เข้าสู่ระบบSudah tiga hari Anshel pulang lewat tengah malam.
Dan itu pun bukan benar-benar “pulang”—lebih seperti mampir untuk berganti jas, mandi air hangat, lalu pergi lagi sebelum Fleur sempat mengeluarkan satu kalimat pun.
Fleur menatap jam dinding di ruang makan. Pukul dua pagi. Meja panjang itu terhampar sempurna dengan piring porselen dan lilin yang kini tinggal batang pendek. Ia menunggu sejak magrib, dengan gaun rapi yang kini kusut karena sering ia remas tanpa sadar.
Pintu depan terdengar dibuka.
Anshel masuk dengan langkah santai, seolah rumah ini hanya ruang transit. Aroma parfum mahal yang Fleur kenal begitu baik—aroma yang sekarang membuat dadanya perih—terbayang menempel pada wanita lain sebelum ia sampai di sini.
“Ada yang kau perlukan?” tanyanya tanpa melihat Fleur. Jaket dilepas. Jam tangan diletakkan. Tidak ada satu pun gerakan yang mengarah padanya.
Fleur berdiri pelan. “Kau tidak makan dari tadi.”
“Aku sudah makan,” jawabnya datar.
Bersamanya?
Pertanyaan itu menggantung di kepala Fleur, namun bibirnya terlalu kaku untuk mengucapkannya.Anshel membuka beberapa kancing kemejanya. “Besok aku akan pergi lagi. Ada acara perusahaan.”
“Dan Ava ikut?” suara Fleur nyaris bergetar.
Kali ini Anshel menoleh. Tidak marah. Tidak terkejut. Hanya… menatap, seolah menganalisis.
“Apa urusannya denganmu?”
Fleur tersenyum—senyum yang bahkan tidak memiliki bentuk. “Tidak ada. Kontrak kita hampir berakhir, kan? Aku hanya mencoba… mengerti.”
Anshel berhenti melepas kancingnya. Sesuatu melintas di mata gelap itu—cepat sekali, seperti kilat yang muncul lalu mati.
“Fleur,” ujarnya pelan, “jangan membuat asumsi.”
“Bagaimana aku tidak berasumsi,” bisik Fleur, “kalau setiap hari kau memilih perempuan itu, dan bukan aku?”
Ia tak bermaksud terdengar rapuh. Ia selalu menjaga martabatnya. Tapi malam itu… barangkali lelahnya kebablasan.
Anshel tidak menjawab. Hanya menatapnya sebentar, lalu melewatinya dan naik ke kamar.
Fleur tetap berdiri di sana beberapa menit, menatap jejak kepergian suaminya yang terasa lebih dingin dari angin dini hari.
Lalu ia mengambil lilin yang hampir mati, memadamkannya dengan jari. Tidak sakit. Tidak lebih sakit dari yang lain.
***
Seharian, Fleur sibuk mengurus urusan kantor di rumah. Namun sebelum ia ingin mandi, ia menerima telepon dari Phillipe, kakaknya.
Telepon itu hampir jatuh dari tangannya. Ruangan mendadak terasa asing, seperti semua udara tiba-tiba dicabut.
Fleur duduk lama di lantai, memandangi jendela yang tertutup tirai. Hening.
Ia butuh waktu lama untuk mengumpulkan kekuatan berdiri dan mencari Anshel.
Di ruang kerja, ia menemukannya sedang mengenakan jas, mempersiapkan diri untuk pertemuan penting.
“Anshel,” suara Fleur pecah. “Ayahku… meninggal.”
Anshel menghentikan gerakannya. Menatapnya.
“Jam berapa pemakamannya?” tanya Anshel akhirnya.
“Sore. Di Ruthven Chapel.”
Anshel mengangguk pelan. “Aku ada pertemuan dengan delegasi luar negeri. Tidak bisa ditinggalkan.”
Fleur menatapnya dengan mata memerah. “Itu ayahku, Anshel.”
“Aku tahu.”
“Dan kau tidak datang?”
“Aku akan menyusul jika selesai,” katanya seraya melengang pergi.
Fleur jatuh ke lantai, menarik tangisnya yang urung ditahan.
Fleur berdiri perlahan, menarik napas panjang. Ia pergi ke kamar untuk mengenakan baju hitam.
Tangannya gemetar saat mencoba mengaitkan kancing bajunya.
