Share

2. Bujuk rayu

Author: Jana Indria
last update Last Updated: 2025-12-30 10:52:40

"Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi.

"Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa kamu mau nanggung dosanya? Ini tuh misi kemanusiaan, San! Anggap aja kamu sedekah suami sebentar buat nyelamatin nyawa ibu dan bayi!"

"Sedekah suami Ibu bilang?!" suara Santi meninggi, getaran emosi membuat perutnya makin mual mendengar ibu mertuanya menyuruh meneyedekahkan suaminya yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.

"Ibu, ini pernikahan! Sakral! Bukan mainan pinjam-meminjam barang!” jawab Santi dengan wajah yang sudah meradang karena kesal.

“Mas, kamu kok malah diam aja? Kamu setuju ide gila ini? Atau kamu yang memang ingin melakukan ini?!!"

Angga berdiri, mencoba memegang bahu Santi yang terlihat kaku, tapi segera di tepis kasar oleh si empunya.

"Dek, tolong ngertiin posisiku," kata Angga memelas, wajahnya seketika memerah. "Ambar itu... dia pernah berarti buat aku. Aku nggak tega lihat dia hancur. Dia sendirian di rumah segede itu. Dia cuma percaya sama aku."

"Terus aku? Aku istri kamu, Mas! Perasaan aku gimana?" tanya Santi dengan kekuatan yang sudah luruh, dia tak punya sandaran saat ini, laki laki di hadapannya memilih membela mantannya.

"Kamu kan kuat, San," kata Angga cepat, merasa mendapatkan angin di saat Santi terlihat pasrah.

"Kamu itu perempuan mandiri, Dek. Kamu pinter, kamu guru, dan bahkan kamu adalah penulis. Kamu pasti bisa lebih rasional dikit kan?! Ini cuma status di atas kertas, kamu tak perlu khawatirkan tentang bagaimana hatiku, cintaku tetep buat kamu. Sumpah!!” Angga berusaha meyakinkan Santi yang menatapnya dengan tatapan bingung, sekaligus tak percaya.

“Tiap hari aku bakal ke sini. Aku bakal tetep nafkahin kamu. Aku bakal tidur di sini kalau Ambar udah tidur. Nggak ada yang berubah kecuali surat nikah kita doang yang ditarik sebentar."

"Nggak ada yang berubah?" tanya Santi, entah apa yang ada di pikirannya saat ini, hingga bisa tertawa getir dengan air mata membasahi pipinya. "Kamu akan ijab kabul sama perempuan lain, bahkan nantinya tidur satu atap sama mantan pacar kamu yang lagi hamil, dan kamu bilang nggak ada yang berubah? Kamu waras??"

"Ambar itu kaya raya, San," Bu Ratih menyela lagi, suaranya melunak tapi penuh racun. "Dia udah janji, kalau Angga mau bantu dia lewat masa sulit ini, dia bakal kasih modal usaha buat Angga. Dia bakal lunasi cicilan rumah ini. Kamu nggak mau hidup enak? Nggak capek jadi guru honorer yang gajinya cuma cukup buat beli bensin? Nggak capek nulis novel sampai malem matanya rusak cuma dapet recehan?"

Santi menatap mertuanya dengan tatapan nanar. "Jadi karena uang? Ibu jual anak Ibu dan hancurkan rumah tangga saya karena tas Gucci itu dan janji modal usaha?"

"Heh! Mulutmu ya!" Bu Ratih melotot.

"Cukup, Bu!" Angga menengahi. Ia menatap Santi dengan tatapan lelah. "Bukan karena uang, Dek. Meskipun ... memang benar kalau bantuan Ambar bakal sangat nolong ekonomi kita nantinya. Tapi niat utamaku itu adalah menolong dia. Tolong lah, Dek. Sekali ini aja aku minta sama kamu. Izinin aku jadi orang baik."

"Maksud kamu jadi orang baik dengan cara jahatin istri sendiri?"

"Aku nggak jahatin kamu! Aku cuma minta waktu tiga bulan!" Angga mulai membentak, kesabarannya habis. "Kenapa sih kamu egois banget? Ambar itu lagi hamil! HAMIL! Kamu sebagai perempuan harusnya punya hati nurani!"

Kata 'hamil' itu meledak di kepala Santi.

Santi menyeka air matanya kasar. Napasnya tersengal. Ia menatap Angga tajam, tatapan yang membuat Angga sedikit menciut.

"Mas Angga bilang aku harus punya hati nurani karena dia hamil?" suara Santi bergetar hebat. Ia merogoh saku dasternya, mengeluarkan benda plastik pipih bergaris dua yang sempat ia lupakan, kemudian Ia lemparkan benda itu ke dada Angga.

