INICIAR SESIÓN"Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!"
"Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut." "Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabarannya habis. Ia menyambar kunci mobilnya. "Aku ke sini baik-baik, bawa makanan, bawa duit, tapi disambut muka cemberut dan omongan pedas. Capek aku, San. Aku juga kerja keras, aku juga pusing ngadepin drama Ambar, tolonglah kamu jadi tempat aku istirahat, bukan nambah beban pikiran!" "Kalau aku beban, kenapa nggak sekalian aja kamu buang aku selamanya? Kenapa harus janji balik lagi?" Angga terdiam sejenak, matanya menatap Santi tajam, lalu melembut sedikit, tapi kelembutan yang manipulatif. "Karena aku cinta sama kamu, bodoh. Kalau nggak cinta, udah aku tinggalin kamu dari kemarin-kemarin. Udah lah, aku balik dulu. Ambar udah misscall lima kali nih." Angga berbalik, berjalan cepat keluar rumah tanpa menoleh lagi. Tanpa pelukan perpisahan, tanpa mencium kening, tanpa mengelus perut Santi yang berisi anaknya. Santi berdiri mematung di ruang tamu. Suara mesin Pajero itu menderu menjauh, meninggalkan keheningan yang menyakitkan. Di meja makan, ikan Salmon mahal itu mulai mencair esnya, meneteskan air berbau amis yang membuat perut Santi kembali bergolak. Di sebelahnya, tumpukan uang lima juta rupiah teronggok seperti lelucon. Santi mengambil uang itu. Ia ingin merobeknya. Ia ingin membakarnya. Tapi tangannya berhenti di udara. Ia ingat tagihan listrik. Ia ingat ia butuh susu hamil. Ia ingat gaji honorernya bulan ini belum turun. Dengan tangan gemetar dan air mata yang jatuh membasahi pipi, Santi memasukkan uang itu ke dalam laci. "Maafkan Ibu, Nak," isaknya sambil mengelus perutnya. "Ibu nggak punya harga diri lagi. Kita butuh uang bapakmu yang brengsek itu untuk hidup." --- Satu minggu kemudian. Jadwal kontrol kandungan pertama. Santi sudah menandai tanggal ini di kalender dapurnya dengan spidol merah besar. Angga sudah berjanji—kali ini via telepon dengan nada yang sangat meyakinkan—bahwa dia akan mengantar. "Aku jemput jam 9 pagi ya, Dek. Kita ke Dokter Rina. Ambar ada jadwal arisan sama ibu-ibu sosialita, jadi aku bebas," begitu janji Angga semalam. Santi sudah mandi sejak jam 7 pagi. Ia memakai gamis terbaiknya yang longgar, memoles sedikit bedak agar tidak terlihat pucat, dan memakai lipstik tipis. Ia duduk di teras, menunggu. Tas berisi buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan berkas BPJS sudah siap di pangkuan. Jam 09.00. Tidak ada tanda-tanda Angga. Jam 09.30. Santi mencoba menelepon. Tidak diangkat. Jam 10.00. Pesan W******p masuk. *Mas Angga: "Dek, sorry banget. Mendadak sopir Ambar sakit perut. Aku harus nganter Ambar ke butik langganannya, dia mau fitting baju buat acara syukuran 7 bulanan adat. Dia ngamuk kalau aku nggak yang nyetir. Kamu berangkat sendiri bisa kan? Pake Grabcar aja, pake uang yang kemarin aku kasih. Nanti kirim foto USG-nya ke aku ya. Love you." Santi membaca pesan itu berulang-ulang. Sampai huruf-hurufnya kabur tertutup air mata. Fitting baju 7 bulanan. Acara syukuran untuk anak Ambar. Sementara anak di kandungan Santi bahkan tidak dianggap prioritas untuk diperiksakan ke dokter. Santi menghapus air matanya kasar. Ia tidak boleh lemah. Ia memesan ojek online—bukan mobil, tapi motor, karena ia ingin merasakan angin menampar wajahnya agar ia sadar. Klinik Dokter Rina ramai seperti biasa. Pasien ibu hamil duduk berderet. Hampir semuanya didampingi suami. Ada suami yang memijat punggung istrinya, ada yang membawakan tas, ada yang sibuk mengelus perut istrinya sambil berbisik. Santi duduk di pojok, sendirian. Memeluk tasnya erat-erat. "Ibu Santi?" panggil perawat. Santi masuk ke ruang periksa. Dokter Rina, dokter paruh baya yang ramah, menyapanya. "Halo, Bu Santi. Sendirian