แชร์

Chapter 7

ผู้เขียน: Tompealla Kriweall
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-16 18:29:23

Yoga merasa harus menghentikan keinginannya yang tidak masuk akal, hal ini membuat tubuhnya tiba-tiba membeku. Tubuhnya menegang hebat saat bibirnya masih menempel di leher Emi yang terasa lembut. Hasrat yang membara tadi seperti ditarik paksa oleh sesuatu yang lebih kuat di dalam dirinya. “Karma Hitam” berdenyut seperti peringatan keras di kepalanya.

[Ding]

**Peringatan: Karma Hitam 28

Jika melanjutkan, efek samping akan meningkat drastis.

[Ding]

Nafas Yoga tersengal-sengal saat melepaskan pelukan Dewi secara kasar, mundur dua langkah sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan berjalan cepat menuju rumahnya, meninggalkan gadis itu sendirian di bawah gerimis.

“Mas Yoga… Mas Yoga kenapa?” panggil Emi dengan suara bingung dan gemetar.

Gadis itu melongo, tangannya masih menyentuh lehernya yang basah oleh ciuman panas barusan. Wajahnya memerah, nafasnya pun masih ngos-ngosan, tapi matanya terlihat sedang bingung, ada banyak tanda tanya dan juga ketakutan.

“Mas Yoga… tunggu!” teriak Emi.

Tapi Yoga tak menoleh sama sekali, dan langsung masuk ke rumah lalu menutup pintu kamarnya keras.

Brak!

Di dalam kamarnya yang gelap, Yoga ambruk ke lantai. Pemuda itu meremas rambutnya kuat-kuat sampai terasa sakit, membuat kepalanya jadi pusing seperti ditusuk-tusuk. Tubuhnya yang tadinya panas sekarang terasa dingin dan nyeri, seolah-olah ada sesuatu yang menggerogotinya dari dalam.

“Arghhh… sialan!! Apa yang kulakukan ini? Argh…”

Yoga meraung keras, suaranya parau dengan kesakitan yang dirasakannya. Dia pun memukul lantai dengan tinju hingga punggung tangannya berdarah, sementara lantainya retak kecil.

Namun yang lebih menyakitkan adalah, alat vitalnya masih tegang dan sakit. Ini yang lebih parah, seperti ada rasa lapar aneh yang muncul, lapar akan kekuatan, lapar akan pelepasan, lapar akan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan.

Ibunya yang ketakutan langsung bangun dan mengetuk pintu kamar Yoga dengan keras.

Tok tok tok!

“Yoga! Yoga, kamu kenapa?! Buka pintunya, Nak!” suara ibunya panik, terus menggedor. “Apa kamu sakit lagi? Jawab ibu, Yoga!”

Yoga menggigit bibirnya sampai keluar darah. Dia berusaha mengendalikan nafas agar lebih teratur dan tidak dicurigai.

“Aku… aku nggak apa-apa, Bu! Cuma mimpi buruk! ibu tidur lagi aja, ya.” Yoga berusaha menenangkan.

Tok tok tok!

Tapi sayang, ibunya masih menggedor beberapa kali sebelum akhirnya pergi meskipun tetap merasa khawatir.

“Ya sudah, kalau ada apa-apa cari ibu segera.” Ibunya berpesan.

“Ya, Bu.”

Yoga duduk bersandar di dinding, keringat campur air gerimis tadi membasahi tubuhnya. Dia pun menatap cincin di jarinya dengan tatapan benci, tapi sekaligus ketagihan.

“Aku… aku harus bisa kendalikan ini!”

***

Pagi hari, matahari baru terbit. Yoga keluar ke belakang rumah dengan mata panda karena kurang tidur. Dia memutuskan untuk menguji kekuatannya secara diam-diam, karena memang masih kurang percaya dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul.

Sekarang dia berdiri di tengah pekarangan tanah kosong lalu meletakkan telapak tangan di tanah, dia berkonsentrasi. Tanah di sekitar tangannya langsung berubah drastis, seperti rumput yang tadinya kering mulai menghijau dengan cepat, bahkan beberapa batang singkong kecil tumbuh dalam hitungan detik di radius satu meter.

“Ha, ini beneran? Gila!” gumam Yoga.

Dia berdiri lagi lalu meraih batang pohon kelapa kecil yang sudah mati. Dengan satu tangan, dia mematahkan batang sebesar lengan orang dewasa seolah itu hanya kayu lapuk. Kekuatan fisiknya memang sudah tidak normal.

Kreekk!

Tapi anehnya, setiap kali dia menggunakan kekuatan, rasa “lapar” itu datang lagi. Lapar yang bukan untuk makanan, melainkan untuk pelepasan yang… entah kekerasan atau nafsu.

Saat Yoga sedang menguji kekuatannya, Emi muncul dari samping rumahnya sendiri sambil membawa ember. Begitu melihat Yoga, gadis itu langsung berhenti. Wajahnya memucat, langkahnya pun mundur perlahan.

