แชร์

5. Mulai ingkar

ผู้เขียน: Jana Indria
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-30 11:01:46

"Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!"

"Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut."

"Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabarannya habis. Ia menyambar kunci mobilnya. "Aku ke sini baik-baik, bawa makanan, bawa duit, tapi disambut muka cemberut dan omongan pedas. Capek aku, San. Aku juga kerja keras, aku juga pusing ngadepin drama Ambar, tolonglah kamu jadi tempat aku istirahat, bukan nambah beban pikiran!"

"Kalau aku beban, kenapa nggak sekalian aja kamu buang aku selamanya? Kenapa harus janji balik lagi?"

Angga terdiam sejenak, matanya menatap Santi tajam, lalu melembut sedikit, tapi kelembutan yang manipulatif.

"Karena aku cinta sama kamu, bodoh. Kalau nggak cinta, udah aku tinggalin kamu dari kemarin-kemarin. Udah lah, aku balik dulu. Ambar udah misscall lima kali nih."

Angga berbalik, berjalan cepat keluar rumah tanpa menoleh lagi. Tanpa pelukan perpisahan, tanpa mencium kening, tanpa mengelus perut Santi yang berisi anaknya.

Santi berdiri mematung di ruang tamu. Suara mesin Pajero itu menderu menjauh, meninggalkan keheningan yang menyakitkan.

Di meja makan, ikan Salmon mahal itu mulai mencair esnya, meneteskan air berbau amis yang membuat perut Santi kembali bergolak. Di sebelahnya, tumpukan uang lima juta rupiah teronggok seperti lelucon.

Santi mengambil uang itu. Ia ingin merobeknya. Ia ingin membakarnya. Tapi tangannya berhenti di udara.

Ia ingat tagihan listrik. Ia ingat ia butuh susu hamil. Ia ingat gaji honorernya bulan ini belum turun.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang jatuh membasahi pipi, Santi memasukkan uang itu ke dalam laci.

"Maafkan Ibu, Nak," isaknya sambil mengelus perutnya. "Ibu nggak punya harga diri lagi. Kita butuh uang bapakmu yang brengsek itu untuk hidup."

---

Satu minggu kemudian.

Jadwal kontrol kandungan pertama. Santi sudah menandai tanggal ini di kalender dapurnya dengan spidol merah besar. Angga sudah berjanji—kali ini via telepon dengan nada yang sangat meyakinkan—bahwa dia akan mengantar.

"Aku jemput jam 9 pagi ya, Dek. Kita ke Dokter Rina. Ambar ada jadwal arisan sama ibu-ibu sosialita, jadi aku bebas," begitu janji Angga semalam.

Santi sudah mandi sejak jam 7 pagi. Ia memakai gamis terbaiknya yang longgar, memoles sedikit bedak agar tidak terlihat pucat, dan memakai lipstik tipis. Ia duduk di teras, menunggu. Tas berisi buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan berkas BPJS sudah siap di pangkuan.

Jam 09.00. Tidak ada tanda-tanda Angga.

Jam 09.30. Santi mencoba menelepon. Tidak diangkat.

Jam 10.00. Pesan W******p masuk.

*Mas Angga: "Dek, sorry banget. Mendadak sopir Ambar sakit perut. Aku harus nganter Ambar ke butik langganannya, dia mau fitting baju buat acara syukuran 7 bulanan adat. Dia ngamuk kalau aku nggak yang nyetir. Kamu berangkat sendiri bisa kan? Pake Grabcar aja, pake uang yang kemarin aku kasih. Nanti kirim foto USG-nya ke aku ya. Love you."

Santi membaca pesan itu berulang-ulang. Sampai huruf-hurufnya kabur tertutup air mata.

Fitting baju 7 bulanan. Acara syukuran untuk anak Ambar. Sementara anak di kandungan Santi bahkan tidak dianggap prioritas untuk diperiksakan ke dokter.

Santi menghapus air matanya kasar. Ia tidak boleh lemah. Ia memesan ojek online—bukan mobil, tapi motor, karena ia ingin merasakan angin menampar wajahnya agar ia sadar.

Klinik Dokter Rina ramai seperti biasa. Pasien ibu hamil duduk berderet. Hampir semuanya didampingi suami. Ada suami yang memijat punggung istrinya, ada yang membawakan tas, ada yang sibuk mengelus perut istrinya sambil berbisik.

