LOGINALPHA SERIES: BOOK II Sebastian El Venuel, the son of a well-known alpha, is next in line and the only son of his parents. As he is bestowed the title of the next in line alpha, the elders assigned him to a difficult job. And that is to chase away the rogue that trespassed on their wolvendom. They thought it was some ordinary rogue but the one before him is none other than the Tyrant Rogue that have been roaming in different boarders bringing nothing but chaos. “We ask for nothing but peace. Ask anything that you want and we will grant it, even so, after that... We shall never see your face again” “You said anything that I want?... Alright then .. I'm bringing you with me”
View More"Panji, daripada pusing dan stres mikirin nasib kita yang habis kena PHK, mending kita main aplikasi MiChat aja. Wanita di sana cantik-cantik dan seksi-seksi," kata Bowo, rekan kerjaku itu sambil tersenyum miring.
Aku duduk diam di pojokan kafe, menatap cangkir kopi hitam yang sudah setengah dingin. Bowo duduk di seberangku, santai seperti biasanya. Kafe kecil ini biasanya tempat kami melepas penat setelah kerja, tapi hari ini suasananya berbeda. Ada keheningan yang menggantung di udara, seperti beban tak terlihat yang tak terucapkan. PHK massal yang baru saja kami alami masih menghantui pikiranku. Perusahaan tempat kami bekerja selama bertahun-tahun gulung tikar, dan kami serta para karyawan yang lain pun ditinggalkan tanpa harapan. Bowo menyeruput kopinya pelan, tampak tenang meski aku tahu dia sama frustrasinya denganku. Dia menghela napas panjang sebelum berbicara, memecah kesunyian. Aku memandang Bowo, menelusuri wajahnya yang tampak santai, tetapi matanya menunjukkan kelelahan. Ia berusaha menghibur dirinya sendiri dengan cara yang menurutku sia-sia. Aku menggeleng pelan. "Sorry, bro. Tapi gue nggak berminat," jawabku singkat sambil meletakkan cangkir kopiku yang hampir habis. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku sampai terlibat dalam hal semacam itu, apalagi dengan Shira, istriku, yang selalu menunggu di rumah. Bowo menatapku sejenak, lalu mengangkat bahunya, tak peduli. "Ya udah, terserah lo. Yang penting, gue nggak mau terus-terusan terjebak mikirin nasib buruk ini," ujarnya dengan nada acuh. Dia mengambil ponselnya dan mulai sibuk dengan layar, tenggelam dalam dunianya sendiri. Kini aku hanya bisa menghela napas pelan, merasa bahwa ada jurang yang semakin lebar antara aku dan Bowo. Dia bisa berlarut-larut dalam pelarian yang dangkal, sementara aku tak bisa begitu saja melupakan kenyataan pahit ini. Shira dan masa depan kami terus menghantui pikiranku. Bowo masih bujangan dan bisa bebas menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan banyak wanita. Berbeda denganku yang sudah terikat dalam pernikahan dengan istriku. Aku berdiri, meraih jaket yang kusampirkan di sandaran kursi. "Gue balik dulu, ya. Lo hati-hati di jalan," ucapku. Bowo hanya melambai singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Keluar dari kafe, aku merasakan angin malam yang sejuk menyambutku, tapi tak cukup untuk mendinginkan kekhawatiranku. Jalanan di depan sepi, lampu-lampu jalan menyinari aspal yang basah setelah hujan sore tadi. Kaki-kakiku melangkah lambat, berat oleh beban pikiran yang tak kunjung hilang. Shira... Apa yang akan kukatakan padanya nanti? Aku tahu dia kuat, tapi aku tetap tak ingin mengecewakannya. Aku ingin menjadi suami yang bisa diandalkan, tapi sekarang, tanpa pekerjaan, rasanya masa depan kami begitu suram. Langkahku terhenti sejenak di depan toko kecil yang sudah tutup. Aku merogoh saku, memeriksa ponselku, tapi tak ada pesan dari Shira. Biasanya, dia akan menanyakan kapan aku pulang. Aku menghela napas sekali lagi sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Jalanan yang gelap dan sepi seperti cerminan dari suasana hatiku yang gelap, penuh keraguan, dan ketidakpastian. Aku hanya bisa berharap, entah bagaimana, segalanya akan membaik. Kini aku pun cepat-cepat mengendarai motorku menuju ke rumah, dimana aku yakin bahwa saat ini Shira pasti sedang menungguku. --- Saat aku tiba di rumah, Shira menyambutku di depan pintu, seperti biasanya. Dia mengenakan daster usangnya, daster yang sudah berulang kali kulihat dan, sejujurnya, mulai membuatku bosan. Rambutnya diikat asal, wajahnya kusam dan berminyak, dengan beberapa jerawat yang menonjol. Tak ada sedikit pun riasan di wajahnya. Aku berusaha tersenyum, tapi dalam hati, ada rasa kecewa yang tak bisa kutahan. "Mas, capek ya?" tanya Shira lembut, sambil membantuku melepas sepatu dan dasi. Dia selalu seperti ini, perhatian dan