Langkahnya berat menuju rumah kediaman ayahnya. Duka kehilangan ayah dan rasa kecewa terhadap suami yang abai sudah cukup buatnya enggan.
Sesampainya di kediaman Ayahnya, orang-orang sudah berkumpul. Lantunan doa dan aroma bunga memenuhi udara, tetapi bagi Fleur, semuanya terasa hampa, bahkan suaminya? Entah kemana.
Kini pasir menutupi pusara ayahnya. Fleur berdiri di tepi liang, menatap tanah yang baru saja digali, merasa hampa. Angin sore mengibas jasnya, dan aroma bunga duka menyelimuti udara.
Setelah para pelayat pergi, Fleur duduk di samping pusara ayahnya. Air matanya mengalir tanpa henti.
“Apa yang kujanjikan padamu, Anderson?” “Kau akan memberikan sebagian penghasilanmu untuk…” Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu terdengar dari ruang kerja Tuan Wesley Ruthven. Wesley dan Anderson sedikit terkejut dan menoleh ke arah pintu. “Ah sialan,” gerutu Smith yang sedang menonton rekaman tersebut. Meski kesal dan karena penasaran ia tetap menunggu apa yang akan dibicarakan oleh Tuan Wesley dan Anderson. Keduanya berhenti bicara. Ayah Fleur mempersilahkan orang itu masuk. Seorang perempuan berusia tiga puluh tahun berambut sebahu muncul dari balik pintu, itu Sekretaris pribadi Tuan Wesley. “Tuan ada tamu yang mencari Anda.” Tuan Wesley mengangguk pelan, “Baiklah aku akan segera menemuinya.” Sekretaris pribadinya pun mengerti dan segera pamit, ia meninggalkan rua
Smith menatap kepergian Fleur dari ruangan meeting. “Jika aku mengatakan yang sebenarnya padamu—” Smith menarik senyumamnya kesamping, “ini akan merepotkan, Fleur.”Smith pun kembali ke ruangannya, ia sibuk dengan pekerjaannya, hanya mengetik sepanjang hari, setelah hari mulai gelap ia menggeliat, lalu menatap jam tangannya. “Hah gedung ini sudah seperti rumahku sendiri, bosnya malah keenakan tidur sepanjang hari di rumah sakit,” ujarnya meledek kakaknya Fleur yang masih terbaring koma. “Smith menelpon seseorang, bagaimana situasinya?”“Aman, Tuan,” bisik seseorang dari balik telepon. “Hmmm, bantu aku jangan sampai anak buah Anderson memergokiku.”“Tentu Tuan.”Smith membawa cangkir kopi, sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana. Ia berjalan dengan santai keluar dari ruangannya, kemudian ia melihat suasana sekeliling. “Sudah sepi rupanya.”Pria itu kemudian meneguk kopinya sekali lagi, lalu berjalan ke dekat tangga dan meletakkan cangkirnya disana. Kelakuannya sung
Anshel meletakkan ponselnya di atas meja.“Tidak seperti biasanya Ibu mengajakku mengobrol di saat aku sedang berada di kantor.”Tatapannya beralih pada bingkai foto dirinya bersama Fleur saat menghadiri pesta pernikahan Magnus. Senyum tipis terukir di bibirnya."Aku ingin sekali meneleponmu, Fleur. Tapi aku tahu kau pasti sedang rapat sekarang."Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya sambil menunggu kedatangan ibunya.Satu jam kemudian, Nyonya Olivia tiba di kantor putranya.Wanita setengah baya itu mengenakan rok hitam bergaris putih dipadukan dengan blus putih yang anggun. Sebuah button hat menghiasi kepalanya, membuat penampilannya tetap elegan.Baru beberapa langkah memasuki lobi, ponselnya berdering.Ia melihat nomor seseorang.Dengan ragu, ia menerima panggilan itu, sesaat kemudian wajahnya memerah, ia mengepalkan tangannya. "Jika kau berani menyentuh putra dan menantuku, ingat ini... aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku. Kau tidak perlu mengancamku. Aku bukan perem