*Trak.*

Benda itu jatuh ke lantai.

"Liat itu," desis Santi.

Angga mengernyit, memungut benda itu. Matanya membelalak saat melihat dua garis merah. "Ini... ini punya siapa?"

"Punya tetangga? Ya punya akulah, Mas!" teriak Santi, pertahanannya runtuh total. Ia meraung.

"Aku juga hamil! Aku hamil anak kamu! Delapan minggu! Tadi aku muntah-muntah, aku pusing, aku nungguin kamu pulang mau kasih kejutan ini. Tapi kamu pulang malah bawa kejutan minta cerai demi mantan pacar kamu yang hamil anak orang lain!"

Hening. Kali ini hening yang benar-benar mati.

Angga menatap tespek itu, lalu menatap perut Santi. Tangannya gemetar. Ada kilatan bahagia sesaat di matanya, tapi detik berikutnya langsung tertutup kabut kebingungan dan kepanikan.

"Kamu... kamu hamil?" Angga tergagap.

Bu Ratih bangkit, merebut tespek itu dari tangan Angga. Ia melihatnya sekilas, lalu mendengus. Wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan sedikitpun.

"Baru delapan minggu kan?" tanya Bu Ratih dingin. "Masih gumpalan darah. Belum ada nyawanya."

Santi ternganga. "Ibu ngomong apa?"

"Dengerin Ibu, San," Bu Ratih mendekat, meletakkan tangannya di bahu Santi, mencengkeramnya.

"Kalau kamu hamil, justru itu alasan kuat kenapa kita harus tolong Ambar. Kita butuh biaya buat anak ini nanti. Biaya lahiran mahal, susu mahal. Dengan Angga nikah sama Ambar sebentar, Ambar bakal kasih uang, kasih fasilitas. Anak kamu nanti lahir berkecukupan."

"Setan apa yang merasuki Ibu ...." Santi menepis tangan mertuanya jijik. "Ibu nyuruh aku ngalah demi perempuan lain saat aku lagi mengandung cucu Ibu?"

"Ambar itu royal, Santi! Dia nggak pelit kayak kamu!" bentak Bu Ratih.

"Lagian Angga cuma pergi sebentar! Apa susahnya sih berkorban dikit? Ambar lagi butuh figur ayah sekarang juga karena dia mau lahiran. Kamu? Kamu masih lama lahirannya! Tujuh bulan lagi! Keburu Angga udah balik sama kamu! Jangan manja!"

Santi menatap Angga, berharap suaminya membela. "Mas? Kamu denger omongan Ibumu?"

Angga tampak terbelah. Ia mengusap wajahnya kasar, terlihat frustrasi. Ia menatap tespek di tangan ibunya, lalu menatap Santi.

"Dek..." Angga berlutut di depan Santi. Ia mencoba memeluk kaki istrinya. "Maafin aku. Aku seneng banget kamu hamil. Sumpah aku seneng. Tapi... tapi aku udah terlanjur janji sama Ambar. Dia lagi nungguin aku sekarang. Dia nangis-nangis. Kalau aku batalin sekarang, dia bisa nekat."

"Biarin dia nekat!" jerit Santi. "Itu hidup dia! Ini keluarga kita, Mas!"

"Aku nggak bisa, San! Aku berutang budi sama dia!" Angga mendongak, matanya basah.

"Tolonglah... Anggap aja ini ujian kita naik kelas. Aku janji, sumpah demi Allah, aku bakal lebih perhatiin kamu. Aku bakal anter kamu periksa kandungan tiap bulan. Aku bakal beliin susu hamil paling mahal. Aku bakal sering ke sini. Ambar juga setuju kok kamu tetep tinggal di sini, dia bahkan mau kasih uang bulanan buat kamu 5 juta sebulan selama aku jadi suami dia. Itu gede banget, San. Lebih gede dari gaji kamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cerai pura pura   5. Mulai ingkar

    "Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!""Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut.""Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabarannya habis. Ia menyambar kunci mobilnya. "Aku ke sini baik-baik, bawa makanan, bawa duit, tapi disambut muka cemberut dan omongan pedas. Capek aku, San. Aku juga kerja keras, aku juga pusing ngadepin drama Ambar, tolonglah kamu jadi tempat aku istirahat, bukan nambah beban pikiran!""Kalau aku beban, kenapa nggak sekalian aja kamu buang aku selamanya? Kenapa harus janji balik lagi?"Angga terdiam sejenak, matanya menatap Santi tajam, lalu melembut sedikit, tapi kelembutan yang manipulatif."Karena aku cinta sama kamu, bodoh. Kalau nggak cinta, udah aku tinggalin kamu dari kemarin-kemarin. Udah lah, aku balik dulu. Ambar udah misscall lima kali nih."Angga berbalik, berjalan cepat keluar rumah

