LOGIN"Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi.
"Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa kamu mau nanggung dosanya? Ini tuh misi kemanusiaan, San! Anggap aja kamu sedekah suami sebentar buat nyelamatin nyawa ibu dan bayi!" "Sedekah suami Ibu bilang?!" suara Santi meninggi, getaran emosi membuat perutnya makin mual mendengar ibu mertuanya menyuruh meneyedekahkan suaminya yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri. "Ibu, ini pernikahan! Sakral! Bukan mainan pinjam-meminjam barang!” jawab Santi dengan wajah yang sudah meradang karena kesal. “Mas, kamu kok malah diam aja? Kamu setuju ide gila ini? Atau kamu yang memang ingin melakukan ini?!!" Angga berdiri, mencoba memegang bahu Santi yang terlihat kaku, tapi segera di tepis kasar oleh si empunya. "Dek, tolong ngertiin posisiku," kata Angga memelas, wajahnya seketika memerah. "Ambar itu... dia pernah berarti buat aku. Aku nggak tega lihat dia hancur. Dia sendirian di rumah segede itu. Dia cuma percaya sama aku." "Terus aku? Aku istri kamu, Mas! Perasaan aku gimana?" tanya Santi dengan kekuatan yang sudah luruh, dia tak punya sandaran saat ini, laki laki di hadapannya memilih membela mantannya. "Kamu kan kuat, San," kata Angga cepat, merasa mendapatkan angin di saat Santi terlihat pasrah. "Kamu itu perempuan mandiri, Dek. Kamu pinter, kamu guru, dan bahkan kamu adalah penulis. Kamu pasti bisa lebih rasional dikit kan?! Ini cuma status di atas kertas, kamu tak perlu khawatirkan tentang bagaimana hatiku, cintaku tetep buat kamu. Sumpah!!” Angga berusaha meyakinkan Santi yang menatapnya dengan tatapan bingung, sekaligus tak percaya. “Tiap hari aku bakal ke sini. Aku bakal tetep nafkahin kamu. Aku bakal tidur di sini kalau Ambar udah tidur. Nggak ada yang berubah kecuali surat nikah kita doang yang ditarik sebentar." "Nggak ada yang berubah?" tanya Santi, entah apa yang ada di pikirannya saat ini, hingga bisa tertawa getir dengan air mata membasahi pipinya. "Kamu akan ijab kabul sama perempuan lain, bahkan nantinya tidur satu atap sama mantan pacar kamu yang lagi hamil, dan kamu bilang nggak ada yang berubah? Kamu waras??" "Ambar itu kaya raya, San," Bu Ratih menyela lagi, suaranya melunak tapi penuh racun. "Dia udah janji, kalau Angga mau bantu dia lewat masa sulit ini, dia bakal kasih modal usaha buat Angga. Dia bakal lunasi cicilan rumah ini. Kamu nggak mau hidup enak? Nggak capek jadi guru honorer yang gajinya cuma cukup buat beli bensin? Nggak capek nulis novel sampai malem matanya rusak cuma dapet recehan?" Santi menatap mertuanya dengan tatapan nanar. "Jadi karena uang? Ibu jual anak Ibu dan hancurkan rumah tangga saya karena tas Gucci itu dan janji modal usaha?" "Heh! Mulutmu ya!" Bu Ratih melotot. "Cukup, Bu!" Angga menengahi. Ia menatap Santi dengan tatapan lelah. "Bukan karena uang, Dek. Meskipun ... memang benar kalau bantuan Ambar bakal sangat nolong ekonomi kita nantinya. Tapi niat utamaku itu adalah menolong dia. Tolong lah, Dek. Sekali ini aja aku minta sama kamu. Izinin aku jadi orang baik." "Maksud kamu jadi orang baik dengan cara jahatin istri sendiri?" "Aku nggak jahatin kamu! Aku cuma minta waktu tiga bulan!" Angga mulai membentak, kesabarannya habis. "Kenapa sih kamu egois banget? Ambar itu lagi hamil! HAMIL! Kamu sebagai perempuan harusnya punya hati nurani!" Kata 'hamil' itu meledak di kepala Santi. Santi menyeka air matanya kasar. Napasnya tersengal. Ia menatap Angga tajam, tatapan yang membuat Angga sedikit menciut. "Mas Angga bilang aku harus punya hati nurani karena dia hamil?" suara Santi bergetar hebat. Ia merogoh saku dasternya, mengeluarkan benda plastik pipih bergaris dua yang sempat ia lupakan, kemudian Ia lemparkan benda itu ke dada Angga. *Trak.