เข้าสู่ระบบArga mengalihkan rasa gugupnya dengan diam. Elena sendiri bersikap tak terjadi apa-apa dan sibuk menghabiskan sup buatan Arga yang terasa menghangatkan kepalanya. Sementara Arga duduk di seberangnya sambil sesekali memperhatikan wanita itu diam-diam.Sudah empat tahun.Empat tahun terakhir…Arga selalu ada di sisi Elena. Menemani saat wanita itu hancur setelah kehilangan Alex. Menjaga Lexia seperti anaknya sendiri. Menjadi tempat Elena bersandar meski tidak pernah meminta balasan apa pun dan justru karena itulah…Arga makin takut kehilangan Elena sekarang.“El.” Panggil Arga lembut.“Hm?” Elena mendongak sambil menyendok supnya lagi.Arga terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan.“Kalau…pernikahan pura-pura kita disahkan saja bagaimana?”DEGG.Sendok di tangan Elena langsung berhenti di udara. Arga mencoba tersenyum tipis meski jelas ada kegugupan di matanya.“Noah cepat atau lambat pasti akan mencari tahu tentang kita.” lanjutnya tenang. “Dan kalau sampai dia tahu semuanya
Sementara itu di dalam kamar…Suasana masih terasa panas meski pintu sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Elena perlahan menurunkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Wajah wanita itu sudah memerah entah karena malu, panik, atau kesal akibat ulah Noah yang benar-benar keterlaluan.“Kamu sengaja, ya?” Elena langsung menatap Noah tajam. “Kenapa membiarkan mereka masuk?!”Noah yang masih bersandar santai di headboard hanya memiringkan kepala sedikit sambil menatap Elena tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Mereka sudah terlanjur datang.”“Itu bukan alasan!” Bantah Elena kesal disusul dengan ia memukul dada pria itu pelan karena gemas. Namun Noah justru menangkap pergelangan tangannya lagi lalu menarik tubuh Elena mendekat tanpa kesulitan.“Elena…” suara Noah rendah. “Kau tadi memelukku sendiri.”DEGG.Wajah Elena langsung makin panas mengingat bagaimana refleksnya tadi saat Inara masuk.“A-aku cuma panik!” elaknya kesal.“Tapi aku suka.” Bisik Noah hangat.“Noah!”Pria itu tertawa pel
Noah masih menahan kedua pergelangan tangan Elena di depan tubuh wanita itu, membuat Elena sulit bergerak apalagi melarikan diri.“Noah… cukup…ada orang diluar.” napas Elena mulai tidak teratur saat pria itu kembali mendekat.Namun Noah seperti tidak mendengar. Pria itu justru menunduk perlahan, mengecup bahu Elena yang lembut dengan bibir panasnya. Sentuhan itu membuat tubuh Elena langsung menegang.“Noah, ah…” Elena refleks menghentakkan tubuhnya geli ketika Noah sengaja menggigit kecil kulit bahunya lalu meninggalkan bekas kemerahan di sana.Tatapan Noah langsung menggelap menikmati reaksi itu.“Kau terlalu sensitif…” bisiknya rendah di telinga Elena.“Noah, berhenti…” Elena mencoba menarik tangannya, namun pria itu malah makin erat menahannya.Kecupan Noah berpindah perlahan ke leher Elena. Napas hangat pria itu menyapu kulit putih wanita itu sebelum kembali meninggalkan jejak kemerahan lain di sana. Tangannya mengusap pinggang Elena pelan seolah menikmati setiap reaksi kecil yang
Cairan wine itu mengalir paksa melewati bibir Elena.“UGH…khh…” Elena langsung terbatuk hebat, namun Noah tidak berhenti. Tangan besarnya mencengkeram rahang Elena kuat sementara gelas kristal itu terus dimiringkan hingga tetes terakhir habis.“Noah…berhenti…!” Pekik Elena menahan bahu kekar mantan pacarnya itu. Namun pria itu justru menatap Elena tanpa berkedip. Tatapannya gelap, liar, dan penuh obsesi.Baru setelah gelas itu kosong, Noah melepaskannya perlahan.BRAK!Elena langsung mendorong dada Noah sekuat tenaga hingga pria itu sedikit mundur. Elena berdiri sempoyongan sambil memegangi lehernya yang terasa panas.“Apa…yang kau berikan padaku?” suaranya gemetar marah.Noah malah tersenyum tipis. Pria itu mendekat lagi. Jari-jarinya yang panjang menyelip lembut ke rambut Elena, membelainya penuh rasa memiliki.“Hanya sesuatu…” bisiknya rendah di dekat wajah Elena. “Untuk membuat tubuhmu jujur.”DEGGG.Elena langsung menepis tangan Noah dan berlari menuju pintu. Namun saat ia memuta
Namun tepat saat Arga tinggal beberapa langkah lagi…Noah tiba-tiba membalik tubuh Elena dengan kasar namun tetap menahan pinggangnya erat.Tubuh mereka kini berhadapan begitu dekat sampai Elena bisa merasakan napas panas pria itu menyapu wajahnya.“Noah, jangan buat masalah lagi—” Kalimat Elena terputus.Karena Noah langsung menariknya ke tembok samping lalu mengangkat salah satu kaki Elena ke pinggangnya dengan mudah. Tangan besarnya mencengkeram paha wanita itu kuat, menahannya agar tidak turun sementara tubuh Elena hampir kehilangan keseimbangan.DEGGG!“Elena…” bisiknya rendah dan serak. “Aku sudah sangat lama merindukan tubuhmu.” Ucap Noah penuh dengan napsu tak tertahankan.Elena bahkan bisa merasakan sesuatu yang keras ingin menembus gaunnya, jadi ia berusaha melepaskan diri, namun mendadak…Cup.Bibir Noah menghantam bibir Elena penuh rasa lapar yang brutal. Bukan ciuman lembut… melainkan penuh obsesi, penuh amarah karena kehilangan selama empat tahun.“Elena…” gumamnya lagi d
“Noah…” Suasana masih tegang saat Arga berdiri di depan Elena, melindunginya. Namun Noah justru tersenyum miring.“Istrimu…?” ulangnya pelan.Tatapannya turun sekilas ke tangan Arga yang menggenggam Elena… lalu kembali naik. Namun anehnya, ia tidak memancing konflik berlanjutan. Sebaliknya…Noah melangkah maju lalu dengan tangan terulur menepuk bahu Arga kasar.Seketika Arga terdiam sepersekian detik… lalu—“Lama tidak bertemu, bruh.”DEGGGG!!!Elena membeku di tempatnya, dengan mata membelalak kaget.“Apa…yang baru saja terjadi?!” bisiknya bingung.Karena detik berikutnya…Keduanya malah saling menarik dan BERPELUKAN.“Masih hidup juga kau,” sahut Noah dengan tawa rendah.“Tuan Noah sepertinya kecewa yaa?” balas Arga santai.Elena benar-benar kehilangan kata-kata. Otaknya seperti berhenti bekerja. Tatapannya berpindah dari satu pria ke pria lain… mencoba mencerna kenyataan yang terlalu absurd.Mereka…bahkan terlihat seperti sahabat akrab…dan tepat saat itu, Elena baru menyadari. Jika d
Saat Elena akhirnya memutuskan untuk jujur saja, dan mulai ingin melanjutkan ucapannya.Tiba-tiba sebuah tangan lembut namun kuat mencengkeram lengannya.“Cukup.”Suara itu datang dari Jenni, istri Robby.Meski wajah Jenni tampak garang, dengan eyeliner tebal dan raut judes, namun justru dialah yan
Elena berdiri di hadapan Harli sambil menggenggam jemarinya sendiri yang penuh keringat dingin, ruangan itu terasa terlalu sempit untuk bernapas.Harli lalu bangkit, mendekat, menelusuri wajah Elena dengan tatapan liar yang membuat lutut Elena langsung melemah.“Kalau kau belum siap,” ucap Harli da
Bisikan Michel membekas dingin di tengkuk Elena.Namun justru karena itulah Elena menyadari, jika Michel-lah yang berusaha menjebaknya sejak awal.Elena mengerjap, lalu tanpa pikir panjang ia mengejar Michel yang baru berjalan beberapa langkah ke depat.Ia segera mendekat dan menarik tangan Michel
Sementara itu di luar…Harli sedang mencari Elena sambil tertawa dengan beberapa pria lain. Namun seorang pelayan tiba-tiba mendekat dengan gelisah.“T-Tuan Harli… saya tadi melihat Nona Elena menggoda dua pria muda dan masuk ke salah satu kamar. Mungkin… mungkin dia sedang bersenang-senang, Tuan.”







