Home / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Tuan Anshel / Bab 33 - Selalu Menempel

Share

Bab 33 - Selalu Menempel

last update Last Updated: 2026-01-01 00:40:25

“Aku baik-baik saja—”

Kalimat Fleur terputus ketika Smith tiba-tiba menoleh ke samping. Fleur refleks mengikuti arah pandangnya.

Anshel berdiri tak jauh dari meja mereka.

Air mata Fleur mengambang di pelupuk mata. Tangannya yang tadi memegang ponsel terlepas dan menjatuhkannya ke atas meja.

Ia bangkit, melangkah cepat ke arah pengawal, lalu berhenti tepat di hadapannya.

“Apa kau mengadukanku?” tanyanya lirih, namun tajam.

Pengawal itu menunduk. “Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa merahasiakan hal sebesar ini dari Tuan Anshel.”

Tanpa menunggu penjelasan lain, Fleur berbalik dan meninggalkan restoran.

Anshel menepuk bahu pengawal itu pelan.

“Tidak apa-apa. Kerja bagus.”

Ia lalu menyusul Fleur.

Langkah Fleur cepat, nyaris berlari.

“Fleur,” panggil Anshel.

Ia tidak menoleh.

“Fleur. Berhentilah.”

Fleur terus berjalan hingga tiba di penginapan. Begitu masuk, ia menuang wine ke dalam gelas dan menjatuhkan diri ke sofa. Baru saja gelas itu terangkat, Anshel meraih pergelangannya dan mengambilnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 38 – Makan Malam Ulang Tahun Philippe

    “Ku pikir Ratu Calinda akan menyesali soal perkataannya tempo hari, ternyata—nenekmu sangat keras kepala.”Anshel menarik senyum samar di sudut bibirnya. Mata hazel-nya menatap ke arah Fleur sekilas, menyiratkan kesabaran sekaligus kepedulian.“Kau tidak perlu meminumnya, dan… aku minta maaf soal ini,” ucapnya sambil melepaskan beberapa kancing kemejanya. Fleur menghela napas panjang, sambil membersihkan make-upnya dengan gerakan perlahan, matanya masih menatap cermin seolah menata ulang pikirannya sendiri. Jadi begini Anshel yang sebenarnya, meminta maaf atas perlakuan keluarganya padaku? gumam Fleur dalam hati.◾️◾️◾️⚫⚫⚫◾️◾️◾️Keesokan harinya Anshel menelpon seseorang di kantornya, ia duduk di kursi tinggi kulit hitam dengan meja kayu mahoni mengkilap di depannya. Lampu pagi yang masuk dari jendela besar memantul di permukaan meja, membuat dokumen dan gelas kristal berkilau. “Tuan Jason, bagaimana perkembangan rencana Audit eksternal Ruthven Wines?” Kepala Auditor itu menimp

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   37 - Bingkisan dari Ratu Calinda

    Fleur langsung menelpon Anshel.“Anshel, aku tidak mau meeting dengan klienmu!”Ia berdiri di dekat jendela kantor, satu tangan bertumpu di kusen kaca. Kota terbentang di bawah sana, rapi dan sibuk, tapi Fleur sama sekali tak menikmati pemandangan itu.“Bukankah kau CTOnya? meskipun kau istriku, aku tidak akan memberikanmu kelonggaran.”Rahang Fleur mengeras. Ia menahan napas sejenak, menimbang kalimat berikutnya.“Sebaiknya kau perintahkan—”Sambungan terputus.Fleur menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menurunkannya perlahan. Tidak ada ekspresi berlebihan, hanya tarikan napas pendek yang menandakan kejengkelannya.“Aku baru mau mengusulkan asistenku, dia malah menutup teleponnya.”Ia mendesah pelan. Bukan keluhan, lebih seperti kebiasaan lama—cara menyingkirkan emosi sebelum kembali bekerja.Fleur duduk, membuka laporan-laporan di mejanya. Jemarinya bergerak cepat, teratur. Satu per satu berkas ia periksa tanpa cela. Waktu berjalan tanpa ia sadari, hingga cahaya matahari s

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 36 - Di bawah Selimut yang Sama

