Share

Bab 2

Author: Phoenixclaa
last update Last Updated: 2025-12-31 10:46:48

“Tuan Harli…?”

Elena langsung panik saat melihat Harli berdiri tepat di hadapan mereka. Wajah pria itu memerah karena mabuk berat. Kemeja putihnya terbuka hingga dada, dasinya longgar dan miring.

Meski usianya telah melewati lima puluh, Harli masih tampak terawat. Bahunya tetap lebar, posturnya tegap, wibawa pria matang itu tak sepenuhnya luntur oleh usia.

Harli mencoba melangkah maju, namun tubuhnya oleng.

Belum sempat Elena mendekat, Harli tiba-tiba membungkuk.

“Huekkk!”

Harli muntah ke samping, lalu tubuhnya terjungkal ke depan.

Brukk.

“Tuan Harli!” Elena tersentak dan refleks melangkah maju.

Namun, tangan Noah lebih cepat. Ia meraih pinggang Elena dan menariknya keras ke belakang hingga tubuh mereka menyatu tanpa jarak.

Punggung Elena menghantam dada Noah yang bidang dan kokoh. Gaun yang membalut tubuhnya menahan gerakannya.

“Noah!” Elena melotot, gugup, matanya melirik Harli yang tergeletak tak jauh dari mereka.

Satu tangan Noah melingkar kuat di pinggangnya, sementara tangan lainnya tetap santai di saku celana. Sikapnya tenang, seolah keberadaan ayahnya hanyalah gangguan kecil.

“Tenang,” bisik Noah rendah di dekat telinganya.

Namun Elena tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Tatapannya memelas, napasnya tak teratur.

Noah menatapnya sekilas, lalu mengangkat satu tangan dengan malas.

Dua pengawal segera bergerak. Mereka menunduk hormat, mengangkat Harli, dan membawanya pergi tanpa suara.

Elena langsung berbalik hendak protes, tapi Noah sudah berdiri tepat di hadapannya.

“Elena,” ucap Noah rendah, napasnya menyentuh kulit lehernya, “kau sudah cukup membuatku kesal malam ini.”

“Lepaskan…” desis Elena tertahan.

Alih-alih menurut, Noah justru menunduk. Giginya menekan bahu Elena singkat namun kuat, cukup membuatnya meringis dan terhenyak.

“Aah!” Elena tersentak, tubuhnya menegang. Ia menatap Noah dengan campuran benci dan kesal.

Namun tatapan pria itu justru turun ke dada Elena yang naik turun cepat. Alisnya terangkat sebelah, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Elena menyadari arah pandangan itu. Rasa tidak nyaman dan malu menyusup cepat. Ia hendak menjauh, tapi Noah lebih dulu mendekatkan wajahnya.

“Aku sudah pernah melihat semuanya,” ucap Noah tenang, nada suaranya rendah dan menekan, “jadi kenapa harus malu?”

“Noah!” seru Elena gemetar.

Noah menunduk sedikit. “Bagaimana kalau kau menemaniku saja di malam pertamamu ini?”

Detik itu juga, tubuh Elena membeku. Kulitnya merinding.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Noah.

Elena terengah. Dadanya naik turun, napasnya kacau. Matanya bergetar oleh campuran marah, takut, dan rasa terhina.

“Kau sudah keterlaluan,” ucapnya gemetar.

Noah tidak bereaksi sama sekali, kepalanya hanya bergeser sedikit akibat tamparan itu sambil tersenyum tipis dan langsung membebaskan tubuh Elena dari kurungannya begitu saja. 

Noah membenarkan kerah kemejanya seolah tak terjadi apa-apa.

Elena terdiam dengan tangan mengepal begitu Noah berbalik dan meninggalkan balkon dengan langkah santai, bahkan bersiul pelan.

. . . .

Keesokan paginya, Elena menuruni tangga dengan gugup apalagi kejadian semalam membuatnya benar-benar canggung bertemu Noah. 

Ini juga hari pertamanya tinggal dirumah besar keluarga Blackwood ini.

Bahkan dalam mimpi pun ia tidak berani bisa tinggal dirumah orang terkaya di kota Araska ini.