* Benda itu jatuh ke lantai. "Liat itu," desis Santi. Angga mengernyit, memungut benda itu. Matanya membelalak saat melihat dua garis merah. "Ini... ini punya siapa?" "Punya tetangga? Ya punya akulah, Mas!" teriak Santi, pertahanannya runtuh total. Ia meraung. "Aku juga hamil! Aku hamil anak kamu! Delapan minggu! Tadi aku muntah-muntah, aku pusing, aku nungguin kamu pulang mau kasih kejutan ini. Tapi kamu pulang malah bawa kejutan minta cerai demi mantan pacar kamu yang hamil anak orang lain!" Hening. Kali ini hening yang benar-benar mati. Angga menatap tespek itu, lalu menatap perut Santi. Tangannya gemetar. Ada kilatan bahagia sesaat di matanya, tapi detik berikutnya langsung tertutup kabut kebingungan dan kepanikan. "Kamu... kamu hamil?" Angga tergagap. Bu Ratih bangkit, merebut tespek itu dari tangan Angga. Ia melihatnya sekilas, lalu mendengus. Wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan sedikitpun. "Baru delapan minggu kan?" tanya Bu Ratih dingin. "Masih gumpalan darah. Belum ada nyawanya." Santi ternganga. "Ibu ngomong apa?" "Dengerin Ibu, San," Bu Ratih mendekat, meletakkan tangannya di bahu Santi, mencengkeramnya. "Kalau kamu hamil, justru itu alasan kuat kenapa kita harus tolong Ambar. Kita butuh biaya buat anak ini nanti. Biaya lahiran mahal, susu mahal. Dengan Angga nikah sama Ambar sebentar, Ambar bakal kasih uang, kasih fasilitas. Anak kamu nanti lahir berkecukupan." "Setan apa yang merasuki Ibu ...." Santi menepis tangan mertuanya jijik. "Ibu nyuruh aku ngalah demi perempuan lain saat aku lagi mengandung cucu Ibu?" "Ambar itu royal, Santi! Dia nggak pelit kayak kamu!" bentak Bu Ratih. "Lagian Angga cuma pergi sebentar! Apa susahnya sih berkorban dikit? Ambar lagi butuh figur ayah sekarang juga karena dia mau lahiran. Kamu? Kamu masih lama lahirannya! Tujuh bulan lagi! Keburu Angga udah balik sama kamu! Jangan manja!" Santi menatap Angga, berharap suaminya membela. "Mas? Kamu denger omongan Ibumu?" Angga tampak terbelah. Ia mengusap wajahnya kasar, terlihat frustrasi. Ia menatap tespek di tangan ibunya, lalu menatap Santi. "Dek..." Angga berlutut di depan Santi. Ia mencoba memeluk kaki istrinya. "Maafin aku. Aku seneng banget kamu hamil. Sumpah aku seneng. Tapi... tapi aku udah terlanjur janji sama Ambar. Dia lagi nungguin aku sekarang. Dia nangis-nangis. Kalau aku batalin sekarang, dia bisa nekat." "Biarin dia nekat!" jerit Santi. "Itu hidup dia! Ini keluarga kita, Mas!" "Aku nggak bisa, San! Aku berutang budi sama dia!" Angga mendongak, matanya basah. "Tolonglah... Anggap aja ini ujian kita naik kelas. Aku janji, sumpah demi Allah, aku bakal lebih perhatiin kamu. Aku bakal anter kamu periksa kandungan tiap bulan. Aku bakal beliin susu hamil paling mahal. Aku bakal sering ke sini. Ambar juga setuju kok kamu tetep tinggal di sini, dia bahkan mau kasih uang bulanan buat kamu 5 juta sebulan selama aku jadi suami dia. Itu gede banget, San. Lebih gede dari