Share

Candu Pelukan Tuan Muda Posesif
Candu Pelukan Tuan Muda Posesif
Penulis: Phoenixclaa

Bab 1

Penulis: Phoenixclaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 10:45:10

“Noah Alexander Blackwood?”

Nama itu terlepas begitu saja dari bibir Elena, tenggelam di antara gemuruh pesta resepsi pernikahan megah yang digelar di mansion keluarga Blackwood. Percakapan para tamu tentang anak bungsu suaminya membuat napasnya sedikit tercekat.

“Kenapa kau menyebut nama anakku, Sayang?”

Suara Harli terdengar santai dari belakang. Elena refleks membalikkan tubuh, memaksakan senyum sambil berharap keras bahwa itu hanya kebetulan nama yang sama dengan mantan pacarnya.

“Tidak, aku … aku hanya penasaran karena banyak tamu yang membicarakannya,” jawab Elena cepat dengan alasan apapun yang terasa masuk akal. 

Namun, harapan itu runtuh seketika.

Di tengah kerumunan tamu, berdiri sosok yang sangat Elena kenal.

Deg!

Lutut Elena melemas, jantungnya berdegup liar. Ia berkedip berulang kali, berharap penglihatannya keliru. Tapi sosok di depannya benar-benar nyata.

“Kenapa… kenapa dia ada di sini?” gumamnya tercekat.

Pria tertinggi di ruangan itu memancarkan aura dingin yang berbahaya. Setelan hitamnya terjahit sempurna di tubuh atletisnya, rahang tegas, hidung mancung, dan tatapan tajam yang membuat siapa pun enggan mendekat. Ia tampak seperti eksekutif muda kelas dunia yang mahal dan penuh dominasi.

“My son! Kemarilah!”

Seruan Harli membuat darah Elena terasa surut. Ia berdiri kaku di samping suaminya, pria yang baru ia nikahi pagi tadi.

Gaun malam merah yang membalut tubuhnya terasa tiba-tiba terlalu mencolok. Belahan paha, punggung terbuka, semua terasa salah saat pikirannya kacau dan bibirnya bergetar menahan panik.

Harli tersenyum lebar, tak menyadari apa pun. Ia berbisik lembut di telinga Elena, “Itu putraku yang baru tiba di Indonesia. Lima tahun di Rusia, kuliah dan mengurus bisnis keluarga. Aku sendiri tak menyangka dia datang malam ini.”

“Lima tahun…” gumam Elena dalam hati.

Waktu yang sama sejak ia memutuskan Noah dengan cara paling kejam.

Langkah sepatu itu terdengar semakin dekat, membelah tamu-tamu yang sebagian sudah mabuk.

“Ayah.”

Suara bariton itu.

Elena mengangkat wajahnya perlahan. Jantungnya berontak, degupannya tak mau reda.

Tatapan mereka bertemu.

Noah terdiam sepersekian detik, matanya melebar sebelum ekspresinya mengeras kembali menjadi datar. Elena refleks meraih sisi meja di dekatnya agar tidak roboh, lalu memaksa diri terlihat tenang.

“Noah,” ujar Harli ceria sambil menarik bahu Elena, “kenalkan. Ini istri Ayah. Elena.”

Elena tersenyum kaku, berpura-pura asing. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengulurkan tangan.

“H-halo… Elena,” sapa Elena pelan.

Noah tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Tatapannya menahan wajah Elena tanpa berkedip, membuat jantung Elena serasa hampir copot.

Baru setelah Harli menyenggol lengan Noah, pemuda itu meraih tangan Elena. Genggamannya mengeras, jari-jarinya menekan kuat seolah peringatan. Matanya tajam, dingin, tanpa emosi.

Elena terperanjat. Rasa nyeri menjalar hingga pergelangan tangannya, membuatnya meringis pelan.

Namun tatapan Noah tetap lembut. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sopan, nyaris sempurna.

“Selamat bergabung di Blackwood,” ucapnya dingin. Jelas mengejek.

Elena membalas dengan senyum kaku. Tanpa sadar, pandangannya tersangkut pada garis bibir tebal Noah yang dulu begitu ia kenal, membuatnya terpaku sepersekian detik.

Elena tersentak saat Noah melepaskan genggaman tangannya. Rasa perih masih tertinggal. Elena refleks menarik tangannya dan mengusapnya pelan di sisi gaunnya.

Harli tersenyum puas, lalu kembali larut dalam obrolan bisnis, meninggalkan Elena berdua dengan Noah.

Tak lama, bisik-bisik terdengar dari arah meja tamu.

“Kasihan Tuan Noah. Ibu tirinya malah seumuran dengannya.”

“Paling juga perempuan itu cuma mengincar harta Tuan Harli.”

Elena mengurungkan niatnya untuk membuka percakapan. Rasa kesal dan malu menahannya tetap diam.

Belum sempat suasana berubah, Noah sudah melangkah pergi. Saat melewati meja para tamu tadi, tangannya menyapu permukaannya dengan sengaja.

Brak! Brak!

Beberapa gelas jatuh dan pecah bersamaan. Aula seketika hening.

Noah berhenti. Tatapannya meluncur dingin ke arah mereka. Tak ada kata, namun cukup untuk membuat wajah para tamu itu pucat. Mereka tahu betul reputasi Noah Blackwood.

Tanpa menoleh lagi, Noah berjalan pergi dengan langkah angkuh.

“Noah!” seru Harli terkejut.

Noah tak menggubris. Ia terus menaiki tangga menuju lantai dua, lalu melambaikan satu tangan tanpa ekspresi. “Have fun, Ayah.”

Elena berdiri terpaku, menatap punggung Noah yang tegap hingga menghilang di tikungan tangga. Di matanya, Noah masih sama seperti dulu. Pria sempurna yang selalu membelanya. Pria yang mustahil ia lupakan.

Ini adalah pertemuan pertama mereka… setelah lima tahun perpisahan.

. . . .

Tepat pukul dua dini hari, pesta akhirnya usai. Satu per satu tamu meninggalkan mansion Blackwood, menyisakan keheningan yang terasa berat.

Elena berdiri sendiri di balkon lantai dua. Udara malam dingin menusuk kulitnya. Ia menyandarkan kedua tangan di pagar balkon, menunduk, berusaha meredam dada yang terasa sesak sejak tadi.

“Tenang… aku harus bisa mengendalikan diri,” bisiknya pelan, lebih seperti permohonan pada dirinya sendiri.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Elena menoleh. Noah sudah berdiri di ambang balkon. Wajahnya datar, namun tatapan matanya tajam dan lelah, seakan membawa beban yang tak pernah benar-benar ia lepaskan.

“Elena.” Suaranya serak.

Jantung Elena berdegup tidak teratur.

Belum sempat ia menjawab, Noah sudah mendekat. Jarak mereka menyempit hingga terlalu dekat untuk disebut aman. Noah sedikit menunduk, tangannya membuka tiga kancing atas kemejanya dengan gerakan tenang.

Hening.

Elena refleks menahan napas. Ia ingin mundur, tapi kakinya terasa berat. Aroma maskulin Noah menyeruak, familiar dan berbahaya bagi ketenangannya. Ia menundukkan pandangan, berusaha menjaga jarak, menjaga batas.

Elena mengangkat wajahnya perlahan. “Noah… aku—”

Kalimatnya terhenti saat Noah mengambil langkah kecil lagi.

Elena menelan ludah. Tangannya mencengkeram pagar balkon, bukan dirinya, bukan Noah. Seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri.

“Parfummu…” ucap Noah lirih tanpa menatap langsung. Lalu senyum sinis muncul di bibirnya. “Masih sama.”

Nada itu membuat dada Elena bergetar. Ada harapan singkat yang bahkan tak sempat ia akui.

Dalam sekejap, Noah meraih pergelangan tangan Elena dan mencengkeramnya kuat. Ia mendorong tubuh Elena hingga punggung wanita itu menghantam dinding balkon.

“Noah!” pekik Elena, napasnya tercekik, dadanya perih.

“Kau pikir aku masih sama seperti dulu, yang mudah kau mainkan?” suara Noah meninggi, sarat amarah yang lama dipendam.

Elena menggenggam pergelangan tangannya dengan lemah. “Noah … lepaskan aku …”

“Kau meninggalkanku demi pria kaya,” potong Noah dingin. “Sekarang kau tiba-tiba muncul di rumahku sebagai ibu tiriku. Kau benar-benar wanita murahan.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada dorongannya.

