LOGIN"Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan.
"Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamuk, menyuruh Satrio menyeret Angga pulang, dan itu hanya akan mempermalukan Santi lebih jauh. "Masuk angin apa masuk angin? Kamu tuh jangan telat makan mentang-mentang Angga sibuk kerja. Eh, ngomong-ngomong, si Angga mana? Tumben status WA-nya nggak ada foto kamu? Biasanya tiap pagi update 'Semangat kerjanya Istriku'." Santi menggigit bibir bawahnya. Hesti sejelia itu. "Angga... Angga lagi dinas luar kota, Mbak. Mendadak. Proyek kantor," jawab Santi cepat. "HP-nya mungkin error atau dia lagi sibuk banget jadi nggak sempet update status." "Dinas ke mana? Kok nggak pamit di grup keluarga?" "Ke... Surabaya. Iya, Surabaya. Mendadak banget, Mbak. Kemarin sore berangkatnya." "Oh... Ya udah. Kamu hati-hati di rumah sendirian. Kalau butuh apa-apa, atau kalau sakitnya parah, bilang ya. Nanti Mbak suruh temennya Mas Satrio yang dinas di sana buat nengokin kamu. Si Danan kayaknya lagi cuti di daerah sana." Jantung Santi berdegup kencang. "Nggak usah, Mbak! Aku nggak apa-apa kok. Cuma butuh tidur aja. Jangan repotin orang lain." "Yaudah kalau gitu. Istirahat ya. Jangan lupa minum tolak angin." Klik. Sambungan terputus. Santi meletakkan ponselnya dan menangkup wajahnya. Berbohong pada Hesti terasa seperti menelan paku. Sakit dan menyesakkan. Sampai kapan ia bisa menutupi bangkai ini? --- Jam lima sore. Suara klakson mobil terdengar di depan pagar. Bukan suara motor matic butut Angga, tapi suara klakson mobil yang terdengar 'mahal'. Santi mengintip dari jendela. Sebuah Pajero Sport putih berhenti di depan pagar kontrakannya yang sempit. Pintu pengemudi terbuka. Angga turun. Penampilan suaminya—atau mantan suaminya—berbeda drastis hanya dalam tiga hari. Angga mengenakan kemeja *slim fit* biru muda yang licin tanpa kusut, celana bahan yang jatuhnya pas, dan sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya ditata rapi dengan pomade. Ia terlihat seperti eksekutif muda, bukan staf admin biasa. Santi membuka pintu, berdiri di ambang pintu dengan daster rumahan yang agak lusuh. Kontras yang menyakitkan. "Assalamu’alaikum, Sayang!" sapa Angga riang, seolah tidak ada badai yang terjadi tiga hari lalu. Ia menenteng dua kantong belanjaan besar berlogo supermarket premium. "Wa’alaikumsalam," jawab Santi datar. Ia tidak bergeser untuk memberi jalan. Angga terlihat canggung sebentar, lalu memaksakan senyum dan menerobos masuk, mencium pipi Santi kilat. Bau parfum menyeruak. Bukan parfum Angga yang biasa dibeli di minimarket. Ini wangi *woody* dan *spicy*. Wangi parfum mahal. Wangi pilihan wanita lain. "Minggir dikit dong, Dek. Berat nih," keluh Angga sambil meletakkan belanjaan di meja makan. "Nih, aku bawain makanan enak. Ambar tadi belanja bulanan, terus dia inget kamu. Dia bilang, 'Istrimu—maksudnya mantan istrimu—pasti butuh gizi bagus'." Santi menatap kantong belanjaan itu dengan tatapan jijik. "Aku nggak butuh belas kasihan dia." "Bukan belas kasihan, San. Ini rejeki," Angga membongkar isi kantong itu. "Liat nih. Ada Salmon Norwegia, ada buah Cherry impor, ada susu hamil merk Prengen tapi yang premium, terus ada vitamin-vitamin mahal dari dokter kandungannya Ambar. Katanya bagus buat janin." "Mas," potong Santi tajam. "Kamu sadar nggak sih apa yang kamu omongin? Kamu kasih aku vitamin dari dokter kandungannya istri barumu?" Angga berhenti membongkar belanjaan. Ia menatap Santi dengan tatapan lelah yang dibuat-buat. "Dek, please deh. Jangan mulai lagi. Aku ke sini mau nengok kamu, mau mastiin kamu sehat. Jangan diajak berantem terus." "Siapa yang ngajak berantem? Aku cuma nanya, di mana otak kamu?" Santi melipat tangan di dada. "Kamu bilang mau sering ke sini. Mau nginep. Ini udah tiga hari kamu ilang kayak ditelan bumi. WA aku cuma dibales stiker." "Aku