Share

Bab 68

Author: Phoenixclaa
last update publish date: 2026-02-25 22:59:10

Ternyata Harli hanya melirik ke arah Devon dan dua security yang masih belum juga berhasil membawa Sarah keluar dari area rumah sakit.

Sarah sedang berusaha meronta dan mengoceh memohon penjelasan.

Elena pun dengan gelagapan langsung menarik tangannya dari Noah, tapi pria itu masih menahan ujung jemarinya dengan santai,

“Noah… lepas,” bisik Elena pelan, hampir tak bersuara.

Noah justru sedikit menunduk, mendekat ke telinganya dengan jarak dekat.

“Kenapa? Takut ketahuan… atau takut karena kau me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 138 (Dansa Obsesi)

    Elena yang kini sedang berbincang ringan dengan beberapa kenalannya langsung menoleh. Matanya sedikit melebar… lalu perlahan melembut.“Nyonya Garli…”Wanita tua itu tersenyum lebar, benar-benar tulus.“Astaga, benar kamu!” Ia langsung mendekat dan meraih tangan Elena dengan hangat. “Saya tidak salah lihat.”Arga yang berdiri di samping hanya mengamati dengan tenang.“Kalian saling kenal?” tanyanya pelan.Elena mengangguk tipis. “Kami pernah bertemu… tidak sengaja.”Nyonya Garli terkekeh pelan.“Bukan sekadar bertemu. Dia menyelamatkan saya.”Arga mengangkat alis.Elena langsung terlihat sedikit canggung.“Itu hanya kebetulan…”Namun Nyonya Garli justru mulai bercerita, matanya berbinar.“Waktu itu di bandara Singapura. Saya transit… dan tiba-tiba kondisi saya kacau. Salah satu implan saya bermasalah, pecah. Saya panik, staf saya tidak sigap, dan saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana…”Elena menunduk sedikit, mengingat momen itu.“Saya hanya melihat beliau kesakitan,” ucapnya pe

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 137 (Gala Dinner)

    Elena tidak menjawab pertanyaan Nela, ia hanya segera menoleh ke arah para staf.“Semuanya kembali kerja,” ucapnya tenang, tegas, seolah barusan tidak terjadi apa-apa. “Pesanan belum selesai.”Suasana dapur yang sempat membeku perlahan bergerak kembali. Satu per satu staf kembali ke posisi masing-masing, meski masih diliputi rasa tegang.Elena kemudian melangkah mendekati Nela, menepuk bahunya pelan.“Aku pulang lebih dulu,” bisiknya lirih. “Tolong bantu Dinda handle semuanya.”Nela menatapnya khawatir.“Elena, kamu—” bisik wanita itu khawatir.“Aku baik-baik saja.” Jawab Elena cepat tak ingin membuat Nela terbebani.Tanpa memberi ruang untuk dibantah, Elena sudah mengambil tasnya. Ia memakai kembali maskernya, lalu menambahkan kacamata hitam besar yang menutupi sebagian wajahnya.Dinda hanya bisa menghela napas.“Serahkan saja di sini Bu Bos. Aku urus.”Elena pun tersenyum dan mengangguk singkat.Sementara itu…Lexia yang tadi berdiri di dekat Noah dengan lagi-lagi penuh perdebatan se

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 136 (Hampir saja)

    Yoga dan Nela terus berusaha menahan tapi Noah mendorong mereka dengan mudah. Langkahnya tidak terhentikan. Tatapannya hanya satu arah ingin memastikan siapa yang membuat semua kue ini.Di dalam sana…Seorang wanita berdiri di depan meja kerja dengan memakai apron lengkap, sarung tangan, dan masker yang menutupi setengah wajahnya.Tangannya sedang menyelesaikan plating dessert dengan gerakan yang begitu presisi…yang begitu ia kenal.Langkah Noah seketika melambat, jantungnya berdetak lebih keras.“...Elena.” panggilnya dengan suara serak yang membuat wanita itu juga beberapa staf dapur berhenti dari pekerjaan mereka.Tanpa menunggu, Noah langsung meraih tangan wanita lalu menariknya dan memeluknya erat. Satu tangannya mengelus kepala wanita itu dengan penuh rasa haru. Seolah takut kehilangan lagi. Seolah empat tahun pencarian itu akhirnya berakhir di detik ini.Namun….wanita berontak dan terus ingin melepaskan diri…“Lepaskan!” teriaknya dengan suara keras.DEGG!Tubuh Noah langsung ka

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 135 (Kedatangan Noah Ke Cafe)

