Share

Chapter 3

last update publish date: 2026-02-05 18:38:56

"Matt!"

"Bagaimana dengan ibu?"

"Dia mencarimu."

Mattiash segera memasuki kamar di mana ibunya di rawat. Wajah ibunya tetaplah cantik meskipun warna rambutnya telah memutih.

"Ibu, aku datang."

Air mata yang berusaha dia bendung akhirnya mengalir pada pipinya.

"Steve!" suara lemah Charlotte Hill membuat kedua anaknya mendekat, gerakan tangannya membuat ketiga tangan mereka bertumpuk menyebarkan rasa hangat dan cinta. "Kalian harus saling menjaga, hanya itu permintaan ibu pada kalian."

***

Tidak ada jawaban dari pesan yang dia kirimkan kepada kekasihnya, tepatnya pesan yang dia kirimkan tidak akan pernah sampai karena nomornya telah di blokir.

Menggunakan nomor lain Mattiash kembali menghubungi nomor telepon kekasihnya dan semua gagal, nomor tersebut benar-benar tidak aktif.

"Matt, apa kamu baik-baik saja?"

Mattiash menggelengkan kepalanya, dia tidak mau berbohong. Dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.

"Aku tidak bisa menemanimu, malam ini. "

"Tidak apa-apa. Aku akan kembali ke Pinehill."

Perpisahan yang membuat Mattiash kembali merasa kesepian, dia kembali merasa sendiri. Sejak kematian ayah mereka lima tahun lalu, dia kembali menjadi dekat dengan ibunya setelah belasan tahun mereka terpisah tanpa saling bertukar kabar karena ayahnya memutus semua hubungan antara dirinya dan ibunya.

"Kamu hanya akan menjadi anak yang lemah jika berhubungan dengan ibumu."

"Aku tidak membutuhkan anak yang lemah dan bodoh sepertimu."

Ucapan ayahnya kembali melintas di dalam pikirannya.

***

Kabut tebal kembali menutupi Pinehill, jika dulu dia akan dengan semangat, gagah dan penuh keberanian memasuki hutan pinus saat ini dia memasuki hutan pinus dengan penuh harapan akan menemukan kembali gadis berambut cokelat kemerahan, dengan mata biru dan kulit putih pucat.

"Rose!" serunya.

"Rose.." kali ini suaranya lebih lirih.

"ROSE.." teriaknya dengan lantang.

Tidak ada jawaban, ujung senapannya tidak juga menemukan sasarannya.

Tubuhnya terasa dingin terselimuti kabut tebal.

Mattiash berlutut, bersimpuh di tanah basah bercampur patahan ranting dan daun-daun busuk. Air matanya tumpah bersamaan dengan turunnya air hujan yang membasahi Pinehill.

DOR!

Suara senapan terdengar menggema, hewan-hewan hutan berlari untuk bersembunyi, burung-burung memilih terbang dari tempat mereka berteduh dan sosok Mattiash terkulai bersimbah darah di atas tanah basah berlapiskan patahan ranting dan daun-daun busuk.

***

Wajah Steven Hill terlihat sangat muram, dia baru saja kehilangan ibunya, tidak lebih dari empat puluh delapan jam dia kembali mendapatkan kabar jika kakaknya meninggal di dalam hutan pinus dekat mansion mereka.

Dia memang tidak dekat dengan Mattiash, mereka terpisahkan saat usia Mattiash enam tahun dan usianya lima tahun. Tidak banyak kenangan yang mereka miliki, selain dari celotehan ibunya yang merindukan Mattiash, karena ayah mereka tidak memberikan ijin bagi ibunya untuk bertemu dengan Mattiash.

Mereka baru dekat kembali setelah ayah mereka meninggal dunia karena serangan jantung, semua serba canggung.

Mattiash tidak ramah, cenderung dingin, tidak banyak tersenyum, tetapi dia bisa melihat senyum tipis di bibir Mattiash saat berpelukan dengan ibu mereka.

Dia tahu Mattiash merindukan kasih sayang.

Dari cerita ibunya, dia tahu jika sikap ayah mereka sangat keras terhadap Mattiash.

Dari pemakaman, Steven kembali ke Pinehill. Mansion yang sama sekali tidak terlintas dalam ingatannya, meskipun dia pernah tinggal di dalamnya bersama dengan keluarganya yang sesungguhnya.

"Apa ini kamar Mattiash?"

"Benar, Tuan." jawab Ella, pengurus rumah tangga yang seusia dengan ibunya.