sibuk, San! Ngurusin Ambar itu ribet!" Angga duduk di kursi makan, melonggarkan dasinya. "Dia itu parnoan banget. Dikit-dikit ngerasa perutnya kenceng, dikit-dikit nangis takut lahiran. Aku harus *standby* 24 jam di samping dia. HP aja kadang disita sama dia biar aku fokus." "Oh, jadi sekarang kamu jadi satpamnya dia?" "Jadi suami siaga, San. Ingat perjanjiannya? Aku harus jadi suami yang baik buat dia biar dia tenang." "Terus aku? Aku juga hamil, Mas! Kamu lupa?" suara Santi mulai bergetar. "Tadi pagi aku muntah darah sedikit karena lambungku kosong dan aku terlalu stress. Kamu di mana saat itu? Kamu lagi mijitin kaki Ambar?" Wajah Angga berubah pucat sedikit mendengar kata 'muntah darah'. Ia bangkit, mendekati Santi. "Kamu sakit? Kenapa nggak bilang?" "Gimana mau bilang kalau HP kamu nggak aktif?" Angga mengusap wajahnya kasar. "Maaf... Maaf banget. Tadi pagi HP-ku lowbat dan charger-ku ketinggalan di mobil. Yaudah, sekarang aku di sini kan? Ayo, kamu mau apa? Mau aku masakin Salmon ini?" Santi menepis tangan Angga yang hendak menyentuh bahunya. "Aku nggak mau Salmon. Bau amisnya bikin aku mual. Aku cuma mau kamu nepatin janji kamu. Kamu bilang mau nginep di sini. Malam ini kamu tidur sini, kan?" Santi menatap mata Angga penuh harap. Harapan bodoh, ia tahu. Tapi sebagian kecil hatinya masih merindukan suaminya. Angga menggigit bibir, gelagat khasnya saat sedang mencari alasan bohong. Ia melirik jam tangannya yang juga baru—sebuah *Apple Watch*. "Ehm... soal itu, Dek..." Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kayaknya malam ini belum bisa deh." Hati Santi mencelos. "Kenapa?" "Ambar... dia lagi demam. Badannya anget. Dia takut tidur sendirian. Pembantunya lagi pulang kampung. Kalau aku tinggal, terus dia kenapa-napa, atau ketubannya pecah gimana? Orang tua aku juga lagi nginep di sana, nggak enak kalau aku malah kabur." "Kabur kamu bilang? Pulang ke rumah istri pertamamu kamu anggap kabur?" "Mantan istri, San. Secara hukum agama kita udah talak," koreksi Angga tanpa perasaan. Santi terhenyak. Rasanya seperti ditampar bolak-balik. "Oh... oke. Jadi sekarang status itu yang kamu pegang?" "Bukan gitu! Maksudku..." Angga tampak panik karena salah bicara. "Maksudku, kita harus main rapi. Kalau aku terlalu sering di sini, tetangga Ambar curiga. Orang tuaku juga bakal ngomel. Sabar dikit kenapa sih, San? Ini cuma buat beberapa bulan!" "Sabar?" Santi tertawa hambar, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Tiga hari lalu kamu bilang mau nemenin aku. Sekarang nggak bisa nginep. Besok apa lagi? Nggak bisa dateng sama sekali?" Angga meraih dompet dari saku celananya. Dompet kulit tebal. Ia mengeluarkan segepok uang berwarna merah. Masih baru, masih bau bank. "Nih," Angga meletakkan uang itu di meja, di samping ikan Salmon. "Ini lima juta, sesuai janji. Buat pegangan kamu bulan ini. Kamu bisa beli makanan enak, bisa happy-happy, bisa belanja online. Kurang enak apa hidup kamu, San? Nggak perlu ngelayanin suami, nggak perlu nyuci baju aku, tapi dapet duit segini." Santi menatap tumpukan uang itu. Dulu, ia dan Angga harus berhemat setengah mati untuk bisa menabung sejuta sebulan. Sekarang, uang lima juta tergeletak begitu saja. Tapi kenapa rasanya uang ini sangat kotor? "Kamu pikir aku pelacur, Mas?" bisik Santi."Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!""Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut.""Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabarannya habis. Ia menyambar kunci mobilnya. "Aku ke sini baik-baik, bawa makanan, bawa duit, tapi disambut muka cemberut dan omongan pedas. Capek aku, San. Aku juga kerja keras, aku juga pusing ngadepin drama Ambar, tolonglah kamu jadi tempat aku istirahat, bukan nambah beban pikiran!""Kalau aku beban, kenapa nggak sekalian aja kamu buang aku selamanya? Kenapa harus janji balik lagi?"Angga terdiam sejenak, matanya menatap Santi tajam, lalu melembut sedikit, tapi kelembutan yang manipulatif."Karena aku cinta sama kamu, bodoh. Kalau nggak cinta, udah aku tinggalin kamu dari kemarin-kemarin. Udah lah, aku balik dulu. Ambar udah misscall lima kali nih."Angga berbalik, berjalan cepat keluar rumah
"Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan."Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamuk, menyuruh Satrio menyeret Angga pulang, dan itu hanya akan mempermalukan Santi lebih jauh."Masuk angin apa masuk angin? Kamu tuh jangan telat makan mentang-mentang Angga sibuk kerja. Eh, ngomong-ngomong, si Angga mana? Tumben status WA-nya nggak ada foto kamu? Biasanya tiap pagi update 'Semangat kerjanya Istriku'."Santi menggigit bibir bawahnya. Hesti sejelia itu."Angga... Angga lagi dinas luar kota, Mbak. Mendadak. Proyek kantor," jawab Santi cepat. "HP-nya mungkin error atau dia lagi sibuk banget jadi nggak sempet update status.""Dinas ke mana? Kok nggak pamit di grup keluarga?""Ke... Surabaya. Iya, Surabaya. Mendadak banget, Mbak. Kemarin sore berangkatnya.""Oh... Ya udah. Kamu ha
Santi merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan."Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih."Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mulai emosi karena Santi tidak kunjung mengerti. "Kenapa sih kamu persulit banget? Tinggal tanda tangan, beres! Nanti kita nikah lagi! Apa susahnya sih percaya sama suami sendiri?""Susah, Mas. Karena suami yang aku percaya barusan minta cerai saat aku hamil.""Ini bukan cerai beneran! Ini strategi! Taktik!" Angga berkacak pinggang. "Oke, gini aja. Kalau kamu nggak mau tanda tangan baik-baik, aku yang akan ajukan talak ke pengadilan besok. Prosesnya bakal lama, bakal ribet, dan kamu bakal malu sama tetangga kalau ribut-ribut. Mending kita sepakat sekarang, urus cepet, beres."Santi menatap sosok di depannya. Sosok yang dulu berjanji di depan penghulu akan menjaganya, sekarang mengancamnya denga
"Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi."Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa kamu mau nanggung dosanya? Ini tuh misi kemanusiaan, San! Anggap aja kamu sedekah suami sebentar buat nyelamatin nyawa ibu dan bayi!""Sedekah suami Ibu bilang?!" suara Santi meninggi, getaran emosi membuat perutnya makin mual mendengar ibu mertuanya menyuruh meneyedekahkan suaminya yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri. "Ibu, ini pernikahan! Sakral! Bukan mainan pinjam-meminjam barang!” jawab Santi dengan wajah yang sudah meradang karena kesal. “Mas, kamu kok malah diam aja? Kamu setuju ide gila ini? Atau kamu yang memang ingin melakukan ini?!!"Angga berdiri, mencoba memegang bahu Santi yang terlihat kaku, tapi segera di tepis kasar oleh si empunya."Dek, tolong ngertiin posisiku
"Mas? Ibu?" Santi menyalimi tangan suaminya, lalu tangan ibu mertuanya. Angga yang baru saja pulang dari kantor, ternyata tidak pulang sendiri. Di belakangnya, Ibu Mertua Santi yang bernama Bu Ratih, mengekor dengan wajah yang terlihat kaku, sambil menenteng sebuah tas bermerek Gucci yang terlihat sangat kontras dengan penampilannya yang sederhana. "Kok tumben Ibu ikut? Kenapa nggak ngabarin dulu, jadinya Santi nggak masak yang special buat nyambut, tadi cuma sempat masak sayur sop sama tempe goreng." Santi menyapa ibu mertuanya sembari memberikan senyuman yang terlihat kaku.Angga tidak menatap mata Santi. Ia melepas sepatunya dengan gerakan lambat, seolah sedang menunda eksekusi mati. "Iya, Dek. Tadi Ibu minta di jemput. A-da ... ada yang mau di omongin denganmu, penting katanya.""Di omongin?" Santi merasa firasatnya tidak enak. "Soal apa, Bu? Tentang masalah kesehatan Bapak?"Bu Ratih bukannya menjawab, dia malah mendengus pelan, lalu melengos masuk ke ruang tamu sempit kontr







