Share

10 - Bukti CCTV

Penulis: Siez
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 12:06:52

Bu Ratna segera berdiri, sudah tidak meringis. "Siapa bilang aku berbohong?! Aku yang sakit! Tapi aku tidak mau ke RS ini! RS ini kan sekongkol sama dia! Dokter ini kan pacar barunya Azalea!"

Permainan sudah terbaca. Mana mungkin juga Bu Ratna dan Keyna mau diperiksa. Makan sambal buatan Azalea saja tidak. 

"Kalau begitu ke RS lain, Bu," tantang Azalea. "RS mana saja. Aku bayarin. Asal hasilnya dibuka di depan wartawan ini. Biar adil."

Keyna semakin pucat. Dia remas

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ceraikan Aku, Mas!   26 - Cincin Kekecilan

    Jantung Keyna yang tadi sudah capek berdetak, kembali berpacu. Ia menunduk, mengatur napas, mencari alasan yang paling masuk akal. “Maaf, Ma,” jawab Keyna pelan. Suaranya dibuat lelah. “HP aku lowbat dari siang. Aku tadi ke rumah sakit buat senam hamil, Ma.Pas pulang, jalanan macet parah karena ada pohon tumbang di depan Mall Cipinang. Jadi macetnya parah banget sampai tadi baru lolos.”Bohong. Semuanya bohong. Tetapi Keyna mengatakannya dengan wajah paling memelas. Tangannya mengelus perut. “Debay juga rewel, Ma. Nonstop nendang dari tadi. Makanya aku jalan pelan-pelan.”Bu Ratna menatap Keyna dari atas sampai bawah. Tatapannya berhenti di perut Keyna yang memang sudah membesar. Lalu matanya turun ke tangan Keyna. Ke jari manis yang kosong.Dahi Bu Ratna mengernyit. “Cincin kawin kamu mana?”Mata wanita itu seolah curiga dengan cincin yang biasanya dikenakan dengan bangga oleh Keyna dan hari ini, cincin itu tak terlihat. Hanya ada bekas cincin saja di ja

  • Ceraikan Aku, Mas!   25 - Cincin Kawin Pun Diminta Raka

    Raka menghela napas. Ia menatap Keyna lekat. Matanya merah, bukan karena marah, tetapi karena putus asa.“Key, aku mohon. Sekali ini aja. Kamu apa tega lihat aku bangkrut parah? Kamu tega lihat aku jadi gelandangan? Aku nggak minta buat foya-foya. Ini buat hidup, Key. Untuk masa depan yang lebih baik.”Kalimat “masa depan” itu menohok Keyna. Masa depan siapa? Masa depan Raka sendiri, atau masa depan mereka? Keyna tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya sudah naik satu tingkat untuk Raka. Dulu hanya kangen dan butuh teman untuk curhat. Sekarang ia menjadi kasihan. Kasihan yang entahlah akan menjadi berbahaya atau tidak. Apalagi sekarang Keyna sudah menikah dengan Bara.“Aku janji, Key. Sumpah demi apa pun. Kalau uang udah kekumpul, yang pertama aku lakukan adalah nebus cincin kamu. Terus aku balikin semua uang kamu. Lima puluh juta, plus bunga kalau kamu mau.

  • Ceraikan Aku, Mas!   24 - Keyna Galau Karena Uang

    Raka menunduk.“Aku tahu, Key. Aku nggak berhak minta ke kamu. Kamu sekarang istri orang. Tapi aku bener-bener udah buntu. Aku malu, Key. Harusnya aku yang jadi sandaran kamu, malah aku yang ngerepotin.”Hening. Hanya ada suara AC yang mendengung. Keyna menatap wajah Raka yang lelah. Pria yang dulu selalu menyambutnya dengan senyum dan kalimat “Ratuku datang”, kini terlihat seperti orang yang akan tenggelam.“Key... tolong aku, Key. Pinjemin aku dulu. Berapa aja. Aku janji ganti. Aku kerja rodi juga nggak apa-apa. Asal usaha aku selamat. Itu satu-satunya yang aku punya,”mohon Raka. Matanya berkaca-kaca.“Aku nggak mau jadi pecundang di depan kamu sama debay.”Keyna menggigit bibir. Otaknya berperang. Tabungannya cuma lima puluh juta. Sisa dari transferan Bara yang ia ku

  • Ceraikan Aku, Mas!   23 - Boleh Aku Pinjam Uang, Key?