gaji kamu."Di kamar tengah, dengan penerangan lilin, Pak Santoso sedang menyuapi Bu Ratih bubur instan dingin. "Angga?" Pak Santoso menyipitkan mata. "Kamu pulang, Le?" Angga berlari, bersimpuh di kaki bapaknya. "Pak... Maafin Angga... Rumah ini mau disita..." Pak Santoso mengelus kepala anaknya dengan tangan gemetar. Tidak ada kemarahan di wajah tua itu. Hanya kepasrahan yang mendalam. "Bapak sudah tau, Le. Tadi orang bank datang. Kita dikasih waktu seminggu buat ngosongin rumah." "Bu Ratih..." Angga menatap ibunya yang kurus kering. Bu Ratih menatap Angga. Matanya kosong. "Santi mana?" tanya Bu Ratih pelan. "Angga... ajak Santi ke sini... Bilang sama Santi, Ibu mau minta maaf... Ibu mau numpang di rumah Santi..." Angga menangis tersedu-sedu. Menangis sampai suaranya habis. "Santi udah nggak ada, Bu... Santi udah bahagia... Kita nggak bisa ganggu dia lagi..." Malam itu, di rumah tua yang gelap dan akan segera hilang itu, Angga memeluk kedua orang tuanya. Mereka bertiga mena
"Saya mau bilang..." Danan menelan ludah. "Saya bersedia menunggu.""Menunggu?""Menunggu sampai masa iddah Ibu selesai. Menunggu sampai hati Ibu sembuh. Menunggu sampai Ibu siap membuka pintu lagi."Danan meletakkan sebuah kotak kecil di meja. Bukan cincin. Tapi sebuah gantungan kunci berbentuk boneka beruang tentara yang lucu."Saya nggak berani kasih cincin sekarang. Nanti jadi fitnah. Ini... buat gantungan kunci motor Ibu aja dulu. Sebagai tanda.""Tanda apa?""Tanda bahwa ada satu prajurit yang sedang berjaga di pos hati Ibu, memastikan nggak ada musuh yang masuk lagi."Santi menatap gantungan kunci itu, lalu menatap Danan. Matanya berkaca-kaca.Ini bukan lamaran romantis ala drama Korea dengan bunga dan lilin. Ini lamaran ala Danan. Kaku, jujur, dan apa adanya."Mas Danan tau kan saya janda? Saya pernah hamil dan keguguran. Saya punya masa lalu yang rumit.""Saya tahu. Dan itu nggak mengurangi hormat saya sedikitpun sama Ibu. Justru menambah kagum saya. Ibu wanita kuat. Dan tent
25 "Dengar baik-baik. Tiga bulan lalu, wanita ini pingsan di pinggir jalan karena stres mikirin Anda. Sebulan lalu, dia berjuang sendirian di meja operasi. Di mana Anda? Anda sibuk jadi 'suami siaga' buat wanita lain. Sekarang Anda datang mau merusak hidup dia lagi? Langkahi dulu mayat saya."Danan mendorong Angga pelan—tapi bertenaga—hingga Angga terhuyung mundur beberapa langkah."Pergi. Sebelum saya panggil Provost atau Polisi militer karena mengganggu ketertiban umum."Angga memegangi tangannya yang ngilu. Ia melihat sekeliling. Murid-murid SD menonton dari jendela kelas. Guru-guru berbisik. Hesti menatapnya dengan benci. Santi menatapnya dengan dingin. Dan Danan menatapnya seperti predator menatap mangsa.Angga kalah. Total.Ia mengambil tas ranselnya yang jatuh di aspal."Oke... Oke..." Angga mundur, napasnya memburu. Ia menatap Santi untuk terakhir kali hari itu. "Kamu bakal nyesel, San. Tentara ini nggak bakal setia. Laki-laki sama aja.""Setidaknya di
