ログインYoga sedang duduk di belakang rumah, di bawah pohon mangga kecil yang daunnya sudah menguning. Matahari pagi menyinar langsung ke wajahnya yang kini tak lagi memar. Lalu tatapannya beralih ke cincin besi hitam di jari tengahnya dengan tatapan campur aduk antara kagum, tapi juga was-was.
Tiba-tiba, terdengar suara dingin dan mekanis bergema di dalam kepalanya. [Ding] [Darah Singkong System : Level 1] **Host : Yoga Prakasa **Strength : 32 (+15) **Vitality : 48 (+28) **Regeneration : 65 **Karma Hitam : 12 **Skill Aktif : 0 *Regenerasi Tanah (Lv.1) : Luka ringan hingga berat sembuh dengan cepat selama bersentuhan dengan tanah atau tanaman. Konsumsi stamina rendah. *Kekuatan Singkong (Terkunci) : Kekuatan fisik dasar meningkat drastis. Dapat mematahkan benda keras dengan tangan kosong. **Skill Tersembunyi (Belum Terbuka) : *Cengkeraman Akar *Aura Kesuburan *Naga Tanah Bangkit (Mode Transformasi, Membutuhkan Level 3 & Karma Hitam tinggi) **Quest Utama : Hancurkan Preman Desa (0/1) **Peringatan : Semakin tinggi Karma Hitam, semakin kuat efek samping nafsu dan amarah. Jangan biarkan Darah Naga menguasai. [Ding] Yoga mengusap wajahnya kasar saat mendengar peringatan terakhir dari sistem, yang pastinya tidak pernah diduganya sama sekali. “Jadi ini sistemnya… kayak game, tapi nyata. Kalau misal aku pakai kekuatan ini terlalu sering, Karma Hitam akan naik. Apa artinya?” Karena penasaran, akhirnya Yoga mencoba mengaktifkan “Regenerasi Tanah” dengan sederhana. Dia pun meletakkan telapak tangan di tanah, dan tanpa diduga, dia pun merasakan aliran hangat naik ke tubuhnya. Ada yang lebih tak terduga lagi, rumput-rumput di sekitar tangannya tumbuh sedikit lebih hijau dalam hitungan detik. Kekuatan barunya ini masih harus disembunyikan dengan baik, bahkan juga ibunya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Kekuatan ini sepertinya, enak. Terlalu enak malah. Tapi aku harus berhati-hati,” gumamnya. *** Di kebun singkong keluarga Yoga, ada tiga preman suruhan Suroto yang sedang berjalan sambil ngobrol santai. Ketiganya adalah orang-orang kepercayaan Suroto. Ada Jumadi, seorang pria yang paling besar, lalu ada Cacing, pria berbadan kurus tapi licik, dan satu lagi namanya, Budi, paling muda dan pemarah. “Pak Suroto suruh kita kesini dan pura-pura nemuin mayat si Yoga, hahaha… Katanya biar orang desa pada takut dan tahu siapa yang berani lawan Bos, pasti mampus!” kata Jumadi sambil tertawa. “Ya, bos kan emang hebat!" Sahut Budi sambil tersenyum miring. Akhirnya mereka sampai di lokasi perkelahian semalam, tanah kering masih berantakan, juga ada bekas darah kering. Tapi tidak ada mayat, tidak ada orang yang tergeletak sama sekali. “Eh, kok nggak ada? Mana mayatnya?” Cacing menggaruk kepala. “Semalam, Bos Suroto bilang dia sudah koit. Aku juga lihat sendiri dia diinjek-injek, dari kejauhan.” Sahut Budi yang memang berjaga-jaga di tempat jauh. Bug dug Budi pun menendang-nendang tanah, tidak percaya jika mayat Yoga sudah ditelan bumi. “Mungkin dibawa anjing liar atau… dia belum mati dan merangkak pergi. Ayo kita cari sekitar sini!” Jumadi memberikan instruksi. Ketiganya berkeliling kebun, terus mencari-cari hampir setengah jam. Tapi tidak ada apa-apa selain tanah yang agak basah dan beberapa batang singkong