batin Dinara, nafasnya belum juga kembali teratur.Belum sempat ia mencerna apapun, Elang kembali menciumnya. Kali ini tidak tergesa. Lebih lembut, lebih dalam seolah ada sesuatu yang ingin disamp

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status