Melihat itu, Yoga merasa ada sesuatu yang menusuk dada. Dia ingin mendekat dan meminta maaf atas kejadian semalam, tapi melihat reaksi Emi yang ketakutan membuat kata-kata permintaan maaf itu justru tersangkut di tenggorokan.

“Emi…” panggil Yoga pelan.

“Mas Yoga, pa… pagi.” Emi menunduk, tidak berani menatap mata Rangga meskipun menyapa dalam ketakutan.

Suasana jadi terasa canggung sekali. Yoga menggaruk tengkuknya yang benar-benar tidak terasa gatal, berusaha mencari kata yang tepat untuk meminta maaf dan menjelaskan situasi yang terjadi semalam.

“Emi, aku… semalam… maaf. Mas lagi nggak enak badan. Nggak maksud bikin kamu takut, maaf ya.”

Emi hanya mengangguk kecil, seperti ragu dan tetap menjaga jarak. Tangannya memegang ember lebih erat.

“I… iya, Mas. Nggak apa-apa.” Suara gadis itu pelan, hampir bergetar. Matanya sesekali melirik cincin hitam di jari Yoga dengan rasa yang aneh, seperti waspada dan berhati-hati.

“Kalau kamu takut sama Mas… mas juga ngerti, kok. Tapi… aku nggak mau kamu jadi merasa takut terus, jadi.. huhff...”

Yoga masih ingin ingin menjelaskan lebih lanjut, tapi dia tahu penjelasannya akan terdengar seperti alasan gila. Akhirnya dia hanya bisa menghela nafas.

Emi diam tidak menjawab, hanya buru-buru mengangguk lalu berjalan cepat menjauh, meninggalkan Yoga kembali sendirian di pekarangan.

Melihat situasi ini, Yoga mengepalkan tangannya kuat. Efek samping kekuatan ini semakin nyata, tidak bisa dibendung. Semakin dia mencoba menggunakannya, semakin sulit mengendalikan diri. Tapi dia juga tahu, untuk menghadapi Suroto dan seluruh kekuasaan preman di desa ini, sudah pasti dia butuh kekuatan yang lebih besar.

Tiba-tiba, sistem di kepalanyakembali berbunyi pelan.

[Ding]

**Karma Hitam: 31

Skill baru hampir terbuka. Siapkah Tuan rumah membayar harganya?

[Ding]

Yoga menatap ke arah rumah Suroto yang jauh di ujung desa, tidak tampak dari tempatnya, tapi dia seperti melihatnya dengan jelas. Matanya pun mengeras.

“Aku harus lebih kuat, kan?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 91

    Lampu di Ruang Penahanan Absolut berubah merah. Itu bukan alarm darurat, melainkan sinyal bahwa protokol panen residual resmi dimulai. Empat ilmuwan berpakaian pelindung penuh sebagai SOP masuk melalui pintu ganda, diikuti dua petugas keamanan bersenjata energi. Di belakang mereka, sedotan residual tingkat tinggi digulingkan untuk masuk, tabung hitam mengkilap dengan jarum-jarum kristal yang sudah berdenyut menunggu terisi.Direktur menyaksikan dari ruang observasi melalui kaca tebal, suaranya terdengar datar lewat speaker.“Turunkan penekan residual tiga puluh persen. Siapkan kontak. Kita ambil apa yang bisa diambil. Sisanya dipadamkan segera.”Vesper berdiri di sudut ruangan observasi dengan tangan mengepal, sementara Dr. Halim menatap layar tanpa berkedip. Kael dan Draven tidak bilang apa-apa, semua orang menahan nafas saat ini.Di atas platform, Yoga membuka mata. Dia sudah menunggu detik ini. Satu menit, dua menit…Penekan residual mulai turun sesuai perintah. Gelombang yang sela

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 90

    Angin malam di desa itu seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa sangat berbeda.Angin tiba-tiba seperti membawa bau tanah basah dan asap dapur yang hampir padam. Lampu teras di beberapa rumah sudah dipadamkan. Anjing-anjing kampung hanya sesekali menggonggong dengan malas. Tidak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan itu, sesuatu yang sudah lama mengendap akhirnya pecah.Pak Lurah baru saja keluar dari klinik Bidan Riana. Langkahnya masih sedikit goyah, tubuhnya masih basah dengan keringat nikmat, dan bau tubuh wanita lain masih menempel di baju. Dia tidak langsung pulang ke rumah, tapi memilih duduk di balai desa yang gelap, menatap jalanan yang kosong, mencoba menyusun topeng yang akan dia pakai di depan istrinya nanti.Sayangnya dia tidak tahu bahwa semua yang dilakukannya sudah diikuti sejak tadi sore, seseorang sudah mengintainya sejak beberapa hari terakhir ini.Suroto berdiri di balik pohon besar di seberang jalan, rokok di jari, wajahnya datar. Dia sudah cur

