LOGIN"Matt!"
"Bagaimana dengan ibu?"
"Dia mencarimu."
Mattiash segera memasuki kamar di mana ibunya di rawat. Wajah ibunya tetaplah cantik meskipun warna rambutnya telah memutih.
"Ibu, aku datang."
Air mata yang berusaha dia bendung akhirnya mengalir pada pipinya.
"Steve!" suara lemah Charlotte Hill membuat kedua anaknya mendekat, gerakan tangannya membuat ketiga tangan mereka bertumpuk menyebarkan rasa hangat dan cinta. "Kalian harus saling menjaga, hanya itu permintaan ibu pada kalian."
***
Tidak ada jawaban dari pesan yang dia kirimkan kepada kekasihnya, tepatnya pesan yang dia kirimkan tidak akan pernah sampai karena nomornya telah di blokir.
Menggunakan nomor lain Mattiash kembali menghubungi nomor telepon kekasihnya dan semua gagal, nomor tersebut benar-benar tidak aktif.
"Matt, apa kamu baik-baik saja?"
Mattiash menggelengkan kepalanya, dia tidak mau berbohong. Dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tidak bisa menemanimu, malam ini. "
"Tidak apa-apa. Aku akan kembali ke Pinehill."
Perpisahan yang membuat Mattiash kembali merasa kesepian, dia kembali merasa sendiri. Sejak kematian ayah mereka lima tahun lalu, dia kembali menjadi dekat dengan ibunya setelah belasan tahun mereka terpisah tanpa saling bertukar kabar karena ayahnya memutus semua hubungan antara dirinya dan ibunya.
"Kamu hanya akan menjadi anak yang lemah jika berhubungan dengan ibumu."
"Aku tidak membutuhkan anak yang lemah dan bodoh sepertimu."
Ucapan ayahnya kembali melintas di dalam pikirannya.
***
Kabut tebal kembali menutupi Pinehill, jika dulu dia akan dengan semangat, gagah dan penuh keberanian memasuki hutan pinus saat ini dia memasuki hutan pinus dengan penuh harapan akan menemukan kembali gadis berambut cokelat kemerahan, dengan mata biru dan kulit putih pucat.
"Rose!" serunya.
"Rose.." kali ini suaranya lebih lirih.
"ROSE.." teriaknya dengan lantang.
Tidak ada jawaban, ujung senapannya tidak juga menemukan sasarannya.
Tubuhnya terasa dingin terselimuti kabut tebal.
Mattiash berlutut, bersimpuh di tanah basah bercampur patahan ranting dan daun-daun busuk. Air matanya tumpah bersamaan dengan turunnya air hujan yang membasahi Pinehill.
DOR!
Suara senapan terdengar menggema, hewan-hewan hutan berlari untuk bersembunyi, burung-burung memilih terbang dari tempat mereka berteduh dan sosok Mattiash terkulai bersimbah darah di atas tanah basah berlapiskan patahan ranting dan daun-daun busuk.
***
Wajah Steven Hill terlihat sangat muram, dia baru saja kehilangan ibunya, tidak lebih dari empat puluh delapan jam dia kembali mendapatkan kabar jika kakaknya meninggal di dalam hutan pinus dekat mansion mereka.
Dia memang tidak dekat dengan Mattiash, mereka terpisahkan saat usia Mattiash enam tahun dan usianya lima tahun. Tidak banyak kenangan yang mereka miliki, selain dari celotehan ibunya yang merindukan Mattiash, karena ayah mereka tidak memberikan ijin bagi ibunya untuk bertemu dengan Mattiash.
Mereka baru dekat kembali setelah ayah mereka meninggal dunia karena serangan jantung, semua serba canggung.
Mattiash tidak ramah, cenderung dingin, tidak banyak tersenyum, tetapi dia bisa melihat senyum tipis di bibir Mattiash saat berpelukan dengan ibu mereka.
Dia tahu Mattiash merindukan kasih sayang.
Dari cerita ibunya, dia tahu jika sikap ayah mereka sangat keras terhadap Mattiash.
Dari pemakaman, Steven kembali ke Pinehill. Mansion yang sama sekali tidak terlintas dalam ingatannya, meskipun dia pernah tinggal di dalamnya bersama dengan keluarganya yang sesungguhnya.
"Apa ini kamar Mattiash?"
"Benar, Tuan." jawab Ella, pengurus rumah tangga yang seusia dengan ibunya.
Steven mulai menyusuri setiap sudut kamar bercat putih dengan tirai merah jambu, sekilas dia menahan tawa saat melihat tirai berwarna merah jambu. Kembali dia menyusuri kamar Mattiash, membuka laci demi laci yang ada.
Pandangannya tertahan pada dua kotak perhiasan berwarna merah jambu, dia segera membukanya dan kembali dia menahan tawanya saat melihat cincin dengan mata berlian merah muda, dia membuka kembali kotak lainnya kalung emas dengan liontin huruf R dengan lambang mawar pada sudut ekornya.
Wajahnya menegang saat melihat amplop berwarna merah jambu, tidak ada lagi tawa yang dapat dia tahan apalagi dia keluarkan.
Kematian Mattiash bukan bunuh diri biasa.
"Aku sedang berusaha membebaskanmu, Steve." wajah Giselle tampak sembab saat bertemu dengan Stephen.Telapak tangan mereka berusaha saling menempel terhalang dengan dinding kaca tipis yang menghalangi mereka di dalam ruang kunjungan tahanan."Aku baik-baik saja, Gigi." Steven berusaha memberikan senyuman terbaiknya kepada Giselle yang datang mengunjunginya di rumah tahanan."Aku sudah berusaha, Max juga sudah mencoba membantu. Gadis itu jatuh ke laut bukan sepenuhnya karena kesalahanmu."Steven masih mengingat malam di mana dia ingin tertawa puas melihat tubuh Rosemary yang terjun dengan bebas ke laut lepas di malam hari dan bantuan yang diberikan juga sudah terlambat pada saat itu. Pencarian yang dilakukan pada pagi hari pasti sudah akan sangat terlambat, siapa yang bisa bertahan terombang-ambing di tengah lautan semalam penuh sebelum semuanya sadar jika Rosemary telah menghilang dan dia bisa memberikan keterangan jika dirinya dalam keadaan mabuk untuk m
Hembusan nafas yang mengepulkan uap dingin keluar dari mulut dan hidung Damian Reeves. Udara dingin Genobia kembali menyelimuti dirinya saat kakinya menuruni anak tangga pesawat yang membawanya dari Brighton menuju Genobia. Pada akhirnya kota dingin ini menjadi rumahq keduanya, dia bahkan berencana menjadikannya sebagai rumah utamanya. Dia telah membawa dua orang kepercayaannya untuk membangun kembali bisnisnya dari awal, kedua orang tuanya juga mendukung keputusannya untuk perlahan-lahan melepaskan Grup Reeves. Damian Reeves memasuki perusahaan keluarganya dengan memulai segalanya dari bawah, dia dapat belajar dengan cepat tentang manajemen perusahaan bersamaan dengan kuliahnya. Perusahaan logistik yang bermasalah dengan perijinan gudang dan transportasi darat, di tangannya semua menjadi lancar, bahkan menambah sebuah kapal untuk mengangkut muatan barang yang akan dikirimkan ke luar negeri. Perusahaan tambang yang lagi-lagi bermasalah dengan
Rosalia tersenyum sopan, dia sedang menemani ayahnya yang menggantikan kakeknya pada pesta malam ini. Harapannya tentu saja untuk bertemu Damian dan gagal.Malam ini sosok Damian Reeves sama sekali tidak terlihat, dia susah berdandan dengan cantik dan menarik agar Damian melihat ke arahnya."Kakek, aku mau ke toilet dulu." pamitnya sebelum beranjak dari duduknya.Charles menganggukkan kepalanya. Meskipun kekasih Rosalia telah menyebabkan Rosemary menghilang di tengah lautan, dia tetap tidak bisa menyalahkan Rosalia sepenuhnya. Dia tidak bisa membenci Rosalia seperti yang dilakukan Adam dan orang tuanya, begitu juga dengan Damian yang sama sekali tidak mau berurusan dengan Rosalia.Malam ini seharusnya Adam ikut mendampinginya, tetapi kehadiran Rosalia membuat Adam memutuskan untuk tidak ikut. Dia juga tidak bisa memaksakan mereka dap
Senyum tipis yang menawan diberikan Elizabeth Branch sepanjang kehadirannya di malam ini, penampilannya memang harus memukau dan menawan sepanjang waktu. Acara pesta malam ini di hadiri oleh pengusaha-pengusaha penting, bahkan Igor yang biasanya enggan mendatangi pesta formal, malam ini terlihat begitu bersemangat. Igor membawanya ke tempat duduk mereka di ruang makan malam untuk acara pesta malam ini, meja-meja bundar dengan hiasan bunga mawar putih di tengah meja, ada delapan kursi yang mengelilingi meja dengan set alat makan tepat di depan kursi. Khas perjamuan makan malam mewah, Elizabeth sudah beberapa kali berada di perjamuan seperti malam ini. "Kita akan duduk bersama keluarga Reeves malam ini." bisik Igor di sepanjang perjalanan mereka menuju meja makan. Harapannya tentu saja bertemu Damian Reeves, tetapi dia sama sekali tidak melihat penampakan pria itu. Elizabeth segera duduk di kursi yang
Damian..Nama yang diucapkan Elizabeth berulang kali di dalam hati, penglihatannya berkelana mencari sosok tersebut di antara puluhan bahkan ratusan tamu undangan dalam malam gala yang dia hadiri malam ini.Dia sudah memberikan penampilan terbaiknya agar pria itu melihatnya, sayangnya dia sama sekali tidak mendapatkan sosok Damian Reeves di antara tamu yang ada.Damian..Kaki jenjangnya yang tampak semakin indah mengenakan sepatu hak tinggi berjalan-jalan memutari ruangan berharap dia dapat menemukan sosok Damian Reeves dan dia sama kali tidak melihat penampakan pria itu di dalam pesta malam ini.Elizabeth sangat tahu cara menampilkan pesona kecantikannya, dengan mudah dia bisa menarik perhatian para tamu lainnya, tetapi yang dia inginkan hanyalah perhatian Damian Reeves."Liz, aku mencarimu." suara Igor kembali terdengar. "Kita akan duduk bersama Bertrand Reeves.""Bertrand Reeves?" tanya Elizabeth dengan kening berkeru
"Damian!" Langkah kaki Damian terhenti saat dirinya berjalan di lobby gedung perusahaannya. Tidak ada yang memanggil nama depannya di perusahaan ini. Sosok Rosalia berdiri dengan canggung saat dia menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. "Aku-" suara Rosalia terdengar tercekat. "Aku mau minta maaf." Rosalia dapat merasakan sorot mata dingin Damian, dia bahkan tidak yakin kedatangannya akan mendapatkan maaf dari pria itu atau tidak. Untuk saat ini dia sedang berusaha mendapatkan maaf Damian dan mungkin saja Damian akan meliriknya. Bahkan jika dirinya hanya akan dijadikan pengganti Rosemary, dia akan tetap menerimanya. Dia tidak peduli akan permintaan Steven yang telah mendekam di penjara, dia tetap akan mengejar kembali Damian Reeves. Cinta pertama yang tidak bisa digantikan baik oleh Mattiash maupun Steven. Damian kembali berjalan mengabaikan permintaan maafnya. Pria







