LOGIN"Rose!"
Hari ini Mattiash berencana memberikan kejutan pada kekasihnya, dia datang membawa buket bunga yang berisi sembilan puluh sembilan tangkai mawar merah. Bunga yang sesuai dengan nama kekasihnya, tidak hanya bunga, Mattiash juga menyiapkan cincin berlian untuk kembali melamar kekasihnya.
Semua berada di dalam mobil mewahnya, dia tahu kekasihnya tidak suka hal-hal yang mencolok.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Mata indah yang membesar dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak suka diabaikan oleh Mattiash, dia sudah berusaha menahan rasa rindunya selama dua bulan ini.
"Aku merindukanmu."
"Aku bisa datang ke hot-"
"Aku membeli sebuah apartemen di sini, kita bisa tinggal bersama. Tidak jauh dari kampusmu, aku akan-"
"Matt, kita sudah sepakat untuk tidak mengganggu urusan masing-masing."
Mattiash dapat melihat dada kekasihnya yang bergerak naik turun dengan cepat, pertanda gadis itu sedang meredam amarahnya.
"Aku hanya-"
"Sebaiknya kita segera pergi!"
***
Mattiash menghisap rokoknya, meniupkan asap halus dari bibirnya. Mereka berada di hotel jauh dari pusat kota, seakan-akan mereka sedang bersembunyi, seakan-akan mereka sedang berada di dalam cinta yang terlarang.
Beep!
Suara pesan masuk di ponsel kekasihnya membuat Mattiash secara sengaja membuka pesan tersebut.
[Rosy, bagaimana keadaanmu?]
Wajah Mattiash menegang, jemarinya menggeser pesan dari nomor yang sama. Rasa cemburu mulai menjalar di dalam dirinya.
[Aku akan menjemputmu, apa kamu yakin akan menggugurkan kandunganmu?]
Wajah Mattiash semakin menegang, dia membaca kembali pesan yang dia harapkan salah.
[Aku akan menjemputmu, apa kamu yakin akan menggugurkan kandunganmu?]
Pesan itu tidak berubah. Isinya masih tetap sama.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa ponselku-"
"Apa ini semua benar Rose? Kamu menggugurkan kandunganmu? Anak kita?"
Warna putih pada bola mata Mattiash memerah, genangan air mata mulai menumpuk pada pelupuk matanya.
"Rose, aku bisa memberimu segalanya. Aku akan menikahimu, aku-" Mattiash meneguk ludahnya, dia kehilangan kata-kata saat kembali teringat pesan yang baru saja dibacanya.
Matanya yang memerah menatap tajam pada kekasihnya yang masih berdiri diam di depan pintu kamar mandi.
"Tidak apa-apa, aku mengerti, kamu masih muda untuk menikah. Kita bisa mempunyai anak kembali setelah kita menikah."
"Aku ingin putus!"
Mattiash memejamkan matanya sesaat sebelum kembali menatap tajam penuh amarah ke arah kekasihnya yang berdiri diam tak bergeming.
"Aku tidak mengerti dengan perasaan cintamu, Matty. Aku tidak suka kamu mencambukku di saat kita bercinta, aku bukan kuda yang harus disiksa untuk bergerak cepat."
Mattiash terdiam mendengar ucapan kekasihnya, dia kira mereka sama-sama menikmati kegiatan panas mereka. "Kenapa kamu tidak menolaknya? Aku berjanji setelah ini, kita akan bercinta dengan lembut, sebutkan saja hal-hal yang tidak boleh aku lakukan."
Sebuah gelengan kepala membuat dada Mattiash terasa sakit, bagaikan sebilah pedang sedang menusuk jantungnya.
"Aku tidak dapat hidup tanpamu, Rose."
"Kalau begitu kamu mati saja. Aku sudah selesai dengan hubungan kita, jangan pernah mencariku lagi atau aku akan semakin membencimu."
Kata-kata yang membuat dada Mattiash terasa sakit.
"Sebaiknya kamu mati saja, dasar anak tidak berguna. Jangan mencariku lagi sebelum kamu bisa menunjukkan nilai sekolahmu yang sempurna."
Ingatan Mattiash kembali terlempar saat dia berusia enam tahun, saat dia terpaksa tinggal bersama ayahnya setelah perceraian kedua orang tuanya.
Kalau begitu kamu mati saja.
Sebaiknya kamu mati saja.
Rasa nyeri di dada membuat Mattiash berteriak keras, dia tidak peduli teriakannya terdengar. Dia berteriak untuk meluapkan rasa sakit di dalam dadanya.
