LOGINAzalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai.
Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante. Jangan gitu. Kasihan Kak Azalea. Mungkin Kakak cuma mau ambil kenangan... Aku ngerti kok rasanya kehilangan... Apalagi Kakak belum pernah ngerasain ada nyawa di perut Kakak."
Karena Bara tidak bergerak, Bu Ratna kehilangan kesabaran. Dengan kasar, dia menarik tas ransel dari tangan Azalea dan membaliknya.
*Bruk!*Seluruh isi tas itu tumpah ke lantai. Beberapa potong baju. Satu Al-Qur’an kecil pemberian almarhumah ibunya. Satu botol parfum yang isinya tinggal setengah. Satu kotak berisi surat-surat lama dari Panti Asuhan Kasih Bunda dan juga buku catatan milik Azalea.
Tidak ada emas. Tidak ada uang. Tidak ada barang berharga.
Bu Ratna mengaduk-aduk baju itu dengan ujung kakinya. Dia membuka kotak surat, membaca cepat surat dari Bu Ida, kepala panti, lalu membantingnya kembali ke lantai. "Sampah semua! Gak ada gunanya! Pantesan gak bisa ngasih cucu, hidupnya aja isinya sampah kenangan! Beda sama Keyna. Dia bawa berkah. Bawa cucu buat aku."Keyna ikut berjongkok, pura-pura membantu merapikan, padahal matanya meneliti setiap barang yang dibawa oleh Azalea.
Bara hanya berdiri di ambang pintu. Dia melihat Al-Qur’an kecil milik Azalea tergeletak di lantai, diinjak tidak sengaja oleh Bu Ratna. Dia melihat buku resep sambal warisan ibu Azalea yang dia tahu sangat Azalea jaga, kini lecek di lantai. Dia ingat, dulu setiap kali dia sakit, Azalea selalu memasakkan nasi hangat dengan sambal itu. Sambal yang membuat nafsu makannya kembali. Sambal yang selalu dia bilang, "Ini satu-satunya sambal yang bikin aku kangen rumah."
Tapi dia tidak melakukan apa pun. Dia tidak melarang ibunya. Dia tidak membela mantan istrinya. Harga dirinya sebagai laki-laki yang baru menikah lagi dan akan segera punya anak lebih penting.
Azalea berjongkok perlahan. Dengan tangan yang bergetar, dia memungut Al-Qur’an itu terlebih dahulu. Dia kecup, lalu dia dekap di dada. Setelah itu, dia memungut resep sambal ibunya. Dia bersihkan dari debu dengan ujung dasternya. Tangannya mengusap tulisan tangan ibunya yang berbunyi: *“Resep Sambal Bawang Bunda. Untuk anakku, Azalea. Kalau rindu Ibu, masak ini. Kalau hati sakit, masak ini. Kalau mau bangkit, mulai dari ini.”*
Untuk barang lain, dia biarkan. Dia tidak peduli. Daster-daster itu bisa dia beli lagi. Tapi harga diri yang tadi diinjak, tidak bisa dibeli dengan uang.
Dia menatap Bu Ratna tepat di mata. Suaranya datar, tapi setiap katanya menusuk.
"Sudah puas, Bu? Sudah puas menggeledah perempuan yang Ibu sebut mandul? Sudah puas memastikan aku pergi tanpa membawa apa pun dari rumah anak Ibu? Aku datang ke rumah ini tiga tahun lalu tidak membawa harta, Bu. Aku hanya membawa nama baik dan hati yang tulus. Hari ini aku pergi juga tidak membawa harta. Tapi aku bawa satu hal yang tidak akan pernah Ibu miliki: harga diri. Dan satu lagi, Bu. Soal anak... kita lihat saja nanti siapa yang benar-benar bisa kasih keturunan yang berkah."
Bu Ratna terdiam, wajahnya memerah menahan amarah. "Kurang ajar! Kamu ngedoain cucu saya? Kamu ngelawan saya? Di rumah anak saya?"
