แชร์

Bab 48

ผู้เขียน: Lyla Veil
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-01 22:50:44

Dinara kehilangan kesadaran akan waktu. Rasa lelah yang teramat sangat, stres yang menumpuk, dan isak tangis yang menguras energi akhirnya memaksa tubuhnya untuk menyerah. Ia jatuh tertidur di atas hamparan pasir hangat, meringkuk seperti janin.

Ia terbangun bukan karena sinar matahari siang yang menyengat, melainkan karena hantaman air yang dingin dan deras. Langit pantai yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi abu-abu gelap, nyaris hitam. Hujan badai turun dengan brutal, menyapu pantai d
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 62

    Langkah kaki Dinara sangat hati-hati, nyaris tanpa suara di atas lantai yang dingin. Suasana villa sudah sangat sepi, ia tahu Elang dan Andaliman pasti sudah terlelap setelah hari yang panjang dan melelahkan. Ini sudah lewat tengah malam, waktu di mana sebuah pengkhianatan akan mulai menampakkan wujudnya.Rasa penasaran yang membakar membuat Dinara nekat. Tidak berhasil mengintip dari celah gorden jendela depan. Ia nekat menuju balkonnya, mengecek posisi balkon. Antara balkonnya dengan balkon kamar sebelah hanya terpisahkan oleh celah kecil sekitar tiga puluh centimeter dan pembatasnya rendah. Dengan jantung yang berdegup kencang, adrenalin yang berpacu, Dinara memanjat pembatas itu. Berpindah ke balkon sebelah dengan gerakan hati-hati, baju tidurnya yang tipis melambai-lambai tertiup angin malam. Sesaat kemudian, ia sudah berpindah posisi berada di balkon kamar Paman Johan. Ia menahan nafas, merapatkan tubuhnya ke dinding kacanya.Gorden di kamar itu tidak tertutup sempurna. Ada cel

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 61

    Setelah makan malam di Jimbaran yang agak tenang, Andaliman akhirnya membawa mobil kembali menuju villa. Villa mewah itu memiliki arsitektur yang menawan dengan empat kamar utama, dua kamar di sayap kanan dan dua di sayap kiri, dipisahkan oleh kolam renang jernih dan taman estetik yang diterangi lampu-lampu temaram di bagian tengah.Karin dengan penuh perhatian mengantar Paman Johan menuju kamarnya di sayap kiri. Kamar pria itu berada tepat di sebelah kamar Dinara. Merasa lelah secara batin setelah seharian melewati situasi yang berat, Dinara segera pamit untuk masuk ke kamarnya lebih dulu. Ia butuh ruang sendiri. Air hangat di bawah pancuran menjadi pelariannya, berharap semua beban dan aroma cendana yang melekat bisa luruh bersama air.Setelah mandi, Dinara segera merebahkan diri di ranjang empuknya. Ia mengecek ponsel yang penuh dengan notifikasi dari Julia, sahabatnya yang selalu antusias menanyakan perkembangan hubungannya dengan Andaliman. Namun, perhatian Dinara teralihkan. Di

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 60

    Andaliman membawa mereka menuju destinasi pertama di siang yang teduh itu. Ia menurunkan penumpang di pintu masuk utama, lalu mengambil parkir di area parkir mobil. Sejenak segera bergabung bersama yang lain di pintu masuk. Dinara sudah memegang tiket masuk untuk para atasannya. Segera mereka memasuki area amfiteater untuk menonton pagelaran Tari Kecak. Dinara memberi ruang untuk para atasannya mengambil duduk lebih dulu. Ia sudah berusaha mengambil posisi paling pinggir, berharap bisa menjadi penonton yang nyaman. Nyatanya, seseorang membuatnya terjepit di posisi yang jauh dari kata nyaman.Di barisan kursi kayu itu, Karin duduk kaku di tengah, diapit oleh Elang dan Paman Johan. Sementara Dinara, ia ditarik oleh Andaliman untuk duduk di sisinya. Namun, entah bagaimana Andaliman mengatur posisi, Dinara justru berakhir duduk tepat di antara Elang dan Andaliman. Ia terjepit di tengah dua pria yang memiliki aura yang sama-sama mengintimidasi.Begitu suara "Cak-cak-cak" mulai menggema da

