Masuk
“Noah Alexander Blackwood?”
Nama itu terlepas begitu saja dari bibir Elena, tenggelam di antara gemuruh pesta resepsi pernikahan megah yang digelar di mansion keluarga Blackwood. Percakapan para tamu tentang anak bungsu suaminya membuat napasnya sedikit tercekat.
“Kenapa kau menyebut nama anakku, Sayang?”
Suara Harli terdengar santai dari belakang. Elena refleks membalikkan tubuh, memaksakan senyum sambil berharap keras bahwa itu hanya kebetulan nama yang sama dengan mantan pacarnya.
“Tidak, aku … aku hanya penasaran karena banyak tamu yang membicarakannya,” jawab Elena cepat dengan alasan apapun yang terasa masuk akal.
Namun, harapan itu runtuh seketika.
Di tengah kerumunan tamu, berdiri sosok yang sangat Elena kenal.
Deg!
Lutut Elena melemas, jantungnya berdegup liar. Ia berkedip berulang kali, berharap penglihatannya keliru. Tapi sosok di depannya benar-benar nyata.
“Kenapa… kenapa dia ada di sini?” gumamnya tercekat.
Pria tertinggi di ruangan itu memancarkan aura dingin yang berbahaya. Setelan hitamnya terjahit sempurna di tubuh atletisnya, rahang tegas, hidung mancung, dan tatapan tajam yang membuat siapa pun enggan mendekat. Ia tampak seperti eksekutif muda kelas dunia yang mahal dan penuh dominasi.
“My son! Kemarilah!”
Seruan Harli membuat darah Elena terasa surut. Ia berdiri kaku di samping suaminya, pria yang baru ia nikahi pagi tadi.
Gaun malam merah yang membalut tubuhnya terasa tiba-tiba terlalu mencolok. Belahan paha, punggung terbuka, semua terasa salah saat pikirannya kacau dan bibirnya bergetar menahan panik.
Harli tersenyum lebar, tak menyadari apa pun. Ia berbisik lembut di telinga Elena, “Itu putraku yang baru tiba di Indonesia. Lima tahun di Rusia, kuliah dan mengurus bisnis keluarga. Aku sendiri tak menyangka dia datang malam ini.”
“Lima tahun…” gumam Elena dalam hati.
Waktu yang sama sejak ia memutuskan Noah dengan cara paling kejam.
Langkah sepatu itu terdengar semakin dekat, membelah tamu-tamu yang sebagian sudah mabuk.
“Ayah.”
Suara bariton itu.
Elena mengangkat wajahnya perlahan. Jantungnya berontak, degupannya tak mau reda.
Tatapan mereka bertemu.
Noah terdiam sepersekian detik, matanya melebar sebelum ekspresinya mengeras kembali menjadi datar. Elena refleks meraih sisi meja di dekatnya agar tidak roboh, lalu memaksa diri terlihat tenang.
“Noah,” ujar Harli ceria sambil menarik bahu Elena, “kenalkan. Ini istri Ayah. Elena.”
Elena tersenyum kaku, berpura-pura asing. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengulurkan tangan.
“H-halo… Elena,” sapa Elena pelan.
Noah tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Tatapannya menahan wajah Elena tanpa berkedip, membuat jantung Elena serasa hampir copot.
Baru setelah Harli menyenggol lengan Noah, pemuda itu meraih tangan Elena. Genggamannya mengeras, jari-jarinya menekan kuat seolah peringatan. Matanya tajam, dingin, tanpa emosi.
Elena terperanjat. Rasa nyeri menjalar hingga pergelangan tangannya, membuatnya meringis pelan.
Namun tatapan Noah tetap lembut. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sopan, nyaris sempurna.
“Selamat bergabung di Blackwood,” ucapnya dingin. Jelas mengejek.
Elena membalas dengan senyum kaku. Tanpa sadar, pandangannya tersangkut pada garis bibir tebal Noah yang dulu begitu ia kenal, membuatnya terpaku sepersekian detik.
Elena tersentak saat Noah melepaskan genggaman tangannya. Rasa perih masih tertinggal. Elena refleks menarik tangannya dan mengusapnya pelan di sisi gaunnya.
Harli tersenyum puas, lalu kembali larut dalam obrolan bisnis, meninggalkan Elena berdua dengan Noah.
Tak lama, bisik-bisik terdengar dari arah meja tamu.
