Share

Chapter 5

last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 00:19:11

Yoga masih berdiri di depan rumah sambil menatap motor-motor Suroto yang menjauh. Cincin kuno yang ada di jarinya berdenyut hangat, tapi tiba-tiba ada gelombang panas yang naik ke kepalanya.

Amarah yang tadinya terkendali kini mendadak membara tanpa alasan jelas. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan Suroto yang sedang menggagahi Bu Lurah di kebun semalam muncul lagi di benaknya, bercampur hasrat gelap yang aneh.

[Ding]

**Karma Hitam +5

**Peringatan : Efek samping nafsu dan amarah mulai aktif. Kendalikan atau Darah Naga akan menguasai

[Ding]

Yoga menggelengkan kepalanya keras, mencoba menepis pikiran kotor yang datang barusan. Hal yang membuatnya kesal sendiri.

“Sial… apa-apaan ini?” kesahnya.

“Yoga, siapa tadi? Seperti suara bos Suroto, kan? Kamu… kamu benar-benar nggak apa-apa, Nak?” Ibunya keluar dari dalam rumah dengan wajah khawatir.

Yoga menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dia segera memeluk ibunya pelan. Mencoba untuk menenangkan wanita tua yang sudah melahirkan di dunia ini.

Sementara tangan ibunya masih memegang lengan Yoga, matanya menelusuri wajah anaknya yang tak ada bekas luka sama sekali

“Iya, Bu. Aku baik-baik saja, kok. Semalam ada ribut kecil di kebun, tapi udah selesai.” Yoga tersenyum, memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.

“Kamu bohong, ya. Ibu dengar kabar dari tetangga. Katanya kamu dihajar Bos Suroto habis-habisan. Tapi sekarang, kamu terlihat sehat begini. Ada apa sebenarnya, nak?”

“Mungkin nasibku sedang beruntung, Bu. Yang penting sekarang aku nggak mau diam saja. Suroto itu sudah keterlaluan.” Wajah Yoga mengeras, senyumnya yang tadi juga menghilang dari bibirnya.

“Hati-hati, Nak. Bos Suroto bukan preman biasa. Dia punya banyak toko material besar, kontraktor, bahkan beberapa kepala desa di sekitar sini kerja sama dengannya. Camat saja nurut sama dia. Kalau kamu lawan, yang ada kamu yang hancur.” Ibunya menghela nafas panjang, menasehati.

“Iya, Bu." Yoga hanya bisa mengangguk, menurut supaya ibunya tidak khawatir

***

Di Balai Desa, suasana terasa sangat tegang. Suroto duduk di kursi utama ruang rapat sambil merokok. Di hadapannya ada Kepala Desa atau Pak Lurah yang wajahnya pucat, ada Sekdes dan ada dua pejabat kecamatan yang didatangkan secara khusus.

“Jadi begitu, Pak,” kata Suroto dengan nada santai tapi mengancam. “Anak itu, Yoga, ternyata masih hidup. Aku mau kalian awasi dia. Kalau dia berani gerak buat macam-macam, lapor langsung ke aku.”

Pak Lurah menunduk, tangannya gemetar di bawah meja. Dia tahu persis apa yang dilakukan Suroto dengan istrinya. Malam demi malam, bahkan tidak tahu waktu. Tapi dia juga tak berdaya. Ada dendam membara di dadanya, tapi rasa takutnya justru lebih besar.

“Ba… baik, Mas Suroto. Saya akan suruh orang untuk pantau si Yoga.” Pak Lurah hanya bisa mengangguk.

“Tenang saja, Bos. Proyek material desa-desa sekitar tetap lewat perusahaan Bos. Si Yoga cuma orang kecil. Kalau perlu, kami bantu urus dari atas. Hehehe…” Salah satu pejabat kecamatan, yang sebenarnya sudah jadi anak buah Suroto sejak lama, tertawa.

“Bagus, kalian tahu sendiri siapa yang kasih makan kalian selain gaji bulanan yang tidak seberapa itu.” Suroto tersenyum puas.

Siang harinya, Pak Lurah langsung pergi ke kabupaten untuk urusan dinas. Rumahnya yang cukup besar di tengah desa pun terlihat sepi.

Suroto pun datang tanpa ragu, masuk lewat pintu belakang yang sudah tak terkunci. Bu Lurah menyambutnya dengan gaun merah yang tipis, wajahnya yang cantik tampak memerah.

“Mas Suroto, siang-siang begini berani datang ke sini?” bisik Bu Lurah sambil memeluk leher Suroto.

“Kenapa, hemm? Bukannya kamu juga suka?"

Suroto langsung menarik perempuan itu ke dalam kamar tidur Pak Lurah sendiri. Ia mendorongnya ke tempat tidur besar milik suami perempuan itu, lalu menindihnya dengan kasar.

