Beranda / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Tuan Anshel / Bab 3 - Dalam Genggaman Anshel

Share

Bab 3 - Dalam Genggaman Anshel

last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-26 09:15:54

Fleur berdiri di depan cermin, melepas jepit rambut hitam yang masih ia gunakan sejak pemakaman ayahnya. Jemarinya kaku, dingin, dan wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.

Pintu kamar terbuka.

“Kau sudah makan?” tanya Anshel.

Pertanyaan itu terasa telat—terlalu telat.

“Aku tidak lapar,” jawab Fleur tanpa menatapnya.

Keheningan menggantung beberapa detik.

 Anshel seperti ingin bicara, tapi suaranya tidak keluar. 

“Aku sudah selesai rapat,” katanya akhirnya.

“Ya.”  Suara Fleur datar. “Tapi ayahku sudah selesai dimakamkan.”

Kata itu mengenai Anshel seperti pukulan yang tidak ia hindari. Bahunya yang tegap turun sedikit, tapi ia tetap berdiri di tempat.

“Aku minta maaf.”

“Untuk apa?” Fleur tertawa kecil, hambar. “Untuk tidak datang? Untuk tidak memelukku? Untuk tidak ada saat aku butuh seseorang?”

Anshel menelan ludah. “Ada hal yang tidak bisa kutinggalkan.”

“Dan aku bukan salah satunya?”

 Fleur menatap Anshel melalui cermin, tatapannya tenang tapi menusuk. “Aku ini apa sebenarnya, Anshel? Istri kontrakmu? Ornamen rumah besar ini? Seseorang yang bisa kau tinggalkan kapan saja demi wanita lain?”

Anshel mengerutkan kening, tapi tetap tidak menyentuhnya. Seperti ada jarak tak kasat mata yang ia ciptakan sendiri.

“Ava tidak ada hubungannya dengan ini,” katanya perlahan.

“Oh, tentu. Dia hanya… seseorang yang selalu kau pilih.”

Anshel terdiam.

“Jangan berulah,” ucap Anshel pendek.

Fleur menutup mata, merasakan sesuatu di dadanya retak perlahan.  Ia tidak menangis.  Ia sudah kehabisan air mata sejak kemarin.

Saat pintu kamar tertutup, Fleur duduk di tepi ranjang.

**

Anshel berangkat pagi-pagi sebelum Fleur bangun, pulang setelah Fleur tertidur.

Atau pura-pura tertidur.

Para staf mengganti bunga-bunga ruangan seperti biasa, tapi bahkan wangi lily kesukaan Fleur terasa menyesakkan. Lily mengingatkannya pada pemakaman. Pada ayahnya. Pada tatapan kosong Anshel di hari yang seharusnya ia datang.

Fleur duduk di meja makan sendirian, makan roti yang dingin tanpa rasa. Suster rumah menawarkan sup, tapi ia menggeleng.

“Ada titipan dari kantor hukum, Nyonya,” kata kepala pelayan, menyerahkan sebuah amplop.

Fleur membuka amplop itu.

Dokumen pembaruan klausul pernikahan.  Yang diserahkan Anshel kepada pengacaranya… bukan kepadanya.

Tangan Fleur bergetar pelan.

Isi dokumennya persis seperti yang ia lihat kemarin—klausul bahwa pernikahan baru bisa berakhir bila Fleur telah menjalankan “tugas sebagai istri” menurut standar Anshel.

Dan di bawahnya, tanda tangan suaminya sudah tertera.

“Sangat jelas,” gumamnya pelan. “Dia tidak ingin aku pergi.”

Namun bukan karena cinta.  Jika karena cinta… ia pasti datang saat ayahnya dimakamkan. Ia pasti memeluk. Ia pasti menenangkan.

Ini bukan cinta.  Ini… ego. Keterikatan. Kepemilikan.

Fleur berdiri, meninggalkan meja makan. Ia menuju kamar kerja kecil yang sebelumnya jarang ia pakai. Di sana, ia membuka laci bawah meja—laci tempat ia menyimpan dokumen pribadinya.

Ia menarik satu map cokelat. Paspor.  Salinan akta nikah.  Sedikit uang tunai.  

Saat ia menyentuh amplop itu, dadanya kembali perih.  Ayahnya meninggalkan dunia tanpa tahu betapa tidak bahagianya putrinya.