“Kasihan Tuan Noah. Ibu tirinya malah seumuran dengannya.”
“Paling juga perempuan itu cuma mengincar harta Tuan Harli.”
Elena mengurungkan niatnya untuk membuka percakapan. Rasa kesal dan malu menahannya tetap diam.
Belum sempat suasana berubah, Noah sudah melangkah pergi. Saat melewati meja para tamu tadi, tangannya menyapu permukaannya dengan sengaja.
Brak! Brak!
Beberapa gelas jatuh dan pecah bersamaan. Aula seketika hening.
Noah berhenti. Tatapannya meluncur dingin ke arah mereka. Tak ada kata, namun cukup untuk membuat wajah para tamu itu pucat. Mereka tahu betul reputasi Noah Blackwood.
Tanpa menoleh lagi, Noah berjalan pergi dengan langkah angkuh.
“Noah!” seru Harli terkejut.
Noah tak menggubris. Ia terus menaiki tangga menuju lantai dua, lalu melambaikan satu tangan tanpa ekspresi. “Have fun, Ayah.”
Elena berdiri terpaku, menatap punggung Noah yang tegap hingga menghilang di tikungan tangga. Di matanya, Noah masih sama seperti dulu. Pria sempurna yang selalu membelanya. Pria yang mustahil ia lupakan.
Ini adalah pertemuan pertama mereka… setelah lima tahun perpisahan.
. . . .
Tepat pukul dua dini hari, pesta akhirnya usai. Satu per satu tamu meninggalkan mansion Blackwood, menyisakan keheningan yang terasa berat.
Elena berdiri sendiri di balkon lantai dua. Udara malam dingin menusuk kulitnya. Ia menyandarkan kedua tangan di pagar balkon, menunduk, berusaha meredam dada yang terasa sesak sejak tadi.
“Tenang… aku harus bisa mengendalikan diri,” bisiknya pelan, lebih seperti permohonan pada dirinya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Elena menoleh. Noah sudah berdiri di ambang balkon. Wajahnya datar, namun tatapan matanya tajam dan lelah, seakan membawa beban yang tak pernah benar-benar ia lepaskan.
“Elena.” Suaranya serak.
Jantung Elena berdegup tidak teratur.
Belum sempat ia menjawab, Noah sudah mendekat. Jarak mereka menyempit hingga terlalu dekat untuk disebut aman. Noah sedikit menunduk, tangannya membuka tiga kancing atas kemejanya dengan gerakan tenang.
Hening.
Elena refleks menahan napas. Ia ingin mundur, tapi kakinya terasa berat. Aroma maskulin Noah menyeruak, familiar dan berbahaya bagi ketenangannya. Ia menundukkan pandangan, berusaha menjaga jarak, menjaga batas.
Elena mengangkat wajahnya perlahan. “Noah… aku—”
Kalimatnya terhenti saat Noah mengambil langkah kecil lagi.
Elena menelan ludah. Tangannya mencengkeram pagar balkon, bukan dirinya, bukan Noah. Seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri.
“Parfummu…” ucap Noah lirih tanpa menatap langsung. Lalu senyum sinis muncul di bibirnya. “Masih sama.”
Nada itu membuat dada Elena bergetar. Ada harapan singkat yang bahkan tak sempat ia akui.
Dalam sekejap, Noah meraih pergelangan tangan Elena dan mencengkeramnya kuat. Ia mendorong tubuh Elena hingga punggung wanita itu menghantam dinding balkon.
“Noah!” pekik Elena, napasnya tercekik, dadanya perih.
“Kau pikir aku masih sama seperti dulu, yang mudah kau mainkan?” suara Noah meninggi, sarat amarah yang lama dipendam.
Elena menggenggam pergelangan tangannya dengan lemah. “Noah … lepaskan aku …”
“Kau meninggalkanku demi pria kaya,” potong Noah dingin. “Sekarang kau tiba-tiba muncul di rumahku sebagai ibu tiriku. Kau benar-benar wanita murahan.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada dorongannya.
Elena membuka mulut, ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah bermimpi menjadi istri pria tua kaya raya. Bahwa ia terpaksa memilih jalan itu karena ibunya sakit-sakitan dan membutuhkan biaya besar. Bahwa rumah tempat ia tinggal dulu bukan tempat pulang, melainkan neraka kecil bersama ayah kandung yang diam dan ibu tiri yang selalu memandangnya seperti beban.
