Home / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Mas! / 6 - Fitnah Bu Ratna

Share

6 - Fitnah Bu Ratna

Author: Siez
last update publish date: 2026-06-23 12:00:12

"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!"

"Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur Mas menalakku. Jika tidak, aku tidak akan mengetahui rasanya merdeka. Rasanya dihargai. Rasanya dipuji orang karena pekerjaanku, bukan karena aku adalah 'istri Bara'."

"Alah, dipuji!" Bu Ratna menyela. "Pujian dari siapa? Dokter panti ini? Paling ia memuji karena mau memanfaatkan janda. Iya kan? Kalian sudah tidur bersama, kan? Mengaku saja! Tidak usah munafik! Kalian sudah berzinah kan?"

Fitnah Bu Ratna semakin menjadi-jadi saja. 

"IBU!" Azalea dan Arsen membentak bersamaan. 

Bara bertepuk tangan pelan. "Nah, itu dia. Akhirnya terbongkar juga. Kamu pikir aku tidak tahu, Zel? Selama tiga tahun menikah, kamu dingin seperti lemari es. Di ranjang seperti mayat. Aku sentuh sedikit saja kamu bilang lelah. Banyak alasan. Tetapi dengan dia?" Bara menunjuk Arsen. "Dengan dia betah begadang di dapur tengah malam. Pasti hangat ya? Pasti tidak menolak ya?"

Dunia Azalea serasa berhenti. Bukan karena sakit hati, melainkan karena rasa jijik. Jijik hingga ke tulang. Tiga tahun ia melayani Bara. Tiga tahun ia menahan sakit saat Bara meminta dilayani padahal Azalea sedang demam setelah dipaksa Bu Ratna mengepel seluruh rumah.

Tiga tahun ia menggigit bibir saat Bara selesai dalam dua menit lalu mendengkur, meninggalkan Azalea dengan rasa hampa. Dan kini, ia dihina di depan Arsen, perihal urusan ranjang.

"Keyna itu perempuan sesungguhnya, Zel," lanjut Bara.

Ucapan pria itu semakin kejam, semakin puas melihat wajah Azalea pucat dan kesal. "Dia penurut. Dia manja. Dia pandai memanjakanku. Dia tahu bagaimana caranya membuat laki-laki betah di rumah. Malam pertama saja dia sudah dapat membuat aku lupa namamu. Lupa wajahmu. Lupa tiga tahun menyiksaku dengan tubuh kamu yang dingin. Kamu tahu rasanya? Rasanya seperti surga, Zel. Bukan seperti neraka seperti setiap malam dengan kamu. Kamu itu... kamu itu frigid, Zel. Frigid! Mana ada laki-laki yang tahan memiliki istri seperti lemari es? Pantaskan kalau aku selingkuh! Pantas kan aku mencari yang hangat!"

*PRANG!*

Azalea melempar centong kayu ke lantai. Kayunya terpental. Suaranya nyaring. Matanya menyala. Bara yang dahulu membuatnya takut, kini hanya membuatnya mual.

"Keluar." Suara Azalea rendah, tetapi seluruh dapur terasa membeku. "Aku hitung sampai tiga."

"Apa kamu bilang?" Bara menantang, maju selangkah.

"Kubilang KELUAR!!!" Azalea berteriak. Ia menunjuk pintu dapur. Tangannya gemetar, tetapi bukan karena takut. Karena murka. "Ini dapurku! Tempatku mencari nafkah! Tempatku berjuang! Bukan tempat sampah untuk kamu lontarkan hinaan! Bukan tempat untuk kamu membanding-bandingkan aku dengan pelakor yang kamu hamili! Kamu pikir aku itu masih Azalea yang menangis saat kamu tampar di masjid? Bukan, Mas Bara yang terhormat! Azalea itu sudah kamu bunuh! Yang ada di hadapanmu sekarang hanya perempuan yang muak melihat wajahmu! Muak mendengar namamu! Muak mengingat bau badanmu!"

Bara hendak mencengkeram lengan Azalea. Namun Arsen lebih cepat. Ia mendorong dada Bara kuat-kuat hingga Bara terhantuk meja. "Aku bilang jangan sentuh dia, Bara!"

"Kurang ajar kamu ya!" Bara hendak memukul Arsen.