Fleur meremas amplop itu.

Suara langkah terdengar dari depan pintu. Fleur langsung menutup buku itu, meletakkannya di bawah beberapa dokumen tak penting.

Pintu terbuka pelan. Anshel masuk, jasnya masih sedikit basah dari hujan sore tadi. Ia melepas jasnya, kemudian mencari keberadaan Fleur. 

Anshel berhenti kala pintu ruangan kerja terbuka. Anshel berdiri di sana, rapi, dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Kau di sini,” katanya pelan.

“Ya.”

“Ada yang ingin kau bicarakan?”

Banyak.

 Sangat banyak.

 Tapi tidak ada satu pun yang aman untuk diucapkan.

Fleur hanya tersenyum tipis. “Tidak.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 46 - Gairah di Atas Janji

    Anshel membuka pintu kamar, ia kemudian merebahkan tubuh Fleur di ranjang, heels-nya terlepas begitu saja, ia menggigit bibir Fleur, ciumannya turun ke leher. Fleur sedikit bersuara.Tangan besar pria itu meremas pinggul Fleur, ia mencoba membuka resleting dressnya Fleur.Fleur tiba-tiba menghentikan tangannya. “Berhenti!”Anshel menghentikan ciuman dan gerakan tangannya, ia mengangkat sedikit wajahnya, “Kenapa, apa kau belum siap?”Fleur menatapnya ragu, kemudian rasa mual menyerang perutnya, ia mendorong Anshel dan berlari menuju wastafel. Anshel menghampiri Fleur.Ia mengusap punggung Fleur, dengan cepat mengambil air putih dan tisu lalu diberikan padanya. Fleur meraih gelas itu. Akan tetapi Anshel mengambil kembali tisu itu dan membantu istrinya melap bibirnya terlebih dahulu. Lalu Fleur meneguk air putih itu. “Berapa gelas wine yang kau minum, Fleur?” Fleur menggeleng, lemah. Selesai minum Anshel mengambil gelas itu di sisi wastafel lalu mengangkat Fleur. “Jangan lakukan

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   44 - Asumsi Yang Membakar

    Seorang pria mengulurkan tangannya, siap mendorong Fleur dari balkon yang tinggi.​“Fleur!” teriak Anshel yang baru saja tiba di sana dengan napas memburu.​Pria itu menoleh kaget, sementara Fleur tersentak menyadari maut mengintip di belakangnya. Secara refleks, Fleur melayangkan tinju ke wajah pria itu dan mencoba berlari, namun si penyerang lebih cepat—ia menyambar pergelangan tangan Fleur dengan kasar.​Anshel berlari secepat kilat, namun langkahnya terhenti seketika saat pria itu berhasil memiting Fleur. Ia memutar tubuh Fleur, memelintir tangan kirinya ke belakang punggung, dan mendekap tubuh wanita itu erat dari belakang sebagai sandera.​“Jangan mendekat! Diam di sana, setidaknya tunggu sampai rencanaku berhasil,” seringai pria itu, tampak menikmati ketakutan di wajah Anshel.​“Lepaskan dia, atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” ancam Anshel dengan suara rendah yang bergetar karena amarah.​Alih-alih takut, pria itu justru menarik bibirnya membentuk senyum sinis.

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 44 - Di Balik Cahaya Pesta

    “Jangan menciumku lagi,” ucap Fleur pelan, meski pipinya memanas dan jantungnya berdegup tak karuan.Ia menunduk, seolah kalimat itu ditujukan pada lantai di antara mereka. Aku tidak boleh membiarkan ini berlanjut, pikirnya. Bukankah dua tahun lagi kami akan berpisah?Anshel terdiam. “Kenapa?”Fleur menghela napas pendek. “Karena kau akan segera membebaskanku. Aku tak ingin terikat pada sesuatu yang… tidak seharusnya.”Tangan Anshel terangkat, mengusap pipinya, dan…Fleur memejamkan mata sesaat—lalu menepisnya dengan perlahan.“Sudah malam. Aku lelah, Anshel.”Anshel menarik napas dalam, mengusap tengkuknya sendiri sebelum mengangguk. Senyum tipis terbit di wajahnya, meski ada sesuatu yang runtuh di dadanya.“Baik,” katanya pelan.Mereka lalu melangkah menuju kamar, berdampingan—namun dengan jarak yang terasa lebih jauh dari sebelumnya.Di dalam kamar setelah mencuci wajahnya dan berganti pakaian Anshel mengambil satu bantal dan membawanya ke sofa. Fleur baru saja keluar dari kamar ma