Namun semua alasan itu mati di tenggorokannya.
Tak ada satu pun yang keluar.
Tubuh Noah menekan Elena, membuatnya terjepit. Tenaganya kalah jauh. Air mata mengalir tanpa bisa ia cegah, bukan karena takut semata, tapi karena rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi.
Noah menunduk lebih dekat. Napasnya berat, matanya memerah oleh kemarahan lama.
“Bibir ini,” bisiknya dingin di telinga Elena, “yang dulu bersumpah tak akan pernah meninggalkanku.”
Tangannya terulur, mengusap bibir Elena pelan.
Tubuh Elena gemetar. Ia memejamkan mata, air matanya jatuh perlahan. Ia tidak membalas, tidak juga mendorong. Hanya diam, rapuh, menanggung semuanya.
Noah meraih tengkuknya, kepalanya miring, jarak mereka semakin dekat.
Namun sebelum ia sempat berbuat lebih jauh—
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Suara itu memecah keheningan. Keduanya serentak menoleh.
Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan
Inara langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi Nyonya Garli. Wanita itupun buru-buru melangkah mendekat sambil melipat tangan di dada.“Ituuu nek, yang sudah menggoda Tuan Noah juga.” Ucap Inara di sertai tatapan penuh penghinaan.“Dasar wanita murahan. Baru beberapa hari lalu menggoda Noah sekarang sudah menggoda pria lain juga.” sindirnya sambil melirik Arga sinis. “Memang kelasnya cuma begitu.” Lanjutnya sinis.DEGG.Rahang Arga langsung mengeras, Elena juga tampak menahan emos.Namun sebelum suasana semakin memanas, Nyonya Garli mendadak berjalan mendekat. Gerakannya elegan namun tegas hingga semua orang otomatis diam.Wanita tua modis itu lalu melangkah perlahan mendekati Elena.Tok.Tok.Tok.Suara hak sepatu mahalnya menggema di seluruh café membuat Elena tanpa sadar menelan ludah gugup, tatapan Nyonya Garli sulit dibaca.Sementara Inara langsung tersenyum puas karena mengira nenek Noah itu, akhirnya benar-benar marah.“Nenek memang harus memberi pelajaran pa
“Diamlah.” bisik Arga tenang. “Sebentar lagi selesai.”Tatapan Elena langsung goyah. Arga membuka tutup kecil salep di tangannya lalu mengoleskannya sangat pelan ke bekas merah di leher Elena.Sentuhan jarinya begitu hati-hati.“Ah…” Elena refleks mengernyit kecil. Arga justru meniup bagian leher wanita itu perlahan setelah mengoleskan salep.“Mhh…” Elena spontan mendesah geli kecil hingga bahunya ikut bergetar dan sialnya…suara kecil itu justru membuat tatapan Arga berubah lebih dalam.Senyum miring tipis muncul di bibir pria itu, “Dasar…” gumamnya pelan sebelum menjentik dahi Elena lembut. “Tahanlah.”“Elena langsung manyun kesal sambil memegangi dahinya. “Sakit tahu.”Tapi Arga malah tertawa kecil lalu mulai memasangkan syal tadi perlahan di leher Elena hingga bekas merah itu tertutup sempurna.Gerakan pria itu sangat dekat, bahkan Elena bisa mencium samar aroma parfum Arga yang menenangkan berbeda jauh dengan milik Noah yang terlalu menusuk di hidung.Setelah selesai, Arga tidak l
“Om Noah, lihat ini!” seru Lexia lagi dengan antusias sambil memperlihatkan boneka kecil di dalam rumah-rumahan.Noah menatap sekilas lalu mengangguk pelan.“Hm. Bagus.” Jawabnya lembut.Lexia tersenyum puas lalu kembali sibuk bermain.Beberapa saat kemudian Noah akhirnya bangkit dari sofa lalu berjalan mendekat. Pria itu ikut duduk di lantai tepat di samping Lexia, membuat anak kecil itu sedikit melongo karena bahkan Arga saja jarang benar-benar mau duduk bermain boneka bersamanya karena ia terlalu sibuk.Namun Noah terlihat santai. Pria itu mengambil satu miniatur mobil kecil lalu menjalankannya pelan di atas karpet.Lexia langsung tertawa kecil melihatnya.“Om Noah…” panggil anak itu tiba-tiba.“Hm?”“Kau ternyata tidak terlalu menyebalkan.”Noah sampai terkekeh rendah.“Pujian yang bagus.”Lexia tersenyum bangga sendiri. Tatapan Noah kemudian perlahan berubah lebih dalam saat melihat wajah anak kecil itu lebih dekat.Semakin lama…semakin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Ben
