INICIAR SESIÓNMenyadari Dinara yang hanya diam dengan tatapan kosong, Elang tahu ia harus bertindak cepat sebelum pikiran buruk benar-benar menguasai pikiran istrinya. Ia berdiri, meraih kembali ponselnya, dan langsung menghubungi nomor pengacara pribadinya malam itu juga. Tidak ada waktu untuk menunggu sampai besok pagi.“Rendra, maaf menganggumu malam-malam,” ujar Elang begitu panggilan tersambung. Suaranya seketika berubah, kembali dingin dan sekeras es. “Karin baru saja melakukan inseminasi ilegal menggunakan bank spermaku di Rumah Sakit Medika tanpa izin tertulis dariku. Aku minta kamu urus ini sekarang juga. Tuntut pihak rumah sakit atas kelalaian prosedur, dan siapkan pasal pemalsuan dokumen untuk menjerat Karin. Aku mau masalah ini selesai sebelum media menciumnya.”“Baik, Pak Elang, saya akan pelajari kasusnya.” Suara di ujung telepon terdengar.“Satu lagi, Bobby Suganda ada di kantor polisi. Dia sudah...”“Iya, Pak Elang. Bastian sudah menghubungi saya soal itu,” sela Rendra pengacara pri
Aroma sabun yang menenangkan dan sisa kehangatan masih tertinggal di dalam kamar mandi mereka. Dinara berdiri di depan cermin, mengikat tali kimono handuknya dengan gerakan pelan. Tubuhnya terasa jauh lebih rileks, meski benaknya masih menyimpan banyak teka-teki tentang masa lalu keluarga Suganda.Dering ponsel.Di atas meja konter wastafel, ponsel Elang kembali berdering. Kali ini bukan sekadar pesan, melainkan sebuah panggilan telepon yang terus-menerus mendesak untuk diangkat. Dinara melangkah mendekat, matanya tidak sengaja melirik layar yang menyala.Nama yang tertera di sana seketika membuat dada Dinara mencelos... Karin. Elang yang baru saja keluar dari ruang pakaian dengan kaos santainya langsung menyadari perubahan ekspresi Dinara. Ia melangkah mendekat, meraih ponsel itu, lalu menatap Dinara sejenak seolah ingin meyakinkan istrinya bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan. Dengan tegas, Elang menekan tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Lalu menarik lengan Dinara u
Elang mengabaikan pesan dari Bastian. Fokusnya saat ini sepenuhnya tertuju pada perempuan di sampingnya. Ia bergegas turun, memutari kap mobil, lalu membukakan pintu untuk Dinara dan langsung menyusupkan kedua lengannya untuk mengangkat tubuh sang istri.“Mas, tidak usah digendong. Aku bisa jalan sendiri,” pinta Dinara, sedikit sungkan dengan perhatian itu.“Biarkan aku melayanimu, Dinara...” sahut Elang lembut, menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.Ucapan itu spontan membuat Dinara terpaku dan menatap lekat wajah suaminya. Pria yang dulunya begitu dingin, kaku, dan seolah tak tersentuh, kini justru dipenuhi kehangatan yang mendekap erat jiwanya. Perubahan itu begitu drastis hingga adakalanya Dinara merasa seolah sedang berhadapan dengan dua sosok pria yang sama sekali berbeda.Elang membawa Dinara menaiki anak tangga menuju kamar mereka di lantai dua. Menyadari pandangan sang istri yang tidak terlepas darinya, Elang melirik sekilas dan berbisik lirih, “Jangan menatap Mas se
Bobby tidak memperdulikan penolakan itu. Ia justru menekan tubuh Dinara semakin dalam di ranjang, lalu mulai menciumi lehernya dengan penuh hasrat. Rasa muak dan takut bercampur menjadi satu, memicu adrenalin di dalam tubuh Dinara. Di tengah kepanikannya, jemari Dinara meraba-raba nakas di samping tempat tidur. Tangannya menyentuh sebuah lampu tidur tua yang cukup berat. Tanpa berpikir panjang, Dinara mencengkeram badan lampu itu dan mengayunkannya sekuat tenaga ke arah kepala Bobby. Brak! Bobby mengerang kesakitan. Pegangannya terlepas seketika saat ia memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Darah mulai mengalir dari pelipisnya, membasahi sebagian wajahnya. Dinara tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung berguling turun dari ranjang dan berlari kencang menuju pintu kamar. Namun, kepanikannya membuat jemarinya gemetar hebat saat mencoba memutar anak kunci. Pintu itu sangat sulit dibuka. “Sialan kamu, Dinara!” geram Bobby dari atas ranjang, berusaha bangkit berdiri de
