INICIAR SESIÓN"Ya," jawab George dengan wajah sangat serius.Aku terdiam, entah harus bereaksi bagaimana dan memikirkan apa."Ibuku, sangat membenci Naomi karena itu. Dia merasa Naomi mengkhianti anak pertamanya karena ingin bersamaku segera setelah suaminya meninggal."Oh, jadi ini cinta kedua belah pihak yang tidak direstui orang tua. Aku ... tidak menyukai arah pembicaraan ini."Jadi kalian tidak bersama karena kau tidak mau melawan ibumu?"George menatapku lalu menggelengkan kepalanya."Aku tidak menginginkannya.""Tapi kau bilang kau menyatakan cintamu setelah kakakmu tiada?""Sebenarnya itu juga tidak terlalu tepat.""Tolong! Ceritakan saja semuanya dengan jelas. Jangan sepenggal-sepenggal apalagi diubah-ubah. Atau, jangan katakan apapun! Lagipula, sebenarnya hubunganmu dengan Naomi sama sekali tidak ada hubungannya denganku."Aku menatap George dengan putus asa. Kenapa aku harus merasakan getaran terhadap pria ini? Rasanya melelahkan. Aku selalu berpikir sel cintaku mati bersama kepergian Ge
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan setengah suara, takut terdengar orang lain. Sementara tanganku otomatis merangkul leher George agar berat tubuhku tidak sepenuhnya membebani lengan George."Menggendongmu ke atas, agar kau tidak kelelahan. Sekaligus berolahraga untuk menguatkan ototku. Beberapa hari ini, aku tidak sempat melakukannya," jawab George sambil mengedipkan satu mata.Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Kami melewati pintu masuk. Dua orang satpam yang berjaga menyapa George dengan sopan, George membalas sapaan mereka sambil terus berjalan. Sementara aku membenamkan wajahku ke dada George. Rasanya aku tidak sanggup menatap wajah siapapun. Sungguh memalukan."Kita sudah sampai, aku akan menurunkanmu sebentar agar aku bisa membuka pintu. Setelah itu, kau akan ku gendong lagi, kalau-kalau kau masih kelelahan.""Tidak! Aku bisa berjalan sendiri!" pekikku cepat begitu turun dari gendongan George. George menekan kata sandi di pintu canggihnya, lalu pintu pun terbuka. "S
Alex menarik napas panjang, lalu mencoba meraih tanganku tapi segera kutepis."Kau akan kelelahan kalau menangis terus. Berhentilah menangis, Gerald sudah bahagia dan tidak sakit lagi.""Kalau kau tidak suka melihatku menangis, pergilah.""Ruth aku-""Baik, kalau kau tidak mau pergi, aku yang pergi! Agar kau bisa merasakan ketenangan," potongku sambil bangkit perlahan. Lututku kembali terasa perih, tergesek rumput."Ruth, bukan itu maksudku," jawab Alex sambil menghalangi langkahku."Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan berkata apa-apa lagi. Bicaralah dengan Gerald, aku hanya akan berdiri diam di sini," lanjut Alex sambil melangkah mundur.Aku berbalik dan kembali menemui Gerald. Kali ini, aku hanya diam sambil duduk di samping nisannya. Kuseka nisan yang berdebu itu dengan telapak tanganku, tanpa sepatah kata, hanya airmata yang terus berderai.'Nak, kau pasti sudah bahagia di sana. Maafkan mama belum bisa menemanimu,' ucapku dalam hati, dengan tangis tanpa henti.Berkali-kali aku me
Inilah wanita yang waktu itu aku lihat di mall, saat itu George juga pasti melihatnya, karena itu dia memutuskan untuk pulang.Naomi tampak berbeda setelah bertemu langsung dan melihatnya dari dekat. Dia sangat cantik dan tampak begitu elegan, berkelas tapi tidak berlebihan. Pantas George dan saudaranya tergila-gila dengan wanita ini.Dia muncul dengan gaun berpotongan sederhana berwarna hijau, membuat wajahnya tampak berkilau. Dia juga memakai sepatu hitam terbuka berhak tinggi, dan tas tangan dengan warna senada. Tubuhnya yang ideal, ditambah dengan make up tipis dan rambut yang tertata rapi membuatku semakin menciut.Aku pikir penampilanku sudah cukup memukau, tapi setelah membandingkannya dengan Naomi, aku tampak seperti sekretaris atau asistennya. Naomi berjalan dengan anggun lalu duduk tepat di hadapan George."Halo George, lama tidak bertemu," sapanya dengan suara lembut yang ramah."Kau pasti sudah mendengar kalau George sudah memiliki pasangan, ini adalah kekasihnya," ucap I
"Maafkan aku, karena membatalkan rencana ini tiba-tiba," ucap George sambil menyalakan mesin mobilnya. Aku diam saja."Tapi jangan khawatir, aku pasti akan membayarnya dua kali lipat, saat kita melakukan perjalanan lain," lanjutnya sambil melajukan mobil.Dia tampak gelisah dan aku tahu alasannya. "Tadi ... di mall. Apa kau melihat seseorang, atau sesuatu? Wajahmu tampak sangat terkejut."George diam, entah tidak mau menjawab atau sedang memikirkan jawaban dari pertanyaanku. Lalu, sebuah panggilan telepon menyelamatkannya. George segera meminggirkan mobilnya, lalu keluar untuk menerima panggilan telepon itu."Orangtuaku sudah sampai di rumah," ucap Alex begitu masuk ke dalam mobil."Kalau begitu aku akan turun di sini, agar kau bisa segera menemui mereka.""Tidak, aku akan mengantarmu pulang dulu.""Lalu mungkin besok kita tidak bisa bertemu," lanjut George membuat dadaku tiba-tiba sesak.Besok, kenapa harus besok?"George, besok bolehkah kita tetap bertemu. Besok ibuku pasti akan ke
Aku memang terluka dan merindukan putraku, tapi dekapan pria ini adalah hal lain. Perasaan yang tidak pernah kurasakan muncul. Airmataku langsung berhenti berganti dengan detak jantungku yang semakin cepat dan kencang. Tidak! Aku tidak boleh membiarkan diriku melanjutkan perasaan ini.Aku segera melepaskan diri dari dekapan George dan menyeka air mataku dengan cepat."Ada apa?" tanya George bingung."Kau ... tidak harus melakukan hal sejauh ini.""Oh, aku minta maaf. Apa kau tersinggung karena aku memelukmu? Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya tidak sanggup melihatmu menangis," jelas George membuatku malah menjadi malu.Dia pasti memelukku tanpa motivasi apapun. Maksudku, dia pasti sudah memeluk puluhan atau ratusan wanita. Akulah yang berlebihan dan kini malah terdengar seperti menyalahkannya."Aku tahu kau tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja kita sedang berada di tempat umum, aku tidak nyaman bila ada yang melihatku," sahutku berbohong."Baiklah, aku mengerti.""Sekarang, ayo ki







