Accueil / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Mas! / 4 - Digeledah Ibu Mertua

Partager

4 - Digeledah Ibu Mertua

Auteur: Siez
last update Date de publication: 2026-06-02 14:40:38

Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. 

Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante. Jangan gitu. Kasihan Kak Azalea. Mungkin Kakak cuma mau ambil kenangan... Aku ngerti kok rasanya kehilangan... Apalagi Kakak belum pernah ngerasain ada nyawa di perut Kakak."

Karena Bara tidak bergerak, Bu Ratna kehilangan kesabaran. Dengan kasar, dia menarik tas ransel dari tangan Azalea dan membaliknya.

*Bruk!*

Seluruh isi tas itu tumpah ke lantai. Beberapa potong baju. Satu Al-Qur’an kecil pemberian almarhumah ibunya. Satu botol parfum yang isinya tinggal setengah. Satu kotak berisi surat-surat lama dari Panti Asuhan Kasih Bunda dan juga buku catatan milik Azalea.

Tidak ada emas. Tidak ada uang. Tidak ada barang berharga.

Bu Ratna mengaduk-aduk baju itu dengan ujung kakinya. Dia membuka kotak surat, membaca cepat surat dari Bu Ida, kepala panti, lalu membantingnya kembali ke lantai. "Sampah semua! Gak ada gunanya! Pantesan gak bisa ngasih cucu, hidupnya aja isinya sampah kenangan! Beda sama Keyna. Dia bawa berkah. Bawa cucu buat aku."

Keyna ikut berjongkok, pura-pura membantu merapikan, padahal matanya meneliti setiap barang yang dibawa oleh Azalea. 

Bara hanya berdiri di ambang pintu. Dia melihat Al-Qur’an kecil milik Azalea tergeletak di lantai, diinjak tidak sengaja oleh Bu Ratna. Dia melihat buku resep sambal warisan ibu Azalea yang dia tahu sangat Azalea jaga, kini lecek di lantai. Dia ingat, dulu setiap kali dia sakit, Azalea selalu memasakkan nasi hangat dengan sambal itu. Sambal yang membuat nafsu makannya kembali. Sambal yang selalu dia bilang, "Ini satu-satunya sambal yang bikin aku kangen rumah."

Tapi dia tidak melakukan apa pun. Dia tidak melarang ibunya. Dia tidak membela mantan istrinya. Harga dirinya sebagai laki-laki yang baru menikah lagi dan akan segera punya anak lebih penting.

Azalea berjongkok perlahan. Dengan tangan yang bergetar, dia memungut Al-Qur’an itu terlebih dahulu. Dia kecup, lalu dia dekap di dada. Setelah itu, dia memungut resep sambal ibunya. Dia bersihkan dari debu dengan ujung dasternya. Tangannya mengusap tulisan tangan ibunya yang berbunyi: *“Resep Sambal Bawang Bunda. Untuk anakku, Azalea. Kalau rindu Ibu, masak ini. Kalau hati sakit, masak ini. Kalau mau bangkit, mulai dari ini.”*

Untuk barang lain, dia biarkan. Dia tidak peduli. Daster-daster itu bisa dia beli lagi. Tapi harga diri yang tadi diinjak, tidak bisa dibeli dengan uang.

Dia menatap Bu Ratna tepat di mata. Suaranya datar, tapi setiap katanya menusuk.

"Sudah puas, Bu? Sudah puas menggeledah perempuan yang Ibu sebut mandul? Sudah puas memastikan aku pergi tanpa membawa apa pun dari rumah anak Ibu? Aku datang ke rumah ini tiga tahun lalu tidak membawa harta, Bu. Aku hanya membawa nama baik dan hati yang tulus. Hari ini aku pergi juga tidak membawa harta. Tapi aku bawa satu hal yang tidak akan pernah Ibu miliki: harga diri. Dan satu lagi, Bu. Soal anak... kita lihat saja nanti siapa yang benar-benar bisa kasih keturunan yang berkah."

Bu Ratna terdiam, wajahnya memerah menahan amarah. "Kurang ajar! Kamu ngedoain cucu saya? Kamu ngelawan saya? Di rumah anak saya?"