aja? Suaminya mana? Biasanya kan kalau hamil pertama suami paling heboh," tanya Dokter Rina sambil menyiapkan alat USG. Pertanyaan sederhana itu rasanya seperti irisan silet di hati. "Suami... suami lagi dinas luar kota, Dok," jawab Santi dengan senyum palsu yang sudah terlatih. "Oh, kasihan ya. Tapi nggak apa-apa, ibunya harus kuat. Ayo kita lihat dedek bayinya." Saat alat USG menyentuh perutnya yang diberi gel dingin, Santi menahan napas. Di layar monitor hitam putih itu, terlihat gumpalan kecil. Dan kemudian, suara itu terdengar. Dug... dug... dug... Suara detak jantung. Cepat, kuat, berirama. "Nah, itu dia jantungnya. Kuat sekali," kata Dokter Rina tersenyum. "Usianya jalan 9 minggu ya, Bu. Perkembangannya bagus. Ibunya harus banyak makan ya, ini berat ibunya agak turun lho. Jangan stress-stress." Air mata Santi menetes lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena haru. Ada kehidupan di dalam sana. Kehidupan yang berjuang sendirian bersamanya. "Dok, boleh saya rekam suaranya?" tanya Santi serak. "Boleh, silakan." Santi merekam suara detak jantung itu dengan ponselnya. Durasi 15 detik. Setelah selesai dan menebus vitamin (yang tidak semahal vitamin Ambar), Santi duduk di ruang tunggu sebentar, menunggu ojek online. Ia membuka aplikasi W******p, menatap kontak "Angga" yang sedang Online. Santi mengirimkan rekaman suara detak jantung itu. *Sent.* Ceklis dua abu-abu. Lalu biru. Dibaca. Santi menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Indikator typing muncul. Jantung Santi berdebar. Apa Angga akan terharu? Apa dia akan menyesal tidak datang? Pesan balasan masuk: "Wah, alhamdulillah sehat. Eh Dek, sorry jangan chat dulu ya. Ambar lagi pinjem HP aku buat foto-foto makanan. Nanti dia liat notifnya. Aku apus dulu ya chat ini. Bye." Dan pesan rekaman suara itu hilang dari layar chat Santi karena dihapus sepihak oleh Angga menggunakan fitur *Delete for Everyone*? Tidak, Angga hanya menghapus di HP-nya, tapi di HP Santi masih ada. Namun jawaban itu... jawaban itu menghancurkan segalanya. Angga lebih takut Ambar melihat notifikasi daripada ingin mendengar detak jantung anaknya sendiri. Santi tidak membalas. Ia memasukkan HP ke tas, lalu berjalan keluar klinik. Matahari siang itu terik sekali, tapi hatinya beku. Di seberang jalan, sebuah mobil mewah melintas. Santi mengenalinya. Itu mobil Pajero putih yang sama dengan yang dibawa Angga kemarin. Kaca mobilnya sedikit terbuka. Di dalamnya, di kursi pengemudi, Angga sedang tertawa lebar. Di sebelahnya, seorang wanita cantik dengan perut besar dan kacamata hitam sedang menyuapinya es krim. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang sempurna. Dunia Santi berputar. Kakinya lemas. Ia ambruk di trotoar panas itu. "Mbak! Mbak! Awas!" Seorang tukang parkir buru-buru menahan tubuh Santi sebelum kepalanya membentur aspal. Orang-orang mulai berkerumun. "Kasih air! Kasih air!" "Ibu hamil pingsan!" Sayup-sayup, di antara kesadarannya yang memudar, Santi melihat mobil Pajero itu terus melaju, menjauh, membawa ayah dari anaknya pergi menuju kebahagiaan palsu, meninggalkan Santi yang tergeletak di pinggir jalan berdebu."Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!""Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut.""Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabarannya habis. Ia menyambar kunci mobilnya. "Aku ke sini baik-baik, bawa makanan, bawa duit, tapi disambut muka cemberut dan omongan pedas. Capek aku, San. Aku juga kerja keras, aku juga pusing ngadepin drama Ambar, tolonglah kamu jadi tempat aku istirahat, bukan nambah beban pikiran!""Kalau aku beban, kenapa nggak sekalian aja kamu buang aku selamanya? Kenapa harus janji balik lagi?"Angga terdiam sejenak, matanya menatap Santi tajam, lalu melembut sedikit, tapi kelembutan yang manipulatif."Karena aku cinta sama kamu, bodoh. Kalau nggak cinta, udah aku tinggalin kamu dari kemarin-kemarin. Udah lah, aku balik dulu. Ambar udah misscall lima kali nih."Angga berbalik, berjalan cepat keluar rumah
"Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan."Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamuk, menyuruh Satrio menyeret Angga pulang, dan itu hanya akan mempermalukan Santi lebih jauh."Masuk angin apa masuk angin? Kamu tuh jangan telat makan mentang-mentang Angga sibuk kerja. Eh, ngomong-ngomong, si Angga mana? Tumben status WA-nya nggak ada foto kamu? Biasanya tiap pagi update 'Semangat kerjanya Istriku'."Santi menggigit bibir bawahnya. Hesti sejelia itu."Angga... Angga lagi dinas luar kota, Mbak. Mendadak. Proyek kantor," jawab Santi cepat. "HP-nya mungkin error atau dia lagi sibuk banget jadi nggak sempet update status.""Dinas ke mana? Kok nggak pamit di grup keluarga?""Ke... Surabaya. Iya, Surabaya. Mendadak banget, Mbak. Kemarin sore berangkatnya.""Oh... Ya udah. Kamu ha
Santi merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan."Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih."Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mulai emosi karena Santi tidak kunjung mengerti. "Kenapa sih kamu persulit banget? Tinggal tanda tangan, beres! Nanti kita nikah lagi! Apa susahnya sih percaya sama suami sendiri?""Susah, Mas. Karena suami yang aku percaya barusan minta cerai saat aku hamil.""Ini bukan cerai beneran! Ini strategi! Taktik!" Angga berkacak pinggang. "Oke, gini aja. Kalau kamu nggak mau tanda tangan baik-baik, aku yang akan ajukan talak ke pengadilan besok. Prosesnya bakal lama, bakal ribet, dan kamu bakal malu sama tetangga kalau ribut-ribut. Mending kita sepakat sekarang, urus cepet, beres."Santi menatap sosok di depannya. Sosok yang dulu berjanji di depan penghulu akan menjaganya, sekarang mengancamnya denga
"Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi."Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa kamu mau nanggung dosanya? Ini tuh misi kemanusiaan, San! Anggap aja kamu sedekah suami sebentar buat nyelamatin nyawa ibu dan bayi!""Sedekah suami Ibu bilang?!" suara Santi meninggi, getaran emosi membuat perutnya makin mual mendengar ibu mertuanya menyuruh meneyedekahkan suaminya yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri. "Ibu, ini pernikahan! Sakral! Bukan mainan pinjam-meminjam barang!” jawab Santi dengan wajah yang sudah meradang karena kesal. “Mas, kamu kok malah diam aja? Kamu setuju ide gila ini? Atau kamu yang memang ingin melakukan ini?!!"Angga berdiri, mencoba memegang bahu Santi yang terlihat kaku, tapi segera di tepis kasar oleh si empunya."Dek, tolong ngertiin posisiku
"Mas? Ibu?" Santi menyalimi tangan suaminya, lalu tangan ibu mertuanya. Angga yang baru saja pulang dari kantor, ternyata tidak pulang sendiri. Di belakangnya, Ibu Mertua Santi yang bernama Bu Ratih, mengekor dengan wajah yang terlihat kaku, sambil menenteng sebuah tas bermerek Gucci yang terlihat sangat kontras dengan penampilannya yang sederhana. "Kok tumben Ibu ikut? Kenapa nggak ngabarin dulu, jadinya Santi nggak masak yang special buat nyambut, tadi cuma sempat masak sayur sop sama tempe goreng." Santi menyapa ibu mertuanya sembari memberikan senyuman yang terlihat kaku.Angga tidak menatap mata Santi. Ia melepas sepatunya dengan gerakan lambat, seolah sedang menunda eksekusi mati. "Iya, Dek. Tadi Ibu minta di jemput. A-da ... ada yang mau di omongin denganmu, penting katanya.""Di omongin?" Santi merasa firasatnya tidak enak. "Soal apa, Bu? Tentang masalah kesehatan Bapak?"Bu Ratih bukannya menjawab, dia malah mendengus pelan, lalu melengos masuk ke ruang tamu sempit kontr







