Share

BAB 4

Author: Ede Thaurus
last update publish date: 2025-09-24 22:36:02

"Ruth, apa yang kau lakukan?" 

Tiba-tiba seseorang menarik tubuhku hingga jatuh ke belakang dan menindih tubuh orang itu. Aku bangkit perlahan lalu berbalik dan melihat Alex disana.

"Apa kau sudah gila? Apa yang kau lakukan?" teriaknya putus asa, lalu berdiri dan membersihkan debu dari celananya.

"Aku mau bertemu Gerald. Jangan halangi aku! Aku harus menemaninya, agar dia tidak kesepian disana!" balasku berteriak dengan histeris. 

Alex langsung memeluk pinggangku, menahanku dari berlari ke ujung pagar dan melompat.

"Tenanglah Ruth, tenanglah. Jangan bersikap seperti ini," tahan Alex sambil terus mendekapku.

"Lepaskan! Lepaskan!" teriakku tanpa peduli. 

Tiba-tiba Alex melepaskan dekapannya lalu menamparku dengan keras. Aku terdiam, lalu dia menarik tubuhku dan membopongku di pundaknya dan membawaku kembali masuk ke rumah.

Aku masih terdiam, tidak percaya kalau Alex menamparku untuk pertama kalinya.

"Maafkan aku sudah menamparmu. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal gila seperti itu. Aku tahu beratnya kehilangan Gerald, tapi bukan berarti kita menyerah."

Aku diam menatap dinding kosong di hadapanku dengan pikiran yang sama kosongnya.

"Aku juga terluka dan hampir putus asa karena kehilangan Gerald, tapi apakah bunuh diri bisa menghidupkan Gerald?"

"Ini hidupku! Apa hak mu mengatur apa yang aku lakukan dengan hidupku?" tanyaku dengan marah.

"Aku bukan mengatur hidupmu. Tapi apakah kau memikirkan perasaan Gerald? Apa kau yakin kalau kau bunuh diri, anak kita akan bahagia? Kalau kau mati dan bertemu dengannya, apa yang akan kau katakan kepadanya? Mama bunuh diri karena Gerald? Apa kau yakin dia akan senang mendengarnya? Setidaknya jadilah ibu yang baik untuk saat ini."

Aku menatap Alex dengan tajam dan penuh kebencian.

"Kau memintaku jadi ibu yang baik? Kalau kau menjalankan tugasmu sebagai ayah yang baik, maka saat ini Gerald pasti masih bersama kita!" teriakku sambil memukul lantai dengan keras.

"Apa maksudmu? Mengapa kau menyalahkanku atas kematian Gerald?" tanyanya sambil melotot.

"Andai kau bisa menghasilkan uang dengan benar, kita bisa membawa Gerald ke rumah sakit yang lebih baik dan ditangani dengan lebih serius. Dia pasti bisa disembuhkan dan tetap hidup sampai hari ini!"

"Bagaimana menghasilkan uang dengan benar menurutmu? Kau sendiri tahu bagaimana aku bekerja keras demi keluarga ini. Aku bekerja dari pagi hingga malam! Aku melakukan apapun agar bisa menghasilkan uang!" teriak Alex dengan wajah merah.

Kami seperti berada di medan perang. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah 3 setengah tahun yang lalu, kami bicara tanpa berpikir.

"Kerja keras? Yah! Kau bekerja dari pagi sampai malam, karena kekeras kepalaan dan ketakutanmu! Kau memilih untuk mengajar di sekolah dan mengamen dengan melakukan teater jalanan! Kau berpikir itu adalah kerja keras? Kau hanya bekerja untuk dirimu sendiri, dan bukan untuk keluargamu!"

Alex dan aku kuliah di sebuah universitas seni ternama di negeri ini. Alex dua tahun di atasku dan mengambil jurusan teater, sementara aku mengambil jurusan seni rupa. Alex adalah salah satu andalan kampus saat kuliah dulu. Dia sangat berbakat dan juga tampan. Selain itu, dia adalah orang yang sangat mudah diajak bekerja sama. Jadi, saat masih mahasiswa, dia sudah menjadi bagian dari salah satu grup teater terkenal.

Tapi setelah kami menikah dan punya anak, Alex mengundurkan diri dari grup teaternya dan memutuskan untuk menjadi guru teater dan hanya berakting di jalanan bersama komunitas teater jalanan.

"Aku melakukannya demi diriku? Apa kau sadar dengan perkataanmu? Aku berhenti teater karena ingin memiliki waktu lebih banyak untukmu dan Gerald. Aku tidak mungkin tur berhari-hari dan meninggalkan kalian, karena itu aku memilih pekerjaan yang bisa membuatku bersama kalian lebih lama."

