مشاركة

Chapter 11

last update تاريخ النشر: 2026-07-18 21:03:58

Suasana di desa siang ini terasa lebih ramai dari biasanya. Langit berwarna biru cerah dengan awan tipis, angin sejuk berhembus membawa aroma yang khas, aroma tanah basah setelah hujan semalam.

Di lapangan desa, banyak warga yang sedang gotong royong mempersiapkan penyambutan bidan desa yang baru. Bidan lama sudah pindah ke kota sebulan lalu, meninggalkan desa ini tanpa tenaga kesehatan yang memadai. Hari ini akan ada acara penyambutan seorang bidan muda bernama Riana yang katanya baru berusia
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 24

    Warga desa yang tadi ikut menyaksikan perseteruan antara Yoga dengan Suroto perlahan bubar, tapi suara bisik-bisik mereka masih terdengar jelas. Kekaguman terhadap Yoga menyebar cepat. Untuk pertama kalinya, banyak warga melihat Suroto dikalahkan secara telak oleh satu orang yang selama ini tidak dianggap.Di tengah kerumunan yang sedang bubar, ada Emi yang berdiri di kejauhan dengan wajah cemas. Dia juga melihat Bu Lurah yang masih memegang lengan Yoga. Ada rasa cemburu dan khawatir bercampur di dadanya.Sementara itu, Bidan Riana yang mendengar keributan dari klinik juga ingin datang. Tapi karena ada tanggung jawab untuk menjaga ibunya Yoga, dia menahan diri dan hanya bisa menunggu di klinik desa.“Mas Yoga… Ibu sudah tertidur. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Riana.“Suroto itu semakin gila. Besok mungkin lebih parah lagi.” Yoga menghela nafas panjang.“Kalau Mas butuh tempat aman untuk Ibu, rumah dinas saya selalu terbuka.” Riana menawarkan diri dengan menatapnya dalam.Yoga me

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 23

    Panas, ya tentu saja bukan hanya panas. Suasana di ruang tamu rumah Pak Lurah terasa seperti akan meledak. Lampu neon yang sedikit lebih redup karena sudah malam hanya membuat bayangan Suroto semakin mengerikan.Pria gempal itu berdiri di tengah ruangan dengan nafas berat, mata merah karena amarah dan hasrat yang tertahan berhari-hari. Bu Lurah berdiri di samping pintu dapur, wajahnya pucat, tangan mengepal di balik bajunya. Pak Lurah sendiri sedang berdiri di depan Suroto, tubuhnya gemetar tapi dia tetap berusaha tegar.“Mas Suroto… ini rumah saya,” kata Pak Lurah dengan suara yang dipaksakan tenang. “Kalau ada urusan, kita bicarakan besok di kantor desa.”“Huh, kantor desa? Kau pikir aku masih butuh formalitas? Kau itu cuma boneka yang aku bayar. Istrimu yang aku pakai. Sekarang kok berani-beraninya ngomong sok keras?” Suroto tersenyum sinis.“Mas… jangan di sini. Pak Lurah sudah tua. Kita bicara di luar saja.” Bu Lurah maju selangkah, mengajak Suroto menjauh.Suroto menatap Bu Lur

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 22

    Udara pada malam ini terasa lebih dingin dari biasanya, membuat orang malas keluar rumah. Cahaya lampu di ruang tengah rumah Yoga menyala redup, menerangi wajah ibunya yang sedang duduk di kursi kayu sambil memegang cangkir teh hangat. Sementara Yoga juga duduk di seberangnya, tubuhnya tegap dengan mata tetap waspada ke arah pintu depan.“Yoga, dulu di desa sebelah saudara kita hidupnya jauh lebih tenang,” kata ibunya pelan. Suaranya serak karena usia dan sakit yang lama. “Mereka punya sawah yang subur, hasil panennya selalu cukup. Preman-preman anak buah Suroto memang kadang datang minta upeti kecil, tapi tidak sekeras di sini. Mereka hanya menakut-nakuti, tidak sampai merampas tanah atau memaksa jual panen murah. Kadang aku berharap kita pindah ke sana saja, bagimana?”Sambil membuang nafas panjang, Yoga mengangguk pelan. Sebenarnya dia sudah punya firasat sejak sore karena cincin di jarinya berdenyut pelan, seolah memberi peringatan.“Ibu istirahat saja, aku mau urus yang lain.” Yo