Hari itu, Elena sengaja hanya memakai gaun dengan potongan sederhana. Meski begitu, kainnya jatuh pas mengikuti lekuk tubuhnya, menegaskan siluet tubuhnya yang padat. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja, juga hanya memoles dengan riasan tipis tapi itu justru membuat kecantikannya terlihat jelas.

Sambil menuruni anak tangga, ia tetap memperhatikan ke berbagai sudut rumah itu. 

Saat sudah di tikungan tangga, langkah Elena terhenti begitu mendengar suara langkah kaki mendekat.

Elena menoleh ke belakang dan melihat Noah dengan wajah dinginnya yang tampak segar, ia mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengannya yang berotot.

“Pagi...” sapa Elena basa-basi begitu Noah sampai di anak tangga yang sama.

Tatapan mereka bertemu sekilas.

Noah melewatinya tanpa menyapa. Tanpa ekspresi, tanpa perhatian.

Elena mengernyit pelan.

Aneh.

Pria yang semalam begitu agresif kini mengabaikannya seolah mereka tak saling mengenal. Bahkan ketika bahu mereka hampir bersentuhan di tikungan tangga, Noah sama sekali tak menoleh.

Elena menarik napas perlahan.

“Tenanglah, Elena…” bisiknya lirih, menenangkan diri sendiri.

Sesampainya di ruang makan, Elena terdiam. Hanya ada dirinya dan Noah di ruangan itu. Ragu, ia menarik kursi di sisi kanan meja.

Namun belum sempat duduk, kursi itu ditarik kasar.

Elena tersentak, hampir kehilangan keseimbangan. Matanya menatap bingung.

Noah berdiri di belakangnya. Satu tangannya menarik kursi menjauh, lalu dengan isyarat dingin menunjuk kursi lain di ujung meja.

“Noah, kenapa?” Elena refleks bersuara, bingung.

“Kau tidak pantas duduk di kursi itu.” Suara Noah rendah dan tajam.

Sebelum Elena sempat mengatakan apa pun, Harli muncul dari arah depan.

“Elena,” ujar Harli berat, “duduk saja di situ.”

Ia menunjuk kursi yang tadi ditarik Noah.

Rahang Noah mengeras.

Elena semakin tak mengerti. Hanya soal kursi, namun wajah Noah memerah oleh emosi yang tak ia pahami.

Ekspresi itu mengingatkannya pada satu-satunya hari ketika Elena pernah melihat Noah semarah ini dulu. Hari ketika ia memutuskan hubungan mereka.

Brak!

Tangan Noah menghantam meja. Piring porselen retak di bawah tinjunya. Darah langsung merembes dari punggung tangannya. Namun ekspresinya tetap dingin.

Elena terperanjat. Jantungnya berdegup kencang melihat sikap Noah yang brutal.

“Itu kursi Ibu,” ucap Noah pelan namun tajam. “Tidak ada yang boleh duduk di sana.”

Harli menatapnya geram. “Jaga sikapmu! Kau bukan anak-anak lagi!”

Noah tertawa sinis. Meski darah masih mengalir, ia tak melirik tangannya sendiri.

“Lucu,” katanya datar. “Ayah lebih membela wanita ini daripada janji Ayah pada Ibu, lalu berharap aku diam?”

Wajah Harli menegang. “Noah! Elena ibumu sekarang. Kau harus menghormatinya.”

“Ibu?” ulangnya dingin. Noah mendengus, senyum sinis terbit di sudut bibirnya. “Tidak pantas.”

“Jaga bicaramu!”

Harli melangkah maju, emosinya memuncak. Tangannya terangkat hampir menyentuh pipi Noah, tapi Elena bergerak lebih cepat untuk menahan tangan Harli.

“Cukup,” ucap Elena lembut, tapi jelas.

Harli tertegun.

Elena menurunkan tangan Harli perlahan, lalu menoleh pada Noah. Suaranya lebih pelan, hampir memohon, “Tolong… jangan bertengkar di meja makan.”

Tatapan Noah mengeras. Rahangnya mengencang, seolah kata-kata itu justru menusuk harga dirinya.

Ia menatap Elena beberapa detik, lalu senyum muak muncul di sudut bibirnya.

“Kau pikir kau berhak menasehatiku?” ucapnya datar.

Tanpa menunggu jawaban, Noah berbalik dan meninggalkan ruang makan dengan langkah kasar. Darah yang menetes di lantai langsung menarik perhatian Elena.

