MasukYoga merasa harus menghentikan keinginannya yang tidak masuk akal, hal ini membuat tubuhnya tiba-tiba membeku. Tubuhnya menegang hebat saat bibirnya masih menempel di leher Emi yang terasa lembut. Hasrat yang membara tadi seperti ditarik paksa oleh sesuatu yang lebih kuat di dalam dirinya. “Karma Hitam” berdenyut seperti peringatan keras di kepalanya.
[Ding] **Peringatan: Karma Hitam 28 Jika melanjutkan, efek samping akan meningkat drastis. [Ding] Nafas Yoga tersengal-sengal saat melepaskan pelukan Dewi secara kasar, mundur dua langkah sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan berjalan cepat menuju rumahnya, meninggalkan gadis itu sendirian di bawah gerimis. “Mas Yoga… Mas Yoga kenapa?” panggil Emi dengan suara bingung dan gemetar. Gadis itu melongo, tangannya masih menyentuh lehernya yang basah oleh ciuman panas barusan. Wajahnya memerah, nafasnya pun masih ngos-ngosan, tapi matanya terlihat sedang bingung, ada banyak tanda tanya dan juga ketakutan. “Mas Yoga… tunggu!” teriak Emi. Tapi Yoga tak menoleh sama sekali, dan langsung masuk ke rumah lalu menutup pintu kamarnya keras. Brak! Di dalam kamarnya yang gelap, Yoga ambruk ke lantai. Pemuda itu meremas rambutnya kuat-kuat sampai terasa sakit, membuat kepalanya jadi pusing seperti ditusuk-tusuk. Tubuhnya yang tadinya panas sekarang terasa dingin dan nyeri, seolah-olah ada sesuatu yang menggerogotinya dari dalam. “Arghhh… sialan!! Apa yang kulakukan ini? Argh…” Yoga meraung keras, suaranya parau dengan kesakitan yang dirasakannya. Dia pun memukul lantai dengan tinju hingga punggung tangannya berdarah, sementara lantainya retak kecil. Namun yang lebih menyakitkan adalah, alat vitalnya masih tegang dan sakit. Ini yang lebih parah, seperti ada rasa lapar aneh yang muncul, lapar akan kekuatan, lapar akan pelepasan, lapar akan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan. Ibunya yang ketakutan langsung bangun dan mengetuk pintu kamar Yoga dengan keras. Tok tok tok! “Yoga! Yoga, kamu kenapa?! Buka pintunya, Nak!” suara ibunya panik, terus menggedor. “Apa kamu sakit lagi? Jawab ibu, Yoga!” Yoga menggigit bibirnya sampai keluar darah. Dia berusaha mengendalikan nafas agar lebih teratur dan tidak dicurigai. “Aku… aku nggak apa-apa, Bu! Cuma mimpi buruk! ibu tidur lagi aja, ya.” Yoga berusaha menenangkan. Tok tok tok! Tapi sayang, ibunya masih menggedor beberapa kali sebelum akhirnya pergi meskipun tetap merasa khawatir. “Ya sudah, kalau ada apa-apa cari ibu segera.” Ibunya berpesan. “Ya, Bu.” Yoga duduk bersandar di dinding, keringat campur air gerimis tadi membasahi tubuhnya. Dia pun menatap cincin di jarinya dengan tatapan benci, tapi sekaligus ketagihan. “Aku… aku harus bisa kendalikan ini!” *** Pagi hari, matahari baru terbit. Yoga keluar ke belakang rumah dengan mata panda karena kurang tidur. Dia memutuskan untuk menguji kekuatannya secara diam-diam, karena memang masih kurang percaya dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul. Sekarang dia berdiri di tengah pekarangan tanah kosong lalu meletakkan telapak tangan di tanah, dia berkonsentrasi. Tanah di sekitar tangannya langsung berubah drastis, seperti rumput yang tadinya kering mulai menghijau dengan cepat, bahkan beberapa batang singkong kecil tumbuh dalam hitungan detik di radius satu meter. “Ha, ini beneran? Gila!” gumam Yoga. Dia berdiri lagi lalu meraih batang pohon kelapa kecil yang sudah mati. Dengan satu tangan, dia mematahkan batang sebesar lengan orang dewasa seolah itu hanya kayu lapuk. Kekuatan fisiknya memang sudah tidak normal. Kreekk! Tapi anehnya, setiap kali dia menggunakan kekuatan, rasa “lapar” itu datang lagi. Lapar yang bukan untuk makanan, melainkan untuk pelepasan yang… entah kekerasan atau nafsu. Saat Yoga sedang menguji kekuatannya, Emi muncul dari samping rumahnya sendiri sambil membawa ember. Begitu melihat Yoga, gadis itu langsung berhenti. Wajahnya memucat, langkahnya pun mundur perlahan. Melihat itu, Yoga merasa