yang juga patah. “Gila, kek demit. Ini aneh,” kata Jumadi. “Kita lapor Bos aja,” usul Cacing dan diangguki kedua temannya. *** Di rumah kontrakan, Suroto baru saja selesai mandi. Bu Lurah sudah pulang diam-diam tadi pagi, takut kepergok orang lain. Sekarang, pria itu sedang duduk di teras sambil merokok ketika tiga anak buahnya datang dengan wajah bingung. “Bos,” sapa Jumadi sambil menunduk. “Kami sudah ke kebun, buat periksa. Tapi di sana nggak ada mayat si Yoga. Bahkan bekas darahnya juga udah agak kering dan… tanah di situ aneh, kayak lebih subur gitu, Bos.” “Apa kamu bilang? Kalian bertiga bercanda ya, ha? Aku sendiri yang nendang kepalanya sampai retak, dia nggak mungkin masih hidup.” Suroto mengerutkan kening, tak percaya. “Benar, Bos. Kami sudah cari berkeliling. Kosong, tidak ada orang.” Cacing mengangguk cepat. Suroto membuang rokoknya dengan kasar. Wajahnya mengeras, tidak percaya dengan laporan anak buahnya. Dia berpikir jika mereka hanya membual. “Gak mungkin, anak itu pasti udah mati. Mungkin kalian salah tempat, atau… dia sempat merangkak dan mati di tempat lain. Kalau gitu kita ke rumah ibunya, sekarang! Aku mau lihat sendiri. Kalau dia masih hidup, berarti ada yang aneh.” Tanpa banyak bicara lagi, mereka berempat bergegas naik motor menuju rumah Yoga. Sementara di rumahnya, Yoga sedang membantu ibunya menjemur pakaian ketika mendengar suara motor meraung dan berhenti di depan rumah. Dia pun keluar dan melihat Suroto turun dari motor besarnya, diikuti tiga preman anak buahnya. Mata Suroto terbelalak sesaat, saat melihat Yoga berdiri tegak tanpa luka sedikitpun. Wajahnya yang semalam babak belur kini terlihat bersih, bahkan tubuhnya terlihat lebih kuat. “Ka… kamu?” suara Suroto tertahan. “Gimana bisa?” “Kenapa, Pak Suroto? Kaget lihat aku masih hidup?” Yoga tersenyum tipis, tapi sorot matanya menatap dingin. Bahkan Jumadi dan yang lain langsung tegang, tangan mereka mendekati pinggang masing-masing untuk mencari senjata. Mereka seperti sedang waspada, menghadapi sesuatu yang lebih besar dan kuat. Suroto melangkah maju, mencoba menguasai situasi. Tidak ingin terlihat lemah, apalagi hanya dengan Yoga. Pemuda miskin yang selalu diremehkan. “Kamu kan, seharusnya sudah mati semalam. Aku yang pastiin sendiri. Kamu… kamu ngapain disini?” Pertanyaan Suroto terdengar ragu. “Mungkin alam masih sayang sama aku. Atau… kamu yang nggak cukup kuat buat bunuh orang seperti aku.” Yoga tersenyum tipis, meremehkan seorang Suroto. Melihat Yoga menampilkan wajah meremehkan, amarah terlihat jelas di wajah Suroto. Dia pun melirik cincin hitam di jari Yoga sekilas, tapi tidak terlalu peduli dan memperhatikan. “Kamu beruntung hari ini, brengsek! Tapi jangan pernah mengira jika aku akan lupa. Desa ini milikku, toko materialku yang ngasih makan orang-orang di sini. Bahkan pejabat di kecamatan makan dari tanganku. Huh, kamu cuma satu orang. Beraninya mau lawan aku, cari mati!” Tapi Yoga hanya diam, sedangkan cincin di jarinya berdenyut hangat. Dia bisa merasakan kekuatan baru mengalir di dalam tubuhnya, siap dilepaskan kapan saja. Cuih! “Kita pergi! Awas kau, Yoga!” Suroto meludah ke tanah. Grong grong! Mereka pun pergi dengan suara motor yang meraung, sedangkan Yoga berdiri di depan rumah, menatap