"Cukup!" Azalea berdiri di antara mereka. Air matanya sudah kering. "Dengar, Bara Adhitama. Kamu benar. Jika aku tidak bercerai dari kamu, Aku tidak akan berjualan sambal. Kamu tahu kenapa?  Karena jika masih bersama kamu, tanganku hanya dipakai untuk mengelap muntahan kamu setiap mabuk. Mulutku hanya dipakai untuk diam saat ibumu menghina aku mandul. Hidupku hanya untuk menjadi keset. Keset yang kamu injak setiap kamu pulang dari berselingkuh!"

Azalea menarik napas dalam-dalam. "Tetapi aku bersyukur kamu menalakku. Karena tamparanmu di masjid itu yang menyadarkanku. Ternyata di luar nerakamu, aku dapat hidup. Aku dapat bernapas. Aku dapat memiliki harga diri. Dan perihal Keyna lebih hebat di ranjang..." Azalea tersenyum miring. Senyum yang membuat Bara bergidik. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
mantab azalea lwan manuasia murahn
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ceraikan Aku, Mas!   194 - The End (Garis Dua)

    2 bulan menikah.Rumah Arsen yang dulu sepi, sekarang ramai. Ada Azalea dan Ibu Lily.Azalea, yang bekas luka 8 cm di dada kirinya sudah berubah menjadi garis putih tipis yang hampir tidak terlihat, sekarang sudah kembali menjadi Bos Sambal yang galak, cerewet, tapi manja kalau di depan Arsen.Pagi itu, Azalea yang biasanya bangun jam 05.00 untuk memasak nasi goreng untuk Arsen sebelum Arsen berangkat ke rumah sakit, hari ini masih meringkuk di kamar mandi."Uek... uek..."Suara muntah.Arsen yang baru selesai wudhu untuk sholat Subuh, langsung panik, lari ke kamar mandi."Zel! Zel, kamu kenapa?! Muntah lagi?!"Ini sudah hari ketiga Azalea muntah dan pusing. Hari pertama, Azalea bilang masuk angin karena kebanyakan cicip sambal. Hari kedua, bilang pusing karena kurang tidur ngitung stok botol. Hari ketiga ini, muntahnya lebih parah, sampai tidak bisa berdiri.Azalea keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, lemas, meme

  • Ceraikan Aku, Mas!   193 - Peraturan Karangan Arsen

    "Hmm ... Sakral banget ini aturannya, Zel. Tak boleh dilanggar." Arsen menatap Azalea dengan sungguh-sungguh."Apaan sih, Mas aturannya? Bikin penasaran dan tegang saja sih.""Setiap naik 10 anak tangga, kamu harus berhenti, lalu minum dan mencium suami. Hmm ... di bibir sih katanya.""Peraturan apaan itu, Mas? Ngarang!""Ih ... itu aturan serius banget! Pamali katanya kalau gak dilakukan, Zel.""Ah ... bohong banget! Itu aturan karangan dari Mas Arsen sendiri. Aku tak bisa dibodohi!" tegas Azalea."Haha ... kan katanya sih supaya lebih romantis. Terus kita bisa harmonis sampai kakek dan nenek. Sampai maut memisahkan gitu. Makanya ... ini kan ada 800 anak tangga. Artinya 80 kali cium dong.""Gak ah ... " tolak Azalea.Arsen cemberut."Terlalu banyak. 1 kali saja.""Rugi dong.""Dasar mesum!""Kan sama kamu doang.""Hufft... ya sudah. Korting sampai 10 saja.""Baiklah .

  • Ceraikan Aku, Mas!   192 - Bersatu

    Azalea langsung diam, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa yang dimaksud Arsen. Ia tahu malam ini adalah malam yang dinantikan Arsen. Malam pertama yang tertunda sebulan karena luka jahitan.Dan sekarang tibalah untuk malam pertama yang dinantikan Arsen.Tidak hanya cium mencium saja. Tapi lebih dari itu. Penyatuan cinta antara Azalea dan Arsen.Azalea menunduk, malu, tapi ia mengangguk pelan. Sangat pelan."Iya, Mas... aku... aku sudah siap..."Arsen menggandeng tangan Azalea, turun pelan-pelan ke kamar private di dalam kapal phinisi itu. Kamar kayu yang harum, dengan ranjang besar, kelambu putih, dan jendela kecil yang langsung menghadap ke laut dan bintang.Di kamar itu, tidak ada yang terburu-buru.Arsen menutup pintu kamar pelan, menguncinya. Ia menatap Azalea yang berdiri di depan ranjang, dengan dress putihnya, dengan bekas luka 8 cm di dadanya yang sekarang menjadi saksi bahwa ia adalah perempuan paling kuat yang pernah Ar

  • Ceraikan Aku, Mas!   191 - Honeymoon

    Petugas jaga akhirnya masuk, bersama dua petugas lain, mereka memegang Bara yang mengamuk, menyuntikkan obat penenang yang sudah disiapkan dokter rutan."Bara! Tenang! Tenang!"Jarum suntik masuk ke lengan Bara yang berdarah.Perlahan, teriakan Bara melemah, matanya mulai sayu, tubuhnya lemas.Sebelum benar-benar tertidur karena obat penenang, Bara masih sempat berbisik, dengan air mata dan darah di wajahnya, dengan suara yang sangat pelan, sangat menyedihkan, tapi juga sangat mengerikan."Azalea... kalau kamu tidak mau jadi milikku... kamu harus mati... kita mati bareng... di villa itu... harusnya kita mati bareng..."Lalu ia tertidur. Mendengkur. Dengan perban kepala yang semakin merah karena darah.Ramon keluar dari sel dengan napas terengah-engah, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia menatap Kepala Rutan yang berdiri di luar."Pak... tolong... tolong panggilkan psikiater sekarang juga... klien saya... klien saya sudah

  • Ceraikan Aku, Mas!   190 - Bara Depresi

    Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari kehangatan nasi goreng kampung di rumah Arsen, di sebuah ruangan berukuran 3x4 meter yang bau pesing, lembab, dan hanya diterangi satu lampu neon yang berkedip-kedip, Bara di dalam rutan sudah ditangani untuk luka-luka yang ia buat sendiri.Rutan Polres Bogor. Blok C, Sel Nomor 7.Jam 06.15 pagi, jam yang sama ketika Azalea menyuapi Arsen nasi goreng di rumahnya, Bara terbaring di atas kasur busa tipis yang sudah sobek, dengan perban putih melilit kepalanya dan kedua pergelangan tangannya.Darahnya masih merembes sedikit di perban kepala.Malam tadi, sekitar jam 02.00 dini hari, Bara mencoba bunuh diri untuk kedua kalinya dalam seminggu. Yang pertama 3 hari lalu dengan sarung, gagal karena petugas patroli melihat. Yang kedua tadi malam, ia membenturkan kepalanya sendiri ke tembok sel secara berulang-ulang dan menyayat pergelangan tangannya dengan tutup botol air mineral yang ia tajamkan diam-diam di lantai se

  • Ceraikan Aku, Mas!   189 - Jangan Hubungi Azalea Lagi!

    Azalea melepaskan pelukan Arsen, menatap Arsen dengan mata yang penuh air mata, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Bukan takut. Tapi bingung, sedih, dan rasa bersalah yang besar.Bu Lily yang dari tadi mendengar keributan dari dapur, datang dengan wajah panik, "Ada apa? Ada apa? Kenapa Azalea nangis lagi?"Arsen menjelaskan dengan singkat, dengan suara masih emosi, tentang telepon pengacara, tentang Bara mau bunuh diri, tentang Bu Ratna yang lumpuh dan mau dibawa ke panti jompo.Bu Lily langsung menutup mulutnya, "Ya Allah... Bu Ratna..."Azalea mengangguk, air matanya makin deras.Sekarang, mendengar Bu Ratna sendirian, lumpuh, mau dibawa ke panti jompo, hati Azalea yang lembut itu kembali berperang.Tidak tega dengan Bu Ratna, karena bagaimanapun Bu Ratna adalah mantan mertuanya, orang tua yang sakit.Tapi traumanya juga belum sembuh. Luka di dada kirinya masih berdenyut setiap mendengar nama Bu Ratna. Bayangan 3 tahun dimaki dan dih

  • Ceraikan Aku, Mas!   5 - Balas Menghina Pezin*h

    Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi

  • Ceraikan Aku, Mas!   4 - Digeledah Ibu Mertua

    Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante

  • Ceraikan Aku, Mas!   3 - Bukan Rumahku Lagi

    Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot

  • Ceraikan Aku, Mas!   1 - Ijab Kabul

    Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status