"Aku tidak ngedoain yang buruk, Bu. Aku cuma bilang, kita lihat saja. Allah tidak tidur." Azalea memasukkan kembali Al-Qur’an dan resep sambal ke dalam tas ranselnya yang kini kosong. "Oh ya, Bu. Mukena putihku di lemari aku ikhlaskan. Anggap saja sedekahku untuk istri baru anak Ibu. Siapa tahu dengan mukena itu, dia jadi tahu cara sujud yang benar. Bukan cuma tahu cara merebut suami orang dan ngaku-ngaku hamil anak orang."

Kalimat itu membuat Bu Ratna melotot. Keyna yang tadinya menunduk langsung mendongak dengan wajah pucat. "Kak! Jaga mulut kamu! Aku ini lagi hamil! Anaknya Mas Bara!"

Bara akhirnya menoleh, menatap Azalea dengan tatapan kaget dan marah. "Zel! Cukup! Jangan fitnah Keyna. Dia itu hamil anakku. Hasil USG-nya ada di aku. Jangan karena kamu sakit hati, kamu jadi nuduh sembarangan!"

Azalea tertawa kecil. Tawa yang pahit. "Aku nuduh? Aku cuma bilang kita lihat saja, Mas. Kalau memang anak kamu, ya alhamdulillah. Aku ikut senang. Tapi kalau ternyata... ah, sudahlah. Gak penting."

Azalea berdiri. Dia menatap Bara terakhir kali. "Tolong jaga rumah ini baik-baik, Mas. Dulu aku yang bersihkan setiap hari. Dulu aku yang pastikan kamu makan teratur. Dulu aku yang pijitin kaki kamu kalau kecapekan. Sekarang tugas itu bukan tugasku lagi. Dan satu lagi, Mas. Kalau nanti kamu kangen masakanku, ingat-ingat aja tamparan kamu tadi di masjid. Karena cuma itu yang tersisa dari aku untuk kamu."

Setelah berkata demikian, Azalea melangkah keluar dari kamar. Dia menuruni tangga satu per satu. Di ruang tamu, dia berhenti sebentar di depan dinding bekas foto pernikahannya. Dia tempelkan telapak tangannya di tembok yang dingin itu, lalu berbisik, "Aku pamit. Terima kasih untuk tiga tahun pelajarannya. Pelajaran tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang bagaimana rasanya dikhianati keluarga sendiri."

Dia keluar dari rumah itu. Dia tidak menoleh ke belakang lagi.

Di teras, dia berhenti sejenak. Dia keluarkan telepon genggamnya. Ada 27 panggilan tidak terjawab dari nomor yang dia simpan dengan nama "Mas Arsen Dokter Panti".

Ada juga pesan singkat: *Zel, kamu di mana? Ibu Panti telepon saya. Katanya kamu ditalak di masjid. Kamu gak apa-apa? Jawab, Zel. Aku jemput sekarang. Kamu gak sendirian.*

Azalea pun membalas pesan itu. 

*Mas Arsen, dapur RS yang dulu Mas tawarin buat aku masih kosong? Aku mau sewa. Aku mau mulai hidup baru. Tapi aku gak punya uang. Bisa bayar pakai hasil jualan dulu?*

Satu detik kemudian, balasan masuk.

*Selalu kosong buat kamu, Zel. Kapan pun kamu siap. Gak usah bayar sewa. Anggap aja aku investasi ke calon pengusaha sukses. Kamu kuat, Zel. Aku percaya sama kamu. Lokasi aku share. Aku tunggu di sana. Jangan pergi ke mana-mana sendirian.*

Azalea mematikan telepon genggamnya. Dia menatap rumah itu untuk terakhir kali. Di jendela lantai dua, dia melihat siluet Bara berdiri memandangnya. Di sampingnya, Keyna merangkul lengan Bara dengan posesif sambil mengelus perutnya. Bu Ratna berdiri di belakang mereka, tersenyum puas.

Tapi Azalea tidak melambai. Dia tidak menangis. Dia hanya membalikkan badan dan berjalan menuju mobilnya. Mobil hasil jerih payah Azalea sendiri. Bukan dari Bara. 