Santi duduk di pojok, sendirian. Memeluk tasnya erat-erat.

"Ibu Santi?" panggil perawat.

Santi masuk ke ruang periksa. Dokter Rina, dokter paruh baya yang ramah, menyapanya.

"Halo, Bu Santi. Sendirian aja? Suaminya mana? Biasanya kan kalau hamil pertama suami paling heboh," tanya Dokter Rina sambil menyiapkan alat USG.

Pertanyaan sederhana itu rasanya seperti irisan silet di hati.

"Suami... suami lagi dinas luar kota, Dok," jawab Santi dengan senyum palsu yang sudah terlatih.

"Oh, kasihan ya. Tapi nggak apa-apa, ibunya harus kuat. Ayo kita lihat dedek bayinya."

Saat alat USG menyentuh perutnya yang diberi gel dingin, Santi menahan napas. Di layar monitor hitam putih itu, terlihat gumpalan kecil. Dan kemudian, suara itu terdengar.

Dug... dug... dug...

Suara detak jantung. Cepat, kuat, berirama.

"Nah, itu dia jantungnya. Kuat sekali," kata Dokter Rina tersenyum. "Usianya jalan 9 minggu ya, Bu. Perkembangannya bagus. Ibunya harus banyak makan ya, ini berat ibunya agak turun lho. Jangan stress-stress."

Air mata Santi menetes lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena haru. Ada kehidupan di dalam sana. Kehidupan yang berjuang sendirian bersamanya.

"Dok, boleh saya rekam suaranya?" tanya Santi serak.

"Boleh, silakan."

Santi merekam suara detak jantung itu dengan ponselnya. Durasi 15 detik.

Setelah selesai dan menebus vitamin (yang tidak semahal vitamin Ambar), Santi duduk di ruang tunggu sebentar, menunggu ojek online. Ia membuka aplikasi W******p, menatap kontak "Angga" yang sedang Online.

Santi mengirimkan rekaman suara detak jantung itu.

*Sent.*

Ceklis dua abu-abu.

Lalu biru. Dibaca.

Santi menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit.

Indikator typing muncul. Jantung Santi berdebar. Apa Angga akan terharu? Apa dia akan menyesal tidak datang?

Pesan balasan masuk:

"Wah, alhamdulillah sehat. Eh Dek, sorry jangan chat dulu ya. Ambar lagi pinjem HP aku buat foto-foto makanan. Nanti dia liat notifnya. Aku apus dulu ya chat ini. Bye."

Dan pesan rekaman suara itu hilang dari layar chat Santi karena dihapus sepihak oleh Angga menggunakan fitur *Delete for Everyone*? Tidak, Angga hanya menghapus di HP-nya, tapi di HP Santi masih ada. Namun jawaban itu... jawaban itu menghancurkan segalanya.

Angga lebih takut Ambar melihat notifikasi daripada ingin mendengar detak jantung anaknya sendiri.

Santi tidak membalas. Ia memasukkan HP ke tas, lalu berjalan keluar klinik. Matahari siang itu terik sekali, tapi hatinya beku.

Di seberang jalan, sebuah mobil mewah melintas. Santi mengenalinya. Itu mobil Pajero putih yang sama dengan yang dibawa Angga kemarin. Kaca mobilnya sedikit terbuka.

Di dalamnya, di kursi pengemudi, Angga sedang tertawa lebar. Di sebelahnya, seorang wanita cantik dengan perut besar dan kacamata hitam sedang menyuapinya es krim. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang sempurna.

Dunia Santi berputar. Kakinya lemas. Ia ambruk di trotoar panas itu.

"Mbak! Mbak! Awas!"

Seorang tukang parkir buru-buru menahan tubuh Santi sebelum kepalanya membentur aspal. Orang-orang mulai berkerumun.

"Kasih air! Kasih air!"

"Ibu hamil pingsan!"