    “Anshel, berhentilah menatapku,” ucapnya dengan tatapan tajam. Anshel menunjukkan botol“Aku sedang minum, Fleur.”Seharian ini Fleur tampak tak memberi celah. Setiap geraknya singkat, setiap kalimatnya pendek.Anshel meletakkan botol ke dalam kulkas, lalu masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi tubuh Anshel. Ia mencondongkan badan, kedua telapak tangannya menempel di kaca, membiarkan uap memenuhi ruang sempit itu. Otot-ototnya yang tegang perlahan mengendur, tapi pikirannya justru makin ramai.Ia menyentuh bibirnya sendiri, jari-jarinya berhenti sejenak.Seharusnya aku tidak menciumnya.Andai saja Fleur tidak tertawa seperti itu. Andai saja senyum itu tidak ia berikan pada Smith dan pengawalku—Anshel mendesah, kupikir keadaan akan membaik, ternyata tidak. Anshel mendengus pelan, air menelan suara itu.Ia senang melihat Fleur tertawa. Ia tidak pernah menyangkalnya. Tapi entah sejak kapan, melihat senyum itu jatuh ke arah orang lain terasa mengganggu. Terlebih saat Fleur

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 35 – Batas yang Terlewati

    Ketika Anshel menariknya kembali dan menyentuh bibirnya, tubuh Fleur bergetar. Bukan karena dingin air, tapi karena sesuatu yang sama sekali tidak ia persiapkan.Kenapa aku tidak langsung mendorongnya? Ia memejamkan mata hanya sesaat. Saat Anshel melepaskan ciuman itu, Fleur membuka mata perlahan. Napasnya masih tercekat, wajahnya panas meski air menyentuh kulitnya.Para pengawal menahan senyum di tepi pantai. Smith tampak terkejut melihat adegan itu. Ia sempat menoleh, lalu mengalihkan pandangan, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan sepenuhnya sebelum melanjutkan berenang.Anshel menatap Fleur. Tangannya perlahan naik, menyentuh pipi Fleur dengan ragu—seolah menunggu izin tanpa sepatah kata pun. Fleur menggeleng, reaksinya campuran antara terkejut dan bingung. Tubuhnya kaku sesaat, lalu Anshel hanya mengusap pipinya dengan lembut. “Maaf,” ucap Anshel pelan. “Aku tak bisa menahannya.” Ia melepaskan pelukannya, memberi Fleur ruang.Fleur tetap diam. Ia menatap Anshel beberapa

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 34 – Bermain Voly Pantai

    Tatapan mereka sempat bertemu karena insiden kecil saat Anshel ingin menyelimuti Fleur. Apa yang sedang Anshel lakukan, benar… Jangan-jangan dia menyusulku… karena hal ini, dia mau meniduriku bukan melindungiku? pikirnya. Fleur langsung melotot, dadanya naik-turun, dan tanpa ragu mendorong Anshel.“Apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya, lalu menyilangkan tangan di dada seolah melindungi dirinya. Anshel terkejut, kaget, dan tubuhnya kehilangan keseimbangan—terjengkang ke kasur dalam posisi duduk.“Aku… aku hanya ingin membetulkan selimutmu, Fleur!” suaranya tergagap.Cahaya remang dari lampu malam menyorot wajah Fleur, menampilkan garis halus rambut yang sedikit berantakan, beberapa helai menempel di bibirnya. Anshel menelan ludah, ingin sekali menyingkirkan rambut itu, namun ia menahan tangannya.Ia berdiri, menatap Fleur dengan mata yang serius namun hangat.“Kau bisa tidur dengan nyenyak, Fleur. Aku tidak akan melakukan apapun.”Fleur ragu. “Kau serius?”Anshel mengangguk pelan.

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 33 - Selalu Menempel

    “Aku baik-baik saja—”Kalimat Fleur terputus ketika Smith tiba-tiba menoleh ke samping. Fleur refleks mengikuti arah pandangnya.Anshel berdiri tak jauh dari meja mereka.Air mata Fleur mengambang di pelupuk mata. Tangannya yang tadi memegang ponsel terlepas dan menjatuhkannya ke atas meja.Ia bangkit, melangkah cepat ke arah pengawal, lalu berhenti tepat di hadapannya.“Apa kau mengadukanku?” tanyanya lirih, namun tajam.Pengawal itu menunduk. “Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa merahasiakan hal sebesar ini dari Tuan Anshel.”Tanpa menunggu penjelasan lain, Fleur berbalik dan meninggalkan restoran.Anshel menepuk bahu pengawal itu pelan. “Tidak apa-apa. Kerja bagus.”Ia lalu menyusul Fleur.Langkah Fleur cepat, nyaris berlari.“Fleur,” panggil Anshel.Ia tidak menoleh.“Fleur. Berhentilah.”Fleur terus berjalan hingga tiba di penginapan. Begitu masuk, ia menuang wine ke dalam gelas dan menjatuhkan diri ke sofa. Baru saja gelas itu terangkat, Anshel meraih pergelangannya dan mengambilnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status