LOGINSetelah makan malam yang hangat itu, mereka kembali ke kamar hotel. Namun, begitu pintu tertutup, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi intens. Elang langsung menarik Dinara ke dalam dekapannya, membawanya hingga punggung wanita itu merapat ke tembok.“Cincin ini tanda aku mengikatmu, Dinara...” bisik Elang dengan suara parau tepat di depan bibir Dinara.Nafas Elang terasa panas menyentuh kulitnya. Tangannya masih mengukung Dinara, mengunci pergerakan wanita itu seolah tak ingin membiarkannya lepas barang satu inci pun. Dalam remangnya cahaya ruangan, tatapan Elang terlihat begitu kelam dan penuh gairah, membuat suasana di antara mereka semakin mendidih.Dinara mendongak, matanya yang sayu menatap cincin emas putih yang kini melingkar manis di jari manisnya. Logam dingin itu kini terasa hangat, sehangat janji yang baru saja diucapkan Elang di restoran tadi. Ia bisa merasakan degup jantungnya yang berdetak kencang.“Mas Elang...” lirih Dinara, suaranya tenggelam dalam dominasi El
“Anak?” Dinara mengulangi kata itu dengan suara yang hampir menghilang.“Iya, aku menginginkan anak darimu...” Elang berbisik tepat di depan wajah Dinara, memastikan setiap katanya meresap ke dalam benak wanita itu. Tak ada keraguan dalam suaranya, hanya sebuah keinginan yang dalam dan bersifat mutlak.Dinara terdiam, nafasnya masih memburu di bawah kungkungan tubuh Elang. Ia masih bisa merasakan denyut hangat yang menjalar di bagian intimnya, seolah pria itu baru saja menumpahkan seluruh sari pati kehidupannya hingga tetes terakhir ke dalam rahimnya. Sensasi itu begitu nyata, sebuah segel tak kasatmata yang seakan mengunci takdirnya untuk terus terikat pada sosok Elang Adikara.“Mas, yakin?” tanya Dinara pelan. Matanya mencari kepastian di balik tatapan Elang yang biasanya sulit dibaca.“Iya, sangat yakin.” Elang perlahan menarik dirinya, lalu berbaring di sisi Dinara. Ia menumpu kepala dengan satu tangan, menatap lekat wanita yang kini tampak begitu rapuh sekaligus cantik di matanya
“Pak, kita harus kembali ke Jakarta. Saya takut Arvin mengincar Julia,” ucap Dinara cemas. Ia tidak bisa membayangkan jika sahabat satu-satunya itu harus menanggung dampak dari dendam Arvin.“Tenang, Bu Dinara. Kepolisian Surabaya sudah berkoordinasi dengan Jakarta. Jika ia lolos dari stasiun, tim di sana sudah bersiaga. Kami yakin dia akan kembali ke Jakarta,” sela Ipda Adi menenangkan.“Serahkan semuanya pada polisi, Dinara,” tambah Elang singkat. Dinara terdiam, meski hatinya masih dirayapi ketakutan.Menjelang siang, para petugas berpamitan. Begitu pintu kamar tertutup, suasana menjadi sunyi. Elang menghampiri Dinara yang sedang meringkuk di atas ranjang, lalu ikut naik dan memeluknya dari belakang. Dinara tersentak.“Pak...” desahnya.“Tenang. Kamu sudah memperingatkan Julia untuk pergi dari kosnya, kan?” bisik Elang rendah.“Iya, Pak. Dia langsung pergi meski sempat panik.” Dinara membalikkan tubuh, kini menatap langsung ke dalam manik mata Elang Adikara yang kelam.“Lalu, apa y
Elang melepaskan pagutan itu perlahan, namun tidak menjauhkan wajahnya. Nafas mereka memburu. Elang menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Dinara, membisikkan sesuatu dengan suara rendah yang menggetarkan.“Tenanglah,” bisik Elang rendah. “Jangan takut. Selama ada saya, siapa pun tidak bisa menyentuhmu.”Dinara terpaku. Kalimat itu terasa berbeda di telinganya. Biasanya, Elang bicara tentang ‘hak milik’ atau ‘aset perusahaan,’ tapi kali ini Elang menempatkan dirinya sendiri sebagai pelindung langsung bagi Dinara.Hening sejenak. Dinara mendongak, mencoba mencari celah di wajah kaku itu, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang menatapnya dengan intensitas yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ketukan di pintu penghubung memecah momen itu.“Pak Elang, Bu Dinara,” suara Ipda Adi terdengar serius. “Ada telepon tanpa nama, kemungkinan target.”Elang menarik lengan Dinara perlahan, membawa wanita itu kembali ke kamarnya.Di sana, Dinara diminta untuk tenang sejenak seb
