共有

BAB 3

作者: Ede Thaurus
last update 公開日: 2025-04-09 22:55:52

Dua hari kemudian.

Hari ini untuk pertama kalinya, hanya ada aku dan Alex di rumah kami. Kemarin, sehari setelah pemakaman Gerald, hampir semua orang masih menginap disini untuk menemani kami. Tapi hidup masih berjalan untuk mereka, jadi mereka harus kembali ke rutinitas mereka.

Aku meringkuk di atas tempat tidurku, tanpa suara, tanpa tangis. Berbagai pertanyaan muncul dalam kepalaku, tapi semua berawal dengan kata 'kenapa'. Penyesalan, kemarahan, kesedihan, keputusasaan dan kekecewaan bercampur jadi satu. Aku terus mengutuki diriku sendiri dan mencari alasan atas kepergian Gerald.

"Kau mau makan?" 

Tiba-tiba Alex masuk ke dalam kamar, dan bicara denganku setelah berhari-hari kami tidak berkomunikasi. Aku diam, dan terus menatap dinding kamarku.

"Aku sudah memesan makanan dan meletakkannya di meja makan. Makanlah kalau kau lapar," ucapnya tanpa emosi, lalu keluar dan menutup pintu.

Aku takjub, pria itu masih bisa memesan makanan dan bicara denganku sedingin itu. Apa dia tidak merasa apa yang kurasakan? Apa dia tidak merasa bersalah? Apa mungkin baginya juga hidup terus berjalan? 

Tiba-tiba aku kembali menangis, meratapi nasibku. Kenapa hanya aku yang merasakan kalau ini adalah akhir dunia? Kenapa hanya aku yang tidak sanggup lagi menatap matahari atau menghirup udara pagi? Aku menangis dan terus menangis, hingga kelelahan dan akhirnya tertidur.

"Ruth, bangunlah. Kau harus makan sesuatu, kalau tidak kau bisa jatuh sakit."

Aku membuka mataku, entah kapan mereka tiba, tapi ayah dan ibuku sudah berdiri di sisi tempat tidurku dengan wajah khawatir.

"Aku memang ingin sakit dan menyusul Gerald, ma," jawabku lemah.

"Apa kau sudah gila? Kami semua juga merasa sedih kehilangan Gerald, tapi bukan berarti menjadi putus asa seperti itu. Sekarang, duduklah dan makan!" perintah ibuku sambil menahan airmatanya.

"Papa akan menyuapimu, sekarang papa mohon duduklah," potong ayahku, setelah menarik ibuku dan menyuruhnya keluar.

Aku memaksakan diri untuk bangun dan duduk bersandar dengan bantuan ayahku. Lalu ayahku mulai menyuapi bubur daging buatan ibuku dengan takaran kecil.

"Kamu selalu menyukai bubur ini. Terutama setiap kali kau sakit. Bahkan saat tidak ada makanan lain yang bisa kau telan, kau tetap menyantap bubur ini dengan lahap," ujar ayahku sambil terus menyuapiku.

Aku membuka mulutku beberapa kali, lalu berhenti.

"Aku sudah kenyang, Pa," ucapku sambil menoleh saat ayahku menyuapiku.

"Tapi kata Alex, sudah dua hari kau tidak makan dan minum apapun. Makanlah sedikit lagi, nak," bujuk ayahku.

Aku menggelengkan kepala tanpa mengatakan apapun.

"Kalau begitu, minum dulu sebelum kau kembali beristirahat."

Aku meneguk air putih hangat yang diberikan ayahku. Lalu kembali meringkuk. Aku bukannya tidak melihat raut kesedihan di wajah ayahku, karena keadaan putrinya yang sangat buruk. Tapi aku tidak punya kekuatan untuk menghiburnya, karena aku terlalu terluka.

"Ruth, nanti kalaupun kau tidak ingin makan, setidaknya minum lah air putih agar kau tidak kekurangan cairan. Maaf, papa tidak bisa lama-lama disini karena harus bekerja, mama juga tidak bisa meninggalkan nenekmu terlalu lama. Tapi papa yakin, kau pasti akan kuat menghadapi cobaan ini," hibur ayahku sambil membelai punggungku.

Aku diam saja, tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.

***

Aku terbangun dengan kaget, karena tidak ada seorangpun di sisiku.

"Gerald!" pekikku kaget.