Andaliman melangkah mendekat, bayangannya menutupi tubuh Dinara di ranjang.“Namaku Bobby Suganda. Aku adalah putra dari Robby Suganda,” ucapnya dengan nada yang bergetar karena kebencian. “Kebetulan saja aku menemukan nama Andaliman di masa lalumu, sebuah ide yang bagus untuk samaranku supaya bisa masuk ke perusahaan Elang tanpa dicurigai. Aku ingin melihat dari dekat, pria macam apa yang sudah menghancurkan hidup ayahku.”Dinara ternganga. Nama Robby Suganda pernah ia dengar dalam selentingan kabar berita lama, seorang mantan konglomerat yang jatuh bangkrut secara tragis.“Kau tahu apa yang dilakukan Elang?” Andaliman yang adalah Bobby tertawa getir. “Dia melakukan hostile takeover. Dia menjebak ayahku dalam kontrak properti yang mustahil, lalu menggoreng saham perusahaan kami hingga nilainya nol. Dalam semalam, seluruh aset keluarga Suganda, termasuk rumah ini beralih ke tangan Elang Adikara. Ayahku kehilangan kewarasannya, Dinara! Dia sekarang mendekam di rumah sakit jiwa karena u
“Siapa dia?” desak Andaliman.Dinara tetap bergeming.“Katakan siapa dia!” teriak Andaliman penuh amarah.Dinara tersentak. Ini pertama kalinya ia melihat kemarahan yang begitu hebat meledak dari mata Andaliman. Pria lembut dan ramah yang dulu ia kenal seolah menghilang, berganti dengan sosok asing yang mengerikan. Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuh Dinara.Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Andaliman menyalakan mesin, dan langsung menginjak gas dengan kencang. Mobil itu melesat membelah jalanan, meninggalkan area mall dengan kecepatan yang membahayakan.Mobil itu melesat keluar dari area parkir sebelum Dinara sempat memprotes atau membuka pintu.“Mas, mau ke mana?! Berhenti, Mas!” seru Dinara panik sambil menarik sabuk pengaman dan memasangnya dengan kesulitan.Andaliman tetap diam, mencengkeram kemudi dengan buku jari yang memutih. Ia tidak menghiraukan seruan Dinara. “Mas, berhenti! Bahaya, Mas!” teriak Dinara sembari mencengkeram pegangan di atas pintu mobil. Tubuhnya t
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menerpa mata Dinara. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya masih sedikit berat, namun suhu tubuhnya sudah jauh lebih stabil dibandingkan semalam.Refleks, tangan Dinara meraba dahi. Dahinya sudah dingin. Ia langsung menoleh ke arah sofa di sudut
Cahaya matahari yang menyelinap di antara celah gorden memaksa Dinara untuk membuka mata. Kepalanya langsung terasa berdenyut, seolah ada ribuan jarum yang menusuk sarafnya. Ia mengerang, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang sambil mencoba mengumpulkan potongan ingatan yang berceceran.“Pesta
“Biar saya, Pak Anda, dan Bu Soraya yang survei,” jawab Elang santai.Terdengar langkah kaki dari arah pintu masuk villa. Andaliman muncul dengan senyum lebar, “Pagi semuanya! Wah, ada Bu Karin...” seru Andaliman ceria.Ia berjalan menghampiri sofa di mana Karin dan Elang duduk, lalu dengan sopan
“Jangan marah-marah,” Dinara terdengar hampir menangis. “Memang saya selalu sial…hmgmh”Ia menarik nafas tajam, tubuhnya menggigil meski keringat membasahi pelipis. “Aduh… panas banget… nggak tahan… saya ingin... dima-suki...”Kalimatnya mulai tidak utuh. Pikirannya berantakan. Dunia terasa berputa