Dinara melangkah cepat melintasi pintu penghubung. Begitu sampai di kamarnya, ia segera menutup pintu dan bersandar di tembok dengan nafas memburu.Bayangan Arvin yang selalu bersikap santun kini terasa seperti penghinaan. Dinara teringat bagaimana ia pernah memuji kinerja Arvin di depan Elang Adikara, tanpa menyadari bahwa itu semua hanya bagian dari manipulasi.“Bodoh... kamu benar-benar bodoh, Dinara,” bisiknya pada diri sendiri.Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia merasa muak karena begitu mudah percaya, sekaligus merasa telah mengecewakan Elang demi membela seseorang yang ternyata berbahaya.Beberapa saat kemudian, Elang memasuki kamar Dinara. Ia menutup kembali pintu penghubung itu dan mendapati Dinara sedang berusaha meredam isak tangisnya.“Dinara...” panggil Elang lirih sambil mendekat.Dinara susah payah menahan tangis hingga dadanya terasa sakit. Ia menutupi wajah dengan kedua tangan, menghindari tatapan Elang.Elang menumpu satu tangannya di tembok, mena
Ponsel di atas nakas bergetar hebat, menampilkan nama Julia untuk kesekian kalinya. Dinara menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Julia tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban, namun lidahnya terasa kelu untuk menyusun kebohongan.Dengan tangan gemetar, Dinara akhirnya menggeser tombol hijau dan menyalakan loudspeaker agar ia tidak perlu menempelkan ponsel ke telinganya yang masih panas karena pusing.“Dinara! Gila ya lo! Jelasin ke gue sekarang, kenapa lo bisa ada di kamar Pak Elang dengan kondisi kayak gitu? Lo tahu nggak, gue khawatir bakal heboh di kantor besok. Gue sama Bu Reva masih menghalau berita ini tapi tadi si biang gosip kantor ikut rapat. Gue udah ancam dia untuk nggak nyebar. Terus Arvin dipecat, kenapa? Lo menghilang, terus muncul di Zoom Pak Elang—”Suara melengking Julia terus terdengar, membuat Dinara kembali resah. Sebelum Dinara sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, sebuah tangan kokoh meraih ponsel itu dari jangkauannya.
‘Apa maksudnya… jangan berpikir macam-macam? Ini sudah sangat macam-macam…’Elang menarik dress itu hingga melewati bahu Dinara hingga terlepas dari tubuhnya. Tersisa bh dan cd saja. Elang melepaskan kait bh-nya, refleks Dinara menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Bh itu pun jatuh ke lantai. La
Dinara duduk di kasur, menelan saliva dan menggigit bibirnya. Ia tak habis pikir, bagaimana dirinya bisa berada diantara sosok bos dingin dan istrinya. “Apa aku sekarang jadi selingkuhan Pak Bos… ya ampuun…”Ceklek!Dinara terkejut saat pintu kamar mandi terbuka. Elang keluar hanya dengan handuk y
Dinara duduk di kasur, menelan saliva dan menggigit bibirnya. Ia tak habis pikir, bagaimana dirinya bisa berada diantara sosok bos dingin dan istrinya. “Apa aku sekarang jadi selingkuhan Pak Bos… ya ampuun…”Ceklek!Dinara terkejut saat pintu kamar mandi terbuka. Elang keluar hanya dengan handuk y
‘Apa maksudnya pulang ke apartemen Elang Adikara?’ Dinara hampir tak bisa berpikir apapun.Tempat yang ingin Dinara hindari selamanya, tapi Elang justru akan membawanya kembali.“Kenapa ke apartemen, Pak?” tanya Dinara.“Jangan membantah saya.” Tegas Elang.“Tapi Pak…”Elang menatap Dinara, membuat