"Aku tidak ngedoain yang buruk, Bu. Aku cuma bilang, kita lihat saja. Allah tidak tidur." Azalea memasukkan kembali Al-Qur’an dan resep sambal ke dalam tas ranselnya yang kini kosong. "Oh ya, Bu. Mukena putihku di lemari aku ikhlaskan. Anggap saja sedekahku untuk istri baru anak Ibu. Siapa tahu dengan mukena itu, dia jadi tahu cara sujud yang benar. Bukan cuma tahu cara merebut suami orang dan ngaku-ngaku hamil anak orang."
Kalimat itu membuat Bu Ratna melotot. Keyna yang tadinya menunduk langsung mendongak dengan wajah pucat. "Kak! Jaga mulut kamu! Aku ini lagi hamil! Anaknya Mas Bara!"
Bara akhirnya menoleh, menatap Azalea dengan tatapan kaget dan marah. "Zel! Cukup! Jangan fitnah Keyna. Dia itu hamil anakku. Hasil USG-nya ada di aku. Jangan karena kamu sakit hati, kamu jadi nuduh sembarangan!"
Azalea tertawa kecil. Tawa yang pahit. "Aku nuduh? Aku cuma bilang kita lihat saja, Mas. Kalau memang anak kamu, ya alhamdulillah. Aku ikut senang. Tapi kalau ternyata... ah, sudahlah. Gak penting."
Azalea berdiri. Dia menatap Bara terakhir kali. "Tolong jaga rumah ini baik-baik, Mas. Dulu aku yang bersihkan setiap hari. Dulu aku yang pastikan kamu makan teratur. Dulu aku yang pijitin kaki kamu kalau kecapekan. Sekarang tugas itu bukan tugasku lagi. Dan satu lagi, Mas. Kalau nanti kamu kangen masakanku, ingat-ingat aja tamparan kamu tadi di masjid. Karena cuma itu yang tersisa dari aku untuk kamu."
Setelah berkata demikian, Azalea melangkah keluar dari kamar. Dia menuruni tangga satu per satu. Di ruang tamu, dia berhenti sebentar di depan dinding bekas foto pernikahannya. Dia tempelkan telapak tangannya di tembok yang dingin itu, lalu berbisik, "Aku pamit. Terima kasih untuk tiga tahun pelajarannya. Pelajaran tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang bagaimana rasanya dikhianati keluarga sendiri."
Dia keluar dari rumah itu. Dia tidak menoleh ke belakang lagi.
Di teras, dia berhenti sejenak. Dia keluarkan telepon genggamnya. Ada 27 panggilan tidak terjawab dari nomor yang dia simpan dengan nama "Mas Arsen Dokter Panti".
Ada juga pesan singkat: *Zel, kamu di mana? Ibu Panti telepon saya. Katanya kamu ditalak di masjid. Kamu gak apa-apa? Jawab, Zel. Aku jemput sekarang. Kamu gak sendirian.*
Azalea pun membalas pesan itu. *Mas Arsen, dapur RS yang dulu Mas tawarin buat aku masih kosong? Aku mau sewa. Aku mau mulai hidup baru. Tapi aku gak punya uang. Bisa bayar pakai hasil jualan dulu?*
Satu detik kemudian, balasan masuk.
*Selalu kosong buat kamu, Zel. Kapan pun kamu siap. Gak usah bayar sewa. Anggap aja aku investasi ke calon pengusaha sukses. Kamu kuat, Zel. Aku percaya sama kamu. Lokasi aku share. Aku tunggu di sana. Jangan pergi ke mana-mana sendirian.*
Azalea mematikan telepon genggamnya. Dia menatap rumah itu untuk terakhir kali. Di jendela lantai dua, dia melihat siluet Bara berdiri memandangnya. Di sampingnya, Keyna merangkul lengan Bara dengan posesif sambil mengelus perutnya. Bu Ratna berdiri di belakang mereka, tersenyum puas.
