Beranda / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Mas! / 3 - Bukan Rumahku Lagi

Share

3 - Bukan Rumahku Lagi

Penulis: Siez
last update Tanggal publikasi: 2026-06-02 14:21:55

Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata foto pernikahan di ruang tamu. Dia yang menanam melati di samping pagar karena Bara bilang dia suka wanginya.

Kini, rumah itu terasa asing. Terasa seperti milik orang lain.

Azalea menarik napas dalam. Pipinya masih terasa nyeri bekas tamparan Bara. Tapi rasa nyeri di hatinya jauh lebih menyakitkan. Dengan langkah yang dia paksakan untuk tegap, dia membuka gerbang kecil dan berjalan menuju pintu utama. Kunci rumah masih menggantung di gantungan kunci miliknya. Dia ragu sejenak. Apakah dia masih berhak membuka pintu ini?

Sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara klakson mobil terdengar dari belakang.

Azalea menoleh. Dadanya seketika sesak.

Mobil Bara. Sedan hitam yang biasa Azalea lap setiap pagi agar mengilap. Mobil itu berhenti tepat di belakang mobil Azalea. Pintu depan terbuka, dan keluarlah tiga orang yang paling tidak ingin Azalea temui saat ini.

Bara Adhitama, dengan beskap yang masih melekat di tubuhnya. Keyna Aulia, masih dengan kebaya putih dan perut yang dia elus-elus seolah dunia harus peduli. Dan Bu Ratna, dengan kebaya hijau emerald, wajah penuh kemenangan, serta tas tangan bermerek yang dia tenteng angkuh.

Mereka tidak datang untuk minta maaf. Mereka datang untuk memastikan.

Bu Ratna berjalan paling depan, melenggang melewati Azalea tanpa repot-repot memberi salam. Dia berdiri di depan pintu, menatap Azalea dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot mata merendahkan.

"Mau ngapain kamu ke sini lagi?" tanya Bu Ratna. Suaranya tinggi, sengaja agar terdengar. "Udah ditalak, masih berani nginjek rumah anak saya?"

Azalea mengepalkan tangannya. "Aku ke sini untuk mengambil barang-barangku, Bu. Setelah itu aku pergi. Aku tidak akan mengotori rumah ini lebih lama lagi."

Bu Ratna tertawa. Tawa yang menusuk. "Barang-barang kamu? Barang apa? Setahu aku, semua yang ada di rumah ini dibeli pakai uang Bara. Kamu nikah gak bawa apa-apa. Datang cuma bawa badan. Jadi jangan coba-coba maling, ya."

Kata "maling" itu menghantam harga diri Azalea. Selama tiga tahun menikah, dia tidak pernah mengambil uang Bara tanpa izin. Gajinya sebagai guru les dia gunakan untuk membeli kebutuhan dapur dan membayar listrik. Dia yang menabung demi membeli hadiah ulang tahun untuk Bu Ratna setiap tahun. Kini dia dituduh akan mencuri.

Bara menutup pintu mobil dan berjalan mendekat. Wajahnya tegang. Dia tidak menatap mata Azalea. "Ambil aja yang beneran punya kamu, Zel. Jangan ambil yang bukan hakmu."

Keyna berdiri di belakang Bara, bersembunyi. Tapi matanya liar mengawasi sekeliling rumah. Seolah mencari sesuatu. Tangannya tidak lepas dari perutnya yang membuncit, sesekali mengelus dengan gerakan yang dibuat-buat. "Iya, Kak. Ambil aja. Aku sama Mas Bara ikhlas kok... asal jangan bawa barang berharga untuk anak kami nanti."

Kalimat "anak kami" itu membuat Azalea ingin muntah. Tapi dia tahan.

Azalea tidak menjawab. Dia mendorong pintu yang memang tidak terkunci. Dia melangkah masuk.