"Tapi siang bolong begini?” Bu Lurah pura-pura takut, padahal sebenarnya hanya menggoda.

“Hehehe… Kenapa nggak berani? Suamimu lagi pergi, kan?” Suroto tertawa rendah sambil membuka bajunya sendiri.

Pria kekar itu langsung mencium leher Bu Lurah dengan rakus, tangan besarnya meremas payudara perempuan itu dari balik kain merah tipis. Bu Lurah mendesah keras, tubuhnya melengkung kenikmatan.

“Ahh… Mas… pelan… nanti ada yang lihat.”

“Siapa yang berani, hmm?” Suroto menarik gaun merah itu hingga robek sedikit, lalu menindihnya lebih dalam. Gerakannya kuat dan penuh dominasi. “Kamu suka, kan? Di tempat tidur suamimu ini, lebih menantang. Bilang, ayo bilang kalau kamu lebih suka milikku.”

“Ahh, iya… aku lebih suka Mas Suroto…” erang Bu Lurah parau, kakinya melingkar di pinggang Suroto.

Suara laknat mereka saling sahut-sahutan, memenuhi kamar yang seharusnya suci. Suroto semakin leluasa, menikmati kekuasaannya yang terkesan absolut di desa ini.

***

Sore hari, Yoga duduk di teras rumah sambil memandang langit yang mulai merah. Efek samping Karma Hitam masih terasa, hasrat aneh bercampur amarah membuat tubuhnya panas. Dia melihat seorang janda tetangga lewat di depan rumah, dan untuk sesaat bayangan gelap muncul di kepalanya.

“Ini… ah, sial! Aku harus bisa kendalikan.” Dia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.

“Kamu kenapa, Nak? Mukamu merah begitu, kamu demam?” Ibunya keluar membawa teh hangat.

“Nggak apa-apa, Bu. Cuma, sedang mikirin banyak hal.” Yoga paksa untuk tersenyum.

Desa ini memang semakin terasa busuk. Suroto menguasai segalanya, dari preman, pengusaha, sampai pejabat. Tapi Yoga kini punya kekuatan yang bisa mengubah segalanya. Hanya saja, kekuatan itu datang bersamaan dengan sesuatu yang gelap.

Bisikan itu di kepalanya kembali.

[Ding]

**Karma Hitam : 20

“Gunakan aku… dan ambil semua yang kamu mau.”

[Ding]

Yoga mengepalkan tangannya kuat, mencoba meredam segala sesuatu yang terasa gelap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 91

    Lampu di Ruang Penahanan Absolut berubah merah. Itu bukan alarm darurat, melainkan sinyal bahwa protokol panen residual resmi dimulai. Empat ilmuwan berpakaian pelindung penuh sebagai SOP masuk melalui pintu ganda, diikuti dua petugas keamanan bersenjata energi. Di belakang mereka, sedotan residual tingkat tinggi digulingkan untuk masuk, tabung hitam mengkilap dengan jarum-jarum kristal yang sudah berdenyut menunggu terisi.Direktur menyaksikan dari ruang observasi melalui kaca tebal, suaranya terdengar datar lewat speaker.“Turunkan penekan residual tiga puluh persen. Siapkan kontak. Kita ambil apa yang bisa diambil. Sisanya dipadamkan segera.”Vesper berdiri di sudut ruangan observasi dengan tangan mengepal, sementara Dr. Halim menatap layar tanpa berkedip. Kael dan Draven tidak bilang apa-apa, semua orang menahan nafas saat ini.Di atas platform, Yoga membuka mata. Dia sudah menunggu detik ini. Satu menit, dua menit…Penekan residual mulai turun sesuai perintah. Gelombang yang sela

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 90

    Angin malam di desa itu seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa sangat berbeda.Angin tiba-tiba seperti membawa bau tanah basah dan asap dapur yang hampir padam. Lampu teras di beberapa rumah sudah dipadamkan. Anjing-anjing kampung hanya sesekali menggonggong dengan malas. Tidak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan itu, sesuatu yang sudah lama mengendap akhirnya pecah.Pak Lurah baru saja keluar dari klinik Bidan Riana. Langkahnya masih sedikit goyah, tubuhnya masih basah dengan keringat nikmat, dan bau tubuh wanita lain masih menempel di baju. Dia tidak langsung pulang ke rumah, tapi memilih duduk di balai desa yang gelap, menatap jalanan yang kosong, mencoba menyusun topeng yang akan dia pakai di depan istrinya nanti.Sayangnya dia tidak tahu bahwa semua yang dilakukannya sudah diikuti sejak tadi sore, seseorang sudah mengintainya sejak beberapa hari terakhir ini.Suroto berdiri di balik pohon besar di seberang jalan, rokok di jari, wajahnya datar. Dia sudah cur