Di kaca spion, dia melihat Bu Ratna meludah ke lantai bekas dia berdiri. Dia mendengar samar suara Bu Ratna teriak, "Mampus! Rasain! Perempuan mandul gak tau diri! Memang sudah seharusnya kamu pergi dan diceraikan oleh anakku! Lihat saja kamu tuh, tanpa anakku, kamu bisa apa? HAH! Miskin? Jual diri? Jadi pelac*r? Dasar mandul!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
Siez
pasti dong!!!
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
jgn lemah harus mengahadapi orang dzolim
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Ceraikan Aku, Mas!   23 - Boleh Aku Pinjam Uang, Key?

    Raka menggeleng pelan. Ia menutup laptopnya, seolah tidak ingin Keyna melihat angka-angka tersebut. Ia mencoba tersenyum, tetapi hasilnya hanya senyum pahit. “Bukan sakit, Key. Aku cuma... lagi banyak pikiran. Duduk dulu. Debay gimana?”Raka mencoba menenangkan pikirannya di hadapan Keyna.Keyna mengelus perutnya yang mulai membesar. “Debay sehat. Nendang terus dari tadi. Mungkin dia tahu mau ketemu Papa Raka.”Biasanya kalimat itu akan membuat Raka tertawa dan langsung berlutut untuk menyapa perut Keyna. Namun kali ini Raka hanya mengangguk. Ia menuangkan air putih ke gelas, tangannya sedikit bergetar. Tak ada ekspresi padahal Keyna sudah menyebutnya Papa Raka. Aneh bukan?Keyna tidak tahan melihatnya. Ia menggenggam tangan Raka. “Ka, cerita. Ada apa? Kamu beda. Kamu nggak pernah kayak gini di depanku. Ceritakan saja masalahmu, mungkin aku bisa bantu.”Keyna terlihat sangat tulus ingin membantu kesulitan yang dihadapi oleh Raka. Walaupun ia

  • Ceraikan Aku, Mas!   22 - Hemat Demi Anak?

    “Mas, kamu kapan pulang? Bisa tidak satu malam saja ke Jakarta?” tukas Keyna agak manja kepada Bara di telepon.Dari seberang, terdengar helaan napas Bara. Nada suaranya datar, terukur, seperti sedang menghitung rugi laba. “Sayang, Aku tidak bisa bolak-balik Semarang ke Jakarta dan sebaliknya. Tiket pesawat pulang-pergi tiga juta rupiah. Sayang uangnya. Lebih baik dana tersebut aku alihkan untuk membeli susu, vitamin, dan kebutuhan kamu serta bayi kita nanti. Aku di sini juga bekerja, bukan berlibur. Jadi, aku mohon pengertian kamu. Nanti setelah selesai proyek. Kan kamu juga yang senang.”Bara melanjutkan penjelasannya. Proyek memang berjalan lancar, tetapi pencairan dana dari pemilik proyek baru mencapai sepuluh persen. Kondisi keuangan perusahaan sedang ketat. “Aku harus hemat sekali, Sayang. Ini semua demi masa depan anak kita. Aku harus rajin mencari uang sekaligus mengencangkan ikat pinggang. Kamu mengerti, kan? Yang penting transferanku

  • Ceraikan Aku, Mas!   21 - Papa Raka

    Keyna menggeleng, senyum. “Tidak. Dia nendang. Aktif sekali hari ini. Mungkin dia dengar suara kamu.” Raka diam. Matanya berkaca-kaca. “Boleh... boleh aku denger?” Keyna ragu. Tapi di rumah, Bara bahkan tidak pernah menempelkan telinga ke perutnya. Bara hanya telepon, “Gimana debaynya? Sehat? Sudah. Titip Mama.” Bara sibuk dengan proyeknya yang besar itu. Teleponnya singkat. Chat-nya setelah malam tidak pernah dibalas karena ponsel Keyna sudah di laci Bu Ratna. Tapi Bara tidak protes. Mungkin dia tidak sadar. Yang penting bagi Bara, transferan lancar. Keyna tidak kekurangan uang. Titik. Keyna tidak lagi pusing dengan Bara. Keyna tidak peduli Bara sibuk atau tidak. Anehnya, justru saat Keyna tidak peduli, hidupnya terasa lebih ringan. Dan sekarang, di apartemen kecil ini, ada laki-laki yang bertanya, “Boleh aku denger?” dengan suara gemetar. Keyna mengangguk pelan. “Boleh.” Raka mendekat. Sangat hati-hati. Dia berlutut di depan Keyna. Tidak menyen

