LOGINSanti merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan.
"Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih. "Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mulai emosi karena Santi tidak kunjung mengerti. "Kenapa sih kamu persulit banget? Tinggal tanda tangan, beres! Nanti kita nikah lagi! Apa susahnya sih percaya sama suami sendiri?" "Susah, Mas. Karena suami yang aku percaya barusan minta cerai saat aku hamil." "Ini bukan cerai beneran! Ini strategi! Taktik!" Angga berkacak pinggang. "Oke, gini aja. Kalau kamu nggak mau tanda tangan baik-baik, aku yang akan ajukan talak ke pengadilan besok. Prosesnya bakal lama, bakal ribet, dan kamu bakal malu sama tetangga kalau ribut-ribut. Mending kita sepakat sekarang, urus cepet, beres." Santi menatap sosok di depannya. Sosok yang dulu berjanji di depan penghulu akan menjaganya, sekarang mengancamnya dengan talak demi wanita lain. Rasa cintanya perlahan retak, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang. Ia melihat ke arah Bu Ratih yang menatapnya dengan dagu terangkat angkuh, seolah menantang. Ia melihat Angga yang terlihat seperti anak kecil yang merengek minta mainan tapi dengan cara memaksa. Santi menarik napas panjang. Mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Jika ia bertahan, ia akan mati perlahan dimakan sakit hati setiap hari melihat Angga pulang pergi ke rumah Ambar. Jika ia menolak, Angga akan tetap pergi dan ia akan ditinggalkan dengan cara yang lebih memalukan. Wanita itu—Ambar—sudah menang bahkan sebelum bertanding. Ia punya uang, ia punya masa lalu Angga, dan ia punya dukungan mertua yang mata duitan. Santi mengelus perut ratanya. *Maafkan Ibu, Nak. Bapakmu memilih pergi.* "Oke," ucap Santi pelan. Sangat pelan hingga hampir tak terdengar. Wajah Angga langsung cerah seketika. "Kamu serius, Dek? Kamu setuju?" "Aku setuju bercerai," kata Santi tegas, matanya menatap tajam ke manik mata Angga. "Tapi ingat satu hal, Mas. Jangan pernah berharap aku akan semudah itu kamu ajak rujuk nanti. Hati manusia bukan pintu yoyo yang bisa kamu dorong dan tarik sesuka hati." "Ah, itu urusan nanti!" Bu Ratih bersorak senang, langsung membuka tas Gucci-nya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal. Ternyata surat gugatan sudah disiapkan. "Nih, Ibu udah minta tolong kenalan pengacara buat draf-nya. Kamu tinggal tanda tangan di sini. Alesannya ketidakcocokan, biar cepet putus." Santi menatap amplop itu dengan nanar. Mereka sudah menyiapkannya. Bahkan sebelum bertanya padanya, mereka sudah siap membuangnya. "Tega kalian..." bisik Santi. "Udah, jangan drama. Tanda tangan cepet," desak Bu Ratih menyodorkan pena. Angga menatap Santi dengan tatapan bersalah, tapi ia tidak mencegah ibunya. "Dek, ini demi kebaikan kita. Percaya sama aku. Tiga bulan lagi kita bakal ketawa-ketawa inget hari ini sambil gendong anak kita nanti dengan tabungan penuh." Santi mengambil pena itu. Tangannya gemetar hebat. Tinta hitam itu menggores kertas putih, membubuhkan namanya di atas materai. Tanda tangan yang mengakhiri statusnya sebagai istri Angga Pratama. Detik itu juga, Santi merasa ada tali yang putus di dadanya. Perih, tapi melegakan. "Udah," Santi melempar pena itu ke meja. "Sekarang, Mas Angga kemasi barang-barang Mas. Pergi dari sini malam ini juga. Aku nggak mau liat muka Mas malam ini." "Lho? Kok ngusir?" Angga kaget. "Kan aku bilang aku bakal sering di sini—" "Pergi!" teriak Santi sekuat tenaga, hingga urat lehernya menonjol. "Kamu mau nikah sama dia kan? Pergi sana! Urus wanita hamil itu! Jangan injak rumah ini malam ini atau aku bakar baju-baju kamu!" Bu Ratih buru-buru menarik lengan Angga yang terpaku. "Udah, Ga. Kita pergi dulu. Biarin dia tenangin diri. Hormon hamil emang bikin gila. Yuk, Ambar udah nungguin kita makan malam." "Tapi, Bu..." Angga menatap Santi yang kini berdiri membelakangi mereka, bahunya terguncang menahan tangis. "Ayo!" Bu Ratih menyeret anaknya keluar. Pintu depan tertutup. Suara mesin mobil menyala, lalu menjauh. Santi merosot ke lantai. Di ruang tamu yang sunyi itu, ia menangis sendirian. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan selamat atas kehamilannya. Hanya ada kertas salinan gugatan cerai dan rasa mual yang semakin menjadi-jadi. Ia meraba perutnya lagi. "Kita cuma berdua sekarang, Nak," bisiknya di antara isak tangis. "Bapakmu sudah mati. Anggap saja dia sudah mati." Ponsel Santi di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi *chat* masuk. Dari Angga. *Mas: "Jangan lupa minum vitamin ya, Sayang. Maafin Mas. I love you. Ini semua demi kita."* Santi membaca pesan itu, lalu tertawa. Tawa yang terdengar sumbang dan menyedihkan. Tanpa ragu, ia mematikan ponselnya. Malam ini, ia tidak butuh cinta palsu itu. Malam ini, ia harus belajar bagaimana caranya berdiri di atas kakinya sendiri yang gemetar. Di luar, hujan mulai turun deras, seolah langit ikut menangisi nasib pernikahan Santi yang baru saja hancur di tangan "niat baik" yang manipulatif. **** Tiga hari. Sudah tiga hari sejak malam terkutuk itu, dan rumah kontrakan tipe 36 ini terasa seperti gua hantu yang luasnya tak berujung. Santi terbangun dengan rasa mual yang lebih parah dari biasanya. Cahaya matahari pagi yang menyelinap dari celah gorden terasa menyilaukan, seolah mengejek matanya yang bengkak karena kurang tidur. Ia meraba sisi tempat tidur di sebelahnya. Dingin. Kosong. Biasanya, di jam segini, ada lengan kekar Angga yang bisa ia jadikan bantal, atau suara dengkur halusnya yang menenangkan. Sekarang, hanya ada guling yang sarungnya sudah kusut. "Huek!" Santi melompat dari kasur, berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan cairan lambung yang asam hingga tenggorokannya perih. Tubuhnya merosot di lantai kamar mandi yang dingin. Ia menggigil. *Mana Mas Angga?* Pertanyaan itu muncul otomatis di kepalanya, sebelum realita menamparnya kembali. Angga sudah bukan miliknya. Setidaknya, secara teknis dan fisik, Angga sekarang milik wanita itu. Di rumah mewah itu. Santi menyeret langkahnya ke dapur. Ia butuh air hangat. Saat membuka kulkas, ia melihat tempelan *sticky note* berwarna kuning di pintu kulkas. Tulisan tangan Angga. *"Maaf aku pergi pas kamu masih tidur (atau pura-pura tidur?). Aku bawa beberapa kemeja kerja. Nanti sore aku mampir. Love you, Dek."* Santi meremas kertas itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. "Love you," gumamnya sinis. "Omong kosong." Ponselnya di meja makan berbunyi. Nama 'Mbak Hesti' muncul di layar. Santi menarik napas panjang, berdeham beberapa kali untuk menghilangkan serak di suaranya, lalu menekan tombol hijau. Ia harus berakting. "Halo, Mbak? Assalamu’alaikum.""Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!""Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut.""Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabarannya habis. Ia menyambar kunci mobilnya. "Aku ke sini baik-baik, bawa makanan, bawa duit, tapi disambut muka cemberut dan omongan pedas. Capek aku, San. Aku juga kerja keras, aku juga pusing ngadepin drama Ambar, tolonglah kamu jadi tempat aku istirahat, bukan nambah beban pikiran!""Kalau aku beban, kenapa nggak sekalian aja kamu buang aku selamanya? Kenapa harus janji balik lagi?"Angga terdiam sejenak, matanya menatap Santi tajam, lalu melembut sedikit, tapi kelembutan yang manipulatif."Karena aku cinta sama kamu, bodoh. Kalau nggak cinta, udah aku tinggalin kamu dari kemarin-kemarin. Udah lah, aku balik dulu. Ambar udah misscall lima kali nih."Angga berbalik, berjalan cepat keluar rumah
"Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan."Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamuk, menyuruh Satrio menyeret Angga pulang, dan itu hanya akan mempermalukan Santi lebih jauh."Masuk angin apa masuk angin? Kamu tuh jangan telat makan mentang-mentang Angga sibuk kerja. Eh, ngomong-ngomong, si Angga mana? Tumben status WA-nya nggak ada foto kamu? Biasanya tiap pagi update 'Semangat kerjanya Istriku'."Santi menggigit bibir bawahnya. Hesti sejelia itu."Angga... Angga lagi dinas luar kota, Mbak. Mendadak. Proyek kantor," jawab Santi cepat. "HP-nya mungkin error atau dia lagi sibuk banget jadi nggak sempet update status.""Dinas ke mana? Kok nggak pamit di grup keluarga?""Ke... Surabaya. Iya, Surabaya. Mendadak banget, Mbak. Kemarin sore berangkatnya.""Oh... Ya udah. Kamu ha
Santi merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan."Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih."Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mulai emosi karena Santi tidak kunjung mengerti. "Kenapa sih kamu persulit banget? Tinggal tanda tangan, beres! Nanti kita nikah lagi! Apa susahnya sih percaya sama suami sendiri?""Susah, Mas. Karena suami yang aku percaya barusan minta cerai saat aku hamil.""Ini bukan cerai beneran! Ini strategi! Taktik!" Angga berkacak pinggang. "Oke, gini aja. Kalau kamu nggak mau tanda tangan baik-baik, aku yang akan ajukan talak ke pengadilan besok. Prosesnya bakal lama, bakal ribet, dan kamu bakal malu sama tetangga kalau ribut-ribut. Mending kita sepakat sekarang, urus cepet, beres."Santi menatap sosok di depannya. Sosok yang dulu berjanji di depan penghulu akan menjaganya, sekarang mengancamnya denga
"Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi."Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa kamu mau nanggung dosanya? Ini tuh misi kemanusiaan, San! Anggap aja kamu sedekah suami sebentar buat nyelamatin nyawa ibu dan bayi!""Sedekah suami Ibu bilang?!" suara Santi meninggi, getaran emosi membuat perutnya makin mual mendengar ibu mertuanya menyuruh meneyedekahkan suaminya yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri. "Ibu, ini pernikahan! Sakral! Bukan mainan pinjam-meminjam barang!” jawab Santi dengan wajah yang sudah meradang karena kesal. “Mas, kamu kok malah diam aja? Kamu setuju ide gila ini? Atau kamu yang memang ingin melakukan ini?!!"Angga berdiri, mencoba memegang bahu Santi yang terlihat kaku, tapi segera di tepis kasar oleh si empunya."Dek, tolong ngertiin posisiku
"Mas? Ibu?" Santi menyalimi tangan suaminya, lalu tangan ibu mertuanya. Angga yang baru saja pulang dari kantor, ternyata tidak pulang sendiri. Di belakangnya, Ibu Mertua Santi yang bernama Bu Ratih, mengekor dengan wajah yang terlihat kaku, sambil menenteng sebuah tas bermerek Gucci yang terlihat sangat kontras dengan penampilannya yang sederhana. "Kok tumben Ibu ikut? Kenapa nggak ngabarin dulu, jadinya Santi nggak masak yang special buat nyambut, tadi cuma sempat masak sayur sop sama tempe goreng." Santi menyapa ibu mertuanya sembari memberikan senyuman yang terlihat kaku.Angga tidak menatap mata Santi. Ia melepas sepatunya dengan gerakan lambat, seolah sedang menunda eksekusi mati. "Iya, Dek. Tadi Ibu minta di jemput. A-da ... ada yang mau di omongin denganmu, penting katanya.""Di omongin?" Santi merasa firasatnya tidak enak. "Soal apa, Bu? Tentang masalah kesehatan Bapak?"Bu Ratih bukannya menjawab, dia malah mendengus pelan, lalu melengos masuk ke ruang tamu sempit kontr