punggung mereka yang menjauh. Di dalam kepalanya, sistem kembali berbunyi pelan. [Ding] **Karma Hitam : +3 **Quest Utama : Hancurkan Preman Desa (1/1 – Target utama teridentifikasi) [Ding] Yoga membuang nafas panjang dengan mengepalkan tangan, geram. “Iya, ini memang belum selesai.” Udara Desa mulai merasakan getaran aneh, seperti ketakutan. Kabar bahwa Yoga selamat dan terlihat sehat walafiat setelah dihajar Suroto, menyebar cepat. Sementara itu, kekuatan baru yang masih disembunyikan Yoga mulai berdenyut, menunggu saat yang tepat untuk meledak.Kesadaran Yoga akhirnya kembali secara perlahan, seperti seseorang yang tenggelam dan dipaksa naik ke permukaan. Yang pertama dia rasakan adalah dingin, ya dingin. Bukan dingin hawa malam di desa, melainkan dingin steril yang meresap sampai ke tulang. Yang kedua adalah getaran pelan di jari tengahnya, sebab cincin itu masih ada, masih berdenyut, meski terasa jauh lebih lemah dari biasanya.Dia pun membuka mata, terlihat langit-langit di atasnya berwarna putih kebiruan, mulus tanpa celah, diterangi lampu LED yang tidak menyilaukan tapi juga tidak ramah. Tubuhnya terbaring di atas platform logam yang sedikit condong. Pergelangan tangan dan kaki terikat oleh gelang energi transparan yang berdenyut pelan. Setiap kali dia mencoba menggerakkan jari, gelang itu merespons dengan tekanan dingin yang menekan saraf.Dia sadar jika saat ini sudah tidak berada di desa lagi. Di balik kaca tebal di sebelah kanannya, ada beberapa orang yang berdiri. Mereka mengenakan jas laboratorium abu-abu gelap. S
Mereka, “pasukan khusus” yang memang ditugaskan untuk mengintai dan menangkapnya, akhirnya datang lagi , tepat saat Yoga berada di titik terlemahnya.Setelah malam ketika dia hampir saja membunuh anak buah Suroto di depan rumah sendiri, tubuh dan pikirannya yang kacau belum pulih benar. Residual “Karma Hitam” masih bergolak, sekat kesadaran menipis, dan rasa bersalah terhadap ibunya menggerogoti lebih dalam daripada luka apa pun.Yoga tidak bisa tidur. Dia hanya duduk di kebun hingga fajar, menatap tangan yang kemarin penuh darah orang lain. Dan laboratorium tidak menyia-nyiakan celah manis itu.Di pulau yang tidak ada di peta, Direktur memberikan perintah terakhir pada dini hari.“Eksekusi Protokol Penangkapan Penuh. Gunakan penekan frekuensi tingkat tinggi. Target harus hidup. Jika perlu, lumpuhkan total. Jangan beri kesempatan dia mencapai ledakan kedua.”Enam unit Tim Ekstraksi yang sudah diperkuat pun akhirnya diturunkan. Mereka membawa peralatan yang belum pernah digunakan sebel
Malam kembali datang, tanpa angin, tanpa jiwa. Yoga sudah merasakan ada yang salah sejak matahari terbenam. Bukan sekadar perasaan diawasi, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ini semua lebih terarah. Seperti ada tangan yang sedang menarik tali di sekitar lehernya secara pelan-pelan, menunggu dia kehabisan napas.Sekarang Yoga berdiri di kebun belakang dengan tubuh tegang, cincin di jarinya berdenyut tidak beraturan. Di dalam kepalanya, bayangan gelap sudah tidak lagi berbisik. Tapi justru berbicara dengan jelas.[Ding]‘Mereka akan datang lagi. Biarkan saja. Kali ini jangan tahan.’[Ding]Yoga menggigit lidahnya hingga terasa ada darah yang keluar.“Diam.” Yoga seperti memperingatkan dirinya sendiri.[Ding]‘Emi sudah tidak di sini. Ibumu takut. Warga menjauh. Tidak ada lagi yang perlu kamu lindungi. Lepaskan.’[Ding]Kini Yoga menutup telinga, meski dia tahu suara itu berasal dari dalam.Di dalam rumah, ibu Yoga tertidur karena dosis obat yang lebih kuat. Rumah jadi terasa lebih