melayani. Tapi, di saat seperti ini, aku merasa ada yang kurang. Mungkin karena dulu dia selalu tampil menarik, tapi kini... aku bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali dia dandan. "Nggak apa-apa kok," jawabku pendek. Aku tidak mau membebani Shira dengan masalahku. Dia sudah cukup baik, tapi perasaan tak nyaman ini terus mengganggu. Shira masuk ke dapur, menyiapkan kopi dan makanan untukku. Aku duduk di ruang tamu, menatap meja dengan pikiran melayang. Dia memang istri yang baik, selalu memanjakanku dengan perhatian yang penuh. Tapi entah kenapa, aku merasa tidak lagi tertarik padanya seperti dulu. Dia datang dengan secangkir kopi hangat, menyodorkannya padaku sambil tersenyum. "Mas, kalau ada yang mau dibicarakan, Shira siap dengerin, kok," ujarnya, mencoba memahami kegelisahan yang mungkin terlihat di wajahku. Aku hanya menggeleng. "Nggak ada apa-apa," kataku sambil meminum kopi. Dalam hatiku, aku tahu aku berbohong. Ada sesuatu yang sangat mengganggu, tapi aku tak ingin Shira tahu. --- Malam itu, rumah terasa sunyi setelah makan malam yang tak lebih dari rutinitas bisu. Shira langsung masuk ke kamar setelah membersihkan meja. Biasanya, ia akan duduk di ruang tamu, menemani sejenak sebelum kami tidur, tetapi malam ini berbeda. Aku tahu, ada yang salah dalam hubungan kami, tetapi aku juga merasa terlalu lelah untuk memikirkan solusinya. Aku duduk di sofa ruang tamu, ponsel di tangan, memainkan layar tanpa tujuan. Pikiran tentang PHK di kantor, ketidakpastian masa depan, dan kehampaan dalam pernikahanku bercampur menjadi satu. Rasanya segalanya mulai membebani. Ting! Layar ponselku bergetar, menandakan pesan masuk. Ternyata dari Bowo. Aku membuka pesan itu tanpa ekspektasi, tetapi yang kulihat membuatku tertegun sejenak. Foto-foto wanita dengan pose sensual terpampang di layarku. Wanita-wanita dengan tubuh yang menawan, senyum menggoda, dan mata penuh pesona. Semua itu dikirimkan Bowo melalui MiChat, aplikasi yang baru-baru ini ia rekomendasikan. "Gila, cakep-cakep amat," gumamku, setengah terkejut dan setengah tertarik. Ada dorongan halus dalam diriku, perasaan yang sudah lama tak kurasakan. Seolah godaan merasukiku perlahan. Wanita-wanita itu berbeda jauh dari Shira-istriku yang semakin hari semakin tampak kusam di mataku. Bukannya Shira tak cantik, tapi sekarang dia lebih sering sibuk dengan rutinitas rumah tangga, membuatnya terlihat letih dan tanpa kilauan yang dulu pernah memikatku. Aku menelan ludah, merasakan denyut kecil di dada yang memicu rasa ingin tahu. "Ah, sekali-kali nggak apa-apa," bisikku, mencoba meyakinkan diri. "Lagipula, Shira udah nggak menarik lagi," gumamku, setengah bersalah. Aku melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, memastikan Shira sudah tertidur. Lalu, tanpa berpikir panjang, jariku menari di layar, mengunduh aplikasi MiChat. Hanya butuh beberapa menit sebelum aku tenggelam dalam profil demi profil wanita cantik yang muncul di aplikasinya. Mereka tampak sempurna, jauh dari sosok Shira yang kini terasa semakin asing bagiku. Setelah beberapa saat, pandanganku tertumbuk pada satu profil yang menarik perhatian. Dira. Wanita ini memiliki kecantikan yang nyaris tak terbayangkan, dengan senyum yang menggoda dan tubuh yang proporsional. Dada besarnya terlihat jelas dari foto-foto yang ia unggah, membuat pikiranku berkelana lebih jauh. Persis seperti yang Bowo katakan, wanita seperti ini tampaknya bisa menawarkan pelarian dari semua masalahku. Aku ragu sejenak, tapi kemudian mengirim pesan padanya. "Hai, apa kabar?" Pesan sederhana, tapi penuh harapan. Tak ada balasan. Namun, aku tak berhenti di sana. Aku terus menelusuri foto-fotonya, memperhatikan setiap detail. Namun, semakin aku melihatnya, semakin ada sesuatu yang terasa aneh. Aku memperbesar salah satu fotonya. Rambut hitam panjang, senyum lebar, dan bentuk wajahnya .... "Tunggu... kenapa wanita ini mirip banget dengan Shira?" bisikku, nyaris tak percaya.“ And I now dexlare, Sethia El Venuel as the leader of our pack!” Crowds started to cheer. Its been years since Sebastian left their place and started to rule that place owned by Calisto. Although they did share letters for time to time, he didn’t officially visit back home. “Thank you father” Sethia greeted as bow her head to his father. “You have no need to bow to me. As the Leader of the pack, You are also now my leader” “But you are first my father and I am your daughter, more than I am the leader” Caressing her face, it is a bit odd for a wolven to be an Alpha even if she is a lady. After all, most of the alphas are male. But it doesn’t mean that an alpha female doesn’t exist. “You grew up well, Sethia. We are proud of you” “Thank you mother. I am happy that the two of you are here… but I would be more than happy if brother pay a visit. Even just for today” Since Sebastian leave the place, her condition started to change. It is not as if she want to say how she was good w