Sayup-sayup, di antara kesadarannya yang memudar, Santi melihat mobil Pajero itu terus melaju, menjauh, membawa ayah dari anaknya pergi menuju kebahagiaan palsu, meninggalkan Santi yang tergeletak di pinggir jalan berdebu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Retno w
sdh tau kyk gini msh rahasian sm kakaknya....
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Cerai pura pura   27. Mata itu

    Di kamar tengah, dengan penerangan lilin, Pak Santoso sedang menyuapi Bu Ratih bubur instan dingin. "Angga?" Pak Santoso menyipitkan mata. "Kamu pulang, Le?" Angga berlari, bersimpuh di kaki bapaknya. "Pak... Maafin Angga... Rumah ini mau disita..." Pak Santoso mengelus kepala anaknya dengan tangan gemetar. Tidak ada kemarahan di wajah tua itu. Hanya kepasrahan yang mendalam. "Bapak sudah tau, Le. Tadi orang bank datang. Kita dikasih waktu seminggu buat ngosongin rumah." "Bu Ratih..." Angga menatap ibunya yang kurus kering. Bu Ratih menatap Angga. Matanya kosong. "Santi mana?" tanya Bu Ratih pelan. "Angga... ajak Santi ke sini... Bilang sama Santi, Ibu mau minta maaf... Ibu mau numpang di rumah Santi..." Angga menangis tersedu-sedu. Menangis sampai suaranya habis. "Santi udah nggak ada, Bu... Santi udah bahagia... Kita nggak bisa ganggu dia lagi..." Malam itu, di rumah tua yang gelap dan akan segera hilang itu, Angga memeluk kedua orang tuanya. Mereka bertiga mena

  • Cerai pura pura   26. Jangan gila!!

    "Saya mau bilang..." Danan menelan ludah. "Saya bersedia menunggu.""Menunggu?""Menunggu sampai masa iddah Ibu selesai. Menunggu sampai hati Ibu sembuh. Menunggu sampai Ibu siap membuka pintu lagi."Danan meletakkan sebuah kotak kecil di meja. Bukan cincin. Tapi sebuah gantungan kunci berbentuk boneka beruang tentara yang lucu."Saya nggak berani kasih cincin sekarang. Nanti jadi fitnah. Ini... buat gantungan kunci motor Ibu aja dulu. Sebagai tanda.""Tanda apa?""Tanda bahwa ada satu prajurit yang sedang berjaga di pos hati Ibu, memastikan nggak ada musuh yang masuk lagi."Santi menatap gantungan kunci itu, lalu menatap Danan. Matanya berkaca-kaca.Ini bukan lamaran romantis ala drama Korea dengan bunga dan lilin. Ini lamaran ala Danan. Kaku, jujur, dan apa adanya."Mas Danan tau kan saya janda? Saya pernah hamil dan keguguran. Saya punya masa lalu yang rumit.""Saya tahu. Dan itu nggak mengurangi hormat saya sedikitpun sama Ibu. Justru menambah kagum saya. Ibu wanita kuat. Dan tent

  • Cerai pura pura   25. Kewarasan mulai retak

    25 "Dengar baik-baik. Tiga bulan lalu, wanita ini pingsan di pinggir jalan karena stres mikirin Anda. Sebulan lalu, dia berjuang sendirian di meja operasi. Di mana Anda? Anda sibuk jadi 'suami siaga' buat wanita lain. Sekarang Anda datang mau merusak hidup dia lagi? Langkahi dulu mayat saya."Danan mendorong Angga pelan—tapi bertenaga—hingga Angga terhuyung mundur beberapa langkah."Pergi. Sebelum saya panggil Provost atau Polisi militer karena mengganggu ketertiban umum."Angga memegangi tangannya yang ngilu. Ia melihat sekeliling. Murid-murid SD menonton dari jendela kelas. Guru-guru berbisik. Hesti menatapnya dengan benci. Santi menatapnya dengan dingin. Dan Danan menatapnya seperti predator menatap mangsa.Angga kalah. Total.Ia mengambil tas ranselnya yang jatuh di aspal."Oke... Oke..." Angga mundur, napasnya memburu. Ia menatap Santi untuk terakhir kali hari itu. "Kamu bakal nyesel, San. Tentara ini nggak bakal setia. Laki-laki sama aja.""Setidaknya di