"Omong kosong! Kau mundur karena takut bersaing dengan para pemain baru. Berapa banyak produser yang menawarimu untuk bermain film atau menjadi pembawa acara, tapi kau tolak dengan alasan kau adalah seniman teater. Padahal karena kau takut mencoba bidang baru dan sangat keras kepala dengan idealisme yang membuat kita kehilangan anak kita!" 

Alex menghela napas dalam sambil menatapku tidak percaya.

"Jadi selama ini itu yang ada di pikiranmu? Selama ini kau berpura-pura mendukung semua keputusanku padahal kau membencinya?"

"Ya! Aku membencinya, tapi kalau aku ungkapkan semuanya, kau pasti akan marah. Kau pasti akan merasa diserang dan disepelekan. Tapi sekarang aku tidak peduli! Kau harus sadar, ketidakmampuanmu mencari uang lah penyebab kematian Gerald!"

"Lalu bagaimana denganmu? Kau juga melakukan hal yang sama. Berapa banyak orang yang memintamu melukis, tapi kau tolak? Kau hanya ingin santai dan tidak ingin berbagi beban mencari uang denganku!"

"Santai? Apa kau pikir menjaga anak itu santai? Aku menyusuinya selama dua tahun, menjaganya seharian penuh. Kapan aku punya waktu melukis? Lagipula dari awal kau yang mengatakan, aku hanya harus fokus menjaga Gerald dan kau yang akan mencari nafkah. Selain itu, kau yang menghamiliku! Sehingga aku harus berada disini!" teriakku, mengeluarkan semua hal yang aku pendam selama ini.

Alex menggelengkan kepala dengan marah.

"Aku yang menghamilimu? Bukankah kau yang mau tidur denganku meski saat itu kita tidak punya hubungan apa-apa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 79

    Inilah wanita yang waktu itu aku lihat di mall, saat itu George juga pasti melihatnya, karena itu dia memutuskan untuk pulang.Naomi tampak berbeda setelah bertemu langsung dan melihatnya dari dekat. Dia sangat cantik dan tampak begitu elegan, berkelas tapi tidak berlebihan. Pantas George dan saudaranya tergila-gila dengan wanita ini.Dia muncul dengan gaun berpotongan sederhana berwarna hijau, membuat wajahnya tampak berkilau. Dia juga memakai sepatu hitam terbuka berhak tinggi, dan tas tangan dengan warna senada. Tubuhnya yang ideal, ditambah dengan make up tipis dan rambut yang tertata rapi membuatku semakin menciut.Aku pikir penampilanku sudah cukup memukau, tapi setelah membandingkannya dengan Naomi, aku tampak seperti sekretaris atau asistennya. Naomi berjalan dengan anggun lalu duduk tepat di hadapan George."Halo George, lama tidak bertemu," sapanya dengan suara lembut yang ramah."Kau pasti sudah mendengar kalau George sudah memiliki pasangan, ini adalah kekasihnya," ucap I

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 78

    "Maafkan aku, karena membatalkan rencana ini tiba-tiba," ucap George sambil menyalakan mesin mobilnya. Aku diam saja."Tapi jangan khawatir, aku pasti akan membayarnya dua kali lipat, saat kita melakukan perjalanan lain," lanjutnya sambil melajukan mobil.Dia tampak gelisah dan aku tahu alasannya. "Tadi ... di mall. Apa kau melihat seseorang, atau sesuatu? Wajahmu tampak sangat terkejut."George diam, entah tidak mau menjawab atau sedang memikirkan jawaban dari pertanyaanku. Lalu, sebuah panggilan telepon menyelamatkannya. George segera meminggirkan mobilnya, lalu keluar untuk menerima panggilan telepon itu."Orangtuaku sudah sampai di rumah," ucap Alex begitu masuk ke dalam mobil."Kalau begitu aku akan turun di sini, agar kau bisa segera menemui mereka.""Tidak, aku akan mengantarmu pulang dulu.""Lalu mungkin besok kita tidak bisa bertemu," lanjut George membuat dadaku tiba-tiba sesak.Besok, kenapa harus besok?"George, besok bolehkah kita tetap bertemu. Besok ibuku pasti akan ke