Elena membuka mulut, ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah bermimpi menjadi istri pria tua kaya raya. Bahwa ia terpaksa memilih jalan itu karena ibunya sakit-sakitan dan membutuhkan biaya besar. Bahwa rumah tempat ia tinggal dulu bukan tempat pulang, melainkan neraka kecil bersama ayah kandung yang diam dan ibu tiri yang selalu memandangnya seperti beban.

Namun semua alasan itu mati di tenggorokannya.

Tak ada satu pun yang keluar.

Tubuh Noah menekan Elena, membuatnya terjepit. Tenaganya kalah jauh. Air mata mengalir tanpa bisa ia cegah, bukan karena takut semata, tapi karena rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi.

Noah menunduk lebih dekat. Napasnya berat, matanya memerah oleh kemarahan lama.

“Bibir ini,” bisiknya dingin di telinga Elena, “yang dulu bersumpah tak akan pernah meninggalkanku.”

Tangannya terulur, mengusap bibir Elena pelan.

Tubuh Elena gemetar. Ia memejamkan mata, air matanya jatuh perlahan. Ia tidak membalas, tidak juga mendorong. Hanya diam, rapuh, menanggung semuanya.

Noah meraih tengkuknya, kepalanya miring, jarak mereka semakin dekat.

Namun sebelum ia sempat berbuat lebih jauh—

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Suara itu memecah keheningan. Keduanya serentak menoleh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 113

    Harli terdiam beberapa detik setelah pertanyaan Elena menggantung di udara.Ruangan kerja yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara napas Elena yang sedikit tidak teratur yang terdengar di antara mereka.Tatapan Harli lalu berubah dingin.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena dengan mata yang menyipit perlahan, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam kepalanya.Lalu ia menghela napas kasar dengan ekspresi tidak senangnya.“Keluar.” Bentaknya tajam.Elena tertegun menunggu jawaban yang di inginkan.“Mas ku mohon jawab dulu.” Pinta Elena memelas.“Keluar dari ruang kerjaku!” bentak Harli melanjutkan.Suaranya begitu keras hingga membuat Elena refleks mundur satu langkah.Elena menelan ludah.Hanya saja, sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, Harli sudah berjalan beberapa langkah mendekatinya.Tatapannya menusuk tajam.“Dan bersiaplah… tiga jam lagi.”“Kita akan mengadakan konferensi untuk klarifikasi,” lanjut Harli dengan suara dingin.Dalam sek

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 112

    Miranda dan Elena sama-sama menoleh ke belakang.Di sana, Michel sudah berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya penuh amarah, matanya tajam menatap mereka berdua.“Sedang apa kalian di sini?” bentaknya tanpa peduli bahwa beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka.Miranda langsung berubah sikap.“Michel, sayang—”Tapi Michel memotong dengan suara lebih keras.“Ibu pikir aku tidak dengar?” katanya tajam. “Ibu bilang ibu… ibu kandungnya?”Beberapa sosialita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.Miranda jelas menyadari situasi itu berbahaya.Ia segera meraih lengan Michel.“Cukup. Ikut Ibu.”Michel sempat ingin menolak, namun Miranda menariknya dengan tegas. Elena yang tidak ingin keributan makin besar akhirnya ikut berjalan di belakang mereka.Mereka keluar dari pintu samping mansion menuju halaman depan.Udara malam terasa lebih dingin. Tidak ada wartawan, tidak ada tamu lainnya hanya lampu taman yang menyinari halaman luas itu.Begitu mereka berhenti, Miranda langsung

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 111

    Elena menoleh perlahan.Di sana, Harli berdiri menatapnya. Wajah pria itu kaku, rahangnya mengeras, dan sorot matanya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak disembunyikan.“Mas Harli…” suara Elena keluar pelan.Namun Harli tidak menjawab.Tanpa sepatah kata pun, pria itu tiba-tiba meraih lengannya dengan kasar.Tarikan itu begitu kuat hingga membuat Elena tersentak.“Mas—”Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Harli sudah menyeretnya menjauh dari keramaian. Sepatu Elena hampir terseret di lantai saat pria itu membawanya ke sudut ruangan yang jauh dari sorotan kamera dan para tamu.Begitu mereka berhenti di tempat yang lebih sepi, Harli langsung berbalik menghadapnya.Tatapannya tajam.“Dari mana saja kau?” bentaknya dingin, dan penuk tekanan.Elena menatapnya, jantungnya berdetak tidak teratur.“Aku… Mas Harli, aku—”“Cukup.” Harli memotongnya dengan suara keras.Pria itu melangkah lebih dekat, tubuhnya menjulang tinggi di hadapan Elena. Sorot matanya dingin seperti pisau yang siap me