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 59

    Sepanjang perjalanan menuju bandara, perasaan Dinara semakin resah. Ia tahu rahasia besar antara si paman dan istri bosnya. Tapi di sini, di antara mereka, ia harus diam menyimpannya dan ini sungguh beban berat yang harus dipikulnya sendirian. Ingin rasanya menumpahkan semuanya pada Elang, bagaimana kelakuan istrinya di belakangnya. Tapi ia tak sampai hati menyampaikannya, karena ia sendiri punya dosa besar pada istri bosnya.Dinara menyisipkan jari di antara syal yang melilit lehernya, entah rahasia yang mana yang membuatnya sulit bernafas dan bergerak.‘Biarlah... aku menyimpan ini sendiri,’ batinnya pilu, tangannya meremas roknya.Mobil sudah memasuki area kedatangan di bandara.Karin menunjuk ke arah Paman Johan, “Itu dia... berhenti di sana!” pintanya pada Andaliman.Mobil pun berhenti tepat di depan Paman Johan berdiri. Seorang pria tua yang terlihat masih kuat, mengenakan kemeja polos yang kusut dengan celana beggy. Di tangannya menjinjing satu tas travelling. Ia melambai dan t

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 58

    Dinara masuk ke dalam mobil dengan gerakan kaku, seolah seluruh sendinya baru saja membeku. Ia duduk di kursi semula, tepat di samping Andaliman yang sudah memegang kemudi. Di belakang, Elang dan Karin sudah duduk berdampingan.“Maaf... agak lama...” ujar Dinara saat masuk.Begitu pintu ditutup dan kabin mobil menjadi ruang sempit, aroma parfum cendana yang tipis namun sangat berkarakter menguar kuat dari arah Dinara. Itu bukan aroma sembarangan, itu adalah jejak Elang yang tertinggal setelah keintiman gila di toilet tadi.“Nggak apa-apa, Din...” ujar Andaliman penuh kelembutan.Andaliman mengerutkan kening, hidungnya menangkap aroma yang sangat familiar. Karin pun sama, ia mendekat ke celah kursi depan dengan raut heran.“Lho, Dinara? Parfummu wanginya persis seperti Pak Elang?” tanya Karin langsung, matanya memicing. “Wanginya... identik sekali.”Jantung Dinara nyaris copot. Ia sudah membuka mulut untuk mengarang dusta tentang parfum murah meriah, namun suara bariton di belakangnya

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 57

    Seketika, atmosfer di dalam bilik berubah menjadi sangat mencekam. Elang langsung menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat mutlak pada Dinara untuk tidak bergerak dan tetap diam. Matanya yang tajam menatap pintu bilik, lalu ia menggerakkan bibirnya tanpa suara, mengeja satu nama yang membuat jantung Dinara seolah berhenti berdetak... “Karin.”Dinara refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Ia bahkan takut untuk sekadar bernafas, khawatir suara sekecil apa pun bahkan gesekan kain bajunya akan terdengar oleh istri bosnya itu.Namun, bukannya menjauh untuk memberi ruang, Elang justru kembali menekan tubuh Dinara ke dinding. Di tengah risiko yang begitu besar, ia menarik tangan Dinara dari menutup mulutnya lalu mendaratkan ciumannya yang kedua. Kali ini lebih dalam, lebih menuntut, seolah pria itu sedang sengaja menantang praharanya sendiri.Dinara hampir memekik karena terkejut. Gila! Elang benar-benar gila melakukan ini saat istrinya mungkin hanya berjarak s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status