Share

Bab 10 - Cafe J

Rose melaju membelah jalan dengan kecepatan sedang. Gadis di balik kemudi sesekali memutar leher hanya untuk mengamati raut yang tercetak di wajah gembil milik Rella. Berdehem, Stella menggerakkan jari-jemarinya di atas kemudi, mulai memikirkan apa yang akan ia katakan. Kejadian semalam cukup membuat komunikasi mereka sedikit memburuk. Sedari awal, Rella hanya menampilkan senyum tipis tanpa suara, paling untuk menjawab setiap perkataan Stella, itu pun satu-dua patah kata.

Entah sudah berapa lama hening meraja, hingga akhirnya potongan kejadian waktu lalu menyambangi pikiran Stella. Demikian membuat gadis itu segera berkata, "Kemarin waktu lo nggak masuk, Kak Abil cariin lo tau."

Rella menampakkan respon dengan wajah menghadap Stella. Kedua alisnya bertaut tajam dengan mimik terkejut. "Kak Abil nyari aku?" tanya gadis itu, lantas mendapat anggukan cepat dari Stella yang merasa lega atas perubahan sikapnya.

Menelan saliva, kini Rella mulai berkeringat dingin. "Dia ... bilang apa sama kamu?"

"Kak Abil cuma nanyain keberadaan lo, itu doang, kok."

Kerutan di dahi Rella mulai mengendur, bersamaan dengan detak jantung yang kembali normal. "Dia tidak mengungkit soal ganti rugikah?"

Sembari fokus menyetir, Stella menggelengkan kepalanya beberapa kali "Tapi ..."

"Tapi, apa?" tanya Rella, kedua alisnya kembali bertaut bersama raut harap-harap cemas.

"Tapi gue yang deg-deg-an tau ...! Itu pertama kalinya gue natapin mata tajamnya Kak Abil secara langsung ...! Hadep-hadepan, lagi! Sumpah, tatapannya, tuh, tajam banget, sampe-sampe gue nggak bisa ngomong, lidah gue rasanya kaku. Ah, asli, dah, momen waktu itu nggak akan pernah bisa terlupakan!" tutur Stella seperti orang menang lotre.

Sementara, Rella membisu dengan pikiran berkecamuk. Suasana menghening, membuat Stella menatap heran pada sahabatnya yang tak kunjung bersuara. Namun, ia lebih fokus pada gerbang menjulang yang sudah di depan mata. Hingga Rose terparkir rapi di area parkiran, Rella tak kunjung menggerakkan bibir.

"Turun, yuk." Stella melepaskan seatbelt-nya, sedang Rella tetap mematung layaknya arca.

"El?"

"Huh?" Rella seperti orang kebingungan, kedua kelopak matanya turun naik beberapa kali.

"Udah nyampe, lo malah bengong. Turun, yuk."

Mengangguk kaku, Rella berkata, "M ..., iya."

***

Siang ini sesuai rencana, Alka menepati janji untuk menunggu Abil di cafe dekat kampus. Sepasang netra berbingkai kacamata dengan gagang hitam miliknya sesekali mengedar, mengamati para pengunjung yang berlalu lalang. Sesekali pula diseruputnya kopi hitam dalam gelas yang masih mengepulkan asap.

Bunyi lonceng otomatis tanda hadirnya pengunjung baru, menyita perhatian Alka, salah satu dari gerak refleks atas respon saraf-saraf otak. Namun, sepertinya Alka tak berniat untuk mengubah arah sorotan matanya pada satu titik di sana.

Sosok berbaju kurung biru langit tampak berdiri mematung di depan pintu. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan sembari memejam untuk beberapa saat. Netranya mulai mengedar, hingga pada satu titik, ia pun menghentikan pergerakan.

Entah kenapa Alka tak segera memalingkan pandangan, sedang hal yang sama tengah terjadi pada sosok di depan. Detik demi detik berlalu, ruangan bertemankan alunan musik mellow menemani kekhidmatan mereka dalam mempertemukan pandang. Bibir membisu, detak jantung menggatikan peran untuk menyuarakan isi kalbu.

Sayangnya, Tuhan tidak menyukai detik demi detik yang terjalin di antara mereka. Hingga suara lonceng menyadarkan keduanya dari perbuatan yang tersebutlah zina mata. Pada akhirnya, kedua kawula itu sama-sama memalingkan pandangan, maka berakhir pula keburukan. 

Gadis berjilbab putih tersebut memacu langkah dengan raut gugup dan wajah merah padam. Tidak lain sosok itu adalah Rella. Merutuki diri sendiri dalam hati, dia mulai mendudukkan diri di kursi yang letaknya sedikit berjauhan dari tempat Alka. Ya, kali ini niat untuk melupakan Alka tidak boleh gagal hanya karena debaran tak karuan di dalam sana.

Sibuk dengan kegiatan merutuki diri sembari membenamkan wajah dan bertingkah konyol, Rella tidak sadar jika Alka sudah berpindah tempat ke hadapannya. Laki-laki itu menatap heran pada Rella, tak lama sebelah sudut bibirnya terangkat. 

"Cinderella? Baik-baik saja, 'kan?"

Bagai busur panah menembus cakrawala, alam semesta, hingga jagat raya, pupil Rella melebar seketika tanpa mengubah sikap tubuhnya. 'Allahumma Rabbi ..., apa telinga ini tidak salah dengar? Itu suara Pak Alka, 'kan? Aduh, bangun apa tidak, ya?'

"Kamu masih tidak enak badan?"

"Sori banget, ya, gue telat. Tadi ada sedikit urusan sama Pak Rektor. Loh, Rella kenapa?"

***

Beberapa jam yang lalu ....

"El, Kak Abil." 

Ucapan Stella yang tiba-tiba ketika sampai di koridor kelas, membuat Rella menghentikan langkah dan sontak memacu peredaran darahnya menjadi lebih cepat. Sosok dari pemilik nama yang terlontar dari bibir Stella tampak memacu langkah pelan di depan sana, berjarak puluhan meter, tidak terlalu renggang pun tidak terlalu dekat.

Rella terbungkam, tanpa sadar begitu erat menggenggam tangan Stella, membuat gadis itu menepuk punggung tangannya beberapa kali, mencoba menenangkan. Ayunan kaki Abil berubah cepat dan benar saja, dia berhenti tepat di hadapan mereka.

Ketiganya terdiam, dikuasai oleh keheningan bertemankan decitan sepatu milik para mahasiswa yang berlalu lalang tatkala beradu dengan lantai. Abil membuang napas samar, lantas memasang tampang wanti-wanti, seolah tidak berani ketahuan. Tanpa sepatah kata, tangan kanannya menyodorkan secarik kertas yang terlipat rapi pada Rella. 

Bingung, Rella hanya menatap penuh tanya pada benda tersebut, lalu beralih menyoroti wajah tampan Abil yang terlihat sedikit tegang. Suasana benar-benar awkward, sedangkan Stella menahan napas sebab mulai dikuasai hal lumrah yang disebut 'cemburu'.

"Ambil." Satu kata yang berdefinisi sebagai kata kerja juga perintah tersebut lolos dari bibir Abil. Terdengar sangat otoriter. Demikian membuat Rella mau tidak mau segera mengambil kertas itu. Tidak butuh dua detik, suara Abil kembali terdengar menelisik gendang telinga Rella, "dibaca nanti."

Gerak-gerik Abil begitu tergesa, tampak jelas dari gerak tubuhnya yang melesat pergi selepas mengatakan dua kata terakhir. Rella mematung di tempat, sementara Stella menyambar benda berisi tulisan tersebut dari tangan sahabatnya. Tidak lain tujuannya untuk membaca 'rahasia' di balik kata yang tertoreh oleh tinta hitam di atas kertas putih.

"Cafe J, selesai matkul terakhir," baca Stella pelan dengan volume rendah. Setelahnya, kedua gadis itu saling tatap dengan memasang raut berbeda-beda. Rella terkejut, sedang Stella sedikit ... cemberut.

***

To be continue

Laki-laki dengan wajah agak keruh itu menghela napas samar. Kekhawatiran tentang dicabutnya gelar 'mahasiswa paling disiplin' alias 'mahasiswa teladan' benar-benar terjadi. Abil, saat ini ia tengah berhadapan dengan rektor kampus yang baru saja menyelesaikan kalimat berisi berita buruk. 

Yah, bukti cctv cukup kuat untuk melengserkan kedudukan Abil. Kampus ini memang sangat memperhatikan gerak-gerik setiap mahasiswanya, sekecil apa pun itu. Juga akan sangat mempertimbangkan posisi Abil jika sudah berbuat hal yang tidak terpuji. 

"Lusa, poster-poster kamu akan digantikan dengan poster Alang, mahasiswa yang akan menggantikan posisi kamu. Bapak harap, kamu tidak berkecil hati dan tidak menurunkan minat belajar kamu."

Abil kembali menguarkan karbondioksida melalui hidungnya, lantas tersenyum simpul. "Saya pastikan tidak akan berpengaruh pada minat belajar, bahkan nilai saya, Pak. Ini sudah menjadi risiko saya karena memberikan contoh yang tidak baik."

Laki-laki senja tersebut mengangguk dengan senyuman kagum. "Bagus. Kalau begitu, kamu boleh keluar dan melanjutkan aktivitas."

"Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya. Permisi, Pak."

***

To be continue ...

[Kyuni's Note]: Wah, wah, mau ngapain Abil ngajak Rella ketemuan? 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status