تسجيل الدخولSinar matahari pagi menerobos lembut dari jendela kaca besar ruang kerja Sadewa Adiraja di lantai paling atas gedung Adiraja & Associates. Di atas meja kayu mahoni yang biasanya tertata rapi dengan tumpukan berkas perkara, kini tersaji dua cangkir teh chamomile hangat dan satu keranjang hantaran buah segar. Pintu ruang kerja terdorong pelan. Dewa berdiri dan segera melangkah maju menyambut tamunya dengan senyuman hangat. "Profesor Subroto," sapa Dewa seraya mengulurkan tangan, lalu membungkuk penuh rasa hormat. "Maaf kalau Profesor yang harus datang lagi ke kantor karena saya belum sempat berkunjung kerumah." Pria berambut perak dengan garis-garis wibawa di wajahnya itu menyambut uluran tangan Dewa, memegang punggung tangan pengacara muda itu dengan kedua telapak tangannya. Matanya berkaca-kaca memancarkan Haru dan rasa lega yang tak tertahankan. "Dewa..." bisik Prof. Subroto dengan suara parau yang terdengar sangat tulus. "Saya yang seharusnya berterima kasih. Kalau bukan
Malam itu, pendar lampu gantung di ruang makan Griya Zadewa memancarkan kehangatan yang tak biasa. Aromanya bukan lagi keharuman masakan rumahan biasa, melainkan perpaduan antara bau mentega gurih, steak daging sapi yang sedikit gosong di bagian pinggirnya, dan juga aroma kemenangan. Zea berdiri di depan meja makan dengan celemek kain bermotif kucing yang masih membelit pinggangnya. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatap hasil mahakaryanya malam ini dengan senyum bangga yang merekah lebar. Di atas meja kayu mahoni itu, sudah tertata rapi hidangan yang ia sebut : "Makan Malam Kemenangan" yang terdiri dari dua porsi rib eye steak lengkap dengan mashed potato yang teksturnya sedikit terlalu padat, tumis buncis, dan dua gelas kristal tinggi berisi es sirup cocopandan merah menyala lengkap dengan selasih yang disajikan seolah-olah itu adalah anggur berkualitas tinggi dari Prancis. "Sempurna!" gumam Zea puas, menepuk kedua telapak tangannya. "Kalau setelah makan ini Ka
Tiara termenung menatap langit senja yang perlahan bergeser menjadi keunguan dari balik kaca jendela rumah sakit. Udara dingin dari pendingin ruang perawatan VIP nomor 04 menusuk kulitnya, namun tak sesedih rasa hampa yang membeku di dalam dadanya. Di genggaman tangannya, layar ponselnya masih menyala terang, menampilkan artikel hot news hari ini berlatar foto Sadewa Adiraja dalam balutan jas hitam yang begitu berwibawa: [HOT NEWS] "Skakmat Dewa Adiraja di Sidang Ketiga: Bukti Palsu Rektorat Terbongkar, Pihak Sagara Mahesa Terancam Pidana!" Tiara menarik napas panjang yang terasa berat. Ibu jarinya gemetar saat mengusap layar ponsel, memandangi raut wajah Dewa yang begitu tenang dan tak tersentuh di tengah riuhnya sorot kamera wartawan. Pria itu, pria yang dulu pernah sangat mencintainya, kini berdiri di puncak kejayaan yang tak lagi bisa ia jangkau. Pengorbanan Tiara yang membiarkan dirinya dijadikan 'pion' oleh Sagara di persidangan kedua ternyata berakhir sia-sia. Ger
Ketua Majelis Hakim mengetukkan palunya tiga kali dengan keras untuk menenangkan ruang sidang yang makin gempar. "Harap tenang!" seru Hakim Ketua. Setelah berdiskusi dengan dua hakim anggota di sebelah kiri dan kanannya selama beberapa menit, Hakim Ketua kembali menegakkan punggungnya. "Menimbang bahwa fakta persidangan melalui Keterangan Saksi Ahli Penggugat telah mengonfirmasi 100% keabsahan Warkah Tergugat, serta ditemukannya indikasi kuat cacat hukum dan rekayasa penanggalan pada dokumen Penggugat..." Ketua Hakim menatap tajam ke arah Sagara dan Rektor yang tertunduk lesu. "...Maka Majelis Hakim menilai pembuktian pokok perkara telah terbuka jelas." Ketua Hakim mengangkat palunya tinggi-tinggi. "Persidangan ini ditunda dan akan memasuki persidangan ke-4 pada hari Selasa mendatang, dengan agenda Pembacaan Putusan Akhir serta penyerahan rekomendasi tindak pidana pemalsuan dokumen kepada Pihak Kepolisian!" TAK! Ketukan palu penutup bergema megah. Meski putusan fo
Kediaman Dewa dan Zea, yang diberi nama Griya Zadewa pagi ini suasananya sangat bertolak belakang dengan drama huru-hara semalam. Setelah melalui serangkaian negosiasi sengit, Dewa yang cerdik berhasil membatalkan "tugas ajaib" dari Bu Hana demi menuruni tensi sang Ratu Langit yang sedang berada di puncak fase menstruasinya. Dan sebagai bentuk apresiasi atas jasa besar sang suami, Zea pun berbaik hati memberikan full service kelas atas. Kamar tidur mereka mendadak disulap menjadi gerai spa eksklusif lengkap dengan pijatan luwes ala terapis profesional. Pijatan penuh kasih sayang itu sukses merontokkan seluruh ketegangan otot Dewa, membuatnya terlelap pulas hingga pagi menjelang tanpa gangguan. "Harus dihabiskan, Kak Dewa," ujar Zea tegas, meletakkan Bubur hangat dengan suwiran ayam, taburan cakue, seledri, bawang goreng, dan kerupuk warna-warni dalam mangkuk keramik putih yang bersih. Dewa mengerjap di balik bingkai kacamatanya, memandang porsi mangkuk bubur yang lebih mirip p
Dewa memperhatikan gerak-gerik istrinya dari atas tempat tidur dengan pandangan pasrah. Sudah lima belas menit berlalu dan Zea tidak bisa diam. Gadis itu mondar-mandir seperti polisi patroli, masuk ke kamar mandi, keluar lagi, jalan ke dapur, balik ke kamar, membuka pintu lemari pakaian, menutupnya dengan sedikit dibanting, duduk di meja kerja, membuka laptop, lalu menutupnya kembali dalam hitungan detik. Dewa yang semula berniat fokus mempelajari berkas perkara untuk jadwal sidang esok pagi, kini hanya bisa menahan napas. Pasalnya, tadi sore Zea baru saja mengumumkan kabar duka bagi kedamaian rumah tangga mereka: ia sedang hari pertama datang bulan. Berdasarkan artikel hasil riset mendalam yang Dewa baca di internet tadi sore, dengan kata kunci "Cara bertahan hidup menghadapi istri PMS", hari pertama menstruasi adalah fase paling berbahaya bagi keselamatan jiwa seorang suami. Gejalanya meliputi sensitivitas setingkat radar militer, logika yang mendadak hilang, dan emosi setaj