Harli menghela napas panjang. Ia mendekat, lalu membelai rambut Elena. Namun sentuhan itu justru membuat Elena merasa kaku dan tidak nyaman.

“Maaf ya, sayang. Padahal semalam Noah sangat sopan menyambutmu. Tidak seperti ini,” ujar Harli berat. “Aku juga tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba berubah dan tidak bisa diatur.”

Elena menahan napas, lalu tersenyum tipis meski dadanya terasa sesak.

“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Aku ke toilet sebentar.”

Harli mengangguk pelan tanpa banyak tanya. “Aku akan menunggu di sini. Kita sarapan bersama.”

Elena segera melangkah pergi, meninggalkan ruang makan yang mendadak terasa menyesakkan. 

Begitu masuk toilet, Elena langsung menutup pintu. Ia bersandar di depan wastafel, menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya menyimpan kelelahan yang tak bisa ia sembunyikan.

Ia membuka keran, membasuh tangan, mencoba menenangkan gemetar halus di jari-jarinya.

Tiba-tiba—

Klek.

Bunyi kunci diputar dari luar.

Elena tersentak. Namun, ketika ia berbalik badan, Noah sudah berdiri di ambang. Tatapannya dingin, tajam, seolah seluruh amarahnya belum padam.

“N–Noah … apa yang kau lakukan di sini?” tanya Elena panik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 113

    Harli terdiam beberapa detik setelah pertanyaan Elena menggantung di udara.Ruangan kerja yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara napas Elena yang sedikit tidak teratur yang terdengar di antara mereka.Tatapan Harli lalu berubah dingin.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena dengan mata yang menyipit perlahan, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam kepalanya.Lalu ia menghela napas kasar dengan ekspresi tidak senangnya.“Keluar.” Bentaknya tajam.Elena tertegun menunggu jawaban yang di inginkan.“Mas ku mohon jawab dulu.” Pinta Elena memelas.“Keluar dari ruang kerjaku!” bentak Harli melanjutkan.Suaranya begitu keras hingga membuat Elena refleks mundur satu langkah.Elena menelan ludah.Hanya saja, sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, Harli sudah berjalan beberapa langkah mendekatinya.Tatapannya menusuk tajam.“Dan bersiaplah… tiga jam lagi.”“Kita akan mengadakan konferensi untuk klarifikasi,” lanjut Harli dengan suara dingin.Dalam sek

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 112

    Miranda dan Elena sama-sama menoleh ke belakang.Di sana, Michel sudah berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya penuh amarah, matanya tajam menatap mereka berdua.“Sedang apa kalian di sini?” bentaknya tanpa peduli bahwa beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka.Miranda langsung berubah sikap.“Michel, sayang—”Tapi Michel memotong dengan suara lebih keras.“Ibu pikir aku tidak dengar?” katanya tajam. “Ibu bilang ibu… ibu kandungnya?”Beberapa sosialita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.Miranda jelas menyadari situasi itu berbahaya.Ia segera meraih lengan Michel.“Cukup. Ikut Ibu.”Michel sempat ingin menolak, namun Miranda menariknya dengan tegas. Elena yang tidak ingin keributan makin besar akhirnya ikut berjalan di belakang mereka.Mereka keluar dari pintu samping mansion menuju halaman depan.Udara malam terasa lebih dingin. Tidak ada wartawan, tidak ada tamu lainnya hanya lampu taman yang menyinari halaman luas itu.Begitu mereka berhenti, Miranda langsung

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 111

    Elena menoleh perlahan.Di sana, Harli berdiri menatapnya. Wajah pria itu kaku, rahangnya mengeras, dan sorot matanya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak disembunyikan.“Mas Harli…” suara Elena keluar pelan.Namun Harli tidak menjawab.Tanpa sepatah kata pun, pria itu tiba-tiba meraih lengannya dengan kasar.Tarikan itu begitu kuat hingga membuat Elena tersentak.“Mas—”Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Harli sudah menyeretnya menjauh dari keramaian. Sepatu Elena hampir terseret di lantai saat pria itu membawanya ke sudut ruangan yang jauh dari sorotan kamera dan para tamu.Begitu mereka berhenti di tempat yang lebih sepi, Harli langsung berbalik menghadapnya.Tatapannya tajam.“Dari mana saja kau?” bentaknya dingin, dan penuk tekanan.Elena menatapnya, jantungnya berdetak tidak teratur.“Aku… Mas Harli, aku—”“Cukup.” Harli memotongnya dengan suara keras.Pria itu melangkah lebih dekat, tubuhnya menjulang tinggi di hadapan Elena. Sorot matanya dingin seperti pisau yang siap me