Biasanya dia tidur di sampingku, kemana dia? Aku langsung turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu. Lalu tiba-tiba tersadar, Gerald sudah tiada. Dadaku terasa nyeri, dan napasku terasa sesak. Inilah sebabnya aku benci terbangun dari tidur, karena kenyataan yang menungguku sangat menyakitkan.

Aku berjalan perlahan keluar dari kamarku. Ruang tamu sangat gelap, mungkin ini sudah tengah malam, karena langit juga sangat gelap. Aku terus melangkah naik ke lantai atas rumah kami. Gerald tidak pernah naik kesini, karena terlalu berbahaya.

Hanya ada satu kamar untuk gudang dan sisanya ruang terbuka untuk menjemur pakaian dan menanam beberapa tanaman rempah-rempah kesukaanku.

Entah apa yang menggerakkanku, tapi kaki ku tiba-tiba melangkah semakin mendekati pagar balkon yang hanya setinggi pahaku.

Aku berdiri terpaku disana sambil menatap ke bawah. Melihat permukaan beton yang menungguku, membuatku yakin kalau aku pasti akan langsung mati bila aku melompat.

Sepertinya itu bukan ide buruk. Kalau aku mati, aku pasti bisa bertemu Gerald dan kami akan bersatu kembali. Aku bisa merawatnya dan dia tidak akan kesepian di alam sana. Aku tersenyum lega, akhirnya aku menemukan cara untuk bisa menemui Gerald. 

"Tunggu mama sayang," gumamku sambil mengangkat satu kaki untuk melewati pagar pembatas.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 75

    "Turunlah, aku menjelaskannya saat kita bertemu lagi, atau lewat telepon," jawab George menggantungkan jawabannya."Tidak katakan saja sekarang!" paksaku"Kalau begitu mau berjalan-jalan lagi?""Sekarang jelaskan mengapa biru?" todongku begitu kembali duduk di dalam mobil."Karena biru selalu mendominasi dan selalu ada dalam semua lukisanmu," jawab George sambil menjalankan mobilnya perlahan."Hanya karena itu?" tanyaku meremehkan."Coba lihat semua lukisanmu ini, warna apa yang dominan?" ucap George sambil menyerahkan telepon genggamnya."Kapan kau memotret semua ini?""Saat kau tidak melihat, tapi bukan itu yang penting. Sekarang coba kau perhatikan semua lukisanmu ini, bagaimana perasaanmu ketika melihat setiap warna? Yang mana yang terasa istimewa? Warna apa yang bila kau hilangkan maka akan merubah esensi lukisanmu?"Aku mengambil telepon genggam George dan memperhatikan. Aku jadi teringat saat mulai melukis, saat itu aku memang menyukai warna biru. Waktu itu alasanku karena warn

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 74

    George kembali diam dan menatap ke luar jendela."George, katakan semuanya! Mengapa kau bicara sepenggal-sepenggal?""Kau hanya akan semakin sakit hati nanti," jawabnya tanpa memandangku."Katakan saja!" bentakku kesal."Alex yang membayar hutang ayahmu.""Iya benar, tapi itu dilakukan oleh manajernya tanpa diketahui oleh Alex.""Baiklah. Sekarang kemana arah rumahmu?" George benar-benar mengesalkan. "Jelaskan apa maksudmu? George!" teriakku putus asa. Airmata mulai mengalir ke pipiku karena menahan marah dan rasa penasaranku.George menatapku dan langsung panik karena melihatku menangis."Hei, jangan menangis. Baiklah, aku akan mengatakan semuanya. Tenang dulu," bujuk George sambil mengambil tisu dan menyeka pipiku."Kau benar-benar membuatku putus asa," sahutku sambil menangis lebih keras."Maafkan aku, maafkan aku. Baiklah, setelah kau tenang aku akan menceritakan semuanya," ucap George sambil menepuk bahuku pelan.Aku langsung berhenti menangis. Sebenarnya bukan karena sangat in