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 110

    Di rumah sakit, Revan baru saja selesai memeriksa tekanan darah Rania ketika pintu ruang rawat terbuka keras.Beberapa pria berpakaian hitam masuk tanpa mengetuk.Revan langsung berdiri siaga.“Ada apa ini?”Namun dua pria sudah berdiri di sisi tempat tidur.Revan menatap tajam dan mencoba menghalangi.“Pasien ini belum boleh dipindahkan.” Ucapnya tegas.Pria yang memimpin rombongan itu hanya menatapnya dingin.“Perintah dari atas.”Revan mengepalkan tangan.“Dari siapa?”Dua pria itu tidak menjawab lalu dengan terampil mengurus alat medis dan memindahkan Rania ke brankar.“HEY!” bentak Revan.Ia mencoba menghentikan mereka, tapi salah satu pria langsung menarik kerah bajunya.BUGH.Sebuah pukulan menghantam perutnya.Revan terhuyung, napasnya terputus.Namun ia tetap mencoba berdiri.“Kalian tidak bisa—”Pukulan kedua menghantam wajahnya.BRUK.Tubuhnya jatuh keras ke lantai.Di pintu, direktur rumah sakit berdiri dengan wajah pucat.“Maaf dokter… ini perintah.”Revan hanya bisa mena

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 109

    Begitu mobil Harli berhenti di depan Hotel Florist, pria itu langsung keluar tanpa menunggu sopir membuka pintu.Langkahnya panjang dan tegas menyusuri lorong hotel hingga berhenti di depan kamar 57.Tok. Tok.Beberapa detik kemudian pintu terbuka.Miranda sudah berdiri di sana dengan bikini tipis berwarna merah, rambutnya tersisir rapi, dan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.Harli langsung masuk tanpa basa-basi.Begitu pintu di tutup.Ia menatap Miranda tajam.“Apa yang kau tahu tentang Rania?”Suaranya dingin, penuh tekanan.“Dan bagaimana kau tahu aku mencarinya?”Miranda tidak terlihat terkejut sama sekali.Ia justru berjalan santai ke meja kecil di dekat jendela, lalu duduk sambil memutar cangkir teh di tangannya dengan begitu tenang.Lalu ia tersenyum tipis.“Tidak ada yang gratis di dunia ini.”Harli berdiri diam menatapnya beberapa detik.Lalu ia bertanya datar sekaligus heran apa yang akan wanita ini minta.“Lalu?”Miranda bangkit dari kursinya perlahan.Ia berjalan men

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 108

    Bukannya langsung bangun atau menjauh… Noah justru kembali menjatuhkan kepalanya ke punggung Elena dengan manja.“Hmm…” gumamnya malas.Tangannya yang besar kembali melingkar erat di pinggang Elena, bahkan kali ini menarik tubuh wanita itu semakin rapat ke dadanya.“Elena…” bisiknya dengan suara serak yang menggoda.Elena langsung menegang.“Noah, lepaskan jangan begini kalau di rumah”Namun Noah malah menyela dengan nada setengah merengek.“Kau lupa… ini rumahku.”Ia menggeser wajahnya sedikit hingga hidungnya menyentuh tengkuk Elena.“Naturally… aku bisa masuk ke mana saja semauku.”Napas hangatnya menyapu kulit Elena membuat wanita itu merinding.“Noah…” bisik Elena pelan.Noah justru semakin manja. Ia mengeratkan pelukannya, dagunya bersandar di bahu Elena.“Tidurlah.” Pintanya manja.Elena mendengus kecil.“Jangan tidur disini, Noah.”Noah malah menggeleng pelan seperti anak kecil yang keras kepala.“Aku sudah lama tidak tidur nyenyak, El.” Suaranya pelan terus memohon.Tangannya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status