ada sesuatu yang menusuk dada. Dia ingin mendekat dan meminta maaf atas kejadian semalam, tapi melihat reaksi Emi yang ketakutan membuat kata-kata permintaan maaf itu justru tersangkut di tenggorokan. “Emi…” panggil Yoga pelan. “Mas Yoga, pa… pagi.” Emi menunduk, tidak berani menatap mata Rangga meskipun menyapa dalam ketakutan. Suasana jadi terasa canggung sekali. Yoga menggaruk tengkuknya yang benar-benar tidak terasa gatal, berusaha mencari kata yang tepat untuk meminta maaf dan menjelaskan situasi yang terjadi semalam. “Emi, aku… semalam… maaf. Mas lagi nggak enak badan. Nggak maksud bikin kamu takut, maaf ya.” Emi hanya mengangguk kecil, seperti ragu dan tetap menjaga jarak. Tangannya memegang ember lebih erat. “I… iya, Mas. Nggak apa-apa.” Suara gadis itu pelan, hampir bergetar. Matanya sesekali melirik cincin hitam di jari Yoga dengan rasa yang aneh, seperti waspada dan berhati-hati. “Kalau kamu takut sama Mas… mas juga ngerti, kok. Tapi… aku nggak mau kamu jadi merasa takut terus, jadi.. huhff...” Yoga masih ingin ingin menjelaskan lebih lanjut, tapi dia tahu penjelasannya akan terdengar seperti alasan gila. Akhirnya dia hanya bisa menghela nafas. Emi diam tidak menjawab, hanya buru-buru mengangguk lalu berjalan cepat menjauh, meninggalkan Yoga kembali sendirian di pekarangan. Melihat situasi ini, Yoga mengepalkan tangannya kuat. Efek samping kekuatan ini semakin nyata, tidak bisa dibendung. Semakin dia mencoba menggunakannya, semakin sulit mengendalikan diri. Tapi dia juga tahu, untuk menghadapi Suroto dan seluruh kekuasaan preman di desa ini, sudah pasti dia butuh kekuatan yang lebih besar. Tiba-tiba, sistem di kepalanyakembali berbunyi pelan. [Ding] **Karma Hitam: 31 Skill baru hampir terbuka. Siapkah Tuan rumah membayar harganya? [Ding] Yoga menatap ke arah rumah Suroto yang jauh di ujung desa, tidak tampak dari tempatnya, tapi dia seperti melihatnya dengan jelas. Matanya pun mengeras. “Aku harus lebih kuat, kan?”Kesadaran Yoga akhirnya kembali secara perlahan, seperti seseorang yang tenggelam dan dipaksa naik ke permukaan. Yang pertama dia rasakan adalah dingin, ya dingin. Bukan dingin hawa malam di desa, melainkan dingin steril yang meresap sampai ke tulang. Yang kedua adalah getaran pelan di jari tengahnya, sebab cincin itu masih ada, masih berdenyut, meski terasa jauh lebih lemah dari biasanya.Dia pun membuka mata, terlihat langit-langit di atasnya berwarna putih kebiruan, mulus tanpa celah, diterangi lampu LED yang tidak menyilaukan tapi juga tidak ramah. Tubuhnya terbaring di atas platform logam yang sedikit condong. Pergelangan tangan dan kaki terikat oleh gelang energi transparan yang berdenyut pelan. Setiap kali dia mencoba menggerakkan jari, gelang itu merespons dengan tekanan dingin yang menekan saraf.Dia sadar jika saat ini sudah tidak berada di desa lagi. Di balik kaca tebal di sebelah kanannya, ada beberapa orang yang berdiri. Mereka mengenakan jas laboratorium abu-abu gelap. S
Mereka, “pasukan khusus” yang memang ditugaskan untuk mengintai dan menangkapnya, akhirnya datang lagi , tepat saat Yoga berada di titik terlemahnya.Setelah malam ketika dia hampir saja membunuh anak buah Suroto di depan rumah sendiri, tubuh dan pikirannya yang kacau belum pulih benar. Residual “Karma Hitam” masih bergolak, sekat kesadaran menipis, dan rasa bersalah terhadap ibunya menggerogoti lebih dalam daripada luka apa pun.Yoga tidak bisa tidur. Dia hanya duduk di kebun hingga fajar, menatap tangan yang kemarin penuh darah orang lain. Dan laboratorium tidak menyia-nyiakan celah manis itu.Di pulau yang tidak ada di peta, Direktur memberikan perintah terakhir pada dini hari.“Eksekusi Protokol Penangkapan Penuh. Gunakan penekan frekuensi tingkat tinggi. Target harus hidup. Jika perlu, lumpuhkan total. Jangan beri kesempatan dia mencapai ledakan kedua.”Enam unit Tim Ekstraksi yang sudah diperkuat pun akhirnya diturunkan. Mereka membawa peralatan yang belum pernah digunakan sebel
Malam kembali datang, tanpa angin, tanpa jiwa. Yoga sudah merasakan ada yang salah sejak matahari terbenam. Bukan sekadar perasaan diawasi, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ini semua lebih terarah. Seperti ada tangan yang sedang menarik tali di sekitar lehernya secara pelan-pelan, menunggu dia kehabisan napas.Sekarang Yoga berdiri di kebun belakang dengan tubuh tegang, cincin di jarinya berdenyut tidak beraturan. Di dalam kepalanya, bayangan gelap sudah tidak lagi berbisik. Tapi justru berbicara dengan jelas.[Ding]‘Mereka akan datang lagi. Biarkan saja. Kali ini jangan tahan.’[Ding]Yoga menggigit lidahnya hingga terasa ada darah yang keluar.“Diam.” Yoga seperti memperingatkan dirinya sendiri.[Ding]‘Emi sudah tidak di sini. Ibumu takut. Warga menjauh. Tidak ada lagi yang perlu kamu lindungi. Lepaskan.’[Ding]Kini Yoga menutup telinga, meski dia tahu suara itu berasal dari dalam.Di dalam rumah, ibu Yoga tertidur karena dosis obat yang lebih kuat. Rumah jadi terasa lebih
Malam ini adalah malam pertama tanpa ada Emi, rasanya waktu jadi jauh lebih panjang daripada malam-malam sebelumnya. Rumah yang biasanya masih menyisakan kehadiran gadis itu kini hanya diisi oleh napas ibu Yoga yang sesekali terdengar dari kamar, dan keheningan yang menekan dari segala arah.Yoga sendiri sedang duduk di lantai kamar, punggungnya menempel ke dinding, lutut dilipat. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk memperlihatkan kontur cincin di jarinya yang kini terlihat lebih gelap.Lalu tiba-tiba…[Ding]Sistem: Tingkat isolasi kritis.Residual Karma Hitam: Aktif dan meningkat.Peringatan: Tanpa jangkar eksternal, risiko hilangnya kendali meningkat drastis dalam 24–48 jam.[Ding]Yoga tertawa rendah, terasa pahit.“Heh, jangkar…” gumamnya. “Mereka bahkan sudah menghitung semua itu.”Bayangan di dalam dirinya tidak lagi hanya menunggu. Dia bisa merasakannya bergerak, menggeser batas-batas kesadaran, menawarkan kekuatan yang lebih besar
Pagi itu desa terasa lebih dingin dari biasanya. Kabar tentang hampir terjadinya pembunuhan di kebun Yoga semalam sudah berubah menjadi versi yang jauh lebih gelap dari mulut ke mulut semua warga. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi, tapi semua orang setuju pada satu hal, mendekati Yoga akan sangat berbahaya.Di warung kopi, percakapan pun berlangsung secara pelan-pelan.“Katanya semalam dia hampir membunuh empat orang, lho.” “Matanya jadi merah, dia seperti bukan manusia.”“Tapi anak gadis yang tetangga itu masih nekat di rumahnya. Nanti dia bisa ikut celaka, jika nggak pergi.”Isu itu tidak lahir dengan sendirinya, tapi Suroto yang bekerja cepat. Anak buahnya menyebarkan gosip dengan versi yang dilebih-lebihkan ke setiap sudut desa. Tujuan mereka tentunya hanya sederhana, membuat Yoga sendirian.***Di rumahnya Yoga, suasana justru terasa sesak. Ibu Yoga duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, dia berbicara dengan suara yang sangat tegas.“Yoga, denga
Pada akhirnya pagi pun datang dengan langit yang berwarna pucat dan angin yang dingin menggigit. Kebun belakang rumah Yoga kembali berantakan, meski tidak separah malam benturan dengan Tim Ekstraksi. Bekas akar yang mencuat, tanah yang terangkat, dan noda darah di beberapa tempat menjadi saksi bisu betapa dekatnya Yoga dengan jurang kematian semalam.Yoga duduk di teras belakang, tubuhnya terbungkuk, siku bertumpu pada lutut. Sementara itu, matanya justru menatap kosong ke tanah. Nafasnya sudah lebih tenang, tapi di dalam dadanya masih ada getaran gelap yang belum sepenuhnya reda. Setiap kali dia mengingat betapa mudahnya dia hampir meremukkan leher orang-orang itu, sesuatu di dalam dirinya tersenyum puas.[Ding]**Sistem: Residual masih aktif.**Tingkat stabilitas: Rendah.**Catatan: Intervensi eksternal (suara/kehadiran tertentu) berhasil menekan ledakan. Efek tidak dijamin berulang.[Ding]Yoga mengepalkan tangan, seakan-akan rasa itu masih menyisakan. “Lain kali, mungkin tidak aka