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 89

    Situasi dan kondisi di lantai isolasi terasa menekan, oksigen pun terasa semakin tipis.Direktur berdiri di ruang komando dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap data residual Yoga yang kini menunjukkan pola yang tidak lagi bisa dianggap “stabil”. Fluktuasi kecil yang dulu diabaikan kini muncul lebih sering. Sistem otomatis masih menutup retakan di gelang energi, tapi jeda antara retakan dan perbaikan semakin pendek. Residual subjek tidak lagi hanya bertahan, tapi dia menunggu.“Protokol panen dimajukan ke malam ini,” kata Direktur datar. “Saya tidak akan memberi dia waktu lagi. Siapkan sedotan residual tingkat tinggi. Isolasi total. Staf perempuan tetap dikarantina. Siapa pun yang menolak perintah… dianggap menghambat operasi. Gunakan protokol pelanggar.”Dr. Halim yang berdiri di sisi ruangan tidak langsung menjawab. Jari-jarinya mengetuk tablet dengan irama dengan kesan yang terlalu tenang. Di dalam kepalanya, pesan balasan dari kontak di Dewan masih terbayang.‘Jika p

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 88

    Hari ini adalah hari keenam Lira berada di pulau ini, dan semuanya terasa lebih panjang bagi tim Intel yang sedang melakukan penyamaran.Lira berhasil menyalin satu fragmen log lagi, kali ini dari sistem pendingin lantai bawah yang “bocor” sedikit data saat ada perawatan rutin. Fragmen itu tidak lengkap. Hanya deretan kode dan satu frasa yang berulang.*Residual Subject-01 stability increasing beyond predicted threshold.*Tidak ada nama, tidak juga ada foto. Tidak ada koordinat pasti ruangannya, tapi itu sudah cukup untuk membuat Lira menatap layar kecil di dalam sepatunya lebih lama dari biasanya.Rekan logistiknya menemukan sesuatu yang lebih mengganggu akal sehatnya di saat memindahkan kotak-kotak “sampel biologis” yang seharusnya menuju gudang permukaan, salah satu kotak retak sedikit di sudut. Dari dalam, tercium bau formaldehida yang bercampur dengan aroma logam panas. Di label yang hampir terhapus, tertulis kode ‘T-27’. Ketika dia mencoba mencari kode itu di sistem inventaris,

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 87

    Intel yang sudah dibentuk sebagai tim penyamaran, pada akhirnya mendarat tidak bersamaan. Ini demi keamanan tentunya, karena sedang melakukan investigasi secara rahasia.Lira tiba lebih dulu, memakai identitas sebagai teknisi listrik lepas yang dikirim oleh perusahaan cover untuk “memeriksa generator cadangan”. Dua rekannya menyusul dalam selang waktu tiga puluh enam jam, satu sebagai staf logistik, satu lagi sebagai peneliti junior yang baru dipindahkan dari fasilitas lain. Mereka tidak saling menyapa di depan umum, bahkan di koridor yang sama, pandangan mereka tidak bertemu lebih dari sepersekian detik. Semua menjaga rahasia ini secara terlatih.Pulau itu lebih sunyi daripada yang mereka bayangkan. Tidak ada burung, tidak ada suara ombak yang natural sebagaimana tempat yang memang dikelilingi oleh lautan. Hanya suara dengung mesin yang konstan dari bawah tanah, seolah pulau itu sendiri bernapas melalui ventilasi tersembunyi.Lira berjalan di belakang seorang petugas keamanan lokal y

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 86. Menikmati Dendam Yang Basah

    Malam ini, di klinik desa kembali menjadi milik dua orang saja. Pak Lurah dan Bidan Riana, seakan-akan tidak memperdulikan keberadaan manusia lainnya.Hujan memang tidak turun seperti kemarin, tapi udara terasa lembab dan berat. Bahkan Pak Lurah datang lebih awal dari biasanya, langsung mengunci pintu begitu masuk, lalu menarik Bidan Riana ke dalam pelukannya tanpa banyak kata. Ciuman yang langsung menyusul dengan kasar, lapar, hampir seperti sedang marah. Sementara Bidan Riana membalas dengan sama kuatnya, jari-jari masuk ke rambut pria itu, tubuh menekan balik. Memberikan perlawanan yang seimbang pastinya.Mereka tidak lagi berpura-pura ini hanya soal kehangatan, tapi apa yang mereka lakukan adalah kebutuhan yang memang milik mereka.“Ahhh… Bapak…”“Yahhh… panggil aku!” Pak Lurah menyahut dengan dominasi seorang pria.Pak Lurah mendorong Riana ke ranjang periksa, menarik seragam putih yang belum sempat dilepas itu hingga kancing-kancingnya berhamburan. Membuat P4yudara Riana terpapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status