MasukYoga masih berdiri di depan rumah sambil menatap motor-motor Suroto yang menjauh. Cincin kuno yang ada di jarinya berdenyut hangat, tapi tiba-tiba ada gelombang panas yang naik ke kepalanya.
Amarah yang tadinya terkendali kini mendadak membara tanpa alasan jelas. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan Suroto yang sedang menggagahi Bu Lurah di kebun semalam muncul lagi di benaknya, bercampur hasrat gelap yang aneh. [Ding] **Karma Hitam +5 **Peringatan : Efek samping nafsu dan amarah mulai aktif. Kendalikan atau Darah Naga akan menguasai [Ding] Yoga menggelengkan kepalanya keras, mencoba menepis pikiran kotor yang datang barusan. Hal yang membuatnya kesal sendiri. “Sial… apa-apaan ini?” kesahnya. “Yoga, siapa tadi? Seperti suara bos Suroto, kan? Kamu… kamu benar-benar nggak apa-apa, Nak?” Ibunya keluar dari dalam rumah dengan wajah khawatir. Yoga menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dia segera memeluk ibunya pelan. Mencoba untuk menenangkan wanita tua yang sudah melahirkan di dunia ini. Sementara tangan ibunya masih memegang lengan Yoga, matanya menelusuri wajah anaknya yang tak ada bekas luka sama sekali “Iya, Bu. Aku baik-baik saja, kok. Semalam ada ribut kecil di kebun, tapi udah selesai.” Yoga tersenyum, memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. “Kamu bohong, ya. Ibu dengar kabar dari tetangga. Katanya kamu dihajar Bos Suroto habis-habisan. Tapi sekarang, kamu terlihat sehat begini. Ada apa sebenarnya, nak?” “Mungkin nasibku sedang beruntung, Bu. Yang penting sekarang aku nggak mau diam saja. Suroto itu sudah keterlaluan.” Wajah Yoga mengeras, senyumnya yang tadi juga menghilang dari bibirnya. “Hati-hati, Nak. Bos Suroto bukan preman biasa. Dia punya banyak toko material besar, kontraktor, bahkan beberapa kepala desa di sekitar sini kerja sama dengannya. Camat saja nurut sama dia. Kalau kamu lawan, yang ada kamu yang hancur.” Ibunya menghela nafas panjang, menasehati. “Iya, Bu." Yoga hanya bisa mengangguk, menurut supaya ibunya tidak khawatir *** Di Balai Desa, suasana terasa sangat tegang. Suroto duduk di kursi utama ruang rapat sambil merokok. Di hadapannya ada Kepala Desa atau Pak Lurah yang wajahnya pucat, ada Sekdes dan ada dua pejabat kecamatan yang didatangkan secara khusus. “Jadi begitu, Pak,” kata Suroto dengan nada santai tapi mengancam. “Anak itu, Yoga, ternyata masih hidup. Aku mau kalian awasi dia. Kalau dia berani gerak buat macam-macam, lapor langsung ke aku.” Pak Lurah menunduk, tangannya gemetar di bawah meja. Dia tahu persis apa yang dilakukan Suroto dengan istrinya. Malam demi malam, bahkan tidak tahu waktu. Tapi dia juga tak berdaya. Ada dendam membara di dadanya, tapi rasa takutnya justru lebih besar. “Ba… baik, Mas Suroto. Saya akan suruh orang untuk pantau si Yoga.” Pak Lurah hanya bisa mengangguk. “Tenang saja, Bos. Proyek material desa-desa sekitar tetap lewat perusahaan Bos. Si Yoga cuma orang kecil. Kalau perlu, kami bantu urus dari atas. Hehehe…” Salah satu pejabat kecamatan, yang sebenarnya sudah jadi anak buah Suroto sejak lama, tertawa. “Bagus, kalian tahu sendiri siapa yang kasih makan kalian selain gaji bulanan yang tidak seberapa itu.” Suroto tersenyum puas. Siang harinya, Pak Lurah langsung pergi ke kabupaten untuk urusan dinas. Rumahnya yang cukup besar di tengah desa pun terlihat sepi. Suroto pun datang tanpa ragu, masuk lewat pintu belakang yang sudah tak terkunci. Bu Lurah menyambutnya dengan gaun merah yang tipis, wajahnya yang cantik tampak memerah. “Mas Suroto, siang-siang begini berani datang ke sini?” bisik Bu Lurah sambil memeluk leher Suroto. “Kenapa, hemm? Bukannya kamu juga suka?" Suroto langsung menarik perempuan itu ke dalam kamar tidur Pak Lurah sendiri. Ia mendorongnya ke tempat tidur besar milik suami perempuan itu, lalu menindihnya dengan kasar. "Tapi siang bolong begini?” Bu Lurah pura-pura takut, padahal sebenarnya hanya