Share

Chapter 6

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-09 00:55:46

Malam ini turun hujan, gerimis tipis membasahi atap rumah sederhana Yoga. Dia berbaring di kamar kecilnya yang pengap, tubuhnya hanya memakai celana pendek. Kelelahan fisik dan mental membuatnya cepat tertidur, tapi tidurnya tidak tenang.

Mimpi itu datang lagi, dan semuanya terasa sangat nyata.

Dalam mimpi, Yoga berada di kebun singkong. Bulan sabit menyinari dua tubuh yang bergumul di tanah. Tapi kali ini, Yoga tidak sedang pengintai. Dia adalah Suroto, atau bisa jadi lebih kuat dari Suroto.

Bu Lurah berbaring di tanah, roknya sudah tersingkap tinggi, blusnya terbuka lebar. Payudaranya yang besar dan montok bergoyang liar saat Yoga (dalam mimpi) menghantamnya dari atas dengan kuat dan dalam. Perempuan itu mendesah keras, kakinya melingkar di pinggang Yoga, kukunya pun mencakar punggung.

“Ahh… Yoga… lebih keras!” erang Bu Lurah parau, matanya setengah terpejam penuh kenikmatan. “Punyamu lebih enak dari suamiku… ahhh, lebih enak dari Suroto juga…”

Yoga, dalam mimpi itu, meremas pinggul Bu Lurah kasar, gerakannya brutal dan tak terkendali. Setiap hantaman membuat tubuh perempuan itu bergoyang hebat. Dia mencium lehernya, menggigit bahunya, sementara tangannya menjelajah ke mana-mana. Rasa panas, basah, dan ketat itu terasa begitu nyata. Desahan Bu Lurah semakin liar, tubuhnya mengejang saat mencapai puncak.

Yoga pun meraung puas, melepaskan segala amarah dan hasratnya ke dalam tubuh perempuan itu.

***

“Hah?!"

Yoga tersentak bangun dengan nafas ngos-ngosan, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Di antara selangkangannya, sudah tegang maksimal, berdenyut-denyut sakit, menekan kain celana pendeknya. Rasa panas dari mimpi tadi masih membakar pembuluh darahnya.

“An_jing… mimpi apa tadi?” gumamnya serak.

Sekarang dia duduk di tepi tempat tidur, tangannya hampir menyentuh ke bawah secara refleks, tapi dia menahan diri. "Karma Hitam” sudah naik lagi. Hasratnya terasa tidak normal, liar, gelap, dan sulit dikendalikan.

Lalu Yoga bangkit, berniat ke kamar mandi di belakang rumah untuk mencuci muka atau setidaknya mengurangi ketegangan. Gerimis malam membuat udara lebih dingin, tapi tubuhnya justru panas.

Saat melewati pekarangan belakang, dia melihat siluet seorang gadis di bawah cahaya lampu tembok yang redup. Itu adalah Emi, anak tetangga sebelah. Umurnya sudah 19 tahun, kulitnya sawo matang, tubuhnya ramping tapi berlekuk di tempat yang tepat.

Gadis itu sedang berjinjit mengambil jemuran yang lupa diambil sore tadi. Baju yang dipakai hanya kaos tipis, sudah agak basah oleh gerimis, menempel di tubuhnya dan memperlihatkan garis bra serta lekuk pinggulnya.

Yoga mendekat tanpa sadar. Langkahnya pelan, seperti maling yang takut ketahuan.

“Emi?” panggilnya pelan.

“Mas Yoga, kok belum tidur? Hujan gini…” Gadis itu menoleh kaget, hampir menjatuhkan baju yang dipegangnya.

“Aku juga baru bangun. Kamu sendiri, malam-malam gini masih ngambil jemuran?”

Yoga berdiri tak jauh dari Emi dengan tatapan yang tanpa sadar menelusuri tubuh Dewi yang basah.

Emi tersenyum malu-malu, rambutnya agak basah menempel di pipi. Menambah pesona alami sang gadis yang masih lugu.

“Iya, lupa tadi sore. Takut besok basah lagi kalau hujan makin deras,” jawab Emi dengan menunduk.

Obrolan berlanjut ringan beberapa saat, tapi Yoga merasa hasratnya semakin sulit dikendalikan. Suaranya saat berbicara menjadi lebih rendah.

“Emi… kamu udah gede ya, sekarang. Dulu masih kecil, suka main di pekarangan.”

“Mas Yoga juga, kelihatan lebih besar sekarang. Katanya kemarin ribut sama Pak Suroto, ya? Untung Mas Yoga nggak apa-apa.” Emi tertawa kecil, tapi ada rona merah di pipinya.

Posisi mereka semakin dekat, gerimis membuat suasana terasa intim. Yoga bisa bisa mencium aroma sabun dari tubuh Emi. Tanpa banyak kata, dia mengulurkan tangan, menyentuh lengan gadis itu pelan.

“Emi…Mas lagi… lagi nggak enak badan malam ini.” Suara Yoga parau.

“Mas… apa yang terjadi…” Emi tidak menarik tangannya, hanya menunduk dengan nafasnya yang sedikit cepat.

Yoga tak bisa menahan lagi, lalu menarik pinggang Emi pelan dan mencium bibirnya. Ciuman itu langsung dalam, penuh hasrat yang terpendam. Awalnya Emi kaget, tubuhnya menegang, tapi kemudian tidak menolak. Bahkan gadis itu membalas ciuman Yoga dengan kaku dan ragu-ragu, bibirnya lembut dan hangat.

Tangan Yoga turun ke pinggulnya, meremas pelan. Emi pun mendesah kecil di dalam ciuman mereka. Tubuhnya menempel lebih dekat, dada montoknya menekan dada Yoga, membuatnya merasakan alat vitalnya yang masih tegang semakin sakit karena gesekan.

Yoga akhirnya mendorong Emi perlahan ke dinding belakang rumah, ciumannya semakin liar, turun ke leher gadis itu. Tangan kanannya menyelinap ke bawah kaos Emi, menyentuh kulit perut yang halus dan naik ke…

“Mas Yoga… tunggu…” bisik Emi terengah, tapi suaranya tidak menolak keras. Tangannya memegang lengan Yoga, entah untuk mendorong atau menahan.

Gerimis semakin deras, membuat suasana malam terasa panas dan berbahaya. Yoga sadar ini efek “Karma Hitam”, tapi hasratnya sudah terlalu kuat untuk dihentikan begitu saja.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 91

    Lampu di Ruang Penahanan Absolut berubah merah. Itu bukan alarm darurat, melainkan sinyal bahwa protokol panen residual resmi dimulai. Empat ilmuwan berpakaian pelindung penuh sebagai SOP masuk melalui pintu ganda, diikuti dua petugas keamanan bersenjata energi. Di belakang mereka, sedotan residual tingkat tinggi digulingkan untuk masuk, tabung hitam mengkilap dengan jarum-jarum kristal yang sudah berdenyut menunggu terisi.Direktur menyaksikan dari ruang observasi melalui kaca tebal, suaranya terdengar datar lewat speaker.“Turunkan penekan residual tiga puluh persen. Siapkan kontak. Kita ambil apa yang bisa diambil. Sisanya dipadamkan segera.”Vesper berdiri di sudut ruangan observasi dengan tangan mengepal, sementara Dr. Halim menatap layar tanpa berkedip. Kael dan Draven tidak bilang apa-apa, semua orang menahan nafas saat ini.Di atas platform, Yoga membuka mata. Dia sudah menunggu detik ini. Satu menit, dua menit…Penekan residual mulai turun sesuai perintah. Gelombang yang sela

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 90

    Angin malam di desa itu seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa sangat berbeda.Angin tiba-tiba seperti membawa bau tanah basah dan asap dapur yang hampir padam. Lampu teras di beberapa rumah sudah dipadamkan. Anjing-anjing kampung hanya sesekali menggonggong dengan malas. Tidak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan itu, sesuatu yang sudah lama mengendap akhirnya pecah.Pak Lurah baru saja keluar dari klinik Bidan Riana. Langkahnya masih sedikit goyah, tubuhnya masih basah dengan keringat nikmat, dan bau tubuh wanita lain masih menempel di baju. Dia tidak langsung pulang ke rumah, tapi memilih duduk di balai desa yang gelap, menatap jalanan yang kosong, mencoba menyusun topeng yang akan dia pakai di depan istrinya nanti.Sayangnya dia tidak tahu bahwa semua yang dilakukannya sudah diikuti sejak tadi sore, seseorang sudah mengintainya sejak beberapa hari terakhir ini.Suroto berdiri di balik pohon besar di seberang jalan, rokok di jari, wajahnya datar. Dia sudah cur

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 89

    Situasi dan kondisi di lantai isolasi terasa menekan, oksigen pun terasa semakin tipis.Direktur berdiri di ruang komando dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap data residual Yoga yang kini menunjukkan pola yang tidak lagi bisa dianggap “stabil”. Fluktuasi kecil yang dulu diabaikan kini muncul lebih sering. Sistem otomatis masih menutup retakan di gelang energi, tapi jeda antara retakan dan perbaikan semakin pendek. Residual subjek tidak lagi hanya bertahan, tapi dia menunggu.“Protokol panen dimajukan ke malam ini,” kata Direktur datar. “Saya tidak akan memberi dia waktu lagi. Siapkan sedotan residual tingkat tinggi. Isolasi total. Staf perempuan tetap dikarantina. Siapa pun yang menolak perintah… dianggap menghambat operasi. Gunakan protokol pelanggar.”Dr. Halim yang berdiri di sisi ruangan tidak langsung menjawab. Jari-jarinya mengetuk tablet dengan irama dengan kesan yang terlalu tenang. Di dalam kepalanya, pesan balasan dari kontak di Dewan masih terbayang.‘Jika p

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 88

    Hari ini adalah hari keenam Lira berada di pulau ini, dan semuanya terasa lebih panjang bagi tim Intel yang sedang melakukan penyamaran.Lira berhasil menyalin satu fragmen log lagi, kali ini dari sistem pendingin lantai bawah yang “bocor” sedikit data saat ada perawatan rutin. Fragmen itu tidak lengkap. Hanya deretan kode dan satu frasa yang berulang.*Residual Subject-01 stability increasing beyond predicted threshold.*Tidak ada nama, tidak juga ada foto. Tidak ada koordinat pasti ruangannya, tapi itu sudah cukup untuk membuat Lira menatap layar kecil di dalam sepatunya lebih lama dari biasanya.Rekan logistiknya menemukan sesuatu yang lebih mengganggu akal sehatnya di saat memindahkan kotak-kotak “sampel biologis” yang seharusnya menuju gudang permukaan, salah satu kotak retak sedikit di sudut. Dari dalam, tercium bau formaldehida yang bercampur dengan aroma logam panas. Di label yang hampir terhapus, tertulis kode ‘T-27’. Ketika dia mencoba mencari kode itu di sistem inventaris,

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 87

    Intel yang sudah dibentuk sebagai tim penyamaran, pada akhirnya mendarat tidak bersamaan. Ini demi keamanan tentunya, karena sedang melakukan investigasi secara rahasia.Lira tiba lebih dulu, memakai identitas sebagai teknisi listrik lepas yang dikirim oleh perusahaan cover untuk “memeriksa generator cadangan”. Dua rekannya menyusul dalam selang waktu tiga puluh enam jam, satu sebagai staf logistik, satu lagi sebagai peneliti junior yang baru dipindahkan dari fasilitas lain. Mereka tidak saling menyapa di depan umum, bahkan di koridor yang sama, pandangan mereka tidak bertemu lebih dari sepersekian detik. Semua menjaga rahasia ini secara terlatih.Pulau itu lebih sunyi daripada yang mereka bayangkan. Tidak ada burung, tidak ada suara ombak yang natural sebagaimana tempat yang memang dikelilingi oleh lautan. Hanya suara dengung mesin yang konstan dari bawah tanah, seolah pulau itu sendiri bernapas melalui ventilasi tersembunyi.Lira berjalan di belakang seorang petugas keamanan lokal y

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 86. Menikmati Dendam Yang Basah

    Malam ini, di klinik desa kembali menjadi milik dua orang saja. Pak Lurah dan Bidan Riana, seakan-akan tidak memperdulikan keberadaan manusia lainnya.Hujan memang tidak turun seperti kemarin, tapi udara terasa lembab dan berat. Bahkan Pak Lurah datang lebih awal dari biasanya, langsung mengunci pintu begitu masuk, lalu menarik Bidan Riana ke dalam pelukannya tanpa banyak kata. Ciuman yang langsung menyusul dengan kasar, lapar, hampir seperti sedang marah. Sementara Bidan Riana membalas dengan sama kuatnya, jari-jari masuk ke rambut pria itu, tubuh menekan balik. Memberikan perlawanan yang seimbang pastinya.Mereka tidak lagi berpura-pura ini hanya soal kehangatan, tapi apa yang mereka lakukan adalah kebutuhan yang memang milik mereka.“Ahhh… Bapak…”“Yahhh… panggil aku!” Pak Lurah menyahut dengan dominasi seorang pria.Pak Lurah mendorong Riana ke ranjang periksa, menarik seragam putih yang belum sempat dilepas itu hingga kancing-kancingnya berhamburan. Membuat P4yudara Riana terpapa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status