LOGIN“Tuan Harli…?”
Elena langsung panik saat melihat Harli berdiri tepat di hadapan mereka. Wajah pria itu memerah karena mabuk berat. Kemeja putihnya terbuka hingga dada, dasinya longgar dan miring.
Meski usianya telah melewati lima puluh, Harli masih tampak terawat. Bahunya tetap lebar, posturnya tegap, wibawa pria matang itu tak sepenuhnya luntur oleh usia.
Harli mencoba melangkah maju, namun tubuhnya oleng.
Belum sempat Elena mendekat, Harli tiba-tiba membungkuk.
“Huekkk!”
Harli muntah ke samping, lalu tubuhnya terjungkal ke depan.
Brukk.
“Tuan Harli!” Elena tersentak dan refleks melangkah maju.
Namun, tangan Noah lebih cepat. Ia meraih pinggang Elena dan menariknya keras ke belakang hingga tubuh mereka menyatu tanpa jarak.
Punggung Elena menghantam dada Noah yang bidang dan kokoh. Gaun yang membalut tubuhnya menahan gerakannya.
“Noah!” Elena melotot, gugup, matanya melirik Harli yang tergeletak tak jauh dari mereka.
Satu tangan Noah melingkar kuat di pinggangnya, sementara tangan lainnya tetap santai di saku celana. Sikapnya tenang, seolah keberadaan ayahnya hanyalah gangguan kecil.
“Tenang,” bisik Noah rendah di dekat telinganya.
Namun Elena tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Tatapannya memelas, napasnya tak teratur.
Noah menatapnya sekilas, lalu mengangkat satu tangan dengan malas.
Dua pengawal segera bergerak. Mereka menunduk hormat, mengangkat Harli, dan membawanya pergi tanpa suara.
Elena langsung berbalik hendak protes, tapi Noah sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Elena,” ucap Noah rendah, napasnya menyentuh kulit lehernya, “kau sudah cukup membuatku kesal malam ini.”
“Lepaskan…” desis Elena tertahan.
Alih-alih menurut, Noah justru menunduk. Giginya menekan bahu Elena singkat namun kuat, cukup membuatnya meringis dan terhenyak.
“Aah!” Elena tersentak, tubuhnya menegang. Ia menatap Noah dengan campuran benci dan kesal.
Namun tatapan pria itu justru turun ke dada Elena yang naik turun cepat. Alisnya terangkat sebelah, senyum tipis tersungging di bibirnya.
Elena menyadari arah pandangan itu. Rasa tidak nyaman dan malu menyusup cepat. Ia hendak menjauh, tapi Noah lebih dulu mendekatkan wajahnya.
“Aku sudah pernah melihat semuanya,” ucap Noah tenang, nada suaranya rendah dan menekan, “jadi kenapa harus malu?”
“Noah!” seru Elena gemetar.
Noah menunduk sedikit. “Bagaimana kalau kau menemaniku saja di malam pertamamu ini?”
Detik itu juga, tubuh Elena membeku. Kulitnya merinding.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Noah.
Elena terengah. Dadanya naik turun, napasnya kacau. Matanya bergetar oleh campuran marah, takut, dan rasa terhina.
“Kau sudah keterlaluan,” ucapnya gemetar.
Noah tidak bereaksi sama sekali, kepalanya hanya bergeser sedikit akibat tamparan itu sambil tersenyum tipis dan langsung membebaskan tubuh Elena dari kurungannya begitu saja.
Noah membenarkan kerah kemejanya seolah tak terjadi apa-apa.
Elena terdiam dengan tangan mengepal begitu Noah berbalik dan meninggalkan balkon dengan langkah santai, bahkan bersiul pelan.
. . . .
Keesokan paginya, Elena menuruni tangga dengan gugup apalagi kejadian semalam membuatnya benar-benar canggung bertemu Noah.
Ini juga hari pertamanya tinggal dirumah besar keluarga Blackwood ini.
Bahkan dalam mimpi pun ia tidak berani bisa tinggal dirumah orang terkaya di kota Araska ini.
Hari itu, Elena sengaja hanya memakai gaun dengan potongan sederhana. Meski begitu, kainnya jatuh pas mengikuti lekuk tubuhnya, menegaskan siluet tubuhnya yang padat. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja, juga hanya memoles dengan riasan tipis tapi itu justru membuat kecantikannya terlihat jelas.
Sambil menuruni anak tangga, ia tetap memperhatikan ke berbagai sudut rumah itu.
Saat sudah di tikungan tangga, langkah Elena terhenti begitu mendengar suara langkah kaki mendekat.
Elena menoleh ke belakang dan melihat Noah dengan wajah dinginnya yang tampak segar, ia mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengannya yang berotot.
“Pagi...” sapa Elena basa-basi begitu Noah sampai di anak tangga yang sama.
Tatapan mereka bertemu sekilas.
Noah melewatinya tanpa menyapa. Tanpa ekspresi, tanpa perhatian.
Elena mengernyit pelan.
Aneh.
Pria yang semalam begitu agresif kini mengabaikannya seolah mereka tak saling mengenal. Bahkan ketika bahu mereka hampir bersentuhan di tikungan tangga, Noah sama sekali tak menoleh.
Elena menarik napas perlahan.
“Tenanglah, Elena…” bisiknya lirih, menenangkan diri sendiri.
Sesampainya di ruang makan, Elena terdiam. Hanya ada dirinya dan Noah di ruangan itu. Ragu, ia menarik kursi di sisi kanan meja.
Namun belum sempat duduk, kursi itu ditarik kasar.
Elena tersentak, hampir kehilangan keseimbangan. Matanya menatap bingung.
Noah berdiri di belakangnya. Satu tangannya menarik kursi menjauh, lalu dengan isyarat dingin menunjuk kursi lain di ujung meja.
“Noah, kenapa?” Elena refleks bersuara, bingung.
“Kau tidak pantas duduk di kursi itu.” Suara Noah rendah dan tajam.
Sebelum Elena sempat mengatakan apa pun, Harli muncul dari arah depan.
“Elena,” ujar Harli berat, “duduk saja di situ.”
Ia menunjuk kursi yang tadi ditarik Noah.
Rahang Noah mengeras.
Elena semakin tak mengerti. Hanya soal kursi, namun wajah Noah memerah oleh emosi yang tak ia pahami.
Ekspresi itu mengingatkannya pada satu-satunya hari ketika Elena pernah melihat Noah semarah ini dulu. Hari ketika ia memutuskan hubungan mereka.
Brak!
Tangan Noah menghantam meja. Piring porselen retak di bawah tinjunya. Darah langsung merembes dari punggung tangannya. Namun ekspresinya tetap dingin.
Elena terperanjat. Jantungnya berdegup kencang melihat sikap Noah yang brutal.
“Itu kursi Ibu,” ucap Noah pelan namun tajam. “Tidak ada yang boleh duduk di sana.”
Harli menatapnya geram. “Jaga sikapmu! Kau bukan anak-anak lagi!”
Noah tertawa sinis. Meski darah masih mengalir, ia tak melirik tangannya sendiri.
“Lucu,” katanya datar. “Ayah lebih membela wanita ini daripada janji Ayah pada Ibu, lalu berharap aku diam?”
Wajah Harli menegang. “Noah! Elena ibumu sekarang. Kau harus menghormatinya.”
“Ibu?” ulangnya dingin. Noah mendengus, senyum sinis terbit di sudut bibirnya. “Tidak pantas.”
“Jaga bicaramu!”
Harli melangkah maju, emosinya memuncak. Tangannya terangkat hampir menyentuh pipi Noah, tapi Elena bergerak lebih cepat untuk menahan tangan Harli.
“Cukup,” ucap Elena lembut, tapi jelas.
Harli tertegun.
Elena menurunkan tangan Harli perlahan, lalu menoleh pada Noah. Suaranya lebih pelan, hampir memohon, “Tolong… jangan bertengkar di meja makan.”
Tatapan Noah mengeras. Rahangnya mengencang, seolah kata-kata itu justru menusuk harga dirinya.
Ia menatap Elena beberapa detik, lalu senyum muak muncul di sudut bibirnya.
“Kau pikir kau berhak menasehatiku?” ucapnya datar.
Tanpa menunggu jawaban, Noah berbalik dan meninggalkan ruang makan dengan langkah kasar. Darah yang menetes di lantai langsung menarik perhatian Elena.
Harli menghela napas panjang. Ia mendekat, lalu membelai rambut Elena. Namun sentuhan itu justru membuat Elena merasa kaku dan tidak nyaman.
“Maaf ya, sayang. Padahal semalam Noah sangat sopan menyambutmu. Tidak seperti ini,” ujar Harli berat. “Aku juga tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba berubah dan tidak bisa diatur.”
Elena menahan napas, lalu tersenyum tipis meski dadanya terasa sesak.
“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Aku ke toilet sebentar.”
Harli mengangguk pelan tanpa banyak tanya. “Aku akan menunggu di sini. Kita sarapan bersama.”
Elena segera melangkah pergi, meninggalkan ruang makan yang mendadak terasa menyesakkan.
Begitu masuk toilet, Elena langsung menutup pintu. Ia bersandar di depan wastafel, menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya menyimpan kelelahan yang tak bisa ia sembunyikan.
Ia membuka keran, membasuh tangan, mencoba menenangkan gemetar halus di jari-jarinya.
Tiba-tiba—
Klek.
Bunyi kunci diputar dari luar.
Elena tersentak. Namun, ketika ia berbalik badan, Noah sudah berdiri di ambang. Tatapannya dingin, tajam, seolah seluruh amarahnya belum padam.
“N–Noah … apa yang kau lakukan di sini?” tanya Elena panik.
Sementara itu di dalam kamar…Suasana masih terasa panas meski pintu sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Elena perlahan menurunkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Wajah wanita itu sudah memerah entah karena malu, panik, atau kesal akibat ulah Noah yang benar-benar keterlaluan.“Kamu sengaja, ya?” Elena langsung menatap Noah tajam. “Kenapa membiarkan mereka masuk?!”Noah yang masih bersandar santai di headboard hanya memiringkan kepala sedikit sambil menatap Elena tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Mereka sudah terlanjur datang.”“Itu bukan alasan!” Bantah Elena kesal disusul dengan ia memukul dada pria itu pelan karena gemas. Namun Noah justru menangkap pergelangan tangannya lagi lalu menarik tubuh Elena mendekat tanpa kesulitan.“Elena…” suara Noah rendah. “Kau tadi memelukku sendiri.”DEGG.Wajah Elena langsung makin panas mengingat bagaimana refleksnya tadi saat Inara masuk.“A-aku cuma panik!” elaknya kesal.“Tapi aku suka.” Bisik Noah hangat.“Noah!”Pria itu tertawa pel
Noah masih menahan kedua pergelangan tangan Elena di depan tubuh wanita itu, membuat Elena sulit bergerak apalagi melarikan diri.“Noah… cukup…ada orang diluar.” napas Elena mulai tidak teratur saat pria itu kembali mendekat.Namun Noah seperti tidak mendengar. Pria itu justru menunduk perlahan, mengecup bahu Elena yang lembut dengan bibir panasnya. Sentuhan itu membuat tubuh Elena langsung menegang.“Noah, ah…” Elena refleks menghentakkan tubuhnya geli ketika Noah sengaja menggigit kecil kulit bahunya lalu meninggalkan bekas kemerahan di sana.Tatapan Noah langsung menggelap menikmati reaksi itu.“Kau terlalu sensitif…” bisiknya rendah di telinga Elena.“Noah, berhenti…” Elena mencoba menarik tangannya, namun pria itu malah makin erat menahannya.Kecupan Noah berpindah perlahan ke leher Elena. Napas hangat pria itu menyapu kulit putih wanita itu sebelum kembali meninggalkan jejak kemerahan lain di sana. Tangannya mengusap pinggang Elena pelan seolah menikmati setiap reaksi kecil yang
Cairan wine itu mengalir paksa melewati bibir Elena.“UGH…khh…” Elena langsung terbatuk hebat, namun Noah tidak berhenti. Tangan besarnya mencengkeram rahang Elena kuat sementara gelas kristal itu terus dimiringkan hingga tetes terakhir habis.“Noah…berhenti…!” Pekik Elena menahan bahu kekar mantan pacarnya itu. Namun pria itu justru menatap Elena tanpa berkedip. Tatapannya gelap, liar, dan penuh obsesi.Baru setelah gelas itu kosong, Noah melepaskannya perlahan.BRAK!Elena langsung mendorong dada Noah sekuat tenaga hingga pria itu sedikit mundur. Elena berdiri sempoyongan sambil memegangi lehernya yang terasa panas.“Apa…yang kau berikan padaku?” suaranya gemetar marah.Noah malah tersenyum tipis. Pria itu mendekat lagi. Jari-jarinya yang panjang menyelip lembut ke rambut Elena, membelainya penuh rasa memiliki.“Hanya sesuatu…” bisiknya rendah di dekat wajah Elena. “Untuk membuat tubuhmu jujur.”DEGGG.Elena langsung menepis tangan Noah dan berlari menuju pintu. Namun saat ia memuta