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 21

    Sore ini Yoga berdiri di atas bukit kecil di pinggir desa saat matahari mulai terbenam, sendirian. Angin sore berhembus tenang, membawa bau tanah basah bercampur daun singkong. Dari tempat ini, dia bisa melihat seluruh desa dengan jelas, termasuk gudang pupuk rahasia Suroto yang kini dijaga lebih ketat daripada kemarin-kemarin.“Hmm… Karma Hitam sudah 82,” gumam Yoga pelan sambil mengepalkan tangan.Sekarang, cincin besi hitam di jarinya terasa semakin panas. Setiap hari hasrat dan amarahnya semakin sulit dikendalikan, membuat dirinya merasakan kesakitan karena tidak tersalurkan. Tapi dia juga tahu, untuk mengalahkan Suroto, dia harus tetap taktis. Bukan sekadar garang tanpa ada rencana apapun.Malam ini, dia berencana menyabotase gudang pupuk lagi. Tapi yang pasti, kali ini dengan cara yang lebih cerdas. Dia tidak akan menyerang secara langsung, dia akan menggunakan “Cengkeraman Akar” untuk merusak saluran distribusi pupuk secara diam-diam. Akar-akar tanah akan merusak pipa dan gudan

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 20

    Brakkk!Pyaar…“Anj-ing!”Suroto melempar ponselnya ke dinding hingga pecah berantakan. Ruangan gudang pupuk terasa pengap oleh amarahnya yang membara. Sudah ketiga kalinya Bu Lurah menolak bertemu dengannya dengan alasan “ada keperluan mendadak”.“Apa-apaan ini?! Alasan teruss!!” raung Suroto sendirian. “Perempuan sialan itu, berani main-main sama aku sekarang?!”Dia kembali menelepon lagi dengan nomor dan ponsel cadangan. Kali ini Bu Lurah mengangkat, suaranya terdengar agak gugup.“Ha… haloo?”“Bu Lurah, di mana kamu sekarang? Aku ingin bertemu dan bercinta, jangan beri alasan!” Suroto bertanya dengan keras karena sudah kesal.“Mas… Mas Suroto, maaf. Aku , aku lagi ada urusan keluarga. Besok saja, ya?” kata Bu Lurah pelan saat Suroto bertanya.“Urusan keluarga? Sudah tiga kali kau ngomong kayak gitu! Kau pikir aku ini bodoh, ha? Kau mulai berubah ya, sekarang? Jangan coba-coba main belakang sama aku, Bu. Aku bisa saja menghancurkan suamimu dan juga hidupmu dalam sekejap. Jabatan lu

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 19

    Beberapa hari setelah kejadian malam yang menguatkan itu, desa mulai merasakan angin segar yang lama tak dirasakan. Yoga secara diam-diam menyalurkan beberapa karung pupuk yang dia ambil dari gudang Suroto melalui jaringan akar tanahnya. Dia sebarkan pupuk-pupuk ke petani-petani yang paling membutuhkan, tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Warga yang semula kesulitan mulai bisa menanam lagi dengan pupuk yang cukup, dan yang pasti ini membuat mereka bahagia.Pagi itu, di lapangan desa yang biasa digunakan untuk tawar-menawar, Yoga berdiri di tengah kerumunan warga. Dia mengumumkan dengan suara tegas, tapi tetap terlihat tenang.“Aku, Yoga Prakasa, berjanji akan menerima hasil panen kalian semua. Berapa pun jumlahnya, aku terima. Aku akan jual ke kota dengan harga yang adil, sesuai dengan harga pasar. Tidak ada pemotongan besar, tidak akan ada tekanan. Kalian cukup bawa ke sini, aku yang akan urus sisanya.”Mendengar itu, warga saling pandang. Ada yang ragu, tapi ada juga yang langsung

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status