menggoda. “Hehehe… Kenapa nggak berani? Suamimu lagi pergi, kan?” Suroto tertawa rendah sambil membuka bajunya sendiri. Pria kekar itu langsung mencium leher Bu Lurah dengan rakus, tangan besarnya meremas payudara perempuan itu dari balik kain merah tipis. Bu Lurah mendesah keras, tubuhnya melengkung kenikmatan. “Ahh… Mas… pelan… nanti ada yang lihat.” “Siapa yang berani, hmm?” Suroto menarik gaun merah itu hingga robek sedikit, lalu menindihnya lebih dalam. Gerakannya kuat dan penuh dominasi. “Kamu suka, kan? Di tempat tidur suamimu ini, lebih menantang. Bilang, ayo bilang kalau kamu lebih suka milikku.” “Ahh, iya… aku lebih suka Mas Suroto…” erang Bu Lurah parau, kakinya melingkar di pinggang Suroto. Suara laknat mereka saling sahut-sahutan, memenuhi kamar yang seharusnya suci. Suroto semakin leluasa, menikmati kekuasaannya yang terkesan absolut di desa ini. *** Sore hari, Yoga duduk di teras rumah sambil memandang langit yang mulai merah. Efek samping Karma Hitam masih terasa, hasrat aneh bercampur amarah membuat tubuhnya panas. Dia melihat seorang janda tetangga lewat di depan rumah, dan untuk sesaat bayangan gelap muncul di kepalanya. “Ini… ah, sial! Aku harus bisa kendalikan.” Dia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah. “Kamu kenapa, Nak? Mukamu merah begitu, kamu demam?” Ibunya keluar membawa teh hangat. “Nggak apa-apa, Bu. Cuma, sedang mikirin banyak hal.” Yoga paksa untuk tersenyum. Desa ini memang semakin terasa busuk. Suroto menguasai segalanya, dari preman, pengusaha, sampai pejabat. Tapi Yoga kini punya kekuatan yang bisa mengubah segalanya. Hanya saja, kekuatan itu datang bersamaan dengan sesuatu yang gelap. Bisikan itu di kepalanya kembali. [Ding] **Karma Hitam : 20 “Gunakan aku… dan ambil semua yang kamu mau.” [Ding] Yoga mengepalkan tangannya kuat, mencoba meredam segala sesuatu yang terasa gelap.Di ruang penahanan tingkat tinggi, Yoga sudah tidak lagi mencoba merobek ikatan energinya. Setiap usaha hanya akan membawa rasa sakit yang semakin tajam dan gelombang penekan yang semakin kuat. Dia terbaring diam di atas platform, mata terbuka menatap langit-langit yang steril, sementara sensor-sensor terus bekerja di sekeliling tubuhnya.Cahaya biru tipis memindai tubuhnya untuk yang kesekian kali. Di balik kaca, Vesper dan Dr. Halim berbicara dengan suara rendah.“Jalur residualnya sangat stabil meski dalam kondisi ditekan,” kata Vesper sambil menunjuk grafik. “Bahkan sekarang pun, cincin itu masih berusaha berkomunikasi dengan tubuhnya. Seolah sedang mencari celah untuk bisa melepaskan diri.”Dr. Halim mengangguk, setuju dengan pandangan rekannya. “Kita naikkan intensitas pemetaan. Saya ingin melihat apa yang terjadi jika kita memaksa residual itu bereaksi tanpa memberi subjek kendali penuh.”Yoga mendengar sebagian percakapan itu melalui sistem komunikasi ruangan yang sengaja dibi
Kesadaran Yoga akhirnya kembali secara perlahan, seperti seseorang yang tenggelam dan dipaksa naik ke permukaan. Yang pertama dia rasakan adalah dingin, ya dingin. Bukan dingin hawa malam di desa, melainkan dingin steril yang meresap sampai ke tulang. Yang kedua adalah getaran pelan di jari tengahnya, sebab cincin itu masih ada, masih berdenyut, meski terasa jauh lebih lemah dari biasanya.Dia pun membuka mata, terlihat langit-langit di atasnya berwarna putih kebiruan, mulus tanpa celah, diterangi lampu LED yang tidak menyilaukan tapi juga tidak ramah. Tubuhnya terbaring di atas platform logam yang sedikit condong. Pergelangan tangan dan kaki terikat oleh gelang energi transparan yang berdenyut pelan. Setiap kali dia mencoba menggerakkan jari, gelang itu merespons dengan tekanan dingin yang menekan saraf.Dia sadar jika saat ini sudah tidak berada di desa lagi. Di balik kaca tebal di sebelah kanannya, ada beberapa orang yang berdiri. Mereka mengenakan jas laboratorium abu-abu gelap. S
Mereka, “pasukan khusus” yang memang ditugaskan untuk mengintai dan menangkapnya, akhirnya datang lagi , tepat saat Yoga berada di titik terlemahnya.Setelah malam ketika dia hampir saja membunuh anak buah Suroto di depan rumah sendiri, tubuh dan pikirannya yang kacau belum pulih benar. Residual “Karma Hitam” masih bergolak, sekat kesadaran menipis, dan rasa bersalah terhadap ibunya menggerogoti lebih dalam daripada luka apa pun.Yoga tidak bisa tidur. Dia hanya duduk di kebun hingga fajar, menatap tangan yang kemarin penuh darah orang lain. Dan laboratorium tidak menyia-nyiakan celah manis itu.Di pulau yang tidak ada di peta, Direktur memberikan perintah terakhir pada dini hari.“Eksekusi Protokol Penangkapan Penuh. Gunakan penekan frekuensi tingkat tinggi. Target harus hidup. Jika perlu, lumpuhkan total. Jangan beri kesempatan dia mencapai ledakan kedua.”Enam unit Tim Ekstraksi yang sudah diperkuat pun akhirnya diturunkan. Mereka membawa peralatan yang belum pernah digunakan sebel
Malam kembali datang, tanpa angin, tanpa jiwa. Yoga sudah merasakan ada yang salah sejak matahari terbenam. Bukan sekadar perasaan diawasi, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ini semua lebih terarah. Seperti ada tangan yang sedang menarik tali di sekitar lehernya secara pelan-pelan, menunggu dia kehabisan napas.Sekarang Yoga berdiri di kebun belakang dengan tubuh tegang, cincin di jarinya berdenyut tidak beraturan. Di dalam kepalanya, bayangan gelap sudah tidak lagi berbisik. Tapi justru berbicara dengan jelas.[Ding]‘Mereka akan datang lagi. Biarkan saja. Kali ini jangan tahan.’[Ding]Yoga menggigit lidahnya hingga terasa ada darah yang keluar.“Diam.” Yoga seperti memperingatkan dirinya sendiri.[Ding]‘Emi sudah tidak di sini. Ibumu takut. Warga menjauh. Tidak ada lagi yang perlu kamu lindungi. Lepaskan.’[Ding]Kini Yoga menutup telinga, meski dia tahu suara itu berasal dari dalam.Di dalam rumah, ibu Yoga tertidur karena dosis obat yang lebih kuat. Rumah jadi terasa lebih
Malam ini adalah malam pertama tanpa ada Emi, rasanya waktu jadi jauh lebih panjang daripada malam-malam sebelumnya. Rumah yang biasanya masih menyisakan kehadiran gadis itu kini hanya diisi oleh napas ibu Yoga yang sesekali terdengar dari kamar, dan keheningan yang menekan dari segala arah.Yoga sendiri sedang duduk di lantai kamar, punggungnya menempel ke dinding, lutut dilipat. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk memperlihatkan kontur cincin di jarinya yang kini terlihat lebih gelap.Lalu tiba-tiba…[Ding]Sistem: Tingkat isolasi kritis.Residual Karma Hitam: Aktif dan meningkat.Peringatan: Tanpa jangkar eksternal, risiko hilangnya kendali meningkat drastis dalam 24–48 jam.[Ding]Yoga tertawa rendah, terasa pahit.“Heh, jangkar…” gumamnya. “Mereka bahkan sudah menghitung semua itu.”Bayangan di dalam dirinya tidak lagi hanya menunggu. Dia bisa merasakannya bergerak, menggeser batas-batas kesadaran, menawarkan kekuatan yang lebih besar
Pagi itu desa terasa lebih dingin dari biasanya. Kabar tentang hampir terjadinya pembunuhan di kebun Yoga semalam sudah berubah menjadi versi yang jauh lebih gelap dari mulut ke mulut semua warga. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi, tapi semua orang setuju pada satu hal, mendekati Yoga akan sangat berbahaya.Di warung kopi, percakapan pun berlangsung secara pelan-pelan.“Katanya semalam dia hampir membunuh empat orang, lho.” “Matanya jadi merah, dia seperti bukan manusia.”“Tapi anak gadis yang tetangga itu masih nekat di rumahnya. Nanti dia bisa ikut celaka, jika nggak pergi.”Isu itu tidak lahir dengan sendirinya, tapi Suroto yang bekerja cepat. Anak buahnya menyebarkan gosip dengan versi yang dilebih-lebihkan ke setiap sudut desa. Tujuan mereka tentunya hanya sederhana, membuat Yoga sendirian.***Di rumahnya Yoga, suasana justru terasa sesak. Ibu Yoga duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, dia berbicara dengan suara yang sangat tegas.“Yoga, denga







