Se connecterRea bersandar di balik pintu dengan jantung yang berdebar tak karuan. Berakhir sudah masa keperawanan kedua bola matanya. Dan dia takut, kejadian barusan tidak akan membuatnya bisa menatap Rumi sama lagi.Dia pernah melihat otot perut pria dewasa sebelumnya. Tentu saja.Tapi bagian sensitif lelaki yang itu… yang ternyata berbentuk dan berukuran seperti…. entahlah, jelas ini baru kali pertama untuk gadis dua puluh lima tahun tersebut.Dia bahkan tidak tahu harus bersikap dan bereaksi seperti apa selain berteriak. Haruskah dia biasa saja? Haruskah dia malu? Haruskah dia terkesima? Apa?TOK TOK!“Rea…”“Nggak boleh! Bapak nggak boleh masuk!” tolak Rea langsung.“Ya minimal kamu pinjemin saya bathrobe. Masa saya pakai handuk ini sepanjang malam?”“Harusnya Bapak sudah memikirkan itu sebelum mandi. Ya sudah pakai aja baju yang tadi lagi. Saya ambilin. Sebentar..” ucap Rea bersiap mengambil baju pria itu dalam kamar mandi.“Tidak mau. Itu sudah bau keringat. Setidaknya pinjamkan saya baju k
Mereka berdua masuk ke unit Rea dengan posisi Rea menatap Rumi kesal. Kalimat pria itu di lift barusan jelas bukan sesuatu yang dia suka.“Siap melamar kapan pun Rea siap?” ucap Rea mengulangi kalimat pria yang langsung duduk di sofanya itu. “Bapak pikir lucu ngomong seperti itu?”“Terus kamu mau saya jawab apa? Kalau kita cuma kontrak? Begitu?”“Ya nggak usah dijawab sama sekali. Orang-orang ngegosip Pak. Dan bisa jadi mereka berdua juga!”“Kenapa kini kamu begitu takut soal gosip, Rea?”Betul juga. Sejak kapan dia begitu takut perihal akan mendapatkan gosip apa?Sudah pernah digosipi hamil sekali pun, dia tidak peduli. Kenapa sekarang dia begitu takut?“Karena…” Gadis itu terlihat berpikir sejenak, sebelum menggeleng. “Lupain aja. Bapak butuh apa? Ini sudah malam.”“Nah itu. Kontrak kita besok totalnya sudah berjalan tiga bulan. Kita perlu melakukan evaluasi.” Rumi menjelaskan maksudnya tanpa cela. "Jadi, apa kamu punya waktu beberapa hari ke depan?”“Untuk apa?”“Evaluasi kontrak.”
"Pacar siapa memangnya Ru? Hari ini Rea terlihat single. Dari tadi sendiri. Saya nggak lihat tuh ada cowok yang nemenin dia?" cibir Kartika tajam menatap sepupunya itu lekat.Rea tidak bereaksi apapun.Tapi Rumi, pria itu tersenyum. Dia tetap tenang.“Sendiri bukan berarti Rea jomblo. Saya rasa semua orang di sini tahu Rea pasangan saya, Mbak.”“Bahkan wanita yang di jari manisnya sudah ada cincin pernikahan sekalipun, kalau dia terbiasa terlihat sendirian, mau satu dunia tahu dia milik siapa, akan ada cowok lain yang nekat ngerebut dia,” tambah Kartika tidak kendor.Kalimat gadis itu terdengar seperti peringatan bagi Rumi, dan sebuah sanjungan dari Rea, meski dia tidak yakin akan ada pria yang mau mendekatinya jika tahu seberapa berantakan hidupnya beberapa tahun belakang. Membuatnya kehilangan apapun termasuk kepercayaan diri.“Mbak Kartika nggak usah khawatir. Saya tahu bagaimana cara menjaga pasangan saya,” ungkap Rumi penuh keyakinan.“Benarkah seperti itu, Rumi? Karena sejak tad
Sejak pertanyaan Rumi hari itu, sebulan yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar hanya sepasang kontrak. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Terlebih sentuhan yang terlepas. Mereka benar-benar menjadi atasan dan bawahan yang tidak jauh-jauh dari pekerjaan semata.Bahkan untuk sekedar bertatap mata di luar masalah kerjaan, Rumi enggan.Tapi mereka masih begitu sangat profesional di luar sana, terlebih di media. Rea masih mendampinginya kemanapun Rumi butuh.Tapi sisanya? Nol.Pria itu benar-benar menghindari Rea.Dan hal tersebut membuat Rea makin kebingungan.Satu sisi dia berterima kasih karena dengan sikap Rumi yang demikian, perasaannya sukar tumbuh lebih dalam. Dia hanya perlu fokus menjalankan tugasnya.Tapi di sisi lain? Melihat pria itu menjadi begitu acuh ternyata bukan hal yang dia sukai.Seperti hari ini. Mereka sedang berada di salah satu pernikahan keluarga Rumi. Rea memakai kebaya manis berwarna maron, yang diimbangi dengan warna batik Rumi yang senada.“Kalian bai
“Cantik. Cantik sekali.”Mendengar itu, nyaris saja Rea merona. Syukurnya pagi ini nyawanya cepat terkumpul. Jadi ketika Rumi mengatakan bahwa dia cantik, ingatan tentang semua kekesalannya pada pria ini belakangan langsung terbayang.“Good morning…” sapa Rea sambil tersenyum.“Morning, Cinderea,” sambut Dista yang langsung naik ke samping gadis itu. “Dista lapar.”Kedua alis Rea terangkat. Matanya mencari Rumi di samping seolah meminta penjelasan kenapa anak-anak itu lapar.“Anak-anak belum sarapan?”“Belum. Hari ini jadwal libur semua asistern rumah tangga. Jadi subuh-subuh tadi sudah berangkat,” jelasnya.“Chef Anton juga?” tanya Rea lagi menyebutkan nama chef yang biasa menangani makanan di penthouse itu.“.." Rumi hanya mengangguk.“Kalau Anton libur, kalian biasanya sarapan apa?”“Mama nginap.”“Kali ini kenapa nggak nginap?”“Aku bilang nggak perlu. Karena ada kamu.”Mendengar itu Rea cepat-cepat duduk. Anak-anak pun berlarian keluar kamar, meninggalkan dua orang dewasa itu sen
Dante yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Oh, tadi gue ketemu Rea di coffee shop dekat sini. Sekalian aja gue antar pulang. Kasihan sendirian. Katanya lu sibuk, soalnya.”Rea mengangkat wajah.“Gimana? Udah nganter Maudi?” tanya Rea to the point. Sedikit kelepasan.“Loh, lo nganter Maudi, Rum?” Dante spontan menoleh ke Rumi..Rea tersenyum tipis. Sinis.Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia maju ke pintu.“Ya sudah, kalian ngobrol aja,” ucapnya ringan. “Aku masuk dulu. Sudah ngantuk banget.”Sebelum masuk, Rea sempat menoleh kepada Dante. “Oh iya, Mas Dante. Makasih ya, sudah nganterin.”“Sama-sama, Dek Rea,” ucap Dante yang kemudian menepuk bahu Rumi sekali. “Gue cabut dulu.” Dia menahan tawa melihat ekspresi Rumi. “Good luck.” Lalu pergi begitu saja.Sayangnya Rumi kurang lincah hingga pintu unit di depannya lebih dulu tertutup saat Dante pamitan.TOK TOKTidak ada jawaban. Begitu pula dengan beberapa ketukannya kemudian. Di







