Share

Bab 48

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-03-01 22:50:44

Dinara kehilangan kesadaran akan waktu. Rasa lelah yang teramat sangat, stres yang menumpuk, dan isak tangis yang menguras energi akhirnya memaksa tubuhnya untuk menyerah. Ia jatuh tertidur di atas hamparan pasir hangat, meringkuk seperti janin.

Ia terbangun bukan karena sinar matahari siang yang menyengat, melainkan karena hantaman air yang dingin dan deras. Langit pantai yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi abu-abu gelap, nyaris hitam. Hujan badai turun dengan brutal, menyapu pantai d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 143

    Elang menarik nafas pendek lalu tersenyum tipis. Jemarinya bergerak mencubit pelan hidung Dinara, gemas melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.“Secara profesional, pekerjaanmu waktu itu memang belum sesuai dengan standar Mas,” ucap Elang jujur, tanpa bermaksud menyudutkan.Dinara sedikit mengerucutkan bibirnya mendengar pengakuan itu, namun ia tetap diam mendengarkan.“Tapi itu wajar, Sayang... Kamu karyawan baru dan belum tahu bagaimana ritme kerjanya Mas. Mas sengaja melibatkan Iwan agar dia bisa membimbingmu pelan-pelan,” lanjut Elang, menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari sudut pandangnya.Elang kemudian meraih kembali jemari Dinara, menggenggamnya dengan lebih erat. Sorot matanya melunak, memancarkan ketulusan yang mendalam.“Mas sengaja bersikap dingin karena sedang berusaha menjaga jarak aman. Mas tidak mau mengacaukan profesionalitas kerja karena ketertarikan pribadi. Tapi yang paling penting... bagi Mas, keberadaanmu di ruangan itu sudah lebih dar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 142

    Elang terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat ingatannya berputar kembali ke setahun lalu.“Memangnya apa yang kamu ingat tentang hari itu?" tanya Elang balik, alih-alih langsung menjawab rasa penasaran istrinya.Dinara menyandarkan punggungnya ke bantal, matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tidak luntur.“Aku ingat banget, waktu itu aku keluar dari ruangan Mas dengan lemas. Aku sudah seratus persen yakin kalau aku tidak akan diterima kerja di SHG.”“Kenapa bisa seyakin itu?”“Ya... karena semua pertanyaan Mas waktu itu dingin banget, terus jawaban-jawabanku rasanya kurang memuaskan,” tiru Dinara sambil mengerucutkan bibirnya. “Mas ingat nggak? Waktu aku menjelaskan pengalaman kerja dan strategiku, Mas cuma melihatku dari atas sampai bawah dengan muka datar tanpa ekspresi, lalu cuma bilang ‘oke, silakan keluar’. Siapa yang tidak ciut mentalnya digituin sama CEO langsung?”Elang terkekeh pelan. Ia meraih jemari Dinara, mengus

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 141

    Dinara menahan nafas, meremas selimutnya erat-erat dengan mata melotot ke arah Julia. Ia benar-benar ngeri sahabatnya itu akan langsung dipecat hari ini juga karena kelancangannya.Namun, Elang sama sekali tidak menunjukkan kilat amarah. Pria itu justru mengurai genggaman tangannya dari Dinara, lalu memperbaiki posisi duduknya. Sorot matanya yang tajam dan dingin mengunci pergerakan Julia, membuat suasana kamar seketika diselimuti aura intimidasi khas seorang pemimpin tertinggi korporat.Elang diam selama beberapa saat. Sifatnya yang irit bicara di depan orang lain, kecuali Dinara, membuat setiap detik keheningan itu terasa begitu mencekam bagi Julia yang kini mulai menelan saliva.Setelah memastikan Julia benar-benar mengunci mulutnya, Elang baru membuka suara.“Saya tidak akan mengorbankan istri dan anak saya sendiri,” ucap Elang penuh penekanan yang mutlak. “Dinara... tidak akan tersentuh.”“Dan satu hal lagi,” tambah Elang menegaskan posisinya sebagai pelindung utama di rumah ini.