24 Angga masih bengong. Mulutnya terbuka sedikit. "Dek... Perut kamu...""Kenapa perutku?""Kok... kok kempes?" Angga tergagap, wajahnya pucat. "Ini baru bulan kelima kan? Harusnya... harusnya udah kelihatan buncit. Mana anak kita?"Santi tersenyum miring. "Anak kita?""Iya! Anak aku! Kamu... kamu ngelahirin prematur? Atau..." Wajah Angga berubah horor. "Kamu gugurin?!""Jaga mulutmu, Mas," desis Santi tajam. "Ini lingkungan sekolah. Banyak anak kecil.""Jawab aku, Santi!" Angga maju selangkah, mencoba meraih bahu Santi. "Mana anak itu?! Kenapa badanmu kurus gini?!"Santi mundur selangkah, menghindari sentuhan Angga dengan gerakan jijik."Kamu peduli apa? Bukannya kamu sibuk ngurusin *Prince* Rayyan, pewaris tahta kerajaan Ambar?""Jangan alihkan pembicaraan!" Angga berteriak. Beberapa wali murid yang sedang menunggu jemputan mulai menoleh. "Aku jauh-jauh ke sini, kabur dari rumah, jual jam tangan cuma buat ongkos bus demi liat kamu dan calon anak kita! Aku bawa susu
"Cukup!" Angga berteriak. Suaranya pecah. "Cukup, Mbar! Kamu menghina aku boleh, tapi jangan bapakku! Aku nggak nyuri! Periksa badanku! Periksa rumah ini! Silakan!"Ambar memberi isyarat pada dua sekuriti itu. "Geledah rumah ini.""Mbar, ini rumah orang tua aku! Nggak sopan!" Angga mencoba menghalangi."Minggir!"Dua sekuriti itu masuk, mengaduk-aduk ruang tamu, masuk ke kamar Bu Ratih yang sedang sakit. Bu Ratih menjerit ketakutan melihat orang asing masuk."Jangan! Tolong! Rampok!" teriak Bu Ratih.Angga berlari memeluk ibunya. "Jangan sentuh Ibu saya!"Sepuluh menit kemudian, sekuriti keluar dengan tangan kosong."Nihil, Bu. Nggak ada barang bukti."Ambar mendengus kesal. Ia tidak minta maaf. Ia hanya menatap Angga dengan jijik."Oke, mungkin kali ini kamu lolos. Atau kamu udah jual ke penadah. Awas ya Angga, kalau ketahuan. Mulai malam ini, kamu jangan injak rumah aku dulu sampai kamu ngaku! Tidur sini aja sama ibumu yang penyakitan itu!"Ambar berbalik, masuk ke mobil mewahnya, d
*"Bapakmu udah tua... encoknya kumat kalau bopong Ibu. San... kamu ke sini ya? Nduk? Ibu kangen kamu... Ibu nyesel... Sumpah Ibu nyesel nyuruh Angga nikah sama perempuan gila itu... Kamu yang terbaik, San. Kamu mantu Ibu dunia akhirat... Balik ya, Nduk? Tolong pijitin Ibu..."* Permintaan itu. *Balik ya, Nduk?* Santi menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kebebasan Wonosari. "Bu," potong Santi tegas. "Maaf. Saya tidak bisa." *"Kenapa, San? Kamu masih marah? Ibu minta maaf... Ibu sujud di kaki kamu nanti kalau Ibu sembuh..."* "Bukan soal marah, Bu. Tapi saya sudah bukan siapa-siapa Ibu lagi. Secara agama, saya dan Angga sudah selesai. Saya orang asing." *"Tapi kamu masih hamil cucu Ibu kan? Demi anak dalam perutmu, San..."* Santi tersenyum miris. Kartu as itu lagi. Cucu. "Anak itu..." Santi berhenti sejenak. Ingin rasanya ia berteriak bahwa cucu yang dibanggakan itu sudah mati karena keserakahan neneknya. Tapi Santi menahannya. Itu terlalu mudah. "Bu,
Malam harinya.Santi sudah siuman dan berada di rumah. Tadi ia di tolong oleh ibu -ibu pemilik warung di dekat klinik yang berbaik hati mengantarnya pulang naik becak. Hesti menelepon berkali- kali, tapi Santi tidak mengangkat. Ia takut pertahanannya jebol.Santi duduk di depan laptop tuanya. Satu-
"Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!""Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut.""Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabaran
"Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan."Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamu
Santi merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan."Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih."Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mul