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 77

    Aku memang terluka dan merindukan putraku, tapi dekapan pria ini adalah hal lain. Perasaan yang tidak pernah kurasakan muncul. Airmataku langsung berhenti berganti dengan detak jantungku yang semakin cepat dan kencang. Tidak! Aku tidak boleh membiarkan diriku melanjutkan perasaan ini.Aku segera melepaskan diri dari dekapan George dan menyeka air mataku dengan cepat."Ada apa?" tanya George bingung."Kau ... tidak harus melakukan hal sejauh ini.""Oh, aku minta maaf. Apa kau tersinggung karena aku memelukmu? Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya tidak sanggup melihatmu menangis," jelas George membuatku malah menjadi malu.Dia pasti memelukku tanpa motivasi apapun. Maksudku, dia pasti sudah memeluk puluhan atau ratusan wanita. Akulah yang berlebihan dan kini malah terdengar seperti menyalahkannya."Aku tahu kau tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja kita sedang berada di tempat umum, aku tidak nyaman bila ada yang melihatku," sahutku berbohong."Baiklah, aku mengerti.""Sekarang, ayo ki

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 76

    "Apa kau sudah lapar?" tanya George begitu aku masuk ke dalam mobilnya."Tentu saja aku kelaparan. Aku tidak sarapan karena kau melarangku makan.""Kalau begitu apa yang paling ingin kau makan sekarang?""Apa saja yang bisa membuatku kenyang."George tertawa mendengar jawabanku."Apa yang lucu?" tanyaku bingung."Katakan sekarang kau lebih ingin makan sesuatu yang manis atau gurih?"Aku diam sejenak."Sepertinya sepotong coklat enak juga sebelum mulai makan makanan berat," jawabku sambil tersenyum."Nah! Itu dia jawabannya," seru George sambil mengeluarkan telepon genggamnya dan mengetik sesuatu."Ayo kita beli coklat!" lanjutnya setelah memasukkan kembali telepon genggamnya.Apa yang dia lakukan? Benar-benar aneh.***"Silakan pilih. Ambil saja yang kau mau, aku akan membayarnya," ucap George begitu kami masuk ke dalam toko coklat mahal yang sangat terkenal."Aku tahu kau kaya raya, tapi ku dengar harga coklat di sini sangat mahal," bisikku setelah memeriksa sekelilingku."Tidak apa

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 75

    "Turunlah, aku menjelaskannya saat kita bertemu lagi, atau lewat telepon," jawab George menggantungkan jawabannya."Tidak katakan saja sekarang!" paksaku"Kalau begitu mau berjalan-jalan lagi?""Sekarang jelaskan mengapa biru?" todongku begitu kembali duduk di dalam mobil."Karena biru selalu mendominasi dan selalu ada dalam semua lukisanmu," jawab George sambil menjalankan mobilnya perlahan."Hanya karena itu?" tanyaku meremehkan."Coba lihat semua lukisanmu ini, warna apa yang dominan?" ucap George sambil menyerahkan telepon genggamnya."Kapan kau memotret semua ini?""Saat kau tidak melihat, tapi bukan itu yang penting. Sekarang coba kau perhatikan semua lukisanmu ini, bagaimana perasaanmu ketika melihat setiap warna? Yang mana yang terasa istimewa? Warna apa yang bila kau hilangkan maka akan merubah esensi lukisanmu?"Aku mengambil telepon genggam George dan memperhatikan. Aku jadi teringat saat mulai melukis, saat itu aku memang menyukai warna biru. Waktu itu alasanku karena warn

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 74

    George kembali diam dan menatap ke luar jendela."George, katakan semuanya! Mengapa kau bicara sepenggal-sepenggal?""Kau hanya akan semakin sakit hati nanti," jawabnya tanpa memandangku."Katakan saja!" bentakku kesal."Alex yang membayar hutang ayahmu.""Iya benar, tapi itu dilakukan oleh manajernya tanpa diketahui oleh Alex.""Baiklah. Sekarang kemana arah rumahmu?" George benar-benar mengesalkan. "Jelaskan apa maksudmu? George!" teriakku putus asa. Airmata mulai mengalir ke pipiku karena menahan marah dan rasa penasaranku.George menatapku dan langsung panik karena melihatku menangis."Hei, jangan menangis. Baiklah, aku akan mengatakan semuanya. Tenang dulu," bujuk George sambil mengambil tisu dan menyeka pipiku."Kau benar-benar membuatku putus asa," sahutku sambil menangis lebih keras."Maafkan aku, maafkan aku. Baiklah, setelah kau tenang aku akan menceritakan semuanya," ucap George sambil menepuk bahuku pelan.Aku langsung berhenti menangis. Sebenarnya bukan karena sangat in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status