Malam ini adalah malam pertama tanpa ada Emi, rasanya waktu jadi jauh lebih panjang daripada malam-malam sebelumnya. Rumah yang biasanya masih menyisakan kehadiran gadis itu kini hanya diisi oleh napas ibu Yoga yang sesekali terdengar dari kamar, dan keheningan yang menekan dari segala arah.Yoga sendiri sedang duduk di lantai kamar, punggungnya menempel ke dinding, lutut dilipat. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk memperlihatkan kontur cincin di jarinya yang kini terlihat lebih gelap.Lalu tiba-tiba…[Ding]Sistem: Tingkat isolasi kritis.Residual Karma Hitam: Aktif dan meningkat.Peringatan: Tanpa jangkar eksternal, risiko hilangnya kendali meningkat drastis dalam 24–48 jam.[Ding]Yoga tertawa rendah, terasa pahit.“Heh, jangkar…” gumamnya. “Mereka bahkan sudah menghitung semua itu.”Bayangan di dalam dirinya tidak lagi hanya menunggu. Dia bisa merasakannya bergerak, menggeser batas-batas kesadaran, menawarkan kekuatan yang lebih besar
Pagi itu desa terasa lebih dingin dari biasanya. Kabar tentang hampir terjadinya pembunuhan di kebun Yoga semalam sudah berubah menjadi versi yang jauh lebih gelap dari mulut ke mulut semua warga. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi, tapi semua orang setuju pada satu hal, mendekati Yoga akan sangat berbahaya.Di warung kopi, percakapan pun berlangsung secara pelan-pelan.“Katanya semalam dia hampir membunuh empat orang, lho.” “Matanya jadi merah, dia seperti bukan manusia.”“Tapi anak gadis yang tetangga itu masih nekat di rumahnya. Nanti dia bisa ikut celaka, jika nggak pergi.”Isu itu tidak lahir dengan sendirinya, tapi Suroto yang bekerja cepat. Anak buahnya menyebarkan gosip dengan versi yang dilebih-lebihkan ke setiap sudut desa. Tujuan mereka tentunya hanya sederhana, membuat Yoga sendirian.***Di rumahnya Yoga, suasana justru terasa sesak. Ibu Yoga duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, dia berbicara dengan suara yang sangat tegas.“Yoga, denga
Pada akhirnya pagi pun datang dengan langit yang berwarna pucat dan angin yang dingin menggigit. Kebun belakang rumah Yoga kembali berantakan, meski tidak separah malam benturan dengan Tim Ekstraksi. Bekas akar yang mencuat, tanah yang terangkat, dan noda darah di beberapa tempat menjadi saksi bisu betapa dekatnya Yoga dengan jurang kematian semalam.Yoga duduk di teras belakang, tubuhnya terbungkuk, siku bertumpu pada lutut. Sementara itu, matanya justru menatap kosong ke tanah. Nafasnya sudah lebih tenang, tapi di dalam dadanya masih ada getaran gelap yang belum sepenuhnya reda. Setiap kali dia mengingat betapa mudahnya dia hampir meremukkan leher orang-orang itu, sesuatu di dalam dirinya tersenyum puas.[Ding]**Sistem: Residual masih aktif.**Tingkat stabilitas: Rendah.**Catatan: Intervensi eksternal (suara/kehadiran tertentu) berhasil menekan ledakan. Efek tidak dijamin berulang.[Ding]Yoga mengepalkan tangan, seakan-akan rasa itu masih menyisakan. “Lain kali, mungkin tidak aka







