LOGINNoah tidak menjawab, ia terus menatap Elena dengan tajam. Setelah mengunci pintu toilet, ia melangkah mendekati Elena dengan tenang.
“Kenapa kau kunci pintunya?!” pekik Elena dengan suara tertahan.
Noah tersenyum tipis, “Kenapa kau tampak takut seperti itu? Bukankah dulu kau selalu suka berdua denganku?”
Elena menggelengkan kepalanya cepat, langkahnya refleks mundur. “Noah … sekarang aku sudah menjadi ibu tirimu. Ingatlah itu!”
Naas, punggung Elena telah menabrak dinding wastafel.
Sementara itu, Noah telah berdiri dua jengkal dari hadapan Elena.
Tanpa basa-basi, Noah mencengkram pergelangan tangan Elena dan menariknya ke atas dengan satu tarikan cepat.
Elena terperanjat, matanya terbelalak lebar. Bahkan, ia bisa merasakan darah dari tangan Noah yang masih mengalir, kini juga mengalir di tangannya.
“Jangan bilang, dulu kau sengaja meninggalkanku untuk menikahi ayahku,” bisik Noah tepat di telinga Elena.
Elena memberontak, ingin melepaskan dirinya, tapi tenaga Noah jelas jauh lebih besar darinya.
Lalu…
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
“Elena?” suara Harli terdengar samar dari luar. “Kau masih didalam?”
Elena semakin panik, saat ia hendak melepas diri, Noah justru menciumnya.
Mata Elena melotot tajam. Tubuhnya mendadak kaku. Tenaga yang semula masih cukup besar untuk mendorong tubuh Noah, kini justru mulai hilang.
Namun, ketika Noah ingin memperdalam ciuman mereka, suara ketukan pintu kembali terdengar.
Tok. Tok. Tok.
“Elena,” panggil Harli lagi.
Saat itu, Noah terdiam, membuat Elena akhirnya bisa mendorong tubuh pria itu dari hadapannya.
Elena telah melangkah hingga berdiri tepat di depan pintu. Namun, ketika ia ingin membuka pintu, suara Noah menghentikannya.
“Menurutmu, bagaimana reaksi ayahku jika tahu kita berdua di dalam toilet yang sama?”
Benar. Elena terlalu panik sampai tidak berpikir sejauh itu. Akhirnya, ia terdiam sejenak untuk mengatur detak jantungnya.
“T–Tuan Harli, tunggu sebentar,” kata Elena sedikit berteriak.
Namun, tak lama justru terdengar kalimat lain dari Harli.
“Loh, Michel? Kenapa kamu di sini?”
Lalu, diikuti dengan suara langkah kaki menjauh dari sekitar toilet.
Belum sempat Elena bereaksi lagi, Noah telah lebih dulu berdiri tepat di belakangnya.
“Urusan kita belum selesai,” bisik Noah rendah, tepat di telinga Elena. Setelah itu, ia membuka pintu toilet perlahan, memastikan tak ada orang, kemudian keluar meninggalkan Elena yang masih mematung.
Selain terkejut dengan apa yang Noah lakukan, kepala Elena juga diliputi dengan rasa penasaran akan sosok Michel yang tadi Harli sebut.
Tak ingin membuang waktu, setelah menetralkan detak jantungnya, Elena bergegas keluar toilet. Namun, ketika baru sampai di ambang ruang makan, Elena mendengar obrolan itu.
“Kamu tunggu dulu ya, Noah sepertinya masih bersiap di kamarnya,” kata Harli dengan nada ramah.
“Dia ingin bertemu Noah? Siapa dia?” tanya Elena dalam hatinya.
Selama ini, ia tak pernah mendengar tentang perempuan bernama Michel ini.
“Ah tidak apa, Om. Aku bisa menunggu,” jawab perempuan itu dengan senyum ramah.
“Kamu pasti belum sarapan, kan? Kita sarapan bersama saja kalau begitu ya,” kata Harli sambil menarik satu kursi di meja makan untuk Michel.
“Terima kasih, Om Harli.” Michel menyambut itu dan duduk di kursi meja makan dengan nyaman.
Sementara Harli pun tampak kembali duduk di kursinya.
“Ayah dan ibu kamu bagaimana? Sehat semua?” tanya Harli melanjutkan dengan basa-basi.
“Sehat, Om. Mereka masih sibuk bolak-balik Singapur,” jawab Michel sopan.
“Bagus… terus kamu di perusahaan gimana, betah?” lanjut Harli.
“Sejauh ini betah, Om. Aku sekarang dipercaya jadi Ketua Divisi Investasi di Blackwood Capital Partners. Noah juga banyak membantuku secara online,” Michel dengan tenang menceritakan singkat pengalaman dan keterlibatan Noah.
Harli tertawa bangga. “Sebentar lagi dia resmi jadi direktur utama pasti akan lebih banyak membantumu. Setelah lima tahun di luar negeri, sekarang memang waktunya Noah memimpin Blackwood ia harus menunjukkan gelar dan posisinya yang dominan di negara ini.”
Langkah Elena melambat tanpa sadar. Ia berdiri di balik pilar pembatas ruang makan, cukup jauh untuk tak terlihat, cukup dekat untuk mendengar dengan jelas.
Cara perempuan itu bicara, caranya menjawab Harli, terlalu nyaman untuk sekadar tamu biasa. Dan yang paling mengganggu, nama Noah meluncur dari bibir Michel tanpa ragu, tanpa jarak. Entah kenapa masih ada rasa aneh ketika nama Noah disebut.
Elena menelan ludah. Dadanya terasa mengencang.
Tanpa ia sadari, jemarinya mencengkeram ujung gaun lebih erat.
Harli tersenyum puas. “Noah memang berbeda sejak kembali. Lebih dingin, tapi jauh lebih fokus. Aku tenang menyerahkan semuanya padanya.”
Michel tersenyum kecil. “Dia selalu seperti itu, Om. Hanya saja memang tidak semua orang bisa dekat dengannya.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Elena duga.
Saat itulah Harli tiba-tiba menoleh.
“Elena,” panggil Harli begitu melihatnya membuat Elena kaget sejenak. “Sini, Sayang.”
Elena berusaha bersikap tenang, lalu tersenyum tipis dan melangkah mendekat hingga duduk di sisi Harli.
“Om,” Michel menoleh sambil tersenyum manis. “Ini siapa?”
“Oh,” Harli tersenyum bangga. “Ini istriku. Elena.”
“Ohhh…” jawab Michel singkat.
Mata Michel memperhatikan Elena dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas, sudut bibirnya terangkat, menahan tawa kecil.
Hal itu membuat rasa tidak nyaman menyusup pelan di dada Elena.
Tapi Michel segera mengubah ekspresinya. Ia tersenyum manis.
“Cantik sekali, Om. Om memang tidak pernah salah pilih pasangan,” katanya ringan. “Serasi sekali.”
Elena membalas dengan senyum seadanya.
Harli terkekeh ringan.
“Tentu saja. Elena itu lembut, perhatian, dan tahu menempatkan diri. Tidak semua perempuan punya kualitas seperti itu,” ujarnya bangga.
Michel mengangguk pelan, seolah setuju. Namun tatapannya kembali meluncur ke Elena, kali ini lebih lama.
“Kelihatan masih muda sekali,” ucap Michel santai, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Seperti… belum terlalu lama mengenal dunia orang dewasa. Pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri di keluarga sebesar ini.”
Kalimat itu terdengar halus, tapi cukup membuat jemari Elena mengeras di atas pangkuannya.
Ketika Harli ingin bersuara lagi, saat itulah langkah kaki terdengar dari arah pintu samping.
Udara di ruang makan berubah.
Noah masuk dengan kemeja gelap dan ekspresi dingin. Tatapannya langsung menyapu ruangan, lalu berhenti pada Michel.
“Oh, hai, Noah,” sapa Michel dengan senyum manisnya.
Namun, tanpa basa-basi, Noah menarik tangan Michel hingga membuat perempuan itu berdiri terkejut.
“Ayah, aku ke kantor sekarang,” kata Noah dingin sambil menarik Michel untuk mengikuti langkahnya.
Elena tersentak kecil. Matanya membesar melihat sikap Noah yang begitu tiba-tiba dan tanpa penjelasan. Jantungnya berdegup keras, bukan karena harap, melainkan karena keterkejutan yang bercampur canggung.
Michel sendiri hampir tersandung. Tangannya refleks mencengkram pergelangan Noah, bukan melawan, lebih karena kaget.
“Noah…?” panggilnya lirih, suaranya kehilangan nada percaya diri yang tadi ia tunjukkan di meja makan.
Harli bangkit setengah berdiri. “Noah, tunggu—”
Namun Noah tidak menoleh. Genggamannya tetap kuat, langkahnya mantap seolah keputusan itu sudah final sejak ia melangkah masuk.
Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan
Inara langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi Nyonya Garli. Wanita itupun buru-buru melangkah mendekat sambil melipat tangan di dada.“Ituuu nek, yang sudah menggoda Tuan Noah juga.” Ucap Inara di sertai tatapan penuh penghinaan.“Dasar wanita murahan. Baru beberapa hari lalu menggoda Noah sekarang sudah menggoda pria lain juga.” sindirnya sambil melirik Arga sinis. “Memang kelasnya cuma begitu.” Lanjutnya sinis.DEGG.Rahang Arga langsung mengeras, Elena juga tampak menahan emos.Namun sebelum suasana semakin memanas, Nyonya Garli mendadak berjalan mendekat. Gerakannya elegan namun tegas hingga semua orang otomatis diam.Wanita tua modis itu lalu melangkah perlahan mendekati Elena.Tok.Tok.Tok.Suara hak sepatu mahalnya menggema di seluruh café membuat Elena tanpa sadar menelan ludah gugup, tatapan Nyonya Garli sulit dibaca.Sementara Inara langsung tersenyum puas karena mengira nenek Noah itu, akhirnya benar-benar marah.“Nenek memang harus memberi pelajaran pa
“Diamlah.” bisik Arga tenang. “Sebentar lagi selesai.”Tatapan Elena langsung goyah. Arga membuka tutup kecil salep di tangannya lalu mengoleskannya sangat pelan ke bekas merah di leher Elena.Sentuhan jarinya begitu hati-hati.“Ah…” Elena refleks mengernyit kecil. Arga justru meniup bagian leher wanita itu perlahan setelah mengoleskan salep.“Mhh…” Elena spontan mendesah geli kecil hingga bahunya ikut bergetar dan sialnya…suara kecil itu justru membuat tatapan Arga berubah lebih dalam.Senyum miring tipis muncul di bibir pria itu, “Dasar…” gumamnya pelan sebelum menjentik dahi Elena lembut. “Tahanlah.”“Elena langsung manyun kesal sambil memegangi dahinya. “Sakit tahu.”Tapi Arga malah tertawa kecil lalu mulai memasangkan syal tadi perlahan di leher Elena hingga bekas merah itu tertutup sempurna.Gerakan pria itu sangat dekat, bahkan Elena bisa mencium samar aroma parfum Arga yang menenangkan berbeda jauh dengan milik Noah yang terlalu menusuk di hidung.Setelah selesai, Arga tidak l
“Om Noah, lihat ini!” seru Lexia lagi dengan antusias sambil memperlihatkan boneka kecil di dalam rumah-rumahan.Noah menatap sekilas lalu mengangguk pelan.“Hm. Bagus.” Jawabnya lembut.Lexia tersenyum puas lalu kembali sibuk bermain.Beberapa saat kemudian Noah akhirnya bangkit dari sofa lalu berjalan mendekat. Pria itu ikut duduk di lantai tepat di samping Lexia, membuat anak kecil itu sedikit melongo karena bahkan Arga saja jarang benar-benar mau duduk bermain boneka bersamanya karena ia terlalu sibuk.Namun Noah terlihat santai. Pria itu mengambil satu miniatur mobil kecil lalu menjalankannya pelan di atas karpet.Lexia langsung tertawa kecil melihatnya.“Om Noah…” panggil anak itu tiba-tiba.“Hm?”“Kau ternyata tidak terlalu menyebalkan.”Noah sampai terkekeh rendah.“Pujian yang bagus.”Lexia tersenyum bangga sendiri. Tatapan Noah kemudian perlahan berubah lebih dalam saat melihat wajah anak kecil itu lebih dekat.Semakin lama…semakin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Ben
“AH!” Elena langsung terkejut saat Noah tiba-tiba menarik tubuhnya kuat ke atas. Dalam satu gerakan cepat, pria itu mengangkat Elena ke dalam gendongannya.“Noah!” Elena membelalak kaget sambil refleks memegang bahu pria itu erat.Karena posisinya benar-benar mendadak, kedua kaki Elena otomatis melingkar di pinggang Noah agar tidak jatuh. Cardigan tipis yang dipakainya tersingkap memperlihatkan paha putih mulusnya makin jelas.Noah justru terlihat sangat puas. Senyum tipis penuh kemenangan muncul di bibir tampannya saat kedua tangannya menopang paha Elena erat.“Turunkan aku!” bisik Elena panik sambil melirik ke arah pintu.Tapi Noah malah berjalan santai membawa Elena menjauh dari ruang depan menuju tangga ke lantai dua rumah.Semakin Elena berontak, semakin juga Noah bersemangat dan mendekatkan wajahnya ke leher Elena hingga napas hangat pria itu menyapu kulit putih wanita tersebut perlahan.“Aku suka dia tahu kau sedang bersamaku.”DEGG.“Elena langsung memukul bahu Noah pelan. “Ka
Inara langsung mengulurkan tangannya ke arah Noah dengan wajah memelas. Air matanya menggantung di ujung mata, bibirnya bergetar seolah ia benar-benar korban paling menyedihkan di sana.“Noah…” lirihnya pelan sambil mencoba meraih tangan pria itu. “Aku sakit…”Tapi langkah Noah sama sekali tidak berhenti. Semua orang langsung terdiam saat pria itu melewati Inara begitu saja tanpa melirik sedikit pun. Bahkan tatapannya tidak turun padanya sedetik pun, seolah wanita itu hanyalah udara kosong yang tidak penting.Aura Noah Blackwood terasa terlalu dingin dan menekan saat ia berjalan lurus ke arah Elena. Sepatu kulit hitam mahalnya berhenti tepat di depan wanita itu. Tubuh tinggi pria tersebut langsung menutupi Elena dari pandangan banyak orang. Rahangnya mengeras, mata gelapnya turun perlahan ke pipi Elena yang masih memerah bekas tamparan.Beberapa saat kemudian…Noah mengangkat tangannya perlahan. Semua pegawai café sampai menahan napas.Karena pria yang terkenal kejam, dingin, dan bahka
Sementara itu di dalam kamar…Suasana masih terasa panas meski pintu sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Elena perlahan menurunkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Wajah wanita itu sudah memerah entah karena malu, panik, atau kesal akibat ulah Noah yang benar-benar keterlaluan.“Kamu senga
Noah masih menahan kedua pergelangan tangan Elena di depan tubuh wanita itu, membuat Elena sulit bergerak apalagi melarikan diri.“Noah… cukup…ada orang diluar.” napas Elena mulai tidak teratur saat pria itu kembali mendekat.Namun Noah seperti tidak mendengar. Pria itu justru menunduk perlahan, me
Cairan wine itu mengalir paksa melewati bibir Elena.“UGH…khh…” Elena langsung terbatuk hebat, namun Noah tidak berhenti. Tangan besarnya mencengkeram rahang Elena kuat sementara gelas kristal itu terus dimiringkan hingga tetes terakhir habis.“Noah…berhenti…!” Pekik Elena menahan bahu kekar mantan
Namun tepat saat Arga tinggal beberapa langkah lagi…Noah tiba-tiba membalik tubuh Elena dengan kasar namun tetap menahan pinggangnya erat.Tubuh mereka kini berhadapan begitu dekat sampai Elena bisa merasakan napas panas pria itu menyapu wajahnya.“Noah, jangan buat masalah lagi—” Kalimat Elena ter