Anshel menutup matanya, sebentar.“Ternyata ini hanya mimpiku,” gumamnya pelan sambil mengembuskan napas lega.Fleur menggeleng-gelengkan kepala, ia bangkit dari ranjang, berusaha membantu suaminya berdiri. Wajah Fleur yang masih polos setelah bangun tidur perlahan mengusir bayang-bayang mimpi buruk yang baru saja dialaminya.Anshel tersenyum, ketika istrinya mengulurkan tangannya. “Ayo bangun!” ajak Fleur. Pria itu teringat akan ucapan istrinya semalam.Anshel pun berdiri di bantu Fleur, begitu berdiri, Anshel refleks memegang bagian belakang kepalanya.Melihat ekspresi suaminya, Fleur tampak khawatir. “Anshel, apa kau baik-baik saja, bagaimana kepalamu?” Anshel baru menyadari kepalanya terbentur ke lantai, dan ia merasa kesakitan, tapi ia bersikap santai di depan istrinya, laki-laki itu justru malah memandangi wajah istrinya, senyumnya tak men
“Apa kau datang ke pengadilan?”“Hmmm, bukankah waktu di rumah sakit aku pernah bilang akan datang ke persidangan.”Seolah mendapat jawaban dari rasa penasarannya, ia pun baru mengingatnya, kalau Ava Grace sempat meminta izin padanya untuk datang ke persidangan. “Ah benar, maaf aku tidak memperhatikannya saat di sana.”“Ya karena kau sibuk mengurus istrimu.”“Baiklah, tapi aku punya satu permintaan.”Anshel mengerutkan keningnya ia kemudian berbalik sambil melepaskan tangan Ava. “Berhenti dan jangan bergerak!”Kaki ava berjinjit ia kemudian menangkup ipi Anshel dan melumat bibir Anshel lagi. Namun Anshel segera mendorongnya. “Hentikan Ava!”Anshel menyeka bibirnya yang basah. “Hubungan kita sudah berakhir.”“Tapi kau menikmati ciumanku, Anshel kau bahkan membalas ciumanku dan rasanya masih sama seperti dulu.”
“Malam ini?”“Aku ingin bicara soal Alat itu.”“Tapi aku harus menemani Fleur.”“Bukankah istrimu akan senang jika kakaknya akan segera Pulih?”Anshel mengerutkan dahinya. “Baiklah, aku akan menemuimu malam ini.”Anshel kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Anshel mendekati kedua pengacaranya dan mengakhiri obrolan mereka. ***Anshel pun menuju sebuah Bar dimana mereka sering bertemu dulu. Di sana di ruang VIP gadis itu duduk di sofa menunggu kedatangan Anshel. Senyumnya mengembang ketika melihat Anshel datang. Ia berdiri sambil membawa segelas anggur putih. Anshel menyapanya, “Halo Nona Grace.”“Anshel akhirnya kau datang juga,” Ia segera memeluk Anshel dan mencium pipi Pria itu. Anshel berusaha melepaskan pelukan Ava Grace, “Ava, jangan seperti ini.”Ava Grace pun melepaskan pelukannya lalu ia menarik Anshel agar duduk d
Seorang pria muda berusia 25 tahunan itu baru saja menguping pembicaraan Philippe dan Smith di kantor.Ia mundur perlahan dan segera meninggalkan tempat itu.Saat memasuki lift, ia menelpon seseorang. "Anda harus berhati-hati, mereka sudah mengendus semua gerak-gerik Anda, Tuan."Seseorang sambil
Anshel membawanya menuju kamar dengan langkah tenang. Ia meletakkan Fleur di atas ranjang, membaringkannya perlahan. Setelah memastikan Fleur nyaman, Anshel segera menyalakan penghangat ruangan, mengusir dingin yang masih menempel di tubuhnya.Ia berbalik ke lemari, mengambilkan pakaian untuk Fleur
Seorang pria mengulurkan tangannya, siap mendorong Fleur dari balkon yang tinggi. “Fleur!” teriak Anshel yang baru saja tiba di sana dengan napas memburu. Pria itu menoleh kaget, sementara Fleur tersentak menyadari maut mengintip di belakangnya. Secara refleks, Fleur melayangkan tinju ke wajah
“Jangan menciumku lagi,” ucap Fleur pelan, meski pipinya memanas dan jantungnya berdegup tak karuan.Ia menunduk, seolah kalimat itu ditujukan pada lantai di antara mereka. Aku tidak boleh membiarkan ini berlanjut, pikirnya. Bukankah dua tahun lagi kami akan berpisah?Anshel terdiam. “Kenapa?”Fleu