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 43 - Koridor Malam

    “Cantik?” tanya Fleur, menyinggung Caroline—putri Tuan Johnson.Anshel menengadah, meletakkan pisau dan garpunya dengan hati-hati. Tatapannya sempat menelusuri wajah Fleur, mencari tanda-tanda kecemburuan. Namun yang ia temukan justru ketenangan—dan senyum tipis di bibir istrinya.Ia ikut tersenyum. “Ya, cantik.”Fleur berhenti mengiris dagingnya sejenak, lalu mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum kecil, seolah jawaban itu memang tak mengejutkannya.Saat Fleur hendak meneguk wine, Anshel menahan gelasnya. Sentuhan tangan mereka tak terhindarkan—hangat dan singkat.“Jangan minum lagi,” ucap Anshel pelan. “Besok kita harus menghadiri pernikahan Pangeran Magnus. Kau perlu menjaga kondisi tubuhmu.”Fleur menurunkan pandangannya ke tangan Anshel yang masih menyentuh jemarinya. Sesaat kemudian, Anshel menarik tangannya kembali.Fleur hanya mengangkat bahu ringan, seolah tak mempermasalahkan. Usai makan malam, Anshel sempat bersosialisasi dengan beberapa tamu undangan. Fleur pun di

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 42 - Jamuan Makan Malam Kerajaan

    “Kau ke mana saja?” keluh Fleur yang sudah rapi dan siap berangkat. “Maaf, tadi aku keluar sebentar, cari angin,” jawab Anshel. Namun sejak kembali ke kamar, tatapannya tak lepas dari istrinya, seolah memastikan Fleur benar-benar ada di hadapannya. “Aku mandi dulu sebentar?” ujarnya kemudian. Fleur mengangguk kecil. “Hmmm.” Anshel segera bergegas ke kamar mandi. Sementara itu, Fleur duduk menunggu di sofa dekat jendela, tangannya meraih majalah yang tergeletak di atas meja kecil hotel. Ia membuka lembar demi lembar dengan santai, menikmati waktu luangnya. “Oh… ini wajah Pangeran Magnus saat sudah dewasa,” gumam Fleur pelan. “Ternyata tampan juga.” Saat jemarinya hendak membuka halaman berikutnya—yang menampilkan foto Putri Madison—rasa haus tiba-tiba menyerang. Fleur bangkit, berjalan ke sisi kanan kamar, membuka kulkas kecil, lalu mengambil sebotol air mineral. Ia meneguknya perlahan sebelum meletakkan kembali botol itu ke meja. Pandangan Fleur kemudian berkeliling, mene

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   41 - Undangan dari Kerajaan Vugge

    “Baiklah, Bu. Aku tidak akan bertanya saat ini.”Anshel menutup teleponnya. Namun ia sempat berpikir sesaat seolah sedang mencari jalan keluar dari masalahnya. Kemudian CEO Noblecrest Group itu meninggalkan kantor dan kembali ke mansion karena pekerjaannya sudah selesai. ◾️◾️◾️⚫⚫⚫◾️◾️◾️Satu minggu kemudian.Anshel dan Fleur bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan Pangeran Anshel, negara Vugge. Semua barang telah dimasukkan ke bagasi, pintu mobil ditutup, dan kendaraan itu melaju menuju bandara. Jalanan tertutup salju tipis, sunyi, hanya suara mesin yang menemani perjalanan mereka.Fleur melirik Anshel dari kursi sebelah. Wajah suaminya tampak lebih murung dari biasanya.“Anshel,” katanya akhirnya, “...apa di perusahaanmu ada masalah?”Anshel menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Tidak,” jawabnya singkat. “Aku hanya khawatir meninggalkan seseorang.”“Maksudmu Ava Grace?” Fleur menimpali.Anshel menyatukan alisnya, bibirnya tertarik tipis ke satu sudut. “Kenapa dia?”“I

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status