“AH!” Elena langsung terkejut saat Noah tiba-tiba menarik tubuhnya kuat ke atas. Dalam satu gerakan cepat, pria itu mengangkat Elena ke dalam gendongannya.“Noah!” Elena membelalak kaget sambil refleks memegang bahu pria itu erat.Karena posisinya benar-benar mendadak, kedua kaki Elena otomatis melingkar di pinggang Noah agar tidak jatuh. Cardigan tipis yang dipakainya tersingkap memperlihatkan paha putih mulusnya makin jelas.Noah justru terlihat sangat puas. Senyum tipis penuh kemenangan muncul di bibir tampannya saat kedua tangannya menopang paha Elena erat.“Turunkan aku!” bisik Elena panik sambil melirik ke arah pintu.Tapi Noah malah berjalan santai membawa Elena menjauh dari ruang depan menuju tangga ke lantai dua rumah.Semakin Elena berontak, semakin juga Noah bersemangat dan mendekatkan wajahnya ke leher Elena hingga napas hangat pria itu menyapu kulit putih wanita tersebut perlahan.“Aku suka dia tahu kau sedang bersamaku.”DEGG.“Elena langsung memukul bahu Noah pelan. “Ka
Inara langsung mengulurkan tangannya ke arah Noah dengan wajah memelas. Air matanya menggantung di ujung mata, bibirnya bergetar seolah ia benar-benar korban paling menyedihkan di sana.“Noah…” lirihnya pelan sambil mencoba meraih tangan pria itu. “Aku sakit…”Tapi langkah Noah sama sekali tidak berhenti. Semua orang langsung terdiam saat pria itu melewati Inara begitu saja tanpa melirik sedikit pun. Bahkan tatapannya tidak turun padanya sedetik pun, seolah wanita itu hanyalah udara kosong yang tidak penting.Aura Noah Blackwood terasa terlalu dingin dan menekan saat ia berjalan lurus ke arah Elena. Sepatu kulit hitam mahalnya berhenti tepat di depan wanita itu. Tubuh tinggi pria tersebut langsung menutupi Elena dari pandangan banyak orang. Rahangnya mengeras, mata gelapnya turun perlahan ke pipi Elena yang masih memerah bekas tamparan.Beberapa saat kemudian…Noah mengangkat tangannya perlahan. Semua pegawai café sampai menahan napas.Karena pria yang terkenal kejam, dingin, dan bahka
Noah hanya berdehem pelan lalu menunrunkan Elena perlahan, ia lalu berjalan cepat membuka lemari pakaian Elena.Setelah mengamati beberapa saat, ia akhirnya menemukan sebuah cardigan panjang, warna dusty yang panjangnya sampai lutut. Ia lalu melemparnya ke Elena.“Pakailah…”Elena buru-buru memakai
Elena menutup pintu kamarnya cepat-cepat, lalu menyandarkan punggungnya.“Apa yang harus kulakukan…” gumamnya lirih.Hingga ponsel di tangannya bergetar menunjukkan pesan wa dari Noah.Jantungnya langsung berdegup keras.‘Datanglah ke ruang kerja rahasia. Kita perlu bicara. Aku bisa memberimu solus
Noah yang masih diatas tubuh Elena langsung menjatuhkan kepalanya ke dada Elena yang kenyal sambil mendengus kasar.“Siapa yang berani…” gumamnya rendah, kesal karena kesenangannya di ganggu.Ia bangkit dengan gerakan malas, meraih jubahnya dari lantai lalu mengenakannya sekadarnya. Wajahnya datar
Elena benar-benar kesal melihat tingkah Noah yang menguji kesabarannya.Ia segera ingin meninggalkan ruangan itu secepat mungkin, namun Noah langsung mencium Elena lebih dalam lagi, hingga refleks Elena mencengkram dan menarik rambut lembut Noah berkali-kali.Namun sesaat kemudian, ia langsung ters