Dirinya yang ditolak oleh orang-orang yang mencintainya.
"Ibu, aku ingin mendengar suara ibu." rintihnya sambil mencari ponsel di dalam saku celananya.
[Matt, ibu mengalami serangan jantung.]
Dunia Mattiash kembali terasa gelap, dia melupakan rasa sakit di dadanya. Mattiash segera berlari menuju mobilnya, dia harus kembali kepada satu-satunya orang yang tulus mencintai dirinya.
Mattiash ingin memeluk tubuh ibunya, mencari kehangatan dan ketenangan dari pelukan seorang ibu.
Kelopak bunga mawar merah berterbangan di dalam mobil yang dia kendarai dengan kecepatan penuh.
Rosalia memejamkan matanya, dia baru saja pulang dari kencannya bersama Steven. Perlakuan Steven membuatnya merasa dimabuk cinta, tidak seperti dulu di mana kegiatan mereka lebih banyak dihabiskan dengan bercinta. Kali ini semua kata-kata Hilda terbantahkan, Steven tidak mencari kehangatan tubuhnya. Pria itu bahkan hanya memberikan ciuman selamat malam karena Rosalia harus bekerja keesokan harinya. Semua berjalan begitu lambat dan manis seperti keinginannya jika suatu saat dia kembali menjalin cinta. Dada Rosalia menjadi berdebar-debar dengan sikap manis Steven yang lembut dan penuh perhatian, pria itu juga tidak lagi bicara tentang Rosemary yang membuat dirinya semakin merasa tenang. Tidak ada lagi tatapan penuh dendam si mata Steven, yang dia lihat hanyalah tatap teduh yang membuatnya semakin merasa kali ini mereka berada di hubungan yang benar. Steven berusaha mencintai dirinya dengan perlahan, tetapi pasti begitu juga dengan dirinya. Bukan lagi cinta cinta dipenuhi dengan na
"Steve?" Rosalia segera memayungi tubuh Steven yang basah di bawa guyuran hujan. Wajah pria itu tampak pucat, rambut-rambut kasar tampak tumbuh tidak terawat di wajah Steven. "Apa yang harus aku lakukan, Rosa?" Raut wajah Rosalia tampak bingung melihat penampilan dan mendengar suara parau pria itu. Tanpa ragu dia segera membawa Steven menuju kamar apartemennya. Dia segera membawakan jubah mandi agar pria itu dapat berganti pakaian untuk sementara dan merasa hangat setelah terguyur oleh air hujan, Rosalia segera mengeringkan pakaian basah Steven pada mesin pengering pakaian. Jantungnya berdebar cepat, Steven telah rapi kembali. Wajahnya terlihat bersih setelah bercukur dan tanpa sadar Rosalia memperhatikan tubuh Steven yang terpahat indah, dulu dia tidak begitu memperhatikan Steven. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menangis?" Steven menghela nafasnya. "Aku tidak bisa berpisah denganmu, hidupku menjadi kacau sejak kita berpisah. Aku sudah selesai dengan dendam ku terhadap Ros
Hantaman benda keras hampir menghancurkan tempurung kepala Ella, melihat hasil pemeriksaan dan penjelasan dari dokter membuat tubuh Steven terasa dingin. Di dalam pikirannya, Damian Reeves berusaha membungkam Ella sebagai satu-satunya orang yang mengenal wajah dari kekasih Mattiash. Dia masih menduga jika Rosemary adalah kekasih Mattiash. Sulit baginya untuk membayangkan Rosalia yang memiliki sikap lemah lembut mampu melukai seseorang, ditambah Rosalia juga tidak memiliki seseorang yang bisa diandalkan."Biarkan aku yang menjaga bibi, anda bisa pulang terlebih dahulu."Steven menganggukkan kepalanya. "Apa kamu sama sekali tidak mengenal atau pernah melihat kekasih Mattiash. "Gery terdiam, dia tidak yakin apakah dia dapat mengatakan jika dia pernah melihat kekasih majikan bibinya atau dia diam demi menutupi kesalahannya. Steven menatap tajam ke arah Gery yang terlihat bimbang. "Aku hanya ingin tahu apa kamu pernah melihat perempuan itu atau tidak? Aku tidak akan menghukummu. "Mat
Udara terasa begini dingin meskipun hari ini Pinehill sedang dihujani sinar matahari, kabut sama sekali tidak muncul bahkan langit yang biasanya diselimuti awan saat ini berwarna biru cerah. "Apa maksud kalian?" Steven berjalan mondar-mandir dihadapan tiga pekerja lainnya. Tukang kebun yang biasa merawat tanaman dan rumput mansion, istri dari tukang kebun yang sering membantu Ella membersihkan rumah dan keponakan laki-laki Ella yang juga sering membantu membersihkan serta menjaga rumah. "Bibi dipukul oleh seseorang, sekarang dia mengalami koma." Jawaban dari keponakan laki-laki Ella yang bernama Gary membuat Steven memijat pelipisnya. Dia terlambat datang, seseorang berusaha menghilangkan saksi untuknya. "Apa pelakunya sudah ditemukan? " Ketiga orang tersebut menggelengkan kepala mereka serentak. "CCTV?" "Tidak ada CCTV di tepi hutan, Paman Caine menemukan bibi tergeletak di tepi hutan. " Gary kembali menjawab pertanyaan Steven. "Tepi hutan?" Kali ini mereka bertiga ser
"Tidak bisa, aku tidak akan mengijinkannya." Kening Steven berkerut, dia sudah tahu jawaban yang akan diberikan oleh pria yang ada di hadapannya. Dia hanya sedang mencoba dan juga meyakinkan dirinya jika Rosemary memang bersalah. "Apa kamu pikir aku dan istriku berbohong?" Pertanyaan yang membuat wajah Steven memerah malu seakan-akan dia sedang tertangkap mencuri permen. "Aku mengenal istriku sejak dia masih kecil, hingga dia beranjak dewasa dan menjadi dewasa. Aku selalu mengawasinya dengan baik, bahkan saat dia berada di Waterbay dan aku berada di Brighton, aku masih mengawasinya. Tidak hanya aku, tetapi juga kakaknya, jadi tidak ada celah baginya untuk bermalam dengan seorang pria bahkan sampai hamil. Tidak ada kesempatan yang ku berikan untuk dia mengenal pria lain selain aku dan kakaknya." Steven kehilangan rasa percaya dirinya dan keyakinannya melihat tatapan Damian dan bagaimana pria itu mendominasi dirinya. Dia tahu jika pria yang berada di hadapannya saat ini sedang ti
Rosalia tersenyum tipis, apalagi yang bisa dia lakukan selain memberi semangat kepada Steven yang berniat menyakiti Rosemary serta Damian. Dia masih mendengarkan rencana-rencana Steven untuk menyakiti Rosemary. "Aku dengar dia sedang hamil." ucap Rosalia sambil memandang lurus ke arah Steven. Di mata Rosalia, wajah pria itu sama sekali tidak menyembunyikan rasa terkejutnya, menyakiti Rosemary sama saja menyakiti janin di dalam perut Rosemary dan bagi Rosalia hal tersebut sama saja menabuh genderang perang terhadap Damian Reeves. Sementara Steven tentu saja terkejut, dia tidak bodoh dan mudah baginya untuk paham mengapa Damian Reeves dan Rosemary Steele sangat niat mendatanginya pada malam itu. Semua tentu saja demi keamanan Rosemary dan calon anak mereka. Rasa ragu kembali menyelimuti diri Steven, bagaimana jika Damian Reeves dan Rosemary Steele berbohong padanya, bagaimana jika Rosalia memang tidak ada hubungannya dengan Mattiash. "Anak itu pantas mati, bukankah dia juga
Berhasil menjadi juara utama dalam kontes desain seragam di perusahaan milik keluarga Reeves, perusahaan yang dipimpin oleh Damian tidak juga membuat Rosalia merasa senang."Selamat Rosalia." suara Adam cukup mengejutkannya, di sebelah Adam tampak perempuan cantik yang juga tersenyum ke ar
Tidak ada tanda-tanda kemunculan Damian Reeves dalam acara yang diadakan perusahaannya, agar merasa tidak sendiri Rosalia meminta Giselle untuk menemaninya.Tidak ada penolakan dari Giselle yang membuatnya merasa lega."Siapa yang sedang kamu cari?"Rosalia tersenyum tipis, d
"Damian sangat profesional di dalam pekerjaan, dia tidak akan mencampur adukkan bisnis dan pribadi."Rosalia terdiam di dalam mobil yang melaju penuh keheningan."Bukan hanya kamu, tetapi juga Angela meminta bantuan untuk lomba desain tersebut."Rosalia masih terdiam, pikiran
"Apa kamu ikut lomba desain?"Pertanyaan yang segera mendapatkan anggukkan kepala dan senyuman lebar."Kalau begitu semoga berhasil."Rosalia menggigit bibir bawahnya, dia tidak mengharapkan ekspresi tenang dari Damian yang jelas-jelas juga menolaknya."Aku hanya ingin







