LOGINLarry adalah pria mapan, yang sudah makan asam garam kehidupan. Pria itu tidak terburu-buru, tidak agresif, namun dengan tenang melangkah menembus pertahanan dingin yang dibangun Sofia selama bertahun-tahun sejak kepergian Kharis.Beberapa bulan berlalu cepat, diisi dengan perhatian-perhatian kecil Larry yang konsisten. Pria itu tak pernah berniat menggantikan posisi Kharis di hati Sofia, melainkan menawarkan ruang baru yang hangat untuk masa depan mereka. Kesabaran dan kewibawaan Larry perlahan-lahan meluluhkan gengsi Sofia yang setinggi langit.“Mau apa?” tanya Sofia ketus, karena sudah malam namun Larry datang menemuinya.“Kata Emir kamu sakit. Saya hanya bawakan makanan ringan,” kata Larry dengan senyum rupawannya.Sofia berdecak, sudah keberapa kali ini Larry memberikan perhatian. Jangan banyak-banyak, Sofia takut luluh kan.“Saya sudah makan,” jawab Sofia acuh.“Cobalah, ini cheese cake. Rasanya enak, karena saya beli di toko yang kue andalannya ini.”Sofia melirik, terlihat men
Sofia melangkah naik ke lantai atas menuju kamarnya dengan helaan napas panjang. Wajahnya yang biasa tenang kini menyimpan semburat hangat yang sulit dijelaskan—campuran antara gengsi, kesal, dan sedikit rasa canggung yang menggelitik. Kata-kata Raana soal "jodoh" tadi masih berdengung pelan di telinganya, meski sebisa mungkin ia tepis jauh-jauh.”Ada-ada saja,” gumam Sofia.Dia sangat mencintai mendiang suaminya, Papa Emir. Meski dibilang dia gila harta, tidak peduli. Hanya pria itu yang ada di hatinya, Kharis. Sofia sangat mencintainya, meski usia mereka berbeda cukup jauh.Sementara di bawah, Raana yang masih menggendong Luca hanya bisa terkekeh pelan melihat bahu ibu mertuanya yang mendadak tegang. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Emir melangkah masuk, mengendurkan ikatan dasinya setelah seharian bergelut dengan pekerjaan kantor."Sayang, sudah pulang?" sapa Raana lembut seraya menghampiri suaminya.Emir tersenyum, mengecup dahi Raana lalu mengelus pipi si kembar yang tertid
Beberapa hari setelah pesta perayaan si kembar, Mama Sofia memutuskan untuk menyegarkan pikiran dengan berbelanja pakaian di sebuah butik mewah langganannya. Dengan gaya busananya yang selalu elegan dan glamor, beliau melangkah anggun menyusuri deretan gaun eksklusif.Semenjak berdamai dengan Emir, ia memang diberikan keleluasan untuk berbelanja. Berbekal kartu sakti yang Emir berikan, indah hidupnya Sofia sekarang. Memiliki anak dan menantu yang baik dan tiga orang cucu yang menggemaskan.Setelah memilih gaun malam yang cocok, Mama Sofia melangkah percaya diri ke kasir. Namun, saat tangannya meraba-raba bagian dalam tas desainer kesayangannya, wajahnya mendadak kaku. Dompetnya tidak ada! Sofia baru teringat kalau dompet itu tertinggal di meja rias setelah berkunjung ke kamar Raana tadi pagi, untuk menengok si kembar.“Aduh pake ketinggalan lagi,” ringis Sofia.Di belakangnya, seorang wanita paruh baya berpenampilan mencolok yang juga menunggu antrean mulai mengibaskan kipasnya dengan
Akhirnya si kembar sudah boleh dibawa pulang. Sebuah kamar dengan design khas anak laki-laki menyambut keduanya. Alesha yang paling senang melihat kedatangan adiknya. Emir sampai diabaikan, karena putri pertamanya itu begitu terpesona akan ketampanan sang adik.Di sudut ruang keluarga yang hangat, tawa ceria anak-anak bersahutan dengan denting cangkir teh. Bagi Raana, riuh rendah ini adalah melodi terbaik dalam hidupnya. Setelah kehadiran Alesha, putri pertamanya yang manis dan cerdas, kebahagiaan keluarga kecilnya bersama Emir makin lengkap—bahkan berlipat ganda—dengan hadirnya sepasang bayi kembar tampan, Luca dan Matteo Kharis.Luca dan Matteo Kharis cepat sekali menjadi pusat perhatian seluruh rumah. Kehadiran dua malaikat kecil itu tidak hanya meluluhkan hati Raana dan Emir, tetapi juga membuat Alesha begitu bangga menjadi seorang kakak.Si kecil Alesha sering kali terlihat sibuk menata mainan di sekitar adik-adiknya, atau dengan lembut mengusap pipi gempal Luca dan Matteo sambil
Evi yang sedang duduk tenang membaca buku, mengerutkan kening melihat anaknya sudah pulang kerja. Padahal, jam masih menunjukkan pukul dua belas siang.“Ghani, kamu kok sudah pulang? Sakit?” tanyanya, karena sudah beberapa hari ini anaknya tidur malam.Ghani hanya menggeleng, lalu duduk seraya menghembuskan napas lelah. Ruang tamu yang biasanya tenang mendadak panas ketika Ghani meletakkan selembar kertas berlogo perusahaan di atas meja kayu. Surat pemutusan hubungan kerja itu resmi mengakhiri masa baktinya.Ghani hanya menunduk, tatapannya kosong, menerima kenyataan itu dengan sikap pasrah yang teramat dingin. Absensi yang berantakan dan tumpukan tugas yang terbengkalai dalam beberapa bulan terakhir memang sudah cukup menjadi alasan kuat bagi manajemen untuk memecatnya. Bagi Ghani, kehilangan pekerjaan hanyalah satu lagi runtuhan dari hidupnya yang memang sudah hancur.Namun, kepasrahan Ghani berbenturan keras dengan ledakan amarah Mama Evi. “Kenapa kamu?” Evi meraih surat tersebut,
Suasana komplek perumahan elit itu begitu tenang saat taksi Mama Evi berhenti di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang megah. Taman depannya tertata asri dengan gemericik air mancur kecil, memancarkan kesan hangat sekaligus mewah. Mama Evi menatap alamat di ponselnya berulang kali, memastikan ia tidak salah tempat. Ini benar rumah baru Raana.“”Ini rumahnyanya Raana,” gumam Mama Evi sendiri.Dengan langkah ragu dan dada bergemuruh, Mama Evi berjalan menyusuri jalan setapak menuju pintu utama. Niat awalnya sudah bulat: ia ingin mengetuk pintu ini, memohon agar Raana sudi memaafkan dan kembali ke pelukan Ghani, putranya yang kini hancur dan terpuruk semenjak perceraian mereka.Namun, saat pintu kayu jati itu terbuka, kata-kata yang sudah dipersiapkan Mama Evi mendadak lenyap.Pelayan mempersilakan masuk, makin ciut hati Evi. Raana seperti Nyonya besar, yang bertemu saja harus membuat janji.“Silakan duduk, saya panggilkan Nyonya.” Pelayan dengan sopan pamit ke dalam.Evi maki







