MasukElena dan Harli saling menoleh kearah orang yang datang.Ternyata Tuan Hartono yang berdehem pelan.Wajahnya tegang, sorot matanya tajam seperti bilah pisau. Ia berhenti tepat di depan Harli.“Kita harus bicara, Tuan Harli,” ucapnya dengan suara rendah penuh penekanan.Tidak ada basa-basi sama seklaiHarli membalas tatapan itu segan. Lalu sebelum beranjak, ia menoleh pada Elena.“Kita masih ada urusan nanti,” katanya dingin.Harli lalu merangkul bahu Hartono. Keduanya berjalan menjauh dari kerumunan untuk membicarakan proyek hari ini.Elena akhirnya duduk sendiri, memikirkan jawaban yang tepat pada suaminya nanti.Tak lama berselang, langkah hak tinggi terdengar mendekat.Michel berhenti tepat di depan Elena, lalu dengan sengaja menarik kursi dan duduk tepat di samping Elena. Kakinya dilipat perlahan, belahan gaunnya tersibak hingga paha terbuka tanpa rasa malu.Ia lalu mencondongkan badan kearah Elena dan tersenyum miring.“Entah apa yang membuat Noah akhirnya memilih membantu perusa
Noah yang masih diatas tubuh Elena langsung menjatuhkan kepalanya ke dada Elena yang kenyal sambil mendengus kasar.“Siapa yang berani…” gumamnya rendah, kesal karena kesenangannya di ganggu.Ia bangkit dengan gerakan malas, meraih jubahnya dari lantai lalu mengenakannya sekadarnya. Wajahnya datar ketika melangkah menuju pintu.Pintu dibuka tanpa basa-basi.Ternyata hanya seorang pegawai hotel yang berdiri dengan kepala tertunduk hormat.“Maaf mengganggu, Tuan Blackwood. Pesanan wine Anda.”Di tangannya terdapat botol anggur mewah dalam kotak kayu.Noah melirik sekilas.Chateau Lafite Rothschild 1982.Salah satu wine yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk satu botol.Tanpa banyak bicara, Noah mengambil botol itu dengan satu tangan.“Pergilah.”Pintu dibanting kembali tanpa memberi kesempatan pegawai itu berkata lagi. Suara kerasnya membuat pegawai hotel di luar gemetar.Elena kini duduk di sudut ranjang, selimut menutup sebagian tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, n
Elena berpikir keras sampai kepalanya terasa mau pecah.Jam sudah menunjukkan pukul 20.07.Michel sudah pulang sejak setengah jam lalu diantar Noah.Sedangkan Harli, pria tua itu malah duduk santai di ruang tamu, membaca buku dengan kacamata bertengger di ujung hidungnya.Ngapain sih pakai di sana segala malam-malam begini?!Elena mondar-mandir di kamar.Elena memejamkan mata sebentar hingga akhirnya menemukan ide.“Maafkan aku, Lir…” batinnya pelan.Lalu dengan napas panjang, ia segera turun ke ruang tamu.“Mas…” panggilnya, berusaha terdengar normal. “Aku izin nginap di luar ya.”Harli mengangkat wajahnya pelan dari buku.“Kemana?” suaranya datar.Elena menelan ludah. “Ada temanku, Mas. Dia sedang sakit”“Sakit?” Harli menutup bukunya setengah. “Jarang-jarang aku di rumah. Sekarang kamu malah mau keluyuran?”“Bukan keluyuran, Mas. Ini serius.”“Dia nggak punya keluarga?” tanya Harli tajam.Elena terdiam sesaat tak bisa menjawab.Harli mendengus. “Rumah sakit ada perawat. Ada dokter.
Elena mendorong bahu Noah keras-keras.“Dasar menjijikkan!”Tubuh Noah terdorong mundur satu langkah sebelum akhirnya ia terkekeh lirih. Bukannya marah, ia justru terlihat terhibur.Ia merapikan jasnya, lalu duduk kembali ke kursi dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.“Pikirkan saja baik-baik,” ucapnya tenang.Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya perlahan, lalu mengembuskan asap tipis ke udara dengan tatapan yang tetap menggoda dan penuh perhitungan.“Waktumu hanya sampai besok,” lanjutnya ringan. “Setelah itu… yaaa, kau pikir saja sendiri.”Ia memiringkan kepala, menatap Elena dari bawah alisnya.“Bukan hanya perusahaan ayahmu yang memohon padaku.”Kalimat itu menggantung berat.Noah menggerakkan jarinya ke arah pintu.“Kau boleh keluar sekarang. Gunakan waktumu untuk berpikir.”Elena menatapnya tajam.“Aku tidak semurahan itu,” desisnya. “Memberikan tubuhku hanya demi tender.”Lalu tanpa menunggu jawaban, ia membalikkan badan dan membanting pintu ruang kerja itu keras-ke
Elena langsung bergegas mengganti bajunya. Ia mengenakan piyama panjang yang nyaman, menyisir rambutnya sekilas, lalu membuka pintu kamarnya dengan hati-hati.Ia lalu berjalan mengendap-endap menuju kamar Noah.Tangannya bergetar saat memutar gagang pintu.Tidak terkunci.Ia membuka sedikit dan mengintip.Noah tidak ada di dalam.“Apa dia belum pulang?” bisiknya bingung, karena rasanya ia sudah cukup lama meninggalkannya di spa tadi.Elena berjalan ke balkon kecil di ujung lorong dan melihat ke halaman bawah.Mobil Devon juga tidak ada.Mungkin baru saja menjemput Noah.Ia buru-buru berbalik, berniat kembali ke kamar sebelum siapa pun melihatnya.Namun baru saja ia menutup pintu—Kepalanya terbentur sesuatu yang keras.Dada bidang Noah menghalanginya.Elena mendongak kaget.Noah sudah berdiri tepat di depannya, dengan kemeja putih yang dasinya sudah longgor, aroma parfumnya yang khas berpadu dengan aura maskulinnya bernilai plus menambah kesan perfect pria itu.“Mencariku yaaa?” goda
Brakk!Suara keras itu menggema ketika Harli tiba-tiba menarik sisi rak buku tempat Elena bersembunyi dengan kasar.Elena yang refleks mundur tersentak, kehilangan keseimbangan, dan jatuh tersungkur ke depan.Harli mengernyitkan alisnya tajam. Tanpa banyak bicara, ia meraih bahu Elena dan menariknya berdiri dengan paksa.“Apa yang kau lakukan di ruang kerjaku malam-malam begini?” bentaknya dingin.“Lepaskan, Mas… lepaskan…” pinta Elena memelas, berusaha melepaskan cengkeraman itu.“Jawab!” bentak Harli lebih keras.Elena menelan ludah. Suaranya gemetar. “Aku… aku hanya ingin mencari tahu tentang Proyek Biru. Kupikir Mas ada di sini. Aku ingin bertanya langsung. Tapi Mas tidak ada… dan saat aku dengar langkah kaki, kukira orang asing, jadi aku bersembunyi.”Harli jelas menggeleng, wajahnya berubah tegang.Tiba-tiba tangannya berpindah ke leher Elena.Ia mencekiknya keras.“Kau kira aku akan membohongi Guzel?!” suaranya meninggi, urat di pelipisnya menegang.Elena terbatuk pelan, kedua