Steven mulai menyusuri setiap sudut kamar bercat putih dengan tirai merah jambu, sekilas dia menahan tawa saat melihat tirai berwarna merah jambu. Kembali dia menyusuri kamar Mattiash, membuka laci demi laci yang ada.

Pandangannya tertahan pada dua kotak perhiasan berwarna merah jambu, dia segera membukanya dan kembali dia menahan tawanya saat melihat cincin dengan mata berlian merah muda, dia membuka kembali kotak lainnya kalung emas dengan liontin huruf R dengan lambang mawar pada sudut ekornya.

Wajahnya menegang saat melihat amplop berwarna merah jambu, tidak ada lagi tawa yang dapat dia tahan apalagi dia keluarkan.

Kematian Mattiash bukan bunuh diri biasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 206

    Berita Bertrand Reeves yang menjadi tersangka percobaan pembunuhan sampai di telinga Steven Hill yang baru saja datang kembali untuk menengok keponakannya dari Max dan Giselle. Lebih tepatnya dia akan melakukan test DNA pada bayi tersebut tanpa sepengetahuan keduanya. Rasa penasaran menyelimutinya, jika bayi milik Max dan Giselle memang anaknya maka dia akan melimpahkan kekayaan pada anak itu, tetapi jika tidak maka sudah saatnya dia memutus hubungannya bersama Giselle dan Max. Berita lain yang membuat tubuhnya membeku adalah Rosalia yang masih koma setelah aksi percobaan pembunuhan dan anak yang dikandungnya berhasil selamat. "Apa dia juga anakku?" gumamnya penuh rasa penasaran. ***Suara tangisan pilu memenuhi ruang utama kediaman Charles Steele saat Steven berkunjung ke Waterbay. Anak yang diaku Giselle sebagai anaknya ternyata sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya, test DNA yang dia lakukan secara diam-diam menunjukkan itu semua dan tentu saja membuat Steven mer

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 205

    "Rencanamu gila, Bertrand," ucap Gabriella pelan, suaranya terdengar penuh kekhawatiran namun wajahnya terlihat senang. "Membiarkan Rosa sendiri di sana, dia sedang hamil. Apa kamu ingin agar tidak ada yang mengganggu kita lagi."Bertrand menghela napas panjang, menatap ke arah tambang yang sedang dibangun itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku butuh waktu sendiri, Gabriella dan anak itu juga bukan tanggung jawabku.""Apa maksudmu?" tanya Gabriella dengan raut tidak percaya."Bayi di dalam kandungannya bukan milikku, kami hanya saling memanfaatkan."Jawaban Bertrand membuat Gabriella tersenyum tipis. Secara kertas dia memang sepupu Bertrand dan juga sepupu Damian, namun secara darah mereka sama sekali tidak memiliki ikatan. Tidak banyak yang tahu jika Gabriella adalah anak adopsi, pengganti putri keturunan Reeves yang meninggal sejak bayi.Saat mengetahui dirinya hanyalah putri adopsi, hal pertama yang dilakukan Gabriella adalah mendekati Damian dan sayangnya Damian sama sekali

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 204

    Bulan berlalu, Waterbay tidak lagi terasa panas dengan kehadiran hujan yang tidak pernah dapat diprediksi. Saat langit sedang cerah-cerahnya, tiba-tiba saja akan turun hujan begitu juga sebaliknya saat langit mendung, tiba-tiba langit menjadi cerah. Rosalia duduk menatap kapal-kapal mewah yang tertambat di dermaga, di antaranya ada kapal milik Damian yang tertutup terpal biru gelap. Kapal dengan nama Rosemary, salah satu perlakuan Damian terhadap Rosemary yang membuat Rosalia merasa cemburu. Berulang kali dia mengelus perutnya yang membuncit dan berharap persalinannya akan berjalan lancar, dia sudah memohon pada ibunya agar dapat menemani dirinya karena di dalam hatinya dia tidak yakin Bertrand akan hadir menemaninya di saat persalinannya nanti. "Rosa, aku akan menemani Adam untuk peletakan batu pertama." Suara Bertrand terdengar begitu senang dan bersemangat. Pria itu terus berkicau akan rencana-rencana yang dibuat oleh Adam, rencana yang terdengar fantastis dan tentu saja menjan