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 89

    Situasi dan kondisi di lantai isolasi terasa menekan, oksigen pun terasa semakin tipis.Direktur berdiri di ruang komando dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap data residual Yoga yang kini menunjukkan pola yang tidak lagi bisa dianggap “stabil”. Fluktuasi kecil yang dulu diabaikan kini muncul lebih sering. Sistem otomatis masih menutup retakan di gelang energi, tapi jeda antara retakan dan perbaikan semakin pendek. Residual subjek tidak lagi hanya bertahan, tapi dia menunggu.“Protokol panen dimajukan ke malam ini,” kata Direktur datar. “Saya tidak akan memberi dia waktu lagi. Siapkan sedotan residual tingkat tinggi. Isolasi total. Staf perempuan tetap dikarantina. Siapa pun yang menolak perintah… dianggap menghambat operasi. Gunakan protokol pelanggar.”Dr. Halim yang berdiri di sisi ruangan tidak langsung menjawab. Jari-jarinya mengetuk tablet dengan irama dengan kesan yang terlalu tenang. Di dalam kepalanya, pesan balasan dari kontak di Dewan masih terbayang.‘Jika p

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 88

    Hari ini adalah hari keenam Lira berada di pulau ini, dan semuanya terasa lebih panjang bagi tim Intel yang sedang melakukan penyamaran.Lira berhasil menyalin satu fragmen log lagi, kali ini dari sistem pendingin lantai bawah yang “bocor” sedikit data saat ada perawatan rutin. Fragmen itu tidak lengkap. Hanya deretan kode dan satu frasa yang berulang.*Residual Subject-01 stability increasing beyond predicted threshold.*Tidak ada nama, tidak juga ada foto. Tidak ada koordinat pasti ruangannya, tapi itu sudah cukup untuk membuat Lira menatap layar kecil di dalam sepatunya lebih lama dari biasanya.Rekan logistiknya menemukan sesuatu yang lebih mengganggu akal sehatnya di saat memindahkan kotak-kotak “sampel biologis” yang seharusnya menuju gudang permukaan, salah satu kotak retak sedikit di sudut. Dari dalam, tercium bau formaldehida yang bercampur dengan aroma logam panas. Di label yang hampir terhapus, tertulis kode ‘T-27’. Ketika dia mencoba mencari kode itu di sistem inventaris,

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 87

    Intel yang sudah dibentuk sebagai tim penyamaran, pada akhirnya mendarat tidak bersamaan. Ini demi keamanan tentunya, karena sedang melakukan investigasi secara rahasia.Lira tiba lebih dulu, memakai identitas sebagai teknisi listrik lepas yang dikirim oleh perusahaan cover untuk “memeriksa generator cadangan”. Dua rekannya menyusul dalam selang waktu tiga puluh enam jam, satu sebagai staf logistik, satu lagi sebagai peneliti junior yang baru dipindahkan dari fasilitas lain. Mereka tidak saling menyapa di depan umum, bahkan di koridor yang sama, pandangan mereka tidak bertemu lebih dari sepersekian detik. Semua menjaga rahasia ini secara terlatih.Pulau itu lebih sunyi daripada yang mereka bayangkan. Tidak ada burung, tidak ada suara ombak yang natural sebagaimana tempat yang memang dikelilingi oleh lautan. Hanya suara dengung mesin yang konstan dari bawah tanah, seolah pulau itu sendiri bernapas melalui ventilasi tersembunyi.Lira berjalan di belakang seorang petugas keamanan lokal y

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 86. Menikmati Dendam Yang Basah

    Malam ini, di klinik desa kembali menjadi milik dua orang saja. Pak Lurah dan Bidan Riana, seakan-akan tidak memperdulikan keberadaan manusia lainnya.Hujan memang tidak turun seperti kemarin, tapi udara terasa lembab dan berat. Bahkan Pak Lurah datang lebih awal dari biasanya, langsung mengunci pintu begitu masuk, lalu menarik Bidan Riana ke dalam pelukannya tanpa banyak kata. Ciuman yang langsung menyusul dengan kasar, lapar, hampir seperti sedang marah. Sementara Bidan Riana membalas dengan sama kuatnya, jari-jari masuk ke rambut pria itu, tubuh menekan balik. Memberikan perlawanan yang seimbang pastinya.Mereka tidak lagi berpura-pura ini hanya soal kehangatan, tapi apa yang mereka lakukan adalah kebutuhan yang memang milik mereka.“Ahhh… Bapak…”“Yahhh… panggil aku!” Pak Lurah menyahut dengan dominasi seorang pria.Pak Lurah mendorong Riana ke ranjang periksa, menarik seragam putih yang belum sempat dilepas itu hingga kancing-kancingnya berhamburan. Membuat P4yudara Riana terpapa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status