Share

Bab 3

Author: Phoenixclaa
last update Last Updated: 2025-12-31 10:47:30

“Loh, Michel? Kenapa kamu di sini?” Suara Harli terdengar terkejut dari balik pintu kamar.

Bersamaan dengan itu, tangannya terlepas dari gagang pintu. Elena yang masih terdiam di hadapan Noah refleks menahan napas tanpa ia sadari justru berdiam diri dalam pelukan Noah.

“Michel… siapa itu?” batin Elena, rasa penasaran menyusup di kepalanya.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara langkah mendekat disusul nada Harli yang terdengar akrab. 

“Oh, mau ketemu Noah ya? Dia lagi ada urusan sebentar. Nanti menyusul.” ujar Harli dengan nada santai. 

Terdengar suara tawa ringan seorang perempuan.

“Heheh...tidak apa-apa, Om. Aku bisa menunggu.” jawab Michel dengan ramah.

Harli lalu merangkul bahu perempuan itu dengan santai, langkah mereka menjauh tapi percakapan masih terdengar cukup jelas.

“Ayah dan ibu kamu bagaimana? Sehat semua?” tanya Harli melanjutkan dengan basa-basi. 

“Sehat, Om. Mereka masih sibuk bolak-balik Singapur,” jawab Michel sopan.

“Bagus… terus kamu di perusahaan gimana, betah?” lanjut Harli.

“Sejauh ini betah, Om. Aku sekarang dipercaya jadi Ketua Divisi Investasi di Blackwood Capital Partners. Noah juga banyak membantuku secara online,” Michel dengan tenang menceritakan singkat pengalaman dan keterlibatan Noah.

Harli tertawa bangga. “Sebentar lagi dia resmi jadi direktur utama pasti akan lebih banyak membantumu. Setelah lima tahun di luar negeri, sekarang memang waktunya Noah memimpin Blackwood ia harus menunjukkan gelar dan posisinya yang dominan di negara ini.” 

Elena terdiam menyimak semuanya dengan jelas, sementara sesekali bibirnya mendesah kecil karena Noah yang masih terus menciumnya meski pelan sekali tapi ujung bibir Elena sudah sedikit bengkak.

Detik berikutnya, Noah yang sejak tadi tak bisa menahan nafsunya, tiba-tiba melepas tautan di bibir mereka. Wajahnya berubah dingin begitu mendengar suara Michel diluar.

Ia mendorong Elena ke arah kasur dengan gerakan santai.

“Diam di sini,” ucap Noah singkat.

“Noah… tapi lukamu.” Elena refleks meraih tangannya cemas.

Tapi Noah justru menepisnya kasar. “Bukan urusanmu.”

Tanpa menoleh lagi, ia keluar kamar.

Elena hanya bisa terduduk di tepi ranjang, nafasnya naik turun. Setelah beberapa menit menenangkan diri, ia merapikan rambut, mengusap bibirnya pelan, memastikan riasannya kembali rapi sebelum turun.

Ia menuruni anak tangga dengan perasaan kacau dan bimbang dengan perasaanya sendiri, mereka sudah putus 5 tahun lamanya, tapi kenapa rasanya pada Noah malah semakin dalam padahal ia yakin Noah hanya ingin mengujinya sebagai ibu tirinya. 

Begitu sampai di ruang tengah, pandangannya langsung tertuju pada seorang perempuan yang duduk sangat menempel dengan Noah.

Perempuan itu cantik dengan cara yang mencolok. Rambut cokelat sebahu terurai rapi, kulitnya cerah, balutan blazer putih gading dan rok pendek membuatnya tampak elegan sekaligus percaya diri. Tangannya dengan lembut membersihkan luka di punggung tangan Noah.

Noah duduk diam dengan posisi tegap meletakkan kedua tangannya di sofa, membiarkan perempuan itu melakukan apa yang ia mau.

Entah kenapa, dada Elena terasa mengencang, apalagi ekor matanya bisa melihat perempuan itu dengan sengaja mepet-mepet gunungnya ke bahu Noah. 

“Elena,” panggil Harli begitu melihatnya membuat Elena kaget sejenak. “Sini, Sayang.”

Elena tersenyum tipis dan duduk di sisi Harli, berusaha terlihat tenang meski pandangannya sesekali tertarik kembali ke arah Noah dan perempuan itu.

“Om,” Michel menoleh sambil tersenyum manis. “Ini siapa?” 

“Oh,” Harli tersenyum bangga. “Ini istriku. Elena.”

“Ohhh…” jawab Michel singkat. 

Mata Michel memperhatikan Elena dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas, sudut bibirnya terangkat, menahan tawa kecil. Ia melirik ke arah Noah, dan untuk sepersekian detik, keduanya saling melirik lalu sama-sama tertawa yang membuat Elena merasa sedikit tersinggung. 

Perasaan tidak nyaman menyusup pelan.

Tapi Michel segera mengubah ekspresinya. Ia tersenyum manis. 

“Cantik sekali, Om. Om memang tidak pernah salah pilih pasangan,” katanya ringan. “Serasi sekali.”

Elena membalas senyum seadanya, di relung hatinya yang terdalam ia memastikan perempuan di depannya ini penuh tipu muslihat. 

Mata Elena tak bisa lepas apalagi begitu Michel menggenggam tangan Noah. 

Meski Noah tampak enggan, perempuan itu justru memeluk lengannya dengan manja saat mereka berdiri.

“Aku ke kantor dulu, Yah,” kata Noah singkat pada Harli.

“Iya, hati-hati,” jawab Harli santai.

Elena memperhatikan hubungan ayah dan anak itu yang terlihat begitu normal, seolah ketegangan pagi tadi tak pernah terjadi.

“Duluan ya, Om… Elena,” tambah Michel ceria. 

Michel tetap menggandeng lengan Noah, tawa mereka masih terdengar hingga pintu tertutup.

Elena menatap punggung mereka sampai menghilang.

“Siapa perempuan itu sebenarnya…” gumam Elena dalam hati. Dulu, Noah tidak pernah cerita apapun tentang Michel.

Harli tertawa kecil, seolah membaca pikirannya. 

“Sepertinya pertunangan mereka memang harus cepat digelar,” ujarnya santai. “Jangan sampai kebablasan. Aku belum siap jadi kakek.”

Ia mengatakannya sambil bercanda. Tapi bagi Elena, kalimat itu seperti palu yang menghantam pelan tapi tepat di dadanya.

“Pertunangan…?” bisik Elena membatin.

Elena tersenyum tipis, menahan semua pertanyaan yang berdesakan di kepalanya. Ia tak berani bertanya lebih jauh, takut terdengar terlalu ingin tahu, atau terlalu peduli pada anak tirinya sendiri.

Padahal kepalanya sudah hampir meledak, karena dulu Noah tidak pernah suka di pegang perempuan lain kecuali dia, pun juga tak punya teman dekat perempuan sama sekali.

“Sayang…”

Elena tersentak kecil ketika suara Harli memanggilnya memudarkan lamunanya.

“Kau bersiaplah,” ucap Harli sambil menatap arlojinya. “Aku akan menemanimu keluar belanja.” 

Elena mengerjap, sedikit terkejut. “Belanja?” Ia tersenyum kecil, berusaha terdengar santai.

“Pakaianku masih banyak, Tuan Harli. Aku rasa…”

Tatapan Harli yang tadinya lembut berubah tajam membuat Elena tidak melanjutkan ucapannya.

Ia melangkah mendekat, jarak mereka menyempit. Tangannya terangkat, membelai rambut Elena perlahan, seolah penuh kasih sayang. Tapi sentuhannya membuat tengkuk Elena menegang tanpa sadar.

“Kau sekarang Nyonya Blackwood,” kata Harli pelan. “Penampilanmu harus setara denganku.”

Nada suaranya rendah dan tenang. Tapi di telinga Elena, kata-kata itu terdengar seperti penghinaan.

Dari awal Elena sudah tahu jelas tempramen Harli Blackwood, jadi meski beberapa hari lalu dia perlakukan baik, ia tahu jelas itu hanya topeng samata. 

Elena terdiam. Ia tak menepis sentuhan suaminya itu, juga tak membalasnya. Hanya berdiri kaku, menahan getir pahit yang tersangkut di tenggorokannya.

Diamnya Elena justru membuat Harli semakin mendekat.

Jarinya bergeser dari rambut Elena ke rahangnya, ibu jarinya menyentuh pipinya dengan tekanan ringan. Tatapannya menelusuri wajah Elena, dari mata hingga bibir.

“Buat dirimu berguna,” ucap Harli lirih. “Agar uangku tidak keluar sia-sia membelimu.”

Dada Elena terasa sesak mendengarnya, tapi berusaha tetap tenang.

“Aku mengerti,” jawab Elena akhirnya, suaranya halus, nyaris tanpa emosi.

Harli tersenyum puas. 

“Bagus,” katanya singkat. “Sepuluh menit. Supir sudah menunggu, cepatlah.” ucap Harli tegas sebelum berbalik pergi, meninggalkan Elena sendirian.

Elena segera berdiri pelan dan menarik napas dalam-dalam, “Aku juga tidak ingin di sini…” napasnya tersendat. “Andai saja Ayah tidak….”

Kalimat itu terputus. Elena mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu mengusap air matanya cepat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 14

    “Pakai ini malam nanti.” Suara Harli terdengar datar saat sebuah kotak besar berlapis beludru hitam diletakkan di atas meja rias.Elena yang baru saja duduk refleks menoleh. Begitu tutup kotak dibuka, pandangannya langsung terpaku. Di dalamnya ada sebuah gaun malam berwarna merah. Potongannya elegan, jatuh panjang mengikuti lekuk tubuh,tapi potongan dadanya rendah dan membuat Elena merasa tidak nyaman untuk memakainya.“Ini khusus aku siapkan untukmu,” lanjut Harli sambil merapikan manset jasnya. “Jangan mempermalukan aku di pesta pertunangan Noah dan Michel.”Kata pertunangan membuat napas Elena tersangkut, Harli juga seolah tidak memberi ruang Elena untuk menolak apapun yang ia lakukan.“Akan ada MUA terkenal datang sore ini,” tambah Harli. “Feenya dua puluh juta. Jadi jangan banyak protes.”Tanpa menunggu respon Elena, Harli berbalik dan pergi. Pintu menutup pelan, menyisakan Elena sendiri dengan pikiran kusut.Elena melangkah mendekat, jemarinya menyentuh kain gaun yang dingin dan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 13

    “Kau tidak bercanda kan?” suara Michel bergetar senang. “Aku tahu kamu akhirnya akan jatuh cinta padaku.”Michel melonjak girang dengan bahagia, lalu tanpa ragu memeluk Noah erat-erat.Noah tidak menolak. Tangannya terangkat sekilas, membalas pelukan itu dengan sikap datar yang justru membuat dada Elena terasa diremas kuat.Elena tak sanggup lagi bertahan. Tanpa suara, ia berbalik, melangkah cepat naik ke atas sebelum air matanya jatuh. Begitu sampai di kamar, ia langsung merebahkan diri dan memejamkan mata, memaksa napasnya kembali teratur.Ia benar-benar dibuat bimbang dengan perasaanya sendiri. Dipaksa sekalipun dia tidak akan bisa juga dengan Noah.Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Harli masuk dengan langkah berat.“Elena?” panggilnya singkat.Elena langsung dengan gugup pura-pura tidur.Harli mendengus kesal, menatap sekilas tubuh istrinya yang membelakangi. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mematikan lampu, lalu tertidur.Sejak kabar pertunangan Noah tersebar, Michel hampir t

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 12

    Keesokan harinya, Elena masih setengah sadar, tubuhnya terasa berat karena menonton sampai subuh.Ia mengucek matanya sebentar, Harli sudah pergi entah ke mana.Belum sempat Elena duduk lebih tegak, pintu kamar terbanting keras.BRAK.“Eiiii…” mata Elena mendelik tajam karena kaget.Tangannya belum sempat meraih ponsel disampingnya, ketika Noah sudah ada di hadapannya. Dalam satu gerakan cepat, tangannya mencengkeram leher Elena dan mendorongnya ke sandaran kursi.Napas Elena tercekat. Matanya membulat kaget, rasa ngantuk yang membuatnya malas sedari tadi hilang begitu saja.“Kau benar melakukannya?” suara Noah terdengar datar tapi bergetar menahan amarah. Matanya juga merah, dan rahangnya mengeras.“A… apa maksudmu?” Elena terengah, refleks memegang pergelangan tangan Noah. “Noah, aku….”“Jawab jujur!” potong Noah tajam.Elena terpaku. Ia tak mengerti arah pertanyaan itu. Demi melepaskan diri dari mantannya itu, ia hanya bisa mengangguk kecil.“Iya… iya.”Cengkeraman Noah langsung te