  • Cerai pura pura   4. Firasat sang kakak

    "Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan."Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamuk, menyuruh Satrio menyeret Angga pulang, dan itu hanya akan mempermalukan Santi lebih jauh."Masuk angin apa masuk angin? Kamu tuh jangan telat makan mentang-mentang Angga sibuk kerja. Eh, ngomong-ngomong, si Angga mana? Tumben status WA-nya nggak ada foto kamu? Biasanya tiap pagi update 'Semangat kerjanya Istriku'."Santi menggigit bibir bawahnya. Hesti sejelia itu."Angga... Angga lagi dinas luar kota, Mbak. Mendadak. Proyek kantor," jawab Santi cepat. "HP-nya mungkin error atau dia lagi sibuk banget jadi nggak sempet update status.""Dinas ke mana? Kok nggak pamit di grup keluarga?""Ke... Surabaya. Iya, Surabaya. Mendadak banget, Mbak. Kemarin sore berangkatnya.""Oh... Ya udah. Kamu ha

  • Cerai pura pura   3. Ok

    Santi merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan."Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih."Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mulai emosi karena Santi tidak kunjung mengerti. "Kenapa sih kamu persulit banget? Tinggal tanda tangan, beres! Nanti kita nikah lagi! Apa susahnya sih percaya sama suami sendiri?""Susah, Mas. Karena suami yang aku percaya barusan minta cerai saat aku hamil.""Ini bukan cerai beneran! Ini strategi! Taktik!" Angga berkacak pinggang. "Oke, gini aja. Kalau kamu nggak mau tanda tangan baik-baik, aku yang akan ajukan talak ke pengadilan besok. Prosesnya bakal lama, bakal ribet, dan kamu bakal malu sama tetangga kalau ribut-ribut. Mending kita sepakat sekarang, urus cepet, beres."Santi menatap sosok di depannya. Sosok yang dulu berjanji di depan penghulu akan menjaganya, sekarang mengancamnya denga

  • Cerai pura pura   2. Bujuk rayu

    "Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi."Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa kamu mau nanggung dosanya? Ini tuh misi kemanusiaan, San! Anggap aja kamu sedekah suami sebentar buat nyelamatin nyawa ibu dan bayi!""Sedekah suami Ibu bilang?!" suara Santi meninggi, getaran emosi membuat perutnya makin mual mendengar ibu mertuanya menyuruh meneyedekahkan suaminya yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri. "Ibu, ini pernikahan! Sakral! Bukan mainan pinjam-meminjam barang!” jawab Santi dengan wajah yang sudah meradang karena kesal. “Mas, kamu kok malah diam aja? Kamu setuju ide gila ini? Atau kamu yang memang ingin melakukan ini?!!"Angga berdiri, mencoba memegang bahu Santi yang terlihat kaku, tapi segera di tepis kasar oleh si empunya."Dek, tolong ngertiin posisiku

  • Cerai pura pura   1. Cerai pura pura

    "Mas? Ibu?" Santi menyalimi tangan suaminya, lalu tangan ibu mertuanya. Angga yang baru saja pulang dari kantor, ternyata tidak pulang sendiri. Di belakangnya, Ibu Mertua Santi yang bernama Bu Ratih, mengekor dengan wajah yang terlihat kaku, sambil menenteng sebuah tas bermerek Gucci yang terlihat sangat kontras dengan penampilannya yang sederhana. "Kok tumben Ibu ikut? Kenapa nggak ngabarin dulu, jadinya Santi nggak masak yang special buat nyambut, tadi cuma sempat masak sayur sop sama tempe goreng." Santi menyapa ibu mertuanya sembari memberikan senyuman yang terlihat kaku.Angga tidak menatap mata Santi. Ia melepas sepatunya dengan gerakan lambat, seolah sedang menunda eksekusi mati. "Iya, Dek. Tadi Ibu minta di jemput. A-da ... ada yang mau di omongin denganmu, penting katanya.""Di omongin?" Santi merasa firasatnya tidak enak. "Soal apa, Bu? Tentang masalah kesehatan Bapak?"Bu Ratih bukannya menjawab, dia malah mendengus pelan, lalu melengos masuk ke ruang tamu sempit kontr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status