  • Ceraikan Aku, Mas!   20 - Manisnya Raka

    Hari-hari Keyna setelah pertemuan di Kafe Kamu tidak lagi sama. Di rumah, Bu Ratna semakin menjadi mandor.“Keyna, itu kerupuk jangan dimakan. Nanti tensimu naik.” “Keyna, jangan duduk silang kaki. Nanti anaknya sungsang.” “Keyna, bangun. Sudah siang. Ibu hamil itu harus jemur badan. Nanti anaknya kuning.”Setiap kalimat Bu Ratna seperti setrika panas yang menempel di telinga Keyna. Keyna begah. Napas pun rasanya harus izin.Satu-satunya udara segar adalah laptop Bara. Setiap sore, setelah ponselnya mati dan masuk laci Bu Ratna, Keyna membuka WA Web. Di sana, ada nama yang tidak pernah Keyna blokir lama-lama: Raka.Pesan dari Raka selalu sama. Tidak menuntut. Tidak mendesak. *Gimana hari kamu, Key? Masih disuruh-suruh? Kalau capek, cerita saja. Aku dengerin.* *Kamu sudah makan? Jangan telat. Kasihan debaynya.* *Aku lihat toko bayi lucu di pinggir jalan. Kalau kamu ma

  • Ceraikan Aku, Mas!   19 - Apakah Kamu Rindu Aku?

    “Ternyata kamu kirim voice note ke Ranita larut malam, bilang kamu merasa seperti di penjara.” lanjut Raka menjelaskan.Keyna terkejut. Ranita benar-benar cerita semua tentang kehidupan rumah tangganya bersama Bara.“Dia memang tidak bisa jaga mulut.” umpat Keyna kesal.“Bukan. Dia sayang sama kamu. Aku juga. Aku sayang kamu, Key. Sekarang... aku masih peduli. Cerita, Key. Anggap aku buku harian. Sebentar saja. Setelah itu aku menghilang lagi. Janji.”Entah kenapa, Keyna bisa mencurahkan semua isi hatinya kepada Raka.Dari Bara yang cuma bilang 'dengar kata Mama'. Mama mertuanya yang mengatur napasnya sambil nonton drakor. Takut salah. Takut tidak dianggap. Merasa sendirian padahal hamil. Keyna menangis, tapi tidak bersuara. Air mata jatuh ke dress sage.Raka tidak menyentuh Keyna, dia hanya bisa mendengarkan semua keluhan Keyna. Dia hanya menggeser tisu ke arah Keyna. Setelah Keyna diam, Raka berdir

  • Ceraikan Aku, Mas!   18 - Mantan Keyna

    “Untuk apa kamu bawa-bawa nama orang itu, Ta?” ketik Keyna cepat. “Aku sudah menikah. Suamiku Bara Adhitama. Jangan aneh-aneh.”Ranita membalas, “Lah, aku cuma menyampaikan. Dia juga tidak minta balikan. Cuma mau minta maaf. Katanya sebentar saja. Di Kafe Kamu, tempat kalian jadian dulu. Sudah, aku tidur. Pikir saja. Daripada kamu stres, kasihan bayinya. Mertuamu cerewet begitu, bisa-bisa kamu kontraksi.”Keyna menutup laptop. Dia mengelus perutnya. “Nak... kamu dengar tidak? Tante Ranita jahat, ya? Ngadu-ngadu masalah mama.”Tapi nama Raka terngiang. Raka yang dulu selalu bilang, “Kamu itu ratu, Key. Jangan menunduk.” Berbeda dengan Bara yang sekarang cuma bilang, “Dengar kata Mama.”Berbeda dengan Bu Ratna yang setiap hari bilang, “Keyna, itu kerupuk jangan dimakan! Di drakor, ibu hamil makan kerupuk, tensi langsung naik!”Esoknya, pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Foto profil: siluet laki-laki di atas gedung.No Name : Key, ini

  • Ceraikan Aku, Mas!   6 - Fitnah Bu Ratna

    "Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur

  • Ceraikan Aku, Mas!   5 - Balas Menghina Pezin*h

    Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi

  • Ceraikan Aku, Mas!   3 - Bukan Rumahku Lagi

    Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot

  • Ceraikan Aku, Mas!   1 - Ijab Kabul

    Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status