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 203

    Pesan pemberitahuan muncul di lmenunjukkan ada aktivitas ilegal yang berusaha membuka email pribadinya yang membuat Adam tersenyum sinis. Dia sudah bisa menebak siapa pemalu yang berusaha membuka email pribadinya, orang yang sama dengan orang yang berusaha menjatuhkan dirinya dan Damian, orang yang datang menangis dengan masalah cintanya kepada Rosemary. Gabriella Reeves, sudah cukup baginya mengenal seorang Gabriella Reeves dan bermain-main dengan perempuan itu. Dia sengaja ingin mengetahui motif kedatangan Gabriella ke Genobia, menawarkan hubungan yang tentu saja tidak akan merugikan dirinya dan juga urusan bisnisnya bersama Damian. Semua sudah dia perhitungkan dan tentu saja dengan bantuan Damian juga yang menerima Gabriella dengan lapang dada setelah insiden yang membuat Damian kehilangan jabatannya sebagai pemimpin Grup Reeves. "Orang serakah yang bodoh." umpatnya setelah membaca tangkapan di layar ponsel peringatan tentang emailnya yang sedang diretas. *** Raut gusar t

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 202

    "Tidak bisa! Aku tidak akan melepaskan tambang itu."Bertrand memijat pelipisnya dengan kuat, rasa pening mulai mendera dirinya.Penolakan dari sebagian saudaranya membuatnya merasa kesal, tetapi dia tidak dapat melakukan apapun setelah kegagalannya. Dia tidak dapat meyakinkan semua orang karena kegagalannya."Seharusnya kami tidak terhasut olehmu untuk menurunkan Damian, setelah gagal kamu-""Proyek ini dijalankan oleh Adam Steele, dia adalah sahabat Damian dan juga yang membantu Damian menyelesaikan pembangunan hunian mewah di Genobia. Gabby mengetahui semuanya."Gabriella yang ikut berada di dalam pertemuan mengangguk, dia telah mengikuti Damian bahkan menjalin hubungan dengan Adam, jadi dia cukup banyak mengetahui pembangunan properti yang dilakukan Damian dan Adam secara bersama-sama."Karena pihak Steele juga meminta tambang kita yang berbatasan dengan tanah milik Steven, aku mengajukan pembagian keuntungan yang awalnya hanya dua pulu persen untukku menjadi enam puluh persen. Te

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 201

    Angin dingin berhembus membelai pipi Adam Steele. Dia berada di Pinehill, di atas tanah yang seharusnya menjadi proyek kerja samanya bersama Damian Reeves bukan bersama Bertrand Reeves. Tentu saja ada perbedaan di antara ke duanya, Damian selalu mengecek ulang saat pria itu akan membangun hunian mewah di Genobia. Damian akan memastikan kembali siapa yang akan menjadi target pasarnya dan bagaimana caranya menghidupkan hunian tersebut agar layak dihargai mahal. Tidak hanya Damian, tetapi Rosemary juga banyak membantu proses pembangunan hunian mewah tersebut. Sekarang dia berdiri seorang diri, Bertrand dan Rosalia memilih untuk tetap berada di Waterbay. Awalnya dia mencoba memahami, mungkin semua itu karena kehamilan Rosalia, lambat laun dia sadar mengapa Bertrand tidak pernah dapat melampaui Damian, semua karena sikap profesional dan juga kemampuan dalam menyalurkan ide. "Bagaimana keadaannya?" tanya Adam kepada orang kepercayaannya yang membantunya melakukan investigasi. "Ada ju

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 59

    Aroma kopi dan roti yang baru saja selesai dipanggang tidak juga membuat Rosalia merasa tenang, di hadapannya ada Hilda yang sedang menikmati kopi dan cake vanilla dengan wajah penuh kebahagiaan."Jadi Steven sudah resmi menjadi kekasihmu?"Pertanyaan Hilda membuat Rosemaru

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 54

    Steven kembali menginjakkan kakinya di Pinehill, dia berada di kamar Mattiash, tidak ada yang berubah dari kamar Mattiash. Dia kembali memandangi kalung dengan liontin khusus berbentuk huruf R, kembali membaca tulisan-tulisan Mattiash."Sialan!" umpatnya.Di layar ponselnya juga ter

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 53

    Steven tersenyum senang dengan bantuan ayah tirinya dia berhasil masuk ke dalam kerja sama penyewaan gudang dari perusahaan besar. Salah satu warisan yang dia dapatkan dari kematian Mattiash membuat hidupnya menjadi lebih mudah, gudang yang dia kira tidak akan berguna di Pinehill sekara

  • Cinta Bersalut Dusta   Chapter 52

    "Apa kamu benar-benar sudah berdamai dengan Rosemary?" Pertanyaan dari Max membuat Steven menganggukkan kepalanya. "Karena obsesiku ingin mencari orang yang menyebabkan Mattiash patah hati, akhirnya aku mendapatkan wanita yang aku cintai selain Giselle." Hubungann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status