登入Pukul 09.47 pagi. Dapur Gizi RS Kasih Bunda sedang berada pada puncak kesibukan. Azalea dan dua pegawai kantin bekerja cepat mengemas 300 botol *Sambal Bawang Bunda*. Pesanan dari tiga katering besar dan satu supermarket lokal. Total omzet hari ini: sembilan juta lima ratus ribu rupiah.
Entah bagaimana caranya Arsen membuat pesanan sambal ini begitu banyak. Ya, mungkin karena koneksi dari rumah sakitnya juga. Azalea sangat berterima kasih atas bantuan Arsen. Ia malah jadi lebih semanga
Azalea mencoba tetap tenang. Ia merasa nada bicara orang yang di telepon itu ... mirip Bara sewaktu marah atau mengintimidasi orang. “Maaf, Pak. SOP kami begitu. Karena bahan baku mahal, tenaga banyak. Kalau Bapak tidak berkenan, tidak apa-apa.”“Ya sudah. Batal. Dasar UKM mental kere. Pantes cuma laku di kantin.”Tut.Telepon dimatikan.Azalea lemas. 25 juta. Hilang. Tapi...Arsen langsung rebut ponsel. “Nomor private. Gaya bicara nuntut, ngatain ‘UKM mental kere’, nyindir ‘laku di kantin’. Zel... ini jebakan. Jangan-jangan Bara atau kroninya yang mau menyusahkan kamu.”“Gila sih. Mereka sampai segininya mau nyusahin aku?” Azalea kesal."Ya sudah diamkan saja."Ya sudah, mereka sibuk bekerja lagi saja tanpa peduli dengan telepon tidak jelas. Order fiktif tidak penting.Azalea menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak mau kena scam yang akhirnya malah menghancurkan bisnisnya.*Sejak video CCTV sid
Keyna muncul dari kamar, sengaja pakai daster tipis, perut 4 bulan sengaja ditonjolkan. Dia duduk di pangkuan Bara, meluk leher Bara manja. “Sudah, Mas... jangan emosi. Kasihan bayinya... denger Papanya marah-marah terus. Gak baik juga untuk kesehatan kita semua kalau marah sama orang seperti itu.”Bara langsung melunak. Dia mengelus perut Keyna. Tapi matanya tetap ke iPad. “Lihat ini, Key! Perempuan mandul itu sekarang dielukan! Dia dibilang ‘wanita kuat’! Gila! Padahal dia cuma tukang sambal! Jualan di kantin rumah sakit saja!”Keyna pura-pura sedih, lalu berbisik penuh racun: “Iya, Mas... padahal dia yang salah. Dia yang mandul. Dia yang gak bisa kasih Mas anak. Sekarang dia jualan cerita sedih biar orang kasihan. Biar Mas jatuh. Dia iri, Mas... iri karena Keyna bisa hamil. Iri karena Mas sekarang sayang sama Keyna, bukan sama dia. Dia mau hancurin kita, Mas. Mau bikin anak kita stres. Dia memang buat sambal yang bikin orang sakit perut. Sambal isi sampah!”J
"Iya," jawab Azalea enteng. "Biar Mas bebas nikahi Keyna. Biar sah anak di perutnya. Biar Mas tidak zina. Aku yang urus. Gratis. Sebagai hadiah perpisahan."Bu Ratna melotot. "Kurang ajar! Kamu permalukan anakku! Cerai itu aib!""Aib?" Azalea menoleh ke Bu Ratna. "Yang aib itu selingkuh, Bu. Yang aib itu hamil di luar nikah. Yang aib itu mertua yang nutupin. Cerai karena diselingkuhi itu bukan aib. Itu pembebasan."Dr. Lestari berdeham. "Sudah jelas ya, Pak Bara. Ibu Azalea tidak menerima permintaan maaf Bapak. Dan perihal hukum, RS Kasih Bunda tetap lanjut. Karena yang Bapak serang adalah institusi kami. Silakan Bapak urus dengan legal kami."Bara lemas. Lututnya gemetar. Dia kalah. Di depan Keyna. Di depan ibunya. Di depan perempuan yang dia sebut "mandul".Dia menatap Azalea terakhir kali. Berharap ada sisa cinta. Yang dia lihat hanya kosong. Dan kosong itu lebih menyakitkan dari tamparan."Pak Junaidi," panggil Dr. Lestari. "Bapak ikut s