“There is no need for you to worry, Sebastian. He is alright”Reassuring him about the condition of his mate, Sebatian doesn’t look pleased at all with what they said.“You said he is fine but he is not waking up”Confused by what is happening, he can’t help but be mad. Not knowing if the are really telling the truth or they are just hiding something from him. To see Calisto fall unconscious, he can’t help but be worried. Rushing all the way here like a flash , he just can’t accept that kind of explanation.“I am telling the truth, he is really alright. He just need a bit rest and he would be fine. It is normal for someone bearing a pup to feel tired most of the time. Since their body holds a life, they would also feel nauseous in the great chance about their body”Staring blankly as the they explain what is happening with his mate, Sebastian was left speechless. “He would also have a big appetite, make sure to give him what he wanted. Since he can be a little bit moody from time t
“What are you doing outside? Reid?”Looking at where that voice came from, Reid saw Claire. His wife. His Luna.“I am just looking at the moon”Standing beside him, Reid unconsciously put his hand on her waist. Hugging her to his side.“So many things happened… don’t you think so?”Giggling as she heard how her wife started a conversation, she can’t help but wonder what was running in her husband’s mind.“Yes, you are right. Many things surely did happen. It is just… it is like yesterday and Sebastian was so young. Running his way just to see you and me. And now, both Sethia and him have their own pack to rule”Smiling sweetly, Reid kiss Claire’s head. It was cold outside yet the two didn’t feel any cool air at all. The warmth beside them is enough to fight the cold night.“They grew up too well. More than what we expected them to be”“Yes, you are right. They surely grow up into a fine man and women…”Looking at the thousand of stars above the sky, they can’t help but wonder what wou
“Evan Landerson and Lea Von Avide Landerson, I now announce you two as husband and wife” Crowds started to cheer. But in one corner, a big guy was tied in a chair. With Sebastian leading the troops that was blocking him. Now that the ceremony was ended and the two are announced as husband and wife, they remove the tape that was blocking Leon from speaking. “Congratulations Leon, Evan is now your brother in law” A glare is the only thing that Sebastion felt from his back. But even Tyler was worried about his life. “Shut up or I will kill you” “Easy there, youre supposed to be happy for your sister, why have a long face?” Annoyed by the two of them speaking like that to him, Leon is still mad at them. Akthough she know for sure that it wasn’t his call to say who would end up marrying his sister, he just wants the best for her. Even though it may seem not like it. “Brother” Lea then saw the state of her brother. Slightly laughing by how he looks like, he is like a bear hold with
“ And I now declare, Sethia El Venuel as the leader of our pack!” Crowds started to cheer. Its been years since Sebastian left their place and started to rule that place owned by Calisto. Although they did share letters for time to time, he didn’t officially visit back home. “Thank you father” Sethi
Kalisto POV Is this a dream? Or perhaps… an illusion? I can't really tell the difference of it from reality. My head was turning fuzzy as the only thoughts that I have is all about Sebastian. To think that I would fall in this kind of situation… truly… something I never expected. But just like a ne
It was his mistake of being caught up in his thoughts that he forgot about the most important thing that he had to do. The main reason why he wanted to talk about that idea is because he wanted to talk to his father about the existence of the one that he helped. Knowing how it was a grave sin to let
I was surprised to see such sight. Indeed , it is true that I am wishing to see and meet that person once again. But I never even realized that I would meet him in this kind of way. Seeing how the guy in front of him is sleeping in the top of the tree trunk that was placed in front of me, I was cur






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore