Se connecterSpesial Weekend: Bonus Up Bab! 🎉 Semoga hidup kalian penuh kebahagiaan. Selesaikan setiap masalah dengan diskusi tenang ya... tapi kalau diskusinya malah berujung 'saling kunci di kasur sempit' ala Dewa-Zea, tolong pastikan ranjang kalian enggak karatan biar enggak berderit! 🙈🤣 Happy reading!
Ketua Majelis Hakim mengetukkan palunya tiga kali dengan keras untuk menenangkan ruang sidang yang makin gempar. "Harap tenang!" seru Hakim Ketua. Setelah berdiskusi dengan dua hakim anggota di sebelah kiri dan kanannya selama beberapa menit, Hakim Ketua kembali menegakkan punggungnya. "Menimbang bahwa fakta persidangan melalui Keterangan Saksi Ahli Penggugat telah mengonfirmasi 100% keabsahan Warkah Tergugat, serta ditemukannya indikasi kuat cacat hukum dan rekayasa penanggalan pada dokumen Penggugat..." Ketua Hakim menatap tajam ke arah Sagara dan Rektor yang tertunduk lesu. "...Maka Majelis Hakim menilai pembuktian pokok perkara telah terbuka jelas." Ketua Hakim mengangkat palunya tinggi-tinggi. "Persidangan ini ditunda dan akan memasuki persidangan ke-4 pada hari Selasa mendatang, dengan agenda Pembacaan Putusan Akhir serta penyerahan rekomendasi tindak pidana pemalsuan dokumen kepada Pihak Kepolisian!" TAK! Ketukan palu penutup bergema megah. Meski putusan fo
Kediaman Dewa dan Zea, yang diberi nama Griya Zadewa pagi ini suasananya sangat bertolak belakang dengan drama huru-hara semalam. Setelah melalui serangkaian negosiasi sengit, Dewa yang cerdik berhasil membatalkan "tugas ajaib" dari Bu Hana demi menuruni tensi sang Ratu Langit yang sedang berada di puncak fase menstruasinya. Dan sebagai bentuk apresiasi atas jasa besar sang suami, Zea pun berbaik hati memberikan full service kelas atas. Kamar tidur mereka mendadak disulap menjadi gerai spa eksklusif lengkap denga pijatan luwes ala terapis profesional. Pijatan penuh kasih sayang itu sukses merontokkan seluruh ketegangan otot Dewa, membuatnya terlelap pulas hingga pagi menjelang tanpa gangguan. "Harus dihabiskan, Kak Dewa," ujar Zea tegas, meletakkan Bubur hangat dengan suwiran ayam, taburan cakue, seledri, bawang goreng, dan kerupuk warna-warni dalam mangkuk keramik putih yang bersih. Dewa mengerjap di balik bingkai kacamatanya, memandang porsi mangkuk bubur yang lebih mirip porsi
Dewa memperhatikan gerak-gerik istrinya dari atas tempat tidur dengan pandangan pasrah. Sudah lima belas menit berlalu dan Zea tidak bisa diam. Gadis itu mondar-mandir seperti polisi patroli, masuk ke kamar mandi, keluar lagi, jalan ke dapur, balik ke kamar, membuka pintu lemari pakaian, menutupnya dengan sedikit dibanting, duduk di meja kerja, membuka laptop, lalu menutupnya kembali dalam hitungan detik. Dewa yang semula berniat fokus mempelajari berkas perkara untuk jadwal sidang esok pagi, kini hanya bisa menahan napas. Pasalnya, tadi sore Zea baru saja mengumumkan kabar duka bagi kedamaian rumah tangga mereka: ia sedang hari pertama datang bulan. Berdasarkan artikel hasil riset mendalam yang Dewa baca di internet tadi sore, dengan kata kunci "Cara bertahan hidup menghadapi istri PMS", hari pertama menstruasi adalah fase paling berbahaya bagi keselamatan jiwa seorang suami. Gejalanya meliputi sensitivitas setingkat radar militer, logika yang mendadak hilang, dan emosi setaj
Dewa berdiri tegap, melepas pelan tangan Tiara dari tangannya. Merapikan jas hitamnya dengan tenang, mengancingkan satu kancing tengahnya tanpa terburu-buru. Postur tubuhnya yang jangkung dan berwibawa seketika memenuhi udara dalam kamar rawat VIP nomor 04. Sagara menyunggingkan senyum remeh, bersedekap dada sambil menyandarkan bahunya di pintu. "Kenapa diam, Dewa? Kaget karena rahasiamu ketahuan? Bagaimana kalau sampai tersebar lagi di media? Zea pasti bakal hancur banget kalau tahu tunangannya yang sok suci ini malah asyik mengusap air mata mantan." "Aku justru penasaran," ucap Dewa dengan suara bariton yang dalam dan amat tenang, "kenapa seorang dosen tamu baru di Universitas Erlangga bisa berkeliaran bebas di luar lingkungan kampus pada jam kuliah?" Senyum di wajah Sagara menguap dalam sekejap. Namun, ia buru-buru menguasai diri dan tertawa kecil dengan nada sinis. "Besok adalah persidangan ketiga kita, kalau kamu lupa. Tentu saja pihak rektorat memberiku kelonggaran wakt
Dewa membeku di tempatnya. Pandangannya terkunci pada sosok Tiara yang kini melangkah gontai mendekatinya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki dan wajah pucat bagai kertas tanpa darah, wanita itu tampak begitu rapuh, berbeda jauh dari sosok Tiara yang biasanya selalu tampil anggun dan percaya diri. Tiara menghentikan jalannya tepat dua langkah di depan Dewa. Cengkeramannya pada tiang infus mengencang, menahan tubuhnya yang agak limbung. "Akhirnya kamu datang, Dewa..." lirih Tiara, berusaha menyunggingkan senyum tipis yang tampak menyakitkan. Kalimat singkat itu seketika menyengat kesadaran Dewa dari rasa terkejutnya. "Tiara, tunggu. Maaf, tapi aku ke sini bukan untuk—" "Aku baru selesai Rontgen toraks dan cek darah ulang," potong Tiara pelan, diselingi batuk kecil yang membuat dadanya menegang menahan nyeri bekas operasi daruratnya semalam. "Enggak ada yang menjaga... jadi aku ke laboratorium sendirian." Tiara menghela napas pendek-pendek, mengisap udara dengan bersusah pa
Dewa membeku kaku di depan meja makan, persis seperti patung es yang dipajang di tengah ruangan. Sarapan sederhana ala Hasan dan Zea, nasi goreng telur mata sapi dan teh hangat, sudah tersaji rapi, tetapi selera makan sang pengacara mendadak amblas ke dasar bumi. Penyebabnya cuma satu: baju yang dikenakannya. Kaos oblong berwarna merah muda milik Zea zaman SMA, terpasang sangat ketat di tubuh kekar Dewa yang bertinggi hampir 190 centimeter. Baju itu tidak hanya ketat, tapi 'kelewat ketat' di bagian dada bahu dan lengan atasnya yang berotot. Namun, yang paling mengerikan, tepat di bagian tengah dada baju, terhias sablonan gambar kartun Tinkerbell dengan garis-garis glitter perak yang berkilau terpapar sinar matahari pagi. Hasan melirik dari sudut matanya ke arah dada menantunya yang kini dihiasi peri bersayap mungil itu. Detik berikutnya, sang mertua berdeham sangat keras hingga cangkir tehnya sedikit bergoyang. "Ehem!" Hasan sengaja memecah keheningan. "Zea, sepertinya