Rumah itu sepi. Wangi melati yang biasa menyambutnya kini terasa hambar. Foto pernikahannya di dinding ruang tamu sudah diturunkan. Hanya tersisa paku kecil dan bekas bingkai berbentuk persegi panjang. Di atas meja, vas bunga kristal yang dulu Azalea beli dengan uang tabungannya kini diisi bunga segar. Kartu ucapannya tertulis: *Untuk Pengantin Baru, Bara & Keyna. Dari Mama Ratna.*

Baru beberapa jam Azalea meninggalkan rumah, tapi sekarang rumah itu sudah berbeda. Sungguh gerakan mereka sangat cepat dan terencana. 

Azalea memalingkan wajah. Dia terus berjalan menuju lantai dua, ke kamar yang selama tiga tahun dia tempati bersama Bara. Bu Ratna, Bara, dan Keyna mengikutinya dari belakang. Langkah mereka berat, menggemakan niat untuk mengawasi.

Di dalam kamar, sprei sudah diganti. Warna biru muda yang Azalea pilih sudah berganti menjadi merah marun. Di atas nakas, ada dua gelas berisi air putih dan satu botol vitamin untuk ibu hamil. Di sisi lain ranjang, ada daster Keyna yang tergeletak sembarangan. Jangan lupakan koper yang sudah menetap di dekat lemari jati pilihan Azalea. Wanita itu memejamkan mata sejenak. Kamar ini sudah dibersihkan dari jejaknya. Secepat itu. Seolah tiga tahun pernikahan tidak pernah ada.

Dia membuka lemari pakaiannya. Lemari itu setengah kosong. Sebagian besar gaun dan kebaya miliknya sudah tidak ada. Hanya tersisa beberapa potong daster, baju rumah, dan satu stel mukena putih yang sudah usang. Di pojok lemari, dia melihat baju tidur satin merah yang dulu Bara belikan untuk ulang tahun pernikahan pertama mereka. Baju itu masih tergantung, tapi label harganya belum dicabut. Tidak pernah dipakai. Bara tidak pernah sempat menyentuhnya karena sibuk lembur. Kini, baju itu seperti menertawakan kebodohannya.

"Cepetan," bentak Bu Ratna. "Jangan lama-lama. Bau mantan istri bisa bikin rumah ini sial. Kasihan Keyna sama cucuku."

"Kemana bajuku yang lain, Bu? Kenapa hanya ada baju seperti ini di lemari?" tanya Azalea kesal kepada Bu Ratna.

"Sudah diberikan ke pemulung. Hmm ... harusnya semua daster bututmu itu sekalian dibuang. Ya, tapi para pemulung tidak sudi mengambilnya." hina Bu Ratna.

Azalea menarik nafas dalam-dalam. Sungguh, ibu mertuanya sangat kejam. Padahal selama ini Azalea sudah bekerja keras untuk menyenangkan sang mertua. Tapi tetap saja, tidak diterima dengan baik dan malah lebih sering dihina olehnya. 

Wanita itu mengambil sebuah tas ransel besar yang dia simpan di bagian atas lemari. Tanpa bicara, dia mulai memasukkan pakaiannya satu per satu. Daster bunga. Kemeja putih. Celana panjang hitam. Dia tidak mengambil satu pun perhiasan, karena semua perhiasan sudah Bara minta kembali sejak enam bulan lalu dengan alasan “disimpan Ibu saja biar aman”.

'Bodohnya aku!' umpat Azalea di dalam hati. Kepercayaannya terhadap Bara ternyata berbuah kebusukan. Malah semua perhiasan yang Azalea kumpulkan dari dulu berada di tangan Bu Ratna.

"Ayo, pergi! Sudah selesai, kan?" usir Bu Ratna.

"Perhiasanku!"

"Gak ada! Semua itu milik Bara, bukan kamu!"

"Tapi perhiasan itu ada yang aku beli sendiri. Kembalikan!"

"Jangan mimpi! Dasar miskin, busuk, mandul! Jangan ngaku-ngaku kamu membeli perhiasan karena ... kamu tak punya uang sedikitpun."

Azalea sudah tak punya kekuatan untuk bertengkar. 

Ia pun meninggalkan Bu Ratna dan Keyna. Sekarang, ia malah berharapan dengan Bara.

"Geledah tasnya, Bara," perintah Bu Ratna tiba-tiba. "Siapa tahu dia selipin emas kawin. Atau sertifikat rumah. Atau ATM. Namanya juga perempuan gak bisa punya anak, pasti mau balas dendam."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ceraikan Aku, Mas!   194 - The End (Garis Dua)

    2 bulan menikah.Rumah Arsen yang dulu sepi, sekarang ramai. Ada Azalea dan Ibu Lily.Azalea, yang bekas luka 8 cm di dada kirinya sudah berubah menjadi garis putih tipis yang hampir tidak terlihat, sekarang sudah kembali menjadi Bos Sambal yang galak, cerewet, tapi manja kalau di depan Arsen.Pagi itu, Azalea yang biasanya bangun jam 05.00 untuk memasak nasi goreng untuk Arsen sebelum Arsen berangkat ke rumah sakit, hari ini masih meringkuk di kamar mandi."Uek... uek..."Suara muntah.Arsen yang baru selesai wudhu untuk sholat Subuh, langsung panik, lari ke kamar mandi."Zel! Zel, kamu kenapa?! Muntah lagi?!"Ini sudah hari ketiga Azalea muntah dan pusing. Hari pertama, Azalea bilang masuk angin karena kebanyakan cicip sambal. Hari kedua, bilang pusing karena kurang tidur ngitung stok botol. Hari ketiga ini, muntahnya lebih parah, sampai tidak bisa berdiri.Azalea keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, lemas, meme

  • Ceraikan Aku, Mas!   193 - Peraturan Karangan Arsen

    "Hmm ... Sakral banget ini aturannya, Zel. Tak boleh dilanggar." Arsen menatap Azalea dengan sungguh-sungguh."Apaan sih, Mas aturannya? Bikin penasaran dan tegang saja sih.""Setiap naik 10 anak tangga, kamu harus berhenti, lalu minum dan mencium suami. Hmm ... di bibir sih katanya.""Peraturan apaan itu, Mas? Ngarang!""Ih ... itu aturan serius banget! Pamali katanya kalau gak dilakukan, Zel.""Ah ... bohong banget! Itu aturan karangan dari Mas Arsen sendiri. Aku tak bisa dibodohi!" tegas Azalea."Haha ... kan katanya sih supaya lebih romantis. Terus kita bisa harmonis sampai kakek dan nenek. Sampai maut memisahkan gitu. Makanya ... ini kan ada 800 anak tangga. Artinya 80 kali cium dong.""Gak ah ... " tolak Azalea.Arsen cemberut."Terlalu banyak. 1 kali saja.""Rugi dong.""Dasar mesum!""Kan sama kamu doang.""Hufft... ya sudah. Korting sampai 10 saja.""Baiklah .

  • Ceraikan Aku, Mas!   192 - Bersatu

    Azalea langsung diam, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu apa yang dimaksud Arsen. Ia tahu malam ini adalah malam yang dinantikan Arsen. Malam pertama yang tertunda sebulan karena luka jahitan.Dan sekarang tibalah untuk malam pertama yang dinantikan Arsen.Tidak hanya cium mencium saja. Tapi lebih dari itu. Penyatuan cinta antara Azalea dan Arsen.Azalea menunduk, malu, tapi ia mengangguk pelan. Sangat pelan."Iya, Mas... aku... aku sudah siap..."Arsen menggandeng tangan Azalea, turun pelan-pelan ke kamar private di dalam kapal phinisi itu. Kamar kayu yang harum, dengan ranjang besar, kelambu putih, dan jendela kecil yang langsung menghadap ke laut dan bintang.Di kamar itu, tidak ada yang terburu-buru.Arsen menutup pintu kamar pelan, menguncinya. Ia menatap Azalea yang berdiri di depan ranjang, dengan dress putihnya, dengan bekas luka 8 cm di dadanya yang sekarang menjadi saksi bahwa ia adalah perempuan paling kuat yang pernah Ar

  • Ceraikan Aku, Mas!   191 - Honeymoon

    Petugas jaga akhirnya masuk, bersama dua petugas lain, mereka memegang Bara yang mengamuk, menyuntikkan obat penenang yang sudah disiapkan dokter rutan."Bara! Tenang! Tenang!"Jarum suntik masuk ke lengan Bara yang berdarah.Perlahan, teriakan Bara melemah, matanya mulai sayu, tubuhnya lemas.Sebelum benar-benar tertidur karena obat penenang, Bara masih sempat berbisik, dengan air mata dan darah di wajahnya, dengan suara yang sangat pelan, sangat menyedihkan, tapi juga sangat mengerikan."Azalea... kalau kamu tidak mau jadi milikku... kamu harus mati... kita mati bareng... di villa itu... harusnya kita mati bareng..."Lalu ia tertidur. Mendengkur. Dengan perban kepala yang semakin merah karena darah.Ramon keluar dari sel dengan napas terengah-engah, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia menatap Kepala Rutan yang berdiri di luar."Pak... tolong... tolong panggilkan psikiater sekarang juga... klien saya... klien saya sudah

  • Ceraikan Aku, Mas!   190 - Bara Depresi

    Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari kehangatan nasi goreng kampung di rumah Arsen, di sebuah ruangan berukuran 3x4 meter yang bau pesing, lembab, dan hanya diterangi satu lampu neon yang berkedip-kedip, Bara di dalam rutan sudah ditangani untuk luka-luka yang ia buat sendiri.Rutan Polres Bogor. Blok C, Sel Nomor 7.Jam 06.15 pagi, jam yang sama ketika Azalea menyuapi Arsen nasi goreng di rumahnya, Bara terbaring di atas kasur busa tipis yang sudah sobek, dengan perban putih melilit kepalanya dan kedua pergelangan tangannya.Darahnya masih merembes sedikit di perban kepala.Malam tadi, sekitar jam 02.00 dini hari, Bara mencoba bunuh diri untuk kedua kalinya dalam seminggu. Yang pertama 3 hari lalu dengan sarung, gagal karena petugas patroli melihat. Yang kedua tadi malam, ia membenturkan kepalanya sendiri ke tembok sel secara berulang-ulang dan menyayat pergelangan tangannya dengan tutup botol air mineral yang ia tajamkan diam-diam di lantai se

  • Ceraikan Aku, Mas!   189 - Jangan Hubungi Azalea Lagi!

    Azalea melepaskan pelukan Arsen, menatap Arsen dengan mata yang penuh air mata, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Bukan takut. Tapi bingung, sedih, dan rasa bersalah yang besar.Bu Lily yang dari tadi mendengar keributan dari dapur, datang dengan wajah panik, "Ada apa? Ada apa? Kenapa Azalea nangis lagi?"Arsen menjelaskan dengan singkat, dengan suara masih emosi, tentang telepon pengacara, tentang Bara mau bunuh diri, tentang Bu Ratna yang lumpuh dan mau dibawa ke panti jompo.Bu Lily langsung menutup mulutnya, "Ya Allah... Bu Ratna..."Azalea mengangguk, air matanya makin deras.Sekarang, mendengar Bu Ratna sendirian, lumpuh, mau dibawa ke panti jompo, hati Azalea yang lembut itu kembali berperang.Tidak tega dengan Bu Ratna, karena bagaimanapun Bu Ratna adalah mantan mertuanya, orang tua yang sakit.Tapi traumanya juga belum sembuh. Luka di dada kirinya masih berdenyut setiap mendengar nama Bu Ratna. Bayangan 3 tahun dimaki dan dih

  • Ceraikan Aku, Mas!   6 - Fitnah Bu Ratna

    "Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur

  • Ceraikan Aku, Mas!   5 - Balas Menghina Pezin*h

    Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi

  • Ceraikan Aku, Mas!   4 - Digeledah Ibu Mertua

    Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante

  • Ceraikan Aku, Mas!   1 - Ijab Kabul

    Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status