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 11

    “Kau bisa diandalkan juga, Elena,” ujar Harli ringan sambil menyendok sedikit daging ke mulutnya.Matanya berbinar menatap hidangan yang tersaji rapi di atas meja, ada ayam panggang rosemary dengan saus krim jamur, udang tiger saute bawang putih, sup bening consommé berkaldu jernih, serta nasi putih Jepang yang pulen.serta nasi hangat yang tampak begitu pulen.“Hmmm… rasanya lumayan,” ucap Harli tanpa sedikit pun menatap Elena yang sejak tadi berdiri di sampingnya yang setia melayani.Elena menghela napas pelan. Dadanya terasa lebih ringan setelah menunggu komentar suaminya itu.“Terima kasih, Tuan,” jawab Elena sambil tersenyum lega.Tapi senyuman Elena langsung menghilang ketika Harli tiba-tiba berhenti mengunyah.Jantung Elena berdetak kencang, “Apa ada yang salah, Tuan Harli?” tanya Elena meremas jari-jarinya gugup.Harli tidak menjawab sama sekali, tapi Tatapan Harli yang tajam membuat dengkul Elena lemas seketika.Tanpa peringatan, Harli tiba-tiba menarik tangan Elena hingga tu

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 10

    Menjelang siang, mobil akhirnya berhenti di depan Mansion Blakwood.Begitu pintu terbuka, Harli dan Noah langsung melangkah masuk lebih dulu. Elena sempat mengernyit. Bukannya Tuan Harli bilang ada proyek penting? Tapi ia tak berani bertanya. Ia hanya mengikuti dari belakang.Noah justru tertawa kecil begitu masuk ke ruang tengah, menoleh pada ayahnya.“Keadaan daerah itu benar-benar buruk,” katanya santai. “Jauh dari kata layak.”Harli mengangguk setuju sambil melepas jas. “Air panasnya saja dingin. Rumahnya juga sesak. Tidak nyaman.”Ucapan itu membuat Elena menunduk, menelan perasaan tak enak. Padahal rumahnya itu, adalah rumah terbaik disana. Tapi bagi orang sekaya mereka dilihat begitu tidak layak bagaimana jika mereka melihat kost tiga kali empat tempat tinggal Elena dulu. Mungkin sudah di anggap kandang.Pantas saja, dulu saat ia pacaran dengan Noah, Noah kadang membuang muka begitu makan di pinggir jalan dengannya, tapi ia tidak pernah menyangka Noah sekasar itu menilai rumahn

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 9

    “Elena.”Elena yang sekarang duduk di bangku taman mendengus pelan, tak memperhatikan. Udara malam menusuk, tapi kepalanya justru terasa panas dengan banyaknya beban pikiran.Tiba-tiba…“Hss.”“Apa ini!” Elena tersentak saat sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Ia refleks menoleh.“Noah?!”Noah berdiri santai di samping bangku, satu tangan menyodorkan gelas bening. Wajahnya datar seperti biasa, tapi sorot matanya tajam mengamati Elena.“Di sini dingin,” katanya singkat. “Kenapa kamu malah di luar?”Ia meletakkan gelas berisi kopi dingin itu ke tangan Elena.Elena mendengus kasar. “Harusnya kopi panas.”“No,” balas Noah ringan. “Yang dingin lebih cocok. Bisa mendinginkan hatimu juga.”Elena mendengus lagi, kali ini diiringi senyum kecil. “Dari mana kamu dapat ini?”Noah mengangkat bahu. “Aku suruh Amara bikin. Sampai tiga kali baru pas.”Elena terkekeh pelan, senyum miring terbit di bibirnya. Hanya Noah yang beberapa kali menghiburnya meski caranya sering menyebalkan dan perkataann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status