Tapi Azalea tidak melambai. Dia tidak menangis. Dia hanya membalikkan badan dan berjalan menuju mobilnya. Mobil hasil jerih payah Azalea sendiri. Bukan dari Bara.
Di kaca spion, dia melihat Bu Ratna meludah ke lantai bekas dia berdiri. Dia mendengar samar suara Bu Ratna teriak, "Mampus! Rasain! Perempuan mandul gak tau diri! Memang sudah seharusnya kamu pergi dan diceraikan oleh anakku! Lihat saja kamu tuh, tanpa anakku, kamu bisa apa? HAH! Miskin? Jual diri? Jadi pelac*r? Dasar mandul!"
Jam 17.30. Langit Puncak sudah hampir gelap, kabut turun begitu tebal sampai jarak 5 meter pun tidak terlihat.Sekarang Arsen dan para polisi sudah ketemu petunjuk. Seorang petani kebun teh yang pulang dari ladang melihat Avanza hitam masuk ke jalur Villa Bukit Teh Asri siang tadi. Ia ingat karena mobil itu hampir menabrak gerobak tehnya.Tanpa menunggu, Arsen dan 6 anggota polisi dengan 2 mobil patroli tanpa sirine langsung menggerebek villa tempat Bara berada.Arsen yang pertama kali turun, berlari dengan napas terengah-engah, sepatunya penuh lumpur.“AZALEA! ZEL! KAMU DI DALAM?” teriaknya sambil menggedor pintu kayu villa yang pertama.DOR! DOR!Polisi mendobrak pintu.Kosong. Hanya ada kasur berdebu dan sarang laba-laba.Villa kedua, didobrak lagi. Kosong.Villa ketiga, keempat, kelima. Semua kosong.Sampai di villa keenam, villa kayu yang paling ujung, yang paling terisolir, yang pintunya digembok da
Azalea menarik napas.“Syarat pertama, ketemu dengan Bu Ratna dan minta restu dari Bu Ratna. Tanpa restu Ibu aku, aku tidak akan pernah menikah lagi sama kamu.”Bara mengernyit.“Syarat kedua,” lanjut Azalea cepat, tidak memberi Bara waktu menolak, “Aku harus bicara dulu sama Mas Arsen, untuk mengakhiri rencana pernikahan kami secara baik-baik. Aku tidak mau jadi perempuan yang jahat, Bara. Aku tidak mau tiba-tiba hilang dan ninggalin Mas Arsen tanpa penjelasan. Aku mau ketemu Mas Arsen, aku mau jelasin kalau aku memilih kamu, supaya Mas Arsen tidak menunggu aku. Itu adab, Bara. Aku mau putus baik-baik sama Mas Arsen.”Ini jebakan. Azalea tahu, kalau ia bisa bertemu Arsen, ia selamat. Tapi Bara tidak bodoh.“Syarat ketiga, Bara harus ke psikolog buat cek kesehatan jiwa. Aku takut, Bara. Cara kamu culik aku hari ini, cara kamu bius aku, itu tidak normal. Aku takut kamu sakit, Bara. Kalau kamu sayang ak
Bara semakin panik. Ia mengunci pintu villa dari dalam, mengunci jendela.“Zel, kita harus cepat nikah. Sekarang. Tidak perlu penghulu. Kita nikah di depan Allah saja. Kamu bilang iya saja, Zel.”Ia memaksa duduk di samping Azalea, mengambil tangan Azalea yang masih lemas.Azalea meronta sekuat tenaga yang tersisa, “Tidak! Tidak mau!”Di Pos Polisi Ciawi, jam 16.02.Seorang anggota polisi berlari masuk dengan napas terengah-engah, membawa laptop.“Pak! Dok! Ada petunjuk baru!”Arsen langsung melompat berdiri.“Apa? Apa?”“Pemilik warung di dekat pom bensin Ciawi ingat Avanza hitam itu, Dok! Dia bilang, pengemudinya beli rokok dan tanya jalan ke Villa Bukit Teh Asri! Itu komplek villa lama yang sudah banyak kosong, Pak! Di dalam kebun teh!”Villa Bukit Teh Asri. Arsen ingat! Azalea pernah cerita, Bara pernah bawa Azalea ke sana dulu, untuk merayakan annive