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 73

    Aku berbalik dan melihat sosok yang tentu saja sangat kukenali bahkan hanya dari suaranya."Alex, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku dengan tubuh menegang.George ikut berbalik dan menatap Alex sambil menyipitkan mata dan tampak tidak nyaman."Ada urusan yang harus aku selesaikan disini," jawabnya santai sambil tersenyum seakan tidak ada masalah apapun di antara kami."Tuan George, senang bisa bertemu anda lagi," sapanya sambil menjulurkan tangan ke arah George."Halo Alex," balas George menyapa, lalu menyambut uluran tangan Alex."Apa kau mau memperlihatkan lukisanmu kepada Tuan George?" Aku mengangguk dengan canggung. Alex tampak begitu tenang, seakan aku dan dia tidak pernah memiliki masa lalu apapun dan hanya dua orang yang pernah saling mengenal. Padahal belum lewat seminggu, ketika dia mendatangiku dan memohon agar aku kembali bersamanya.Apakah dia memang sudah melupakan dan mengikhlaskan segalanya, atau dia cuma aktor yang hebat? Entah mana yang lebih baik saat ini, tapi

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 72

    "Mama pikir akan bertemu denganmu lebih lama lagi. Siapa sangka kau akan pulang secepat ini," sapa ibuku begitu aku masuk ke dalam rumah."Ya, sebagian pekerjaanku sudah selesai, jadi aku diizinkan pulang," jawabku berbohong."Kau sudah makan?""Sudah Ma. Sekarang aku mau istirahat, kita bicara besok saja ya, Ma," jawabku sambil membawa tasku ke dalam kamar."Tidurlah yang nyenyak, kau pasti lelah," sahut ibuku.Aku segera melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur, lalu mengeluarkan telepon genggamku. Aku membuka jawaban George dan memeriksanya perlahan. Pria ini benar-benar mengenal dirinya sendiri, semua jawabannya jelas dan tidak ada satupun yang mengambang seperti jawabanku.Selain itu, dia juga menambahkan penjelasan dan membuat jawabannya menjadi sangat menarik untuk dibaca. Aku tidak perlu menghapalnya, karena membaca tulisan George membuatku bisa membayangkan orang seperti apa dia dan benar-benar berbeda dengan yang kubayangkan selama ini.Dari jawabannya aku menyadari bahwa se

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 71

    Aku sangat penasaran siapa yang menelepon George dan apa yang membuatnya begitu marah. Tapi rasanya kami tidak sedekat itu untuk aku menanyakan urusan pribadinya. Aku tiba-tiba kehilangan semangatku untuk lanjut melukis. "Nona, maaf mengganggu, apakah anda mau makan siang? Tuan George meminta saya menanyakan kepada anda."Lola tiba-tiba masuk setelah mengetuk pintu sekali."Makan siang? Bukankah aku baru sarapan?""Nona, sepertinya anda tidak menyadari kalau anda sudah melukis cukup lama. Sekarang bahkan sudah lewat jam makan siang," jawab Lola sambil tersenyum.Mendengar penjelasan Lola, tiba-tiba perutku berbunyi, membuatku tersadar kalau aku memang sudah lapar."Baiklah, aku akan makan siang sekarang."***Aku masuk ke dalam ruang makan setelah membersihkan diri. George sudah duduk di sana dan sepertinya menungguku."Kau bilang akan pulang malam, kenapa sudah pulang?""Pekerjaan di kantor sudah selesai dan tidak ada yang harus kulakukan lagi," jawab George sambil mempersilakan aku

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 70

    Aku menatap mata George, dia terlihat tulus mengatakan semuanya."Sekarang tidurlah, besok kau harus mulai bekerja. Dan aku akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu, jadi jangan melarikan diri."Aku mengangguk pelan, lalu segera masuk ke kamarku. Perasaan aneh muncul di dadaku, entah bagaimana menjelaskannya. Tapi hatiku mengatakan pembicaraan tadi akan membuatku bertahan lama di rumah ini.***"Selamat pagi," sapa George sambil tersenyum saat kami keluar dari kamar bersamaan."Selamat pagi," balasku canggung. Sikapnya tiba-tiba berubah menjadi sangat ramah. Apa dia sungguh-sungguh akan memenuhi permintaanku semalam?"Kalau kau mau sarapan, katakan saja pada pelayan, mereka akan menyiapkannya.""Apa kau juga akan sarapan?" "Tidak, aku harus mengurus beberapa hal di kantor," jawab George sambil membetulkan jasnya."Tapi-""Apa kau merasa tidak nyaman tinggal sendirian?" tanya George seakan bisa membaca pikiranku."Maksudku-""Jangan khawatir, aku sudah menyediakan asisten pribadi unt

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status