Arsen maju, berdiri di samping Azalea. "Pak Junaidi, aku rasa Bapak salah tangkap. Yang harusnya Bapak segel bukan dapur kami. Tetapi mulut mereka."Pak Junaidi langsung balik badan. "Ma... maaf... ada salah paham... kami permisi...""LAPORAN KAMI CABUT!" teriak Bara panik. "INI SALAH PAHAM! ISTRIKU SEDANG HAMIL! DIA LAGI SENSITIF!"Dr. Lestari senyum tipis. "Terlambat, Pak Bara. Percakapan Bapak akan kami serahkan ke polisi. Pencemaran nama baik, dan laporan palsu. Pasal berlapis. Silakan Bapak jelaskan sendiri ke penyidik."Kaki Bara lemas. Dia kalah. Di depan Keyna. Di depan ibunya. Di depan perempuan yang dia sebut mandul.Azalea menatap Bara terakhir kali. Tidak ada senyum. Tidak ada kasihan. Hanya ada satu kalimat."Bapak Bara, selamat ya... sebentar lagi kamu akan jadi Bapak. Aku doakan anaknya sehat. Biar kamu tahu rasanya jadi orang tua. Dan biar kamu tahu... melahirkan anak itu mudah. Yang susah itu... melahirkan harga diri dan kes
Bu Ratna segera berdiri, sudah tidak meringis. "Siapa bilang aku berbohong?! Aku yang sakit! Tapi aku tidak mau ke RS ini! RS ini kan sekongkol sama dia! Dokter ini kan pacar barunya Azalea!"Permainan sudah terbaca. Mana mungkin juga Bu Ratna dan Keyna mau diperiksa. Makan sambal buatan Azalea saja tidak."Kalau begitu ke RS lain, Bu," tantang Azalea. "RS mana saja. Aku bayarin. Asal hasilnya dibuka di depan wartawan ini. Biar adil."Keyna semakin pucat. Dia remas lengan Bara. "Mas... aku... aku takut jarum... aku tidak mau diambil darah... nanti bayiku...""Lihat kan, Pak?" Bara pasang badan. "Istrku trauma! Kalian mau paksa ibu hamil? Kalian tidak punya hati! Sudah jelas mereka korban! Mandul itu memang penyakit hati, Pak! Hatinya busuk, makanya mau bunuh orang!""PAK BARA!" Arsen sudah tidak tahan. "CUKUP MENGHINA DIA MANDUL! KAMU TIDAK TAHU APA-APA!""AKU TAHU!" Bara berteriak, lalu merangkul Keyna lagi. "Yang aku tahu, dia gagal!
Tiba-tiba saja Bu Ratna semakin menjadi. Dia duduk di lantai, meratap. "Aduh... perutku... panas... kayak dibakar... Ya Allah... anakku... cucuku... tolong panggil ambulans... aku mau mati diracun perempuan mandul!"Pak Junaidi yang dari tadi diam, sekarang mencatat cepat. "Begitu ya. Ada korban. Ada ibu hamil. Ini sudah masuk pidana berat. Pasal 204 KUHP. Penjara lima belas tahun."Arsen tidak tahan. "Pak, ini fitnah! Mereka tidak ada bukti medis! Mana hasil laboratorium? Mana bukti mereka makan sambal Bu Azalea? Bisa saja mereka sakit perut karena makan yang lain!""DIAM KAMU, DOKTER PANTI!" Bara membentak Arsen dan kemudian, matanya mengarah ke Azalea. "Kamu itu sudah gagal jadi istri! Gagal kasih aku anak! Sekarang kamu mau gagalkan aku jadi bapak?! Kamu iri ya sama Keyna?! Iri karena dia subur?! Iri karena dia bisa hamil anakku?! Makanya kamu mau racunin dia?!"Azalea menggigit bibir hingga berdarah. Dia ingin berteriak bahwa dia tidak mandul. Bahwa
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