  • Cerai pura pura   24. Kayak sampah

    24 Angga masih bengong. Mulutnya terbuka sedikit. "Dek... Perut kamu...""Kenapa perutku?""Kok... kok kempes?" Angga tergagap, wajahnya pucat. "Ini baru bulan kelima kan? Harusnya... harusnya udah kelihatan buncit. Mana anak kita?"Santi tersenyum miring. "Anak kita?""Iya! Anak aku! Kamu... kamu ngelahirin prematur? Atau..." Wajah Angga berubah horor. "Kamu gugurin?!""Jaga mulutmu, Mas," desis Santi tajam. "Ini lingkungan sekolah. Banyak anak kecil.""Jawab aku, Santi!" Angga maju selangkah, mencoba meraih bahu Santi. "Mana anak itu?! Kenapa badanmu kurus gini?!"Santi mundur selangkah, menghindari sentuhan Angga dengan gerakan jijik."Kamu peduli apa? Bukannya kamu sibuk ngurusin *Prince* Rayyan, pewaris tahta kerajaan Ambar?""Jangan alihkan pembicaraan!" Angga berteriak. Beberapa wali murid yang sedang menunggu jemputan mulai menoleh. "Aku jauh-jauh ke sini, kabur dari rumah, jual jam tangan cuma buat ongkos bus demi liat kamu dan calon anak kita! Aku bawa susu

  • Cerai pura pura   23. Hantu di Gerbang Sekolah

    "Cukup!" Angga berteriak. Suaranya pecah. "Cukup, Mbar! Kamu menghina aku boleh, tapi jangan bapakku! Aku nggak nyuri! Periksa badanku! Periksa rumah ini! Silakan!"Ambar memberi isyarat pada dua sekuriti itu. "Geledah rumah ini.""Mbar, ini rumah orang tua aku! Nggak sopan!" Angga mencoba menghalangi."Minggir!"Dua sekuriti itu masuk, mengaduk-aduk ruang tamu, masuk ke kamar Bu Ratih yang sedang sakit. Bu Ratih menjerit ketakutan melihat orang asing masuk."Jangan! Tolong! Rampok!" teriak Bu Ratih.Angga berlari memeluk ibunya. "Jangan sentuh Ibu saya!"Sepuluh menit kemudian, sekuriti keluar dengan tangan kosong."Nihil, Bu. Nggak ada barang bukti."Ambar mendengus kesal. Ia tidak minta maaf. Ia hanya menatap Angga dengan jijik."Oke, mungkin kali ini kamu lolos. Atau kamu udah jual ke penadah. Awas ya Angga, kalau ketahuan. Mulai malam ini, kamu jangan injak rumah aku dulu sampai kamu ngaku! Tidur sini aja sama ibumu yang penyakitan itu!"Ambar berbalik, masuk ke mobil mewahnya, d

  • Cerai pura pura   22. Seret dia pulang

    *"Bapakmu udah tua... encoknya kumat kalau bopong Ibu. San... kamu ke sini ya? Nduk? Ibu kangen kamu... Ibu nyesel... Sumpah Ibu nyesel nyuruh Angga nikah sama perempuan gila itu... Kamu yang terbaik, San. Kamu mantu Ibu dunia akhirat... Balik ya, Nduk? Tolong pijitin Ibu..."* Permintaan itu. *Balik ya, Nduk?* Santi menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kebebasan Wonosari. "Bu," potong Santi tegas. "Maaf. Saya tidak bisa." *"Kenapa, San? Kamu masih marah? Ibu minta maaf... Ibu sujud di kaki kamu nanti kalau Ibu sembuh..."* "Bukan soal marah, Bu. Tapi saya sudah bukan siapa-siapa Ibu lagi. Secara agama, saya dan Angga sudah selesai. Saya orang asing." *"Tapi kamu masih hamil cucu Ibu kan? Demi anak dalam perutmu, San..."* Santi tersenyum miris. Kartu as itu lagi. Cucu. "Anak itu..." Santi berhenti sejenak. Ingin rasanya ia berteriak bahwa cucu yang dibanggakan itu sudah mati karena keserakahan neneknya. Tapi Santi menahannya. Itu terlalu mudah. "Bu,

  • Cerai pura pura   6. Manis tapi ditelan pahit

    Malam harinya.Santi sudah siuman dan berada di rumah. Tadi ia di tolong oleh ibu -ibu pemilik warung di dekat klinik yang berbaik hati mengantarnya pulang naik becak. Hesti menelepon berkali- kali, tapi Santi tidak mengangkat. Ia takut pertahanannya jebol.Santi duduk di depan laptop tuanya. Satu-

  • Cerai pura pura   4. Firasat sang kakak

    "Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan."Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamu

  • Cerai pura pura   3. Ok

    Santi merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan."Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih."Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mul

  • Cerai pura pura   2. Bujuk rayu

    "Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi."Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status