    Raka menggeleng pelan. Ia menutup laptopnya, seolah tidak ingin Keyna melihat angka-angka tersebut. Ia mencoba tersenyum, tetapi hasilnya hanya senyum pahit. “Bukan sakit, Key. Aku cuma... lagi banyak pikiran. Duduk dulu. Debay gimana?”Raka mencoba menenangkan pikirannya di hadapan Keyna.Keyna mengelus perutnya yang mulai membesar. “Debay sehat. Nendang terus dari tadi. Mungkin dia tahu mau ketemu Papa Raka.”Biasanya kalimat itu akan membuat Raka tertawa dan langsung berlutut untuk menyapa perut Keyna. Namun kali ini Raka hanya mengangguk. Ia menuangkan air putih ke gelas, tangannya sedikit bergetar. Tak ada ekspresi padahal Keyna sudah menyebutnya Papa Raka. Aneh bukan?Keyna tidak tahan melihatnya. Ia menggenggam tangan Raka. “Ka, cerita. Ada apa? Kamu beda. Kamu nggak pernah kayak gini di depanku. Ceritakan saja masalahmu, mungkin aku bisa bantu.”Keyna terlihat sangat tulus ingin membantu kesulitan yang dihadapi oleh Raka. Walaupun ia

  • Ceraikan Aku, Mas!   22 - Hemat Demi Anak?

    “Mas, kamu kapan pulang? Bisa tidak satu malam saja ke Jakarta?” tukas Keyna agak manja kepada Bara di telepon.Dari seberang, terdengar helaan napas Bara. Nada suaranya datar, terukur, seperti sedang menghitung rugi laba. “Sayang, Aku tidak bisa bolak-balik Semarang ke Jakarta dan sebaliknya. Tiket pesawat pulang-pergi tiga juta rupiah. Sayang uangnya. Lebih baik dana tersebut aku alihkan untuk membeli susu, vitamin, dan kebutuhan kamu serta bayi kita nanti. Aku di sini juga bekerja, bukan berlibur. Jadi, aku mohon pengertian kamu. Nanti setelah selesai proyek. Kan kamu juga yang senang.”Bara melanjutkan penjelasannya. Proyek memang berjalan lancar, tetapi pencairan dana dari pemilik proyek baru mencapai sepuluh persen. Kondisi keuangan perusahaan sedang ketat. “Aku harus hemat sekali, Sayang. Ini semua demi masa depan anak kita. Aku harus rajin mencari uang sekaligus mengencangkan ikat pinggang. Kamu mengerti, kan? Yang penting transferanku

  • Ceraikan Aku, Mas!   21 - Papa Raka

    Keyna menggeleng, senyum. “Tidak. Dia nendang. Aktif sekali hari ini. Mungkin dia dengar suara kamu.” Raka diam. Matanya berkaca-kaca. “Boleh... boleh aku denger?” Keyna ragu. Tapi di rumah, Bara bahkan tidak pernah menempelkan telinga ke perutnya. Bara hanya telepon, “Gimana debaynya? Sehat? Sudah. Titip Mama.” Bara sibuk dengan proyeknya yang besar itu. Teleponnya singkat. Chat-nya setelah malam tidak pernah dibalas karena ponsel Keyna sudah di laci Bu Ratna. Tapi Bara tidak protes. Mungkin dia tidak sadar. Yang penting bagi Bara, transferan lancar. Keyna tidak kekurangan uang. Titik. Keyna tidak lagi pusing dengan Bara. Keyna tidak peduli Bara sibuk atau tidak. Anehnya, justru saat Keyna tidak peduli, hidupnya terasa lebih ringan. Dan sekarang, di apartemen kecil ini, ada laki-laki yang bertanya, “Boleh aku denger?” dengan suara gemetar. Keyna mengangguk pelan. “Boleh.” Raka mendekat. Sangat hati-hati. Dia berlutut di depan Keyna. Tidak menyen

  • Ceraikan Aku, Mas!   6 - Fitnah Bu Ratna

    "Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur

  • Ceraikan Aku, Mas!   5 - Balas Menghina Pezin*h

    Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi

  • Ceraikan Aku, Mas!   4 - Digeledah Ibu Mertua

    Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante

  • Ceraikan Aku, Mas!   3 - Bukan Rumahku Lagi

    Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status