Namun tepat saat Arga tinggal beberapa langkah lagi…Noah tiba-tiba membalik tubuh Elena dengan kasar namun tetap menahan pinggangnya erat.Tubuh mereka kini berhadapan begitu dekat sampai Elena bisa merasakan napas panas pria itu menyapu wajahnya.“Noah, jangan buat masalah lagi—” Kalimat Elena terputus.Karena Noah langsung menariknya ke tembok samping lalu mengangkat salah satu kaki Elena ke pinggangnya dengan mudah. Tangan besarnya mencengkeram paha wanita itu kuat, menahannya agar tidak turun sementara tubuh Elena hampir kehilangan keseimbangan.DEGGG!“Elena…” bisiknya rendah dan serak. “Aku sudah sangat lama merindukan tubuhmu.” Ucap Noah penuh dengan napsu tak tertahankan.Elena bahkan bisa merasakan sesuatu yang keras ingin menembus gaunnya, jadi ia berusaha melepaskan diri, namun mendadak…Cup.Bibir Noah menghantam bibir Elena penuh rasa lapar yang brutal. Bukan ciuman lembut… melainkan penuh obsesi, penuh amarah karena kehilangan selama empat tahun.“Elena…” gumamnya lagi d
“Noah…” Suasana masih tegang saat Arga berdiri di depan Elena, melindunginya. Namun Noah justru tersenyum miring.“Istrimu…?” ulangnya pelan.Tatapannya turun sekilas ke tangan Arga yang menggenggam Elena… lalu kembali naik. Namun anehnya, ia tidak memancing konflik berlanjutan. Sebaliknya…Noah melangkah maju lalu dengan tangan terulur menepuk bahu Arga kasar.Seketika Arga terdiam sepersekian detik… lalu—“Lama tidak bertemu, bruh.”DEGGGG!!!Elena membeku di tempatnya, dengan mata membelalak kaget.“Apa…yang baru saja terjadi?!” bisiknya bingung.Karena detik berikutnya…Keduanya malah saling menarik dan BERPELUKAN.“Masih hidup juga kau,” sahut Noah dengan tawa rendah.“Tuan Noah sepertinya kecewa yaa?” balas Arga santai.Elena benar-benar kehilangan kata-kata. Otaknya seperti berhenti bekerja. Tatapannya berpindah dari satu pria ke pria lain… mencoba mencerna kenyataan yang terlalu absurd.Mereka…bahkan terlihat seperti sahabat akrab…dan tepat saat itu, Elena baru menyadari. Jika d
Elena yang kini sedang berbincang ringan dengan beberapa kenalannya langsung menoleh. Matanya sedikit melebar… lalu perlahan melembut.“Nyonya Garli…”Wanita tua itu tersenyum lebar, benar-benar tulus.“Astaga, benar kamu!” Ia langsung mendekat dan meraih tangan Elena dengan hangat. “Saya tidak salah lihat.”Arga yang berdiri di samping hanya mengamati dengan tenang.“Kalian saling kenal?” tanyanya pelan.Elena mengangguk tipis. “Kami pernah bertemu… tidak sengaja.”Nyonya Garli terkekeh pelan.“Bukan sekadar bertemu. Dia menyelamatkan saya.”Arga mengangkat alis.Elena langsung terlihat sedikit canggung.“Itu hanya kebetulan…”Namun Nyonya Garli justru mulai bercerita, matanya berbinar.“Waktu itu di bandara Singapura. Saya transit… dan tiba-tiba kondisi saya kacau. Salah satu implan saya bermasalah, pecah. Saya panik, staf saya tidak sigap, dan saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana…”Elena menunduk sedikit, mengingat momen itu.“Saya hanya melihat beliau kesakitan,” ucapnya pe
Bisikan Michel membekas dingin di tengkuk Elena.Namun justru karena itulah Elena menyadari, jika Michel-lah yang berusaha menjebaknya sejak awal.Elena mengerjap, lalu tanpa pikir panjang ia mengejar Michel yang baru berjalan beberapa langkah ke depat.Ia segera mendekat dan menarik tangan Michel
Sementara itu di luar…Harli sedang mencari Elena sambil tertawa dengan beberapa pria lain. Namun seorang pelayan tiba-tiba mendekat dengan gelisah.“T-Tuan Harli… saya tadi melihat Nona Elena menggoda dua pria muda dan masuk ke salah satu kamar. Mungkin… mungkin dia sedang bersenang-senang, Tuan.”
Noah hanya berdehem pelan lalu menunrunkan Elena perlahan, ia lalu berjalan cepat membuka lemari pakaian Elena.Setelah mengamati beberapa saat, ia akhirnya menemukan sebuah cardigan panjang, warna dusty yang panjangnya sampai lutut. Ia lalu melemparnya ke Elena.“Pakailah…”Elena buru-buru memakai
Ternyata Harli hanya melirik ke arah Devon dan dua security yang masih belum juga berhasil membawa Sarah keluar dari area rumah sakit.Sarah sedang berusaha meronta dan mengoceh memohon penjelasan.Elena pun dengan gelagapan langsung menarik tangannya dari Noah, tapi pria itu masih menahan ujung je