Jam menunjukkan pukul 15.47. Sudah hampir lima jam Azalea hilang.Di Pos Polisi Ciawi, suasana seperti medan perang.Arsen tidak lagi terlihat seperti seorang dokter yang tenang dan tampan. Rambutnya berantakan karena terus dijambak-jambak sendiri. Matanya merah, bukan karena mengantuk, tapi karena amarah, takut, dan rasa bersalah yang menggerogoti setiap detiknya.“Bagaimana, Pak? Ada titik terang?” tanya Arsen untuk kesekian kalinya, suaranya serak karena terlalu banyak berteriak di telepon.Kapolsek menggeleng, wajahnya juga tegang. Di depan mereka, peta besar jalur Jakarta-Puncak-Cianjur terbentang, penuh dengan tanda spidol merah.“Arsen dengan bantuan polisi, mencari jejak dimana Bara membawa Azalea. Tapi sulit, Dok. Sulit sekali,” kata Kapolsek jujur. “Plat nomor Avanza hitam itu palsu. Kita sudah cek 17 CCTV dari Pasar Rebo sampai Gadog. Mobil itu sempat terekam di CCTV pom bensin Ciawi jam 12.33, mengisi bensi
Jam 12.15 siang. Gang rumah produksi Azalea sudah dipenuhi polisi.Garis polisi kuning sudah dipasang seadanya. Motor matic Azalea yang jatuh masih tergeletak di aspal, helm putihnya sudah diambil sebagai barang bukti, dimasukkan ke plastik bening. Mbak Siti, Mbak Yuni, dan Lilis menangis histeris di dalam rumah produksi, dipeluk Bu Lily yang baru datang dengan napas terengah-engah.Arsen berdiri di tengah gang, masih memakai baju operasi biru yang basah oleh keringat, tidak peduli tatapan warga yang berkumpul. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras, tangannya mengepal sampai kuku menancap ke daging.Entah Bara atau siapapun yang culik, Arsen masih belum jelas. Secara hati, ia yakin itu Bara. Secara logika, ia tidak mau menuduh tanpa bukti. Karena kalau salah orang, Azalea bisa dalam bahaya lebih lama.“Kita mulai pencarian Azalea sekarang,” kata Kapolsek yang datang langsung, seorang pria paruh baya yang kenal baik dengan keluarga Arsen. “D
“DOOOKTEER! DOKTER ARSEN! BU AZALEA HILANG, DOK! MOTORNYA JATUH DI GANG! HELMNYA DI TANAH! TADI ADA MOBIL HITAM, DOK! KATANYA TETANGGA LIHAT BU AZALEA DISERET MASUK MOBIL!”Darah Arsen langsung surut. Ponselnya hampir jatuh.“Apa? Mobil hitam? Kapan? Jam berapa?”“BARU SAJA, DOK! SEPULUH MENIT YANG LALU! KAMI TAKUT DOK! KAMI TAKUT, DOK!”Tanpa melepas baju operasinya, Arsen langsung lari keluar IGD, berteriak ke perawat,“Siapkan mobil saya! Cepat! Hubungi Polsek! Bilang ada penculikan!”Ia masuk ke mobilnya, menancap gas dengan kecepatan penuh menuju rumah produksi, sambil menelepon Bu Lily dengan suara yang belum pernah Bu Lily dengar, suara panik, marah, dan ketakutan bercampur jadi satu.“Bu, Azalea diculik! Azalea mungkin diculik sama Bara!”Pria itu benar-benar panik. Ia harus segera menemukan calon istrinya itu sebelum Bara atau siapapun berbuat sesuatu yang jahat kepada wani
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun."Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"Bu Ratna. Ibu mertu
Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb