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 140

    “Sayang... kenapa ada Julia di sini?” tanya Elang, tanpa menoleh ke arah Dinara.Julia yang masih terpaku di ambang pintu makin terkejut. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong saat mendengar bos besarnya yang terkenal sedingin es itu memanggil sahabatnya dengan sebutan yang begitu intim.“Sa-sayang?!” lirih Julia, suaranya hampir habis karena syok.Dinara refleks menyentuh lengan suaminya, mencoba meredam ketegangan. “Hmm... maaf Mas, aku lupa bilang kalau ada Julia...” balas Dinara tak enak hati, melirik Julia dengan perasaan bersalah.“M-Mas... Mas Elang?!” Julia makin bergidik, matanya bergerak liar menatap Elang dan Dinara bergantian. “Ka-kalian?!” Julia menunjuk kedua manusia di depannya dengan tangan yang gemetar akibat rasa tidak percaya yang membuncah.Elang berdeham pendek, berusaha menguasai situasi. Ketegasan seorang pemimpin kembali terlihat di wajahnya. Ia meletakkan mangkuk sup ke atas nakas, lalu menatap Julia lurus-lurus.“Julia, masuk dan tutup pintunya. Dud

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 139

    Elang dengan cekatan mengangkat dan menggendong tubuh ringkih Dinara, membawanya untuk duduk kembali di ranjang. Ia meletakkan bantal di punggung Dinara sebagai sandaran, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi kaki istrinya yang terasa dingin.Kemudian, Elang ikut naik ke atas ranjang dan duduk di tepi tempat tidur itu, melipat kakinya demi bisa menatap langsung sang istri yang masih saja menunduk menyembunyikan wajahnya.“Sayang, dengarkan Mas,” ujar Elang, suaranya mendadak serak, sarat akan penyesalan yang mendalam. Kedua ibu jarinya bergerak lembut, mendongakkan dagu Dinara pelan lalu mengusap air mata yang mulai menetes di pipi istrinya.“Garis samar itu aku yakin artinya positif, Sayang. Kamu sedang mengandung anak kita,” lanjut Elang dengan tatapan paling jujur dan lembut yang pernah Dinara lihat. “Dan... ini sama sekali bukan beban. Ini adalah anugerah yang paling Mas inginkan di dalam hidup Mas.”Dinara tertegun, bibirnya sedikit terbuka mendengarkan penuturan suaminya.E

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 138

    Setelah dokter Taufik pamit undur diri, keheningan kembali menguasai kamar utama. Elang langsung condong ke depan, berniat merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat untuk menumpahkan seluruh rasa haru yang membuncah di dadanya.Namun, tepat sebelum lengan tegap itu melingkar, Dinara sedikit menggeser bahunya, menghindari sentuhan Elang dengan halus.“Mas... aku capek banget. Pengin langsung tidur,” bisik Dinara pelan tanpa menatap mata suaminya.Elang sempat tertegun, tangannya menggantung di udara selama beberapa detik. Namun, melihat guratan lelah dan wajah pucat istrinya, ia langsung memaklumi. Elang mengulas senyum lembut, lalu menarik selimut Dinara hingga sebatas dada.“Ya sudah, kamu tidur, ya. Mas tidak akan mengganggumu.”Malam itu pun berlalu dalam senyap, menyisakan kecamuk pikiran di kepala Dinara hingga ia akhirnya terlelap.Keesokan paginya, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah gorden.Elang sudah bangun dan mandi lebih dulu. Kemudian Dinara yang bar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 11

    Dinara menatap kotak itu. Pikirannya langsung bercabang. Apa maksud pria ini? Apakah ia ingin ‘membayar’ dirinya dengan … barang?“Maaf Pak, saya bukan barang yang dibayar baik dengan uang maupun perhiasan!”Elang terdiam, menatap Dinara yang jelas tidak suka tindakannya. Ia pun menarik kotak itu l

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 10

    “Apa kamu nggak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?!” ujar Elang tegas.Karin tidak menjawabnya, perempuan itu seolah malah lebih tertarik dengan reaksi Dinara.Dinara yang berdiri diam, akhirnya menyapa istri bos-nya itu.“Selamat siang Bu Karin. Pak Elang, saya permisi dulu…”Elang mengangguk.“

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 12

    ‘Ah, jelas-jelas ini bukan urusanku!’ pikir Dinara cepat.Sesaat kemudian mereka pun masuk ke dalam kamar. Masih terdengar suara manja Karin dan tawanya yang menghilang bersamaan dengan pintu tertutup.Dinara meninggalkan hotel itu dengan perasaan yang campur aduk.Saat tiba di salon, Julia masih d

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 8

    Keesokan harinya, Dinara mengerjapkan mata ketika cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar hotel itu. Tubuhnya terasa hangat, terbingkai dalam pelukan Elang Adikara. Ia menoleh ke samping, menatap wajah pria itu yang begitu tenang, damai dengan nafas teratur.‘Hah! Pak Elang… apa yang s

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status