    Tiga hari kemudian… Langit sore menggantung lembut di atas kota ketika mobil hitam milik Noah akhirnya berhenti tepat di depan Lexia Dessert Cafe.Devon turun lebih dulu, membuka pintu dengan sigap.Noah pun melangkah keluar dengan tenang. Jasnya rapi, aura dinginnya langsung terasa bahkan tanpa ia perlu berbicara. Tatapannya terangkat, mengamati bangunan di depannya yang tampak elegan, tenang, juga berkelas.Hanya saja, baru juga ia hendak melangkah lebih dekat….Bruk!Sebuah tubuh kecil menabraknya. Noah refleks mundur setengah langkah. Tatapannya langsung turun mengamati seorang anak perempuan kecil dengan wajah cantik, mata bulat yang tajam, juga rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari…dan seekor kucing kecil masih dalam gendongannya.Anak itu tampak kaget sesaat… lalu dengan polos langsung memeluk kaki Noah sambil berdiri.“M-maaf, Om…” ucapnya pelan, menunduk, suaranya kecil tapi jelas. “Aku tidak sengaja…”Noah menatapnya beberapa detik. Lalu alisnya terangkat tipis. A

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 134 (Cafe Lexia)

    Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena beberapa detik… tapi cukup lama untuk memahami bahwa ini bukan sekadar kesedihan biasa.Perlahan… tangannya pun terangkat. Ia meraih bahu Elena, menariknya mendekat tanpa banyak kata lalu memeluknya sangat erat. Menyebarkan kehangatan pada wanita yang telah ia cintai diam-diam selama ini.Elena pun akhirnya tidak menahan dirinya lagi. Tubuhnya melemah di dalam pelukan Arga. Bahunya bergetar, napasnya tersengal, dan air mata yang sejak tadi ia tahan… akhirnya runtuh begitu saja.Tidak ada suara keras. Hanya tangisan yang pecah pelan… tertahan… tapi justru terasa lebih menyakitkan.Arga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Satu tangannya menahan kepala Elena agar tetap bersandar, sementara yang lain mengusap punggungnya perlahan… ritmis… menenangkan.Detik berlalu menjadi menit, Arga tetap setia tanpa bergeser sedikit pun. Sampai akhirnya… dengan suara rendahnya yang khas…“Kita akan kembali.”

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 133 (Hidup Setiap Orang)

    Empat tahun berlalu.Waktu tidak benar-benar menyembuhkan luka…ia hanya mengajarkan seseorang untuk terus melanjutkan dunia.Di sisi lain kota, Noah berdiri tegap di pinggiran kaca perusahaan dengan tujuh belas lantai.Setelan hitam yang ia kenakan jatuh sempurna di tubuhnya, rapi, mahal, tanpa satu lipatan pun. Kemeja putih di dalamnya bersih, kancing atas terbuka satu, memberi kesan santai yang justru semakin menegaskan dominasinya.Rambut hitamnya tetap tertata rapi, sedikit lebih panjang dari dulu, memberi kesan dewasa yang matang. Garis rahangnya semakin tegas, tulang pipinya lebih menonjol, dan sorot matanya…lebih gelap.Tangannya menggenggam gelas kristal. Cairan merah di dalamnya tidak tersentuh sejak lama. Tatapannya hanya lurus ke luar jendela… tapi pikirannya jauh di tempat lain.“Elena…” Nama itu keluar pelan dari bibirnya dengan suara serak dan berat. Seolah setiap hurufnya membawa beban yang tidak pernah berkurang.Sudah empat tahun ia mencari keberadaan Elena, bahkan ke

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 113

    Harli terdiam beberapa detik setelah pertanyaan Elena menggantung di udara.Ruangan kerja yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara napas Elena yang sedikit tidak teratur yang terdengar di antara mereka.Tatapan Harli lalu berubah dingin.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 112

    Miranda dan Elena sama-sama menoleh ke belakang.Di sana, Michel sudah berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya penuh amarah, matanya tajam menatap mereka berdua.“Sedang apa kalian di sini?” bentaknya tanpa peduli bahwa beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka.Miranda langsung be

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 111

    Elena menoleh perlahan.Di sana, Harli berdiri menatapnya. Wajah pria itu kaku, rahangnya mengeras, dan sorot matanya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak disembunyikan.“Mas Harli…” suara Elena keluar pelan.Namun Harli tidak menjawab.Tanpa sepatah kata pun, pria itu tiba-tiba meraih lengannya deng

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 105

    Lamunan Elena terputus ketika salah satu relawan memanggilnya dari dapur umum.“Nyonya Elena! Ayo mulai memasak, semuanya sudah siap!”Elena tersentak kecil.Ia menoleh ke arah tenda dapur yang sudah dipenuhi bahan makanan, wajan besar, dan kompor lapangan. Beberapa kamera media juga sudah mulai me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status