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 110

    Di rumah sakit, Revan baru saja selesai memeriksa tekanan darah Rania ketika pintu ruang rawat terbuka keras.Beberapa pria berpakaian hitam masuk tanpa mengetuk.Revan langsung berdiri siaga.“Ada apa ini?”Namun dua pria sudah berdiri di sisi tempat tidur.Revan menatap tajam dan mencoba menghalangi.“Pasien ini belum boleh dipindahkan.” Ucapnya tegas.Pria yang memimpin rombongan itu hanya menatapnya dingin.“Perintah dari atas.”Revan mengepalkan tangan.“Dari siapa?”Dua pria itu tidak menjawab lalu dengan terampil mengurus alat medis dan memindahkan Rania ke brankar.“HEY!” bentak Revan.Ia mencoba menghentikan mereka, tapi salah satu pria langsung menarik kerah bajunya.BUGH.Sebuah pukulan menghantam perutnya.Revan terhuyung, napasnya terputus.Namun ia tetap mencoba berdiri.“Kalian tidak bisa—”Pukulan kedua menghantam wajahnya.BRUK.Tubuhnya jatuh keras ke lantai.Di pintu, direktur rumah sakit berdiri dengan wajah pucat.“Maaf dokter… ini perintah.”Revan hanya bisa mena

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 109

    Begitu mobil Harli berhenti di depan Hotel Florist, pria itu langsung keluar tanpa menunggu sopir membuka pintu.Langkahnya panjang dan tegas menyusuri lorong hotel hingga berhenti di depan kamar 57.Tok. Tok.Beberapa detik kemudian pintu terbuka.Miranda sudah berdiri di sana dengan bikini tipis berwarna merah, rambutnya tersisir rapi, dan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.Harli langsung masuk tanpa basa-basi.Begitu pintu di tutup.Ia menatap Miranda tajam.“Apa yang kau tahu tentang Rania?”Suaranya dingin, penuh tekanan.“Dan bagaimana kau tahu aku mencarinya?”Miranda tidak terlihat terkejut sama sekali.Ia justru berjalan santai ke meja kecil di dekat jendela, lalu duduk sambil memutar cangkir teh di tangannya dengan begitu tenang.Lalu ia tersenyum tipis.“Tidak ada yang gratis di dunia ini.”Harli berdiri diam menatapnya beberapa detik.Lalu ia bertanya datar sekaligus heran apa yang akan wanita ini minta.“Lalu?”Miranda bangkit dari kursinya perlahan.Ia berjalan men

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 108

    Bukannya langsung bangun atau menjauh… Noah justru kembali menjatuhkan kepalanya ke punggung Elena dengan manja.“Hmm…” gumamnya malas.Tangannya yang besar kembali melingkar erat di pinggang Elena, bahkan kali ini menarik tubuh wanita itu semakin rapat ke dadanya.“Elena…” bisiknya dengan suara serak yang menggoda.Elena langsung menegang.“Noah, lepaskan jangan begini kalau di rumah”Namun Noah malah menyela dengan nada setengah merengek.“Kau lupa… ini rumahku.”Ia menggeser wajahnya sedikit hingga hidungnya menyentuh tengkuk Elena.“Naturally… aku bisa masuk ke mana saja semauku.”Napas hangatnya menyapu kulit Elena membuat wanita itu merinding.“Noah…” bisik Elena pelan.Noah justru semakin manja. Ia mengeratkan pelukannya, dagunya bersandar di bahu Elena.“Tidurlah.” Pintanya manja.Elena mendengus kecil.“Jangan tidur disini, Noah.”Noah malah menggeleng pelan seperti anak kecil yang keras kepala.“Aku sudah lama tidak tidur nyenyak, El.” Suaranya pelan terus memohon.Tangannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status