LOGINMalam ini turun hujan, gerimis tipis membasahi atap rumah sederhana Yoga. Dia berbaring di kamar kecilnya yang pengap, tubuhnya hanya memakai celana pendek. Kelelahan fisik dan mental membuatnya cepat tertidur, tapi tidurnya tidak tenang.
Mimpi itu datang lagi, dan semuanya terasa sangat nyata. Dalam mimpi, Yoga berada di kebun singkong. Bulan sabit menyinari dua tubuh yang bergumul di tanah. Tapi kali ini, Yoga tidak sedang pengintai. Dia adalah Suroto, atau bisa jadi lebih kuat dari Suroto. Bu Lurah berbaring di tanah, roknya sudah tersingkap tinggi, blusnya terbuka lebar. Payudaranya yang besar dan montok bergoyang liar saat Yoga (dalam mimpi) menghantamnya dari atas dengan kuat dan dalam. Perempuan itu mendesah keras, kakinya melingkar di pinggang Yoga, kukunya pun mencakar punggung. “Ahh… Yoga… lebih keras!” erang Bu Lurah parau, matanya setengah terpejam penuh kenikmatan. “Punyamu lebih enak dari suamiku… ahhh, lebih enak dari Suroto juga…” Yoga, dalam mimpi itu, meremas pinggul Bu Lurah kasar, gerakannya brutal dan tak terkendali. Setiap hantaman membuat tubuh perempuan itu bergoyang hebat. Dia mencium lehernya, menggigit bahunya, sementara tangannya menjelajah ke mana-mana. Rasa panas, basah, dan ketat itu terasa begitu nyata. Desahan Bu Lurah semakin liar, tubuhnya mengejang saat mencapai puncak. Yoga pun meraung puas, melepaskan segala amarah dan hasratnya ke dalam tubuh perempuan itu. *** “Hah?!" Yoga tersentak bangun dengan nafas ngos-ngosan, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Di antara selangkangannya, sudah tegang maksimal, berdenyut-denyut sakit, menekan kain celana pendeknya. Rasa panas dari mimpi tadi masih membakar pembuluh darahnya. “An_jing… mimpi apa tadi?” gumamnya serak. Sekarang dia duduk di tepi tempat tidur, tangannya hampir menyentuh ke bawah secara refleks, tapi dia menahan diri. "Karma Hitam” sudah naik lagi. Hasratnya terasa tidak normal, liar, gelap, dan sulit dikendalikan. Lalu Yoga bangkit, berniat ke kamar mandi di belakang rumah untuk mencuci muka atau setidaknya mengurangi ketegangan. Gerimis malam membuat udara lebih dingin, tapi tubuhnya justru panas. Saat melewati pekarangan belakang, dia melihat siluet seorang gadis di bawah cahaya lampu tembok yang redup. Itu adalah Emi, anak tetangga sebelah. Umurnya sudah 19 tahun, kulitnya sawo matang, tubuhnya ramping tapi berlekuk di tempat yang tepat. Gadis itu sedang berjinjit mengambil jemuran yang lupa diambil sore tadi. Baju yang dipakai hanya kaos tipis, sudah agak basah oleh gerimis, menempel di tubuhnya dan memperlihatkan garis bra serta lekuk pinggulnya. Yoga mendekat tanpa sadar. Langkahnya pelan, seperti maling yang takut ketahuan. “Emi?” panggilnya pelan. “Mas Yoga, kok belum tidur? Hujan gini…” Gadis itu menoleh kaget, hampir menjatuhkan baju yang dipegangnya. “Aku juga baru bangun. Kamu sendiri, malam-malam gini masih ngambil jemuran?” Yoga berdiri tak jauh dari Emi dengan tatapan yang tanpa sadar menelusuri tubuh Dewi yang basah. Emi tersenyum malu-malu, rambutnya agak basah menempel di pipi. Menambah pesona alami sang gadis yang masih lugu. “Iya, lupa tadi sore. Takut besok basah lagi kalau hujan makin deras,” jawab Emi dengan menunduk. Obrolan berlanjut ringan beberapa saat, tapi Yoga merasa hasratnya semakin sulit dikendalikan. Suaranya saat berbicara menjadi lebih rendah. “Emi… kamu udah gede ya, sekarang. Dulu masih kecil, suka main di pekarangan.” “Mas Yoga juga, kelihatan lebih besar sekarang. Katanya kemarin ribut sama Pak Suroto, ya? Untung Mas Yoga nggak apa-apa.” Emi tertawa kecil, tapi ada rona merah di pipinya. Posisi mereka semakin dekat, gerimis membuat suasana terasa intim. Yoga bisa bisa mencium aroma sabun dari tubuh Emi. Tanpa banyak kata, dia mengulurkan tangan, menyentuh lengan gadis itu pelan. “Emi…Mas lagi… lagi nggak enak badan malam ini.” Suara Yoga parau. “Mas… apa yang terjadi…” Emi tidak menarik tangannya, hanya menunduk dengan nafasnya yang sedikit cepat. Yoga tak bisa menahan lagi, lalu menarik pinggang Emi pelan dan mencium bibirnya. Ciuman itu langsung dalam, penuh hasrat yang terpendam. Awalnya Emi kaget, tubuhnya menegang, tapi kemudian tidak menolak. Bahkan gadis itu membalas ciuman Yoga dengan kaku dan ragu-ragu, bibirnya lembut dan hangat. Tangan Yoga turun ke pinggulnya, meremas pelan. Emi pun mendesah kecil di dalam ciuman mereka. Tubuhnya menempel lebih dekat, dada montoknya menekan dada Yoga, membuatnya merasakan alat vitalnya yang masih tegang semakin sakit karena gesekan. Yoga akhirnya mendorong Emi perlahan ke dinding belakang rumah, ciumannya semakin liar, turun ke leher gadis itu. Tangan kanannya menyelinap ke bawah kaos Emi, menyentuh kulit perut yang halus dan naik ke… “Mas Yoga… tunggu…” bisik Emi terengah, tapi suaranya tidak menolak keras. Tangannya memegang lengan Yoga, entah untuk mendorong atau menahan. Gerimis semakin deras, membuat suasana malam terasa panas dan berbahaya. Yoga sadar ini efek “Karma Hitam”, tapi hasratnya sudah terlalu kuat untuk dihentikan begitu saja.Kesadaran Yoga akhirnya kembali secara perlahan, seperti seseorang yang tenggelam dan dipaksa naik ke permukaan. Yang pertama dia rasakan adalah dingin, ya dingin. Bukan dingin hawa malam di desa, melainkan dingin steril yang meresap sampai ke tulang. Yang kedua adalah getaran pelan di jari tengahnya, sebab cincin itu masih ada, masih berdenyut, meski terasa jauh lebih lemah dari biasanya.Dia pun membuka mata, terlihat langit-langit di atasnya berwarna putih kebiruan, mulus tanpa celah, diterangi lampu LED yang tidak menyilaukan tapi juga tidak ramah. Tubuhnya terbaring di atas platform logam yang sedikit condong. Pergelangan tangan dan kaki terikat oleh gelang energi transparan yang berdenyut pelan. Setiap kali dia mencoba menggerakkan jari, gelang itu merespons dengan tekanan dingin yang menekan saraf.Dia sadar jika saat ini sudah tidak berada di desa lagi. Di balik kaca tebal di sebelah kanannya, ada beberapa orang yang berdiri. Mereka mengenakan jas laboratorium abu-abu gelap. S
Mereka, “pasukan khusus” yang memang ditugaskan untuk mengintai dan menangkapnya, akhirnya datang lagi , tepat saat Yoga berada di titik terlemahnya.Setelah malam ketika dia hampir saja membunuh anak buah Suroto di depan rumah sendiri, tubuh dan pikirannya yang kacau belum pulih benar. Residual “Karma Hitam” masih bergolak, sekat kesadaran menipis, dan rasa bersalah terhadap ibunya menggerogoti lebih dalam daripada luka apa pun.Yoga tidak bisa tidur. Dia hanya duduk di kebun hingga fajar, menatap tangan yang kemarin penuh darah orang lain. Dan laboratorium tidak menyia-nyiakan celah manis itu.Di pulau yang tidak ada di peta, Direktur memberikan perintah terakhir pada dini hari.“Eksekusi Protokol Penangkapan Penuh. Gunakan penekan frekuensi tingkat tinggi. Target harus hidup. Jika perlu, lumpuhkan total. Jangan beri kesempatan dia mencapai ledakan kedua.”Enam unit Tim Ekstraksi yang sudah diperkuat pun akhirnya diturunkan. Mereka membawa peralatan yang belum pernah digunakan sebel
Malam kembali datang, tanpa angin, tanpa jiwa. Yoga sudah merasakan ada yang salah sejak matahari terbenam. Bukan sekadar perasaan diawasi, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ini semua lebih terarah. Seperti ada tangan yang sedang menarik tali di sekitar lehernya secara pelan-pelan, menunggu dia kehabisan napas.Sekarang Yoga berdiri di kebun belakang dengan tubuh tegang, cincin di jarinya berdenyut tidak beraturan. Di dalam kepalanya, bayangan gelap sudah tidak lagi berbisik. Tapi justru berbicara dengan jelas.[Ding]‘Mereka akan datang lagi. Biarkan saja. Kali ini jangan tahan.’[Ding]Yoga menggigit lidahnya hingga terasa ada darah yang keluar.“Diam.” Yoga seperti memperingatkan dirinya sendiri.[Ding]‘Emi sudah tidak di sini. Ibumu takut. Warga menjauh. Tidak ada lagi yang perlu kamu lindungi. Lepaskan.’[Ding]Kini Yoga menutup telinga, meski dia tahu suara itu berasal dari dalam.Di dalam rumah, ibu Yoga tertidur karena dosis obat yang lebih kuat. Rumah jadi terasa lebih
Malam ini adalah malam pertama tanpa ada Emi, rasanya waktu jadi jauh lebih panjang daripada malam-malam sebelumnya. Rumah yang biasanya masih menyisakan kehadiran gadis itu kini hanya diisi oleh napas ibu Yoga yang sesekali terdengar dari kamar, dan keheningan yang menekan dari segala arah.Yoga sendiri sedang duduk di lantai kamar, punggungnya menempel ke dinding, lutut dilipat. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk memperlihatkan kontur cincin di jarinya yang kini terlihat lebih gelap.Lalu tiba-tiba…[Ding]Sistem: Tingkat isolasi kritis.Residual Karma Hitam: Aktif dan meningkat.Peringatan: Tanpa jangkar eksternal, risiko hilangnya kendali meningkat drastis dalam 24–48 jam.[Ding]Yoga tertawa rendah, terasa pahit.“Heh, jangkar…” gumamnya. “Mereka bahkan sudah menghitung semua itu.”Bayangan di dalam dirinya tidak lagi hanya menunggu. Dia bisa merasakannya bergerak, menggeser batas-batas kesadaran, menawarkan kekuatan yang lebih besar
Pagi itu desa terasa lebih dingin dari biasanya. Kabar tentang hampir terjadinya pembunuhan di kebun Yoga semalam sudah berubah menjadi versi yang jauh lebih gelap dari mulut ke mulut semua warga. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi, tapi semua orang setuju pada satu hal, mendekati Yoga akan sangat berbahaya.Di warung kopi, percakapan pun berlangsung secara pelan-pelan.“Katanya semalam dia hampir membunuh empat orang, lho.” “Matanya jadi merah, dia seperti bukan manusia.”“Tapi anak gadis yang tetangga itu masih nekat di rumahnya. Nanti dia bisa ikut celaka, jika nggak pergi.”Isu itu tidak lahir dengan sendirinya, tapi Suroto yang bekerja cepat. Anak buahnya menyebarkan gosip dengan versi yang dilebih-lebihkan ke setiap sudut desa. Tujuan mereka tentunya hanya sederhana, membuat Yoga sendirian.***Di rumahnya Yoga, suasana justru terasa sesak. Ibu Yoga duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, dia berbicara dengan suara yang sangat tegas.“Yoga, denga
Pada akhirnya pagi pun datang dengan langit yang berwarna pucat dan angin yang dingin menggigit. Kebun belakang rumah Yoga kembali berantakan, meski tidak separah malam benturan dengan Tim Ekstraksi. Bekas akar yang mencuat, tanah yang terangkat, dan noda darah di beberapa tempat menjadi saksi bisu betapa dekatnya Yoga dengan jurang kematian semalam.Yoga duduk di teras belakang, tubuhnya terbungkuk, siku bertumpu pada lutut. Sementara itu, matanya justru menatap kosong ke tanah. Nafasnya sudah lebih tenang, tapi di dalam dadanya masih ada getaran gelap yang belum sepenuhnya reda. Setiap kali dia mengingat betapa mudahnya dia hampir meremukkan leher orang-orang itu, sesuatu di dalam dirinya tersenyum puas.[Ding]**Sistem: Residual masih aktif.**Tingkat stabilitas: Rendah.**Catatan: Intervensi eksternal (suara/kehadiran tertentu) berhasil menekan ledakan. Efek tidak dijamin berulang.[Ding]Yoga mengepalkan tangan, seakan-akan rasa itu masih menyisakan